//
you're reading...
Creativity, Human being, Life style, Motivasi, Pendidikan

Buku yang Bergizi, Buku yang Menumbuhkan?

Oleh Hernowo Hasim
October 15, 2015 

Pada Minggu, 27 September 2015, pukul 10.00 hingga menjelang shalat Dhuhur, bersama Ibu Rema—Direktur Penerbit Simbiosa Rekatama—dan Ustad Jalaluddin Rakhmat, saya menyampaikan pengalaman saya dalam menerbitkan buku-buku Ustad Jalal di Penerbit Mizan. Saya menganggap buku-buku Ustad Jalal merupakan buku yang begizi. Buku-buku karya Ustad Jalal ditulis dengan bahasa yang bening, “menggerakkan” pikiran, dan menyentuh hati. Usai acara—yang merupakan bagian dari acara “Kajian Kang Jalal”—saya pun menemukan tambahan baru untuk definisi buku yang bergizi.

Apa tambahan baru itu? Tambahan baru tersebut saya peroleh dari Ustad Jalal ketika beliau menjelaskan makna buku dan—khususnya—makna membaca yang dipetik dari pandangan Mulla Shadra dan Gustave Flaubert. Menurut Mulla Sadra, ketika kita membaca sesuatu—khususnya sesuatu yang baru—esensi kita berubah. Diri kita bukan lagi diri kita sebelum membaca buku. Diri kita adalah diri yang baru. Sementara itu, Gustave Flaubert menganjurkan agar ketika kita membaca buku kita tidak membaca untuk menghibur diri atau mempelajari sesuatu tetapi untuk hidup—untuk tumbuh.

Membaca buku adalah sebuah proses untuk menjadi sesuatu yang baru—atau dalam bahasa Ustad Jalal: “untuk mengubah diri kita menjadi sesuatu yang baru”—sebagaimana materi-materi yang ada di dalam buku yang kita baca. Oleh karena itu, prinsip Ustad Jalal dalam membuat buku adalah “untuk mengubah hidup orang”. Ini sejalan dengan kata-kata Stephen King—penulis novel thriller yang pendapatnya saya kutip ketika memuji novel Harry Potter—“buku yang baik harus dapat menumbuhkan pembacanya”. Dan menurut King, novel Harry Potter “tumbuh” bersama para pembacanya.

Sebenarnya menumbuhkan yang bagaimana? Seperti makanan bergizi yang kita santap setiap hari, makanan-makanan bergizi tersebut menumbuhkan fisik (tubuh) kita. Demikianlah juga buku—yang dapat kita persepsi sebagai “makanan ruhani”—yang bergizi. Buku yang bergizi menumbuhkembangkan pikiran, jiwa, dan juga diri keseluruhan kita. Kata-kata yang bening, yang tertata, dan indah yang ditulis dan dirangkai oleh seorang penulis buku akan “memasuki” diri kita dan ikut mengalir ke dalam darah kita. Ia akan memengaruhi perilaku kita. Ia akan membuat diri kita tumbuh dan berkembang secara luar biasa.

Apakah kita pernah merasakan ditumbuhkembangkan oleh sebuah buku? Ketika saya membaca kata-kata Prof. Dr. Fuad Hassan ini, diri dan, khususnya, wawasan saya mengalami pertumbuhan yang luar biasa: “…kesanggupan berbahasa merupakan ciri keunggulan eksistensi manusia sebagai penghuni a world of discourse. Ini berarti bahwa perkembangan kesanggupan berbahasa sekaligus merupakan proses yang memperkaya dan mempercanggih gagasan dan wawasan (ideas and insights) seseorang. Sebagai kelanjutannya, dengan kekayaan dan kecanggihan tersebut, seseorang akan lebih peka dan tanggap dalam interaksinya sebagai penghuni dunia wacana.

“Oleh karena itu, tidak berlebihan kalau kita simpulkan bahwa kesanggupan berbahasa adalah latar utama bagi pencanggihan perikehidupan manusia. Perlu segera disertakan catatan bahwa untuk mencapai pencanggihan itu, kesanggupan berbahasa bukan saja berkenaan dengan penguasaannnya sebagai sarana tujuan, melainkan juga sebagai sarana pengejawantahan kesastraan.” (Lihat Fuad Hassan, “Catatan Pengantar Perihal Gagasan ‘Sastra Masuk Sekolah’”, dalam Riris K. Toha-Sarumpaet (ed.), Sastra Masuk Sekolah, Indonesiatera, Magelang, 2002).

Juga ketika saya membaca baris-baris kalimat yang indah yang saya temukan dalam “Catatan Pinggir” Tempo yang ditulis oleh Goenawan Mohamad ini: “Kita memang jarang bertanya, apa sebenarnya sebuah sajak untuk diri kita, apa arti puisi. Tak mudah memang buat menjawabnya. Tapi saya pernah mendengarkan orang membaca petilan-petilan Gitanjali karya Rabindranatth Tagore, dan sajak kerinduan Amir Hamzah pada Tuhan, serta puisi Chairil Anwar yang dimulai dengan kalimat termasyhur itu: Cemara menderai sampai jauh/Kurasa hari jadi akan malam…. Saya tak tahu, masih adakah sekarang orang yang gemar mendengarkan itu lagi, dan mencoba mengulanginya sendiri diam-diam. Bila tidak ada, betapa rugi.

“Sebab, mereka tak akan pernah mengalami sebuah dunia pengalaman yang menggetarkan—yang mungkin tak akan membuat kita jadi lebih pintar atau hebat, tapi yang bisa mengukuhkan ikatan batin kita kembali dengan hidup. Puisi bukanlah rangkaian kata-kata elok, bukan rumusan-rumusan petuah dan kearifan. Puisi adalah persentuhan, antara kita dan dunia luar, antara kita dan kegaiban yang besar, antara kita dan kita—sebuah kontak yang, dalam kata-kata seorang penyair, ‘sederhana seperti nyanyi’.” (Saya menemukan tulisan GM tersebut di buku yang disunting Edi Haryono [ed.], Ketika Rendra Baca Sajak, Penerbit Kepel Press, 2004). Diri saya pun kemudian tumbuh dan mampu mengenali keindahan.

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: