//
you're reading...
Human being, Kajian, Lingkungan, Motivasi, Pendidikan, Perubahan

Membangun Karakter Lewat Bahasa Ibu

Rumah parenting Ykbh Bekasi
Selasa, 19 Januari 2016,

Rumah Parenting Bekasi menyelenggarakan Pengayaan Materi dengan tema : Membangun Karakter Lewat Bahasa Ibu, bersama Ibu Luluk MF, SPSebagai manusia, kita adalah makhluk yang paling istimewa. Sejak dari dalam kandungan pun, kita telah menjadi JUARA Ini bisa dilihat dr sel telur dan spermatozoa terbaiklah yang akan menjadi janin.

Rasulullah SAW juga mempunyai misi : Tidaklah aku diutus melainkan untuk menyempurnakan akhlak yang mulia” (HR Muslim).
Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah yang terbaik akhlaknya.” (HR Tirmidzi)

Misi Rasullullah tersebut mungkin terlihat sangat sederhana, tetapi dari akhlak itulah kita bisa membangun keimanan pada -Nya.

Akhlak seseorang sangat dipengaruhi oleh genetik dan lingkungannya. Dan setiap anak tidak bisa memilih mau gen yang mana yang akan diambilnya dari orangtuanya. Sejak dari dalam kandungan pun karakter seorang anak sudah terbentuk, baik dari potensi genetiknya (misal : 9 kecerdasan majemuk), status gizi, maupun hasil dari perlakuan/emosi dan gizi ibunya saat hamil. Ketiga hal tersebut akan mempengaruhi tahap perkembangan anak dan membentuk bagaimana karakternya nanti saat dewasa.

Fitrah anak adalah seorang peniru ulung, unik, peneliti handal, komunikator dan pelaku utama. Inilah salah satu pondasi yang harus kita ketahui dalam mendidik anak. Selain itu, sebagai orangtua dan guru, kita juga harus mengetahui aspek-aspek yang mempengaruhi perkembangan anak, diantaranya : 1. Estetika; 2. Afeksi; 3. Kognitif; 4. Bahasa; 5. Fisik; 6. Sosial. Keenam aspek tersebut diharapkan bisa terbangun secara holistik dalam diri anak, agar optimal pertumbuhan dan perkembangannya saat dewasa nanti.

Bu Luluk mencontohkan Mozart dan Michael Jackson, yang mendapatkan kekerasan baik fisik dan verbal sejak kecil dalam proses tumbuh kembang mereka. Hanya satu aspek saja yang distimulasi oleh orangtuanya, sedangkan aspek lain diabaikan, sehingga mereka tumbuh dewasa sebagai pribadi-pribadi yang tidak bahagia.

Anak membutuhkan hubungan saling menghargai dan dukungan penuh cinta baik, secara verbal maupun non verbal dalam tumbuh kembangnya. Penerapan disiplin dengan konsekuensi logis dan alami akan menghasilkan anak yang bertanggung jawab, berdisiplin diri, dan bisa mengambil keputusan bagi dirinya.

Keterampilan dalam menyelesaikan masalah dengan menggunakan bahasa juga menjadi indikator dari kematangan syaraf dan fungsi struktur otak. Kematangan syaraf dan fungsi struktur otak mencapai pertumbuhan dan perkembangan optimal sejak anak dalam kandungan (pendengaran, penglihatan) dan selama 6 tahun pertama dalam hidup anak (bahasa, kognitif). Oleh karena itulah 6 tahun pertama tersebut disebut dengan Golden Ages.

Bahasa Ibu adalah bahasa dimana ayah ibunya sangat fasih dan baik dalam mengekspresikan fikiran dan perasaan baik verbal maupun non verbal melalui suatu bahasa. Tanpa bahasa ibu yang baik, fitrah keimanan, fitrah belajar dan fitrah bakat sulit untuk tumbuh.

Beberapa orang menganggap bahasa Ibu kurang penting. Bahkan banyak yang lebih memilih mengajarkan anak-anaknya bahasa asing sejak bayi. Padahal penguasaan bahasa Ibu sangat penting bagi perkembangan jiwa, kesehatan fisik, relasi sosial pada tahap usia selanjutnya. Hasil riset membuktikan bahwa, anak yang belajar bahasa asing sejak dini umumnya mengalami gejala bingung bahasa dan mental block, yaitu kegagalan mengekspresikan gagasan dan fikiran, yang berakibat pada kejiwaan dan relasi sosial yang buruk.

Sejak dalam kandungan anak, kedua orangtua harus sudah menentukan bahasa ibu apa yang pertama harus dikuasai anak dalam 6 tahun awal hidupnya. Karena sebelum usia 7 tahun, bahasa berfungsi sebagai alat komunikasi dan identitas diri Misalkan orangtuanya Jawa, bahasa ibu yang dipelajari anak adalah bahasa Jawa dan Indonesia. Bahasa Ibu tersebut harus tuntas dipelajari anak, sehingga anak bisa mengekspresikan perasaan dan pikirannya dengan tepat, baik secara lisan maupun tulisan, saat anak tersebut memasuki usia sekolah.

Bila nanti saat usia sekolah (10 tahun ke atas) anak hendak kenalkan beberapa bahasa asing lain, sudah tidak menjadi masalah lagi, karena pondasi berbahasa ibunya sudah kuat. Sebelum anak berusia 10 tahun hendaklah semua aturan dan rutinitas dibangun dengan suasana yang positif dan menyenangkan, sehingga membentuk pola dan system yang kuat di otaknya. Bila aturan dikenalkan dengan cara yang menyenangkan, rutin dan kontinu , anak akan terbiasa dan dengan senang hati menjalankan aturan dan kebiasaan/rutinitas tersebut.

Pengalaman berbahasa pada 5 – 6 tahun pertama dalam kehidupan anak 85% otomatis akan digunakannya saat dia dewasa nanti. Oleh karena itu saat kita berbahasa dengan anak, sejak janin, hendaklah menggunakan tata bahasa yang lengkap (SPOK) dan benar. Bukan bahasa yang sepotong-sepotong, seperti….bem bem untuk mobil, num untuk minum, mamam untuk makan, dll.

Semua aktivitas yang kita lakukan bersama anak hendaknya juga selalu diverbalkan. Misalnya : “Adek sekarang lagi mandi….ini air ibu siram ya ke badan adek….adek jadi basah deh… segar ya…wah sabunnya wangi … badan ade jadi wangi deh”. Bila ada verbal yang kurang tepat dilontarkan anak, sebagai orangtua dan guru kita bukan menilai atau menyalahkan…seperti : ” “Gak boleh bilang begitu” ….tetapi diluruskan… “Adek kalo marah, bilang ya adek marah”

Hafalan ayat Al Qur’an dan lagu-lagu anak dengan bahasa asing boleh diperkenalkan dan diajarkan pada anak dengan cara yang menyenangkan, karena sesuai dengan kemampuan otaknya. Sedangkan mengajarkan membaca, menulis dan berhitung baru dapat dilakukan setelah anak berusia 7 tahun. Hal ini sesuai dengan cara pendidikan yang diajarkan oleh Rasulullah SAW : “Didiklah anakmu untuk shalat pada saat usia mereka 7 tahun, dan pukullah mereka jika pada saat usia 10 tahun belum mau shalat……dst”. Hal ini juga sesuai dengan perkembangan otak kirinya yang baru tumbuh optimal pada usia 7 tahun. Sehingga pembelajaran calistung secara formal sebelum usia tersebut merupakan pemaksaan bagi otaknya.

Akhir kata, kesabaran kita sebagai orangtua dan guru untuk konsisten memberikan bahasa ibu yang tepat dan benar, dan tidak tergesa-gesa dalam mengenalkan bahasa asing, akan menjadi pondasi yang kuat bagi pertumbuhan dan perkembangan anak.

‪#‎Cut‬ Ira, 21 Januari 2016#

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: