//
you're reading...
Creativity, Ekonomi, Entrepreneurship, Kemandirian, Perubahan, Review

The New Chess Game in Market Design : Ekonom berfungsi seperti Engineer, Mungkinkah?

Jusman Syafii Djamal
NOVEMBER 6, 2015 · 

Di Seattle saya mampir di Barnes Nobel, toko buku yang berlokasi di South Center tempat belanja yang 15 tahun lalu sering saya kunjungi. Disana saya membeli sebuah buku menarik. Judulnya Who Get Whats and Why, The New Economics of Matchmaking and Market Design. Karya Alvin E Roth, McCaw professor of Economics at Stanford University and He was corecipient of the 2012 Nobel Prize in Economics. Ia termasuk expert terkemuka dalam bidang keahlian “Game Theory”.
Buku terbit 2015, jadi masih baru.Buku ini kemudian saya baca ketika terbang 16 jam nonstop dari Seattle Jakarta, dengan pesawat Boeing 777 – ER, Garuda berlogo sky team.

Roth membuka cerita dengan bab berjudul Matchmaking yang berkisah tentang pasien transplantasi ginjal. Ia menjelaskan bukan tentang penyakit. Tetapi perihal kemungkinan pasien tersebut memperoleh ginjal yang tepat, baik dan benar dari para donor. Proses matchmaking antara donor dan recipient yang mengandung pelbagai kemungkinan ini yang diceritakan sebagai dasar untuk mengembangkan persfektip tentang proses “matchmaking” menemukan pasangan yang pas pada waktu yang tepat diatas pelbagai kemungkinan. Dalam proses “match mariking”, prices bukan satu satunya faktor. Selain prices ada produk dan Dari persfektip ini Prof Roth kemudian menelisik tentang fenomena Free Market.

Bagi Roth Market seperti juga “love stories” diawali dari “desires” setiap orang untuk mendapatkan produk dan barang atau jasa apa yang diinginkan secara tepat dan benar dalam kondisi prima pada saat yang dibutuhkan. Market place direkayasa sedemikian rupa untuk memberikan dukungan agar semua keinginan dari setiap kelompok masyarakat dapat terpenuhi. Market design to shape and satisfy those desires, bringing together buyers and sellers, student and teachers, doctors and pasients, job seekers and those looking to hire and even sometimes those looking for love. Begitu kata Roth, Dalam match marking market ada jenjang dan ada ceruk pasar bagi tiap kekuatan dan daya beli masyarakat.

Hingga saat ini para ekonom di Indonesia terutama hanya berfokus pada “commodity markets” dan prices yang terbentuk dari kurva supply and demand. Dan menganggap hanya harga, atau “prices alone” yang menentukan siapa mendapatkan apa yang dicari, dan bagaimana menemukan .

Sementara pemahaman tentang“match making market” dimana harga bukan satu satunya penentu keputusan, tidak pernah mendapatkan fokus perhatian. Karena sasaran para ekonom hanya mencoba menemukan harga paling murah dari produk maka hingga saat ini yang menjadi perhatian hanya kurva supply and demand. Dan karenanya selalu yang diinginkan adalah jumlah pasokan yang melebihi demand agar harga menjadi murah. Kalau ada kran impor tersumbat sebaiknya dijebol agar semua barang masuk bisa melenggang kangkung masuk kedalam pasar domestik. Yang utama pasar bebas kendala.

Economic of scale. Proses deregulasi diarahkan untuk memperbesar pasokan atau supply, pemain besar kecil dimasukkan dalam arena persaingan di pasar bebas. Yang punya modal besar akan menyeret semua orang untuk membanting harga dan terjadilah price war yang merusak industrinya sendiri atau pasarnya sendiri.

Dan disini yang amat berpengaruh adalah ekonom yang berpandangan amat liberal, yakni yang mengatakan bahwa pasar sebaiknya dibebaskan dari segala kendala. Biarkan barang masuk seluas mungkin dan pastilah keseimbangan harga murah yang baru akan tercipta sendiri, dan semua orang akan mendapatkan apa yang diinginkan.

Dan ini dapat diamati dari apa yang berkembang dalam paket deregulasi yang sedang gencar dilaksanakan saat ini. Kini para industriawan dalam negeri pastilah sedang menghitung untung rugi, tetap memiliki pabrik pembuatan produk sendiri atau lebih baik menutup pabrik dan fokus pada industri jasa pergudangan, sales marketing dan showroom. Sebab buat apa sibuk memproduksi barang, toh pasti kalah bersaing dengan produk jadi yang dimpor bebas merdeka tanpa kendala. Dan sebagai orang yang pernah mengalami pahit getirnya krisis ekonomi yahun 98, saya dapat memprediksi dalam lima enam tahun kedepan semua industri di Indonesia akan tutup. Yang saya hawatir keinginan kita untuk membangun kekuatan industri dalam negeri akan hancur berantakan. Industrialized nation akan ditransformasikan menjadi a shopkeeper nation. Mudah mudahan ini tidak terjadi.

Sebab kini tidak dikenal lagi kata agent tunggal atau importir pabrikan, semua orang berhak menjadi agen dan menjadi importir umum, tanpa syarat aneh aneh. Cukup punya kantor vitual dan satu genggam smartphone kita dapat mengatur laju import produk jadi identik dengan produk industri dalam negeri yang dikembangkan dengan banyak investasi dan learning curve tanpa kendala. Semua mudah dan dimudahkan. Biaya kecil untung besar.

Dalam comodity market, Econom tidak berkehendak mengatur siapa mendapatkan apa dan mengapa. Econom menganggap commodity market tak bisa direkayasa, punya logikanya sendiri dan tak bisa di intervensi. Jika seseorang mau membeli saham di New York Stock Exchange atau Bursa Effect Indonesia, pembeli tak perlu pusing pada siapa yang menjual. Lihat harga saham dan pilih mana yang ingin diperoleh. Prices yang mengatur segalanya.

Akan tetapi dalam paradigma “match making market” prices don’t work that way, kata Roth. Seorang pelajar miskin misalnya tanpa insentip dan mekanisme yang direkayasa untuk maksud tersebut tidaklah mungkin mampu bersekolah di Princeton atau MIT yang berbiaya mahal. Market sendiri tidak menghendaki adanya pelajar miskin yang bersekolah di universitas elite. Akan tetapi karena ekonomi berfungsi karena adanya insentip, maka diperlukan beberapa langkah sengaja untuk mengendalikan prilaku pasar yang tidak berpihak pada mereka yang miskin untuk mendapatkan hak yang sama. Market perlu dirancang ulang atau diredesign dan di rengineering. Di rekayasa ulang. Diperlukan banyak mekanisme dan proses pemberian insentip fiskal dan moneter yang berjenjang agar ada instrument dalam pasar sehingga pelajar miskin yang memiliki IQ tinggi dan lulus test dapat meraih gelar sarjana dan Maha Guru di universitas ternama.

Begitu juga dengan industriawan di negara berkembang seperti Indonesia. Jika market dibiarkan bekerja sesuai kekuatannya sendiri, tidaklah mungkin PT KAI akan membeli produk PT INKA dan LEN, banyak alasan ekonomis yang dapat dikemukakan untuk menyatakan produk buatan dalam negeri berupa gerbong dan lokomotip serta signalling yang diproduksi INKA dan LEN tak punya kualitas atau kalah bersaing harga dengan produk buatan Jepang, Amerika atau China. Karenanya dalam logika pasar bebas sebaiknya INKA dan LEN dirubah jadi “warehousing” atau ‘Show room” gerbong dan lokomotip buatan luar negeri. Begitu juga dimasa depan industri otomotip yang telah tumbuh berkembang di Indonesia akan secara berangsur angsur berubah menjadi “warehousing” atau “showroom”, karena kini Thailand, Malaysia dan Jepang sendiri telah mampu mempenetrasi pasar domestik Indonesia tanpa kendala dengan produk jadi yang identik dengan produk yang dikembangkan oleh industri Indonesia.

Pertanyaan pokoknya apakah buku pemenang hadiah nobel Alvin Roth berjududl Who’s get What and Why yang ingin menonjolkan peran baru Ekonom sebagai Engineer yang berfungsi untuk melakukan proses rekayasa ulang atau redisgn pasar domestik itu punya gema di Indonesia ?
Wallahu alam. Apalagi buku ini baru terbit tahun 2015, belum ada yang baca ???

Mohon Maaf jika keliru, Salam

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: