//
you're reading...
Creativity, Ekonomi, Entrepreneurship, Kemandirian, Leadership, Lingkungan, Perubahan

Prognosa Headwind, Tailwind and Turbulences tahun 2016 : CuMeMu

Jusman syafii Djamal
DECEMBER 18, 2015

Kemarin saya berbincang sambil minum kopi dengan kolega saya Arif Wibowo, Dirut Garuda. Kami diskusi ketika menunggu acara pembukaan musyawarah Asosiasi Pilot Garuda di Cengkareng. Salah satu topik Kita berdiskusi tentang prognosa ekonomi 2016.

Ada tiga fenomena yang akan dihadapi oleh tiap Industri di Indonesia pada tahun 2016. Head wind atau angin sakal, tail wind atau angin buritan dan turbulensi.

Dalam diskusi kami gunakan analogi. Pertumbuhan perusahaan apapun jenisnya yang beroperasi di Indonesia itu ibarat Pesawat terbang yang sedang berangkat dari satu bandara asal ke bandara tujuan. Pesawat terbang meski fuel penuh dan penumpang padat, serta engine beroperasi dengan baik dalam perjalanannya akan melambat kecepatannya jika berhadapan dengan angin sakal atau headwind. Lambat sampai tujuan.

Pesawat dapat lebih cepat sampai tujuan, jika terdorong oleh angin buritan atau tailwind. Kecepatan meningkat.Angin yang berubah arah dan membawa uap air sering membentuk gumpalan awan pada tiap ketinggian, tebal tipisnya datang tak terduga. Pesawat secara tiba tiba bisa saja berada dalam kondisi turbulensi. Goncangan seolah sedang berada dijalan bergelombang dan tak rata, Rasa nyaman berkurang.

Diskusi ringan kami berdua yang diawali oleh kolega saya Arif Wibowo Dirut Garuda dengan analogi headwind, tailwind dan turbulences itu membawa kamu memiliki dua catatan penting.

Pertama optimisme akan pertumbuhan ekonomi Indonesia harus terus dibangun dan dikembangkan ke segala lapisan masyarakat. Sebab tanpa optimisme ekonomi tak mungkin muncul kehendak untuk investasi dan belanja barang serta jasa. Optimisme melahirkan peningkatan Government Spending, Konsumsi masyarakat dan Investasi. Rumus pertumbuhan ekonomi adalah Y = Government Spending (G) + Consumption (C) + Investment (I) = (Export – Import).

Kedua fenomena ekonomi global tak boleh dipandang sebelah mata. Fokus pada fluktuasi nilai tukar dan pergeseran kecenderungan kebijakan fiskal dan moneter sebagai reaksi atasnya perlu terus dilakukan. Kata Lionell Messi fokus itu sama artinya Mata key player atau boardroom tak boleh lepas dari bola. Meski lawan menggiringnya dengan berlika liku.

Fenomena angin sakal atau headwind berupa kondisi fluktuasi nilai tukar, likuiditas moneter yang sering mengkerut dengan kebijakan suku bunga tinggi, serta beban biaya pajak yang akan meningkat perlu jadi perhatian pengambil keputusan dalam Boardroom setiap perusahaan.

Headwinds atau angin sakal dapat memperlambat laju pertumbuhan marjin keuntungan perusahaan di Indonesia tahun 2016. Peningkatan Topline dan bottomline dalam neraca perusahaan kelihatannya masih akan identik dan mirip seperti di tahun 2015, Ada pertumbuhan akan tetapi tidak mungkin double digit.

Headwind paling besar akan dihadapi oleh industri pertambangan dan mineral. Pasar semakin menyempit, demand rendah dan harga komoditi terus merosot dipasar dunia. Industri Tambang dan Mineral pasti alami kesulitan untuk membukukan keuntungan. Di Industri ini Survival mode harus tetap dinyalakan. Sebab sepanjang perjalanan turbulensi, goncangan yang tak kunjung henti akan dihadapi.

Angin sakal atau head wind yang akan dihadapi adalah fluktuasi nilai tukar dollar terhadap rupiah. Kebijakan peningkatan suku bunga the Fed, bank Sentral Amerika yang dinakhodai oleh seorang Wanita , Yellen akan terus terjadi. Amaerika berniat ingin mengotrol ketat peredaran uang dollar yang beredar di pasar dunia. Pemilik dollar diberi insentip untuk kembali menabung atau berinvestasi di Amerika. Tak ada pasar di dunia yang tak perlu dollar. Sebab ia kini menjadi mata uang dunia. Kecepatan dollar beredar di masyarakat secara bertahap dan berkesinambungan diperlambat. Volume dollar beredar akan dikurangi. Demand meningkat, supply turun harga dollar akan meningkat.

Sementara bank sentral diseluruh dunia tak terkecuali Bank Indonesia akan meresponsenya dengan kebijakan tunggal ikuti gendang Yellen. Ia naikkan suku bunga, semua juga naikkan suku bunga. No policy is a good policy. Kata para Banker di Bank Sentral. Semua mempersilahkan “market forces” bekerja tanpa kendali. Biarlah mekanismen pasar menyelesaikan sendiri masalah suku bunga ini. Hands off policy berjalan sepanjang waktu.

Angin sakal lain yang dihadapi adalah perubahan episentrum engine pertumbuhan china. Jika dimasa lalu china bertumpu pada kekuatan eksport dan Investasi, Kini mereka tumbuh dari konsumsi masyarakat. Pertumbuhan ekonomi di China diprediksi masih melambat. Banyak investasi property di China yang dilakukan dimasa lalu kini belum terjual. Fokus pada upaya untuk menghindari “ghost Town”, terjadinya kota hantu karena bangunan tak berpenghuni akan jadi titik tumpu.

Dengan kata lain China Policy sekarang lebih “inward looking”. Menjaga pertumbuhan ekonomi sesuai kekuatannya sendiri. Meski kekuatan likuiditas China menyebabkan mereka kini jadi sumber dana investasi negara lain yang diincar banyak kalangan.

Angin buritan yang akan membawa industri bisa lebih cepat tumbuh adalah penurunan harga bahan bakar dunia. Fuel prices cenderung turun ke level 40 dollar per barrel. Akan tetapi fuel prices yang turun ini menyebabkan Russia kekurangan likuiditas. Karenanya kini Russia tampil kekancah pergolakan politik di Syria. Perang di timur tengah makin tinggi intensitasnya. Tiap hari pesawat terbang tempur menjatuh kan bom dikawasan ini. Angin buritan bisa berubah jika perang di Syria dan Timur Tengah terus makin hari makin gencar. Sampai kapan harga minyak akan turun, tak ada orang yang bisa memberi kepastian.

Di Indonesia pengaruh penurunan harga bahan bakar ini sedikit berkurang di Industri Penerbangan. INACA sebagai assosiasi terus mengeluhkan kebijakan harga Avtur yang diterapkan Pertamina. Meski harga avtur dunia turun tetapi harga di Bandara bandara Indonesia yang ditetapkan oleh Pertamina lebih tinggi 12-15 %.

Dengan kata lain maskapai penerbangan Nasional yang tergabung dalam INACA maupun tidak selalu kalah bersaing dari maskapai penerbangan negara lain yang memanfaatkan pasokan avtur di Bandara Changi Singapura. Apalagi kini Maskapai Timur Tengah terus mengetuk pintu Kementerian Parawisata dan Kementerian Perhubungan untuk minta ijin rute ke semua Bandara Internasional di Indonesia yang potensial untuk peningkatan demand.

Bandara padat penumpang dan rute gemuk terus diincar dengan alasan Turisme.Dengan kata lain angin buritan yang tadinya diprediksi jadi keuntungan kini bisa berubah jadi headwind atau kendala. Sebab semua maskapai penerbangan Asing yang dibebaskan masuk melenggeang ke rute internasional Indonesia, akan menggerogoti pasar maskapai penerbangan domestik. Paling tidak maskapai asing yang beli avtur di Changi Singapura akan memiliki daya saing biaya operasi lebih rendah dengan harga avtur lebih rendah 15 % dibanding di Indonesia. Berkah bisa berubah jadi kendala.

Fenomena angin sakal dan angin buritan serta turbulensi dalam situasi ekonomi sebagai analogi ini bisa dinterpe=retasikan dengan cara berbeda. Ketika saya menjadi Direktur Sistem Senjata IPTN tahun 1996-1998 an , saya sering bergcengkrama dan berdiskusi dengan petinggi Militer. Dipelbagai negara saya temui istilah baku mereka jika bicara tentang strategi. Dalam buku panduan Military Academy West Point dan Sesko saya bertemu istilah menarik. Cuaca – Medan – Musuh. Disingkat CuMeMu.

Cuaca adalah sesuatu yang kendala yang lahir dari sesuatu yang bersifat fluktuatip, mulur mungkret, kendala dan opportunities yang silih berganti dari “a given condition”, hal yang tak dapat diubah. Badai salju, musim dingin, gelombang pasang dilaut biasanya memiliki siklus yang menetap. Tak bisa diubah tapi dapat diprediksi. Diperlukan ahli Meteorologi dan Geofisika untuk memprediksi cuaca dengan tepat. Kapan dan bilamana ada jendela terbuka yang memberi jalan keluar jika kita terperangkap cuaca buruk. Fenomena cuaca ini menjadi penting ketika para ahli strategi militer perang Dunia Kedua berdebat tentang arti D Day. kapan dan bilamana saat yang tepat menggerakkan pasukan. Cuaca terus memburuk. Dan Eisenhower sebagai panglima komando tertinggi terpaksa harus mengandalkan analisa cuaca dari ahlinya seorang mayor dengan pangkat lebih rendah untuk menentukan Go and No Go policy-nya.

Medan tempur adalah kendala yang muncul dari situasi yang bersifat tetap. Lembah, gunung, ngarai, sungai, bibiran pantai, selat, teluk dan topography adalah kondisi geography yang dipandang sebagai fenomena yang menetap ada sepanjang waktu disana. Tidak berubah. Medan tempur dapat dipilih.Sementara musuh adalah segala sesuatu yang dijadikan target untuk dikalahkan. Tiap musuh memiliki Kekuatan dan sekaligus Kelemahan. Kekuatan dihindari dengan strategi memutar atau flanking. Kelemahan dihancurkan dengan head to head strategy.

Ekonomi sangat dipengaruhi oleh likuiditas pasar uang. Likuiditas bersifat fluktuatip. Mulur mungkret. Sangat tergantung pada kebijakan moneter dan fiskal satu negara.Pertanyaan apakah modal investasi atau dana untuk working capital mudah diperoleh tidak, adalah pertanyaan penting yang sering diajukan. Apalah Bank Indonesia juga akan terus menerapkan suku bunga yang tinggi atau tidak. Apakah suku bunga pinjaman tinggi atau rendah. Kalau tinggi berarti cost of capital atau biaya modal tinggi. Tinggi rendahnya suku bunga dan beban biaya modal ini termasuk kategori Cuaca. Sebab berfluktuasi dan tidak bisa dipengaruhi oleh Boardroom. Variabel yang tak ada dalam genggaman.

Cuaca ekonomi juga akan dipengaruhi oleh persentase pajak yang dibebankan negara pada tiap transaksi. Apa saja yang akan dikenakan pajak ? Apa setiap transaksi akan kena pajak. Kalau kena berapa besar. Pajak dan suku bunga ini ibarat inflasi. Akan mempengaruhi besar kecilnya biaya produksi dan harga jual. Dan pada umumnya kebijakan fiskal dan moneter berupa suku bunga dan insentif pajak (jika ada) akan mempengaruhi Cost of Doing Business.

Biasanya kita sering terpaku bicara tentang cost of doing business dengan prilaku birokrasi yang menghambat. High Cost economy selalu dirujuk pada simpang siurnya peraturan. Karena itu arah proses deregulasi yang dilakukan dalam paket kebijakan ekonomi jilid satu hingga jilid enam semuanya mengacu pada upaya memotong mata rantai aturan. Fokusnya agar inevstasi asing mudah masuk. Dan agar produk impor lebih leluasa masuk kepasar dalam negeri. Pendekatan memotong mata rantai aturan ini sangat baik dilakukan, dan semua investor pastilah senang.

Akan tetapi bagi industri yang sudah lama bercokol dan beroperasi di Indonesia, yang dimaksud dengan cost of doing business tidaklah cukup dengan memotong aturan.Medan pertarungan yang dihadapi secara riel adalah kekuatan kompetitor ditiap lini. Biasanya dibenchmark dengan biaya produksi. Jika banyak pungutan dan inflasi tinggi pastilah terjadi peningkatan biaya produksi. Inflasi juga melahirkan penyempitan pasar/ Begitu juga melemahnya daya beli. Kemudahan masuknya barang impor sejenis juga melahirkan kekuatan bagi musuh untuk merajai medan tempur.

Banyak onak dan duri, lembah dan gunung yang harus diliwati untuk membawa beban biaya produksi ini dari hulu kehilir agar daya saing meningkat. Disini kelihatan pengambil kebijakan moneter dan kebijakan fiskal masih sibuk sendiri, Dan medan pertempuran yang dihadapi para pengusaha Indonesia masih semakin sukar.

Jika pengusaha bergerak di industri penyedia infrastruktur mungkin kesulitan itu tidak dirasakan. Angin sakal berubah jadi angin buritan. Akan tetapi bagi industri otomotip dan industri elektronik konsumer, likuiditas dan bayangan kenaikan ongkos produksi karena peningkatan harga biaya produksi masih akan dihadapi ditengah kesulitan likuiditas yang terjadi akibat suku bunga tinggi yang diterapkan.

Musuh nyata yang dihadapi para industriawan dan pengusaha masih sama seperti tahun 2015, yakni peningkatan effsiensi dan produktivitas. Tetapi tentu saja dari pengalaman tahun 2015 “cost reduction” dan tindakan untuk lebih merampingkan dan mengurangi biaya produksi tanpa menyentuh proses lay off karyawan memiliki batas gerak majunya. Ada batas alamiah efisiensi. Ikat pinggang tidak bisa terus dikencangkan. Salah kelola bisa pinggang yang putus.

Karenanya meskipun tentu saja kita selalu optimis bahwa tahun 2016 akan dihadapi tailwin atau angi buritan yang menyebabkan kita bisa tumbuh lebih baik dibanding tahun 2015.

Akan tetapi dalam perjalanan jangan lupa untuk selalu memasang sabuk keselamatan atau seatbelt, sebab cuaca ekonomi akan tetap menunjukkan tanda tanda kita akan menghadapi kondisi turbulensi ditengah perjalanan.

Telaah CuMeMu atau Cuaca Medan Musuh dalam membuat Rencana Anggaran tahunan Perusahaan perlu dikembangkan dengan pelbagai skenario, dari spektrum jelek hingga terbaik. Hope for the best wajib tetapi prepare for the worst diperlukan sebagai tindakan berjaga jaga agar busines yang ditekuni tetap survive.

Salam

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: