//
you're reading...
Human being, Kemandirian, Life style, Lingkungan, Pendidikan, Perubahan

Pendidikan Makan Sehat ala Negeri Sakura

Dewi Utama Fayza

Sejak Juni tahun 2005, Jepang mengeluarkan peraturan tentang “Shoku Iku (Food Education) sebagai aspek fundamental kehidupan. Di samping aspek lainnya seperti intelektual, moral, dan pendidikan jasmani. Peraturan itu antara lain menyatakan bahwa pembelajaran tentang bagaimana memilih makanan sehat akan membantu perilaku warganegaranya memiliki pola hidup sehat. Implementasi dari peraturan itu dilakukan dalam bentuk menghargai kembali masakan tradisional Jepang yang sehat, menghargai produsen yang memproduksi makanan sehat dan ramah lingkungan, merevitalisasi komunitas terkait dengan pertanian, kelautan dan kehutanan, dan meningkatkan kesanggupan mencukupi keperluan pangan sendiri “food self sufficiency”.

Mr Yukio Hattori (President of Hattoori Nutrien College) menyatakan bahwa ada tiga pilar yang mereka usung, yaitu (1) kemampuan memilih makanan; (2) perilaku di meja makan; dan (3) isu global terkait makanan yang memenuhi syarat gizi.

Program nasional itu mengajak bangsa Jepang mempedulikan dan belajar bagaimana memecahkan beragam masalah, misinformasi dari iklan makanan yang menyesatkan, dan ketidaktergantungan pada produk makanan impor dan belajar mencintai produk makanan dalam negeri. Promosi perilaku dan gaya hidup sehat untuk menghindari penyakit karena “ulah makan” yang tidak sehat menjadi usaha bersama yang melibatkan keluarga, sekolah dan komite, serta dewan penidikan. Para petani di desa sebagai produsen dan penduduk kota sebagai konsumen dipersatukan dalam sebuah nilai-nilai etika, moral, dan budaya, bahwa makanan sehat tradisional Jepang seperti Sashimi, Sop Misosiru, Onigiri, dan Sushi, akan membentuk raga dan jiwa yang sehat.

Anak-anak mereka dikenalkan minum susu, makan ikan dan sayur, terutama parutan wortel mentah saat makan siang di sekolah. Kebersamaan makan siang dilayani secara bergantian oleh murid merupakan cara mudah menginternalisasikan berbagai nilai-nilai dalam kehidupan bersama yang sehat di sekolah.

Di sekitar sekolah tersedia kebun sekolah yang ditanami aneka sayur dan bunga. Murid-murid diajak memasak sayuran hasil panen bersama-sama sebagai kegiatan terpadu yang amat menyenangkan. Disediakan wastafel untuk mencuci tangan, dan poster-poster cara mencuci tangan, serta menggunakan handuk untuk mengeringkan tangan.

Mengganti sepatu luar dengan sendal dalam ruangan ”slipper”— adalah bentuk lain untuk tidak membawa kotoran kaki dari luar masuk ke dalam kelas atau rumah. Sebuah gaya hidup ketimuran yang kaya akan nilai-nilai untuk menjaga kesucian di ranah domestik rumah tangga dari berbagai pernyakit dan kotoran yang tidak dikehendaki.

Uniknya lagi praktik pelajaran “PKK”—Pendidikan Kesejahteraan Keluarga masih dilaksanakan hingga zaman modern sekarang. Murid-murid diajarkan cara mencuci pakaian menggunakan mesin cuci, cara mensterika baju, dan menjahit sederhana seperti menjelujur, mensom, menjahit kancing baju, membuat barang-barang sederhana seperti tas dari kain menggunakan tangan dan mesin jahit, dan memasak makanan sederhana yang kaya gizi. Setiap anak dilatih melakukan kegiatan-kegiatan kemandirian di ranah domestik dalam mengukuhkan keluarga dan rumah tangga. Pendidikan bertanggung jawab yang akan menjadi gaya hidup di ranah publik..

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: