//
you're reading...
Human being, Kajian, Kemandirian, Life style, Lingkungan, Motivasi, Pendidikan, Perubahan

Kebijakan Penggunaan Bahasa Ibu dalam Konteks Pendidikan di SD

Dewi Utama Fayza

Makalah disampaikan dalam Seminar QITEP SEAMEO
Program Pendidikan multibahasa Berbasis Bahasa Ibu

Hotel Century Park, Senayan, 23 s.d 26 September 2014

“Anak piawai berbahasa bukan karena belajar tata bahasa. Mereka justru pintar karena memperoleh kosakata dari Ibu, dan dari orang-orang terdekat dengan lingkungannya”.
Frederich Frobel, Pedagogies of the Kindergarten, 1895

ABSTRACT

Saat ini muncul kecenderungan, sejak TK dan SD, anak dikenalkan bahasa asing sebagai penanda status sosial. Fenomena ini tumbuh bukan hanya di Jakarta, tapi juga di kota-kota lainnya di Indonesia. Indonesia dengan beragam suku dan budaya mulai Sabang hingga Merauke adalah himpunan kekayaan sosial- spiritual- material tiada hingga, yang selama ini telah diabaikan keberadaannya dalam pelayanan pengasuhan dan pendidikan. Anak-anak masuk sekolah dasar banyak dinolkan pengalaman belajarnya. Beragam bahasa ibu sebagai bahasa pertama yang dikuasai anak manusia sejak ia lahir melalui interaksi sosial dengan sesama anggota masyarakat bahasanya, seperti keluarga dan masyarakat lingkungannya, sesungguhnya merupakan investasi luar biasa yang harus kita perjuangkan dalam mengusung lahirnya kembali generasi emas.

Tercerabutnya anak-anak dari bahasa ibu mereka sebagai wujud pesan budaya yang mereka miliki akan memunculkan beberapa risiko, menghadang tumbuh kembang anak dalam proses pembelajarannya dan berdampak rendahnya budaya literasi. Vygotsky mengatakan bahwa kontribusi budaya, interaksi sosial, dan sejarah sangat mempengaruhi perkembangan mental individual anak, khususnya dalam perkembangan bahasa, membaca, dan menulis. Lebih lanjut Vygotsky menyampaikan bahwa pembelajaran yang berbasis pada budaya dan interaksi sosial sesungguhnya adalah sebuah pendekatan proses pembelajaran yang mengacu pada fungsi mental tinggi (Higher Order Thinking Skill) yang berdampak pada persepsi memori, dan berpikir anak. Ida Wayan Oka Granoka dalam seminar budaya Parum Param di Bali (2013) dan dalam bukunya Reinkarnasi Budaya mengakui kehebatan bahasa ibu sebagai “Bahasa Ibu Sakti” yang memperkuat gerak bahasa anak menjadi menyempurna, karena peristiwa pemerolehan bahasa berasal dari rahim Ibu. Bukan dari lembaga bernama sekolah. Oka Granoka mengistilahkan gerak bahasa bayi dengan ibunya itu dengan istilah “Guttural-Palatal-Cerebral”. Hal yang sama RA. Kartini memperjuangkan konsep bahasa ibu dalam membangun Konsep Keluarga sebagai Entitas Sosial yang melahirkan peradaban. Beliau menyampaikan dalam surat-suratnya. ”…dalam hariban si ibu itulah anak akan belajar merasa, berpikir, berkata-kata-kata” (awal tahun 1900 surat untuk Nyonya Ovink Soer).

Hal yang sama sebagai inspirasi, Jepang misalnya, memperkuat tradisi mereka mampu tegak gagah berdampingan dalam era globalisasi ini karena berkembang pesatnya gerakan ”kyo iku mama —ibu-ibu pendidik” yang mengusung konsep inti, lahirnya ”Mitsu no Tamashi”— masa-masa emas, di mana kaum ibu bertugas meletakkan pendidikan dasar semenjak janin berada di dalam rahimnya hingga bayi mereka usia tiga tahun pertama. Program Generasi Emas Jepang untuk menguatkan kebahasaan alamiah kebahasaan, sosial, dan kognitif muncul beriringan dalam diri calon bayi sebelum lahir itu dikenal dengan “Mimi-Me-Te- Kokoro”. Sebuah program sensori-inderawi yang kaya dengan pembekalan agar calon ibu cerdas melakukan stimulasi kebahasaan dini. Vygotsky dan Piaget dalam riset-risetnya yang berkembang kemudian menambahkan lagi bahwa “private speech” yang didampingi dengan verbal art dalam pengasuhan akan membawa anak mampu meraih ZPD “Zone of Proximal Development”. Verbal Art melalui bercerita, menembang/lulluby, mendongeng, dalam pengasuhan ini sangat kental pada suku Aceh, Minang, Jawa, Sunda dan sebagainya, yang pada abad ke 19 melahirkan generasi emas di zamannya. Sebutlah Cut Nya’Din, Teuku Umar, Natsir, Sjahrir, Hatta, Bung Karno, dan sebagainya.

Riset-riset longitudinal di PAUD menyatakan bahwa anak-anak yang mendapat perlakuan yang patut di sekolah dasar yang menggunakan BAHASA IBU mereka sebagai pengantar di kelas awal mampu merawat motivasi, minat belajar hingga jenjang pendidikan tinggi (minimal S1).

Strategisnya peran bahasa ibu bagi masyarakat pendukungnya, dalam kenyataannya bahasa ibu sebagai lokal konten (muatan lokal) harus tersisih manakala berhadapan dengan bahasa-bahasa utama yang dipakai dalam kehidupan modern. Bahasa utama itu di dalamnya termasuk penggunaan bahasa Indonesia dan bahasa-bahasa asing lainnya yang diberikan kepada anak di awal tahun masuk SD dengan pendekatan yang keliru dan tidak patut . Sebagai contoh adalah masuknya muatan Bahasa Indonesia di SD wilayah Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi yang menumbuhkan masalah baru dalam proses pendidikan dan pembelajaran.

Kenali Setiap Murid Sebagai Anak Indonesia yang Unik
Mulai dari Sabang hingga Merauke ||

Amati, dan pandanglah anak-anak yang ada di kelas kita. Sebagai peserta didik di Sekolah Dasar mereka datang dari beragam latar, suku, budaya, bahasa, sejarah, dan status sosial. Kelas kita menjadi kelas beragam (multikultural) dengan peserta didik yang unik sebagai individu. Semua murid itu hadir di kelas dengan bahasa ibu (mother tongue) yang berbeda antara anak satu dengan anak lainnya. Peserta didik itu datang dari berbagai suku yang ada di seluruh Indonesia. Sebuah negeri pelangi dengan berbagai nuansa warna budaya yang unik dan khas. Ada suku Aceh, Melayu, Suku Anak Dalam, Lampung, Palembang, Belitong, Jawa, Sunda, Madura, Bugis, Makasar, Dayak, Banjar, Sasak, Bima, Timor, Sumba, Ambon, Manado, Papua, dan sebagainya.

Boulding menyatakan bahwa Indonesia memiliki 3000 jenis suku bangsa.

Ida Wayan Oka Granoka dalam seminar budaya Parum Param di Bali (2013) mengusung “Holistik-Integralistik-Ekologis”, sebagai konsep baru memenuhi panggilan spiritual dan sosial kebutuhan dasar manusia untuk menjadi manusia yang lebih mulia. Sintesa sistematik baru “Benar-Baik-Indah” merupakan Quantum berpikir yang luar biasa manusia yang lahir dari kehebatan bahasa ibu sebagai “Bahasa Ibu Sakti” yang memperkuat gerak bahasa anak menjadi menyempurna, karena peristiwa pemerolehan bahasa berasal dari rahim Ibu. Bukan dari lembaga bernama sekolah. Oka Granoka mengistilahkan gerak bahasa bayi dengan ibunya itu dengan istilah “Guttural-Palatal-Cerebral”.

Rumah Tangga sebagai Sustainable Living ||
Dari mana tanggung jawab di mulai?

Tanggungjawab di mulai dari rumah. Masing-masing rumah itu bernama “Rumah Tangga” sebagai “suistanable living”. Mendidik kaum ibu dan ayah siap menjadi pasangan yang memiliki tanggungjawab. 
Mendidik dan bersekolah dua hal yang berbeda. Pasangan orangtua yang bersekolah, meski bersekolah tinggi hingga S3, belum tentu menjadi orangtua yang pantas buat anak-anaknya. Dalam pendidikan yang berkepatutan (appropriateness), manusia yang dididik tentunya akan menjadi cerdas. Sementara banyak praktik-praktik yang ada sekarang justru membawa manusia pada ancaman kebebalan/kedunguan terstruktur dalam berkehidupan. Human Brain Cells berkembang baik, namun keseimbangan dalam menata kebajikan dalam kehidupan terabaikan. Akibat ketidakharmonian dalam membangun antara pengetahuan dan perikehidupan dalam kehidupan sehari-hari (life style) dalam pola pengasuhan dan pendidikan di rumah tangga. Sehingga ketidaksiapan menjadi orangtua yang berkepatutan tak dapat tumbuh baik dalam mendampingi tumbuh kembang putra-putrinya.

Kata-kata “Ibu Pendidikan Manusia yang Pertama-tama” adalah kosakata sakti dari pemikiran Kartini seabad lalu. RA. Kartini memperjuangkan konsep bahasa ibu dalam membangun Konsep Keluarga sebagai Entitas Sosial yang melahirkan peradaban. Beliau menyampaikan dalam surat-suratnya. ”…dalam hariban si ibu itulah anak akan belajar merasa, berpikir, berkata-kata-kata” (awal tahun 1900 surat untuk Nyonya Ovink Soer).

Inspirasi dari Jepang||
Bagi wanita Jepang, yang memilih menjadi ibu dan melahirkan anak, secara ilmiah maupun dalam tradisi jepang, saat ini mengusung gerakan ”kyo iku mama —ibu-ibu pendidik” konsep inti, lahirnya ”Mitsu no Tamashi”diistilahkan sebagai masa-masa emas. Ibu bertugas meletakkan pendidikan dasar semenjak janin berada di dalam rahimnya hingga bayi mereka usia tiga tahun pertama. Itulah saat pendampingan seorang ibu memberi pengasuhan dalam berbagai aktivitas mengaktifkan otak anak agar berkembang pesat. Bandingkan, saat kelahiran, berat otak bayi hanya 400 gram, usia 24 bulan 1000 gram, dan takala usia dewasa hanya 1400 gram. Penciptaan neuron yang begitu memuncak di masa kanak-kanak inilah yang dipahami wanita Jepang sebagai penentuan hidup anak manusia yang berkualitas atau tidak. Semua keputusan berada ditangan mereka sebagai ibu.

Program Generasi Emas Jepang untuk menguatkan kebahasaan alamiah kebahasaan, sosial, dan kognitif muncul beriringan dalam diri calon bayi sebelum lahir itu dikenal dengan “Mimi-Me-Te- Kokoro”. Sebuah program sensori-inderawi yang kaya dengan pembekalan agar calon ibu cerdas melakukan stimulasi kebahasaan dini. Vygotsky dan Piaget dalam riset-risetnya yang berkembang kemudian menambahkan lagi bahwa “private speech” yang didampingi dengan verbal art dalam pengasuhan akan membawa anak mampu meraih ZPD “Zone of Proximal Development”. Otak anak mengalami akselerasi human cognitive yang tinggi karena emotional bonding yang dilakukan ibu semenjak dari dalam kandungan menjadi trigger memicu kuatnya arsitektur human cognitive, terutama dalam berbahasa anak.

Perikehidupan Rumah Tangga Muda Indonesia Hari Ini || 
Saat sekarang, anak-anak Indonesia yang lahir dari dari golongan ibu-ibu yang berpendidikan tinggi malah anak-anaknya berada dalam “kebangkrutan pengasuhan dan pendidikan karena dilayani para pembantu rumah tangga dan baby sitter”. Suster dan para pembantu yang hanya berpendidikan ala kadarnya, dengan etika ala kadarnya, dengan pengetahuan ala kadarnya, tanggung jawab menjadi inang pengasuh ala kadarnya yang dipercaya siang dan malam.

Sentuhan non-ibu pun menjadi pelengkap kesengsaraan anak belia yang kehilangan sentuhan ibu sejatinya (attachment). Para ibu muda yang bergelimang harta, melirik teknologi pengasuhan pada sebuah Chip bermerek terkenal untuk menggantikan kehadiran mereka sebagai ibu. Merekam suara mereka, atau nyanyian klasik pada sebuah alat teknologi canggih yang dihubungkan pada sebuah handphone untuk menenangkan bayi-bayi mereka. Kemudian mengupah suster dua hingga tiga orang untuk menggantikan popok, membuatkan makanan, atau suster ceria untuk mengajak anak mereka bermain bercanda atau menemani bersekolah.

Ilustrasi di atas menggambarkan bagaimana entitas sosial diawali dari buhulan aspek sosial emosi (emotional bounding) yang begitu dominan pada diri ibu dan anak telah dicuri oleh ambisi kehidupan modern yang malfungsi. Peranan ibu sebagai ”Senggyo Syuhu”—Ibu Rumah Tangga Profesional, atau sebagai ibu pendidik— ”Kyoo Iku Mama” hampir nyaris dilupakan. Bergesernya paradigma pola asuh keluarga muda lapisan menengah ke atas yang berkarir di luar rumah atau menjadi ibu rumah tangga yang mengalami ”Cinderella Syndrome” yang ditampilkan dengan perilaku hedonis-komsumtif yang membuat kehidupan para belia memasuki zaman kecemasan dan kemuraman. (lihat Faizah, Dewi Utama dalam Anak-Anak yang Digegas, Jakarta, 2002).
Verbal Art dalam latar bahasa ibu melalui bercerita, menembang/lulluby, mendongeng, dalam pengasuhan ini sangat kental pada suku Aceh, Minang, Jawa, Sunda dan sebagainya, yang pada abad ke 19 melahirkan generasi emas di zamannya. Sebutlah Cut Nya’Din, Teuku Umar, Natsir, Sjahrir, Hatta, Bung Karno, dan sebagainya.

Kehidupan berkeluarga yang baik memang tidak mengubah jumlah gen, tapi diharapkan akan mengubah aktivitas gen-gen anak manusia. Semakin besar peran ibu dalam pengasuhan anaknya, maka semakin cerdas dan penuh percaya diri pulalah anak-anak mereka. Itulah penyebab utama, para ibu muda Jepang yang berpendidikan tinggi, bergegas kembali ke rumah tangga, melaksanakan ”IKUJI”—meletakkan dasar pendidikan karakter dan akhlak mulia anak-anak yang mereka lahirkan sebagai bentuk implementasi dari Mother Tongue, bahasa ibu bertuah dan sakti. Itulah bentuk konsekuensi dari Undang-Undang Perkawinan dan ijab kabul dalam tali pernikahan yang mereka jalankan.

Strategi Kebijakan di SD Menyiapkan Generasi Emas dengan Mengggunakan Bahasa Ibu dalam Konteks Pendidikan di Indonesia ||Kekuatan ranah domestik ini secara universal merupakan bagian kekuatan kearifan lokal (local genius). Indonesia belum menyadari kondisi ini.
Ada tiga Pilar yang dapat dijadikan tiang kuat berstrategi:

Vygotsky (1987) sangat mendukung adanya pesan budaya dalam proses pembelajaran di sekolah. Ia dalam teorinya Sosio-Historis-Kultural menyatakan bahwa kontribusi budaya, interaksi sosial, dan sejarah dalam pengembangan mental individu anak sangatlah berpengaruh. Khususnya dalam pengembangan kebahasaan, terkait dengan membaca dan menulis pada anak. Untuk itu dibutuhkan metodologi yang efektif terkait dengan pembelajaran dalam kelompok yang utuh, pengajaran melalui objek nyata, beragam gaya belajar, pengajaran adaptif dan individual, pembelajaran tuntas, pembelajaran koperatif, pengajaran langsung, penemuan (discovery learning), konstruktif, melalui tutor sebaya yang dibutuhkan anak agar ia dapat mengarahkan dirinya sendiri untuk belajar (child direct). Inilah celah yang dapat diintervensi, dengan memetakan kurikulum yang berlaku saat ini sesuai dengan konteks kedaerahan muatan lokal masing-masing yang berbasis pada tumbuh kembang anak.

Proses pembelajaran yang berpijak pada nilai-nilai budaya lokal dan interaksi sosial sangat mengacu pada perkembangan fungsi mental tinggi (HOTS—Higher Order Thinking Skill) karena mengaitkan dengan aspek sosio-historis-kultural. Oleh karena dalam melakukan interaksi sosial tersebut anak akan mengelola informasi baru yang sangat kaya dengan kosa kata, tata bahasa, dialek, pengetahuan-pengetahuan, pengalaman-pengalaman berbahasa, yang kemudian dicocokkan dan dipertemukan dengan pengetahuannya sendiri yang telah dimiliki masing—masing anak. Dampaknya, dari kelas multikultural ini akan muncul kecakapan-kecakapan yang lebih tinggi, melesat di atas kecakapan rata-rata sesuai dengan perkembangan anak pada umumnya. Vygotsky mengistilahkannya dengan “Scaffolding”—perambatan.

Perambatan ini akan terstruktur secara kognitif, terus menanjak naik dari satu zona ke zona berikutnya. Kondisi ini dinamakan dengan “Zone of Proximal Development”. Untuk dapat merawat dan mengasuh kondisi ini senantiasa terus tumbuh dan berlangsung, maka guru mesti mampu menjadi ‘guru pengamat, guru pendengar, dan guru pembelajar yang baik’ untuk murid-muridnya. Guru memahami kebutuhan anak sebagai individu yang unik yang berbeda dengan anak-anak lainnya di kelas Anda. Untuk itu menyiapkan diri sebagai pendidik sejati, dengan membangun budaya dan iklim sekolah yang penuh persahabatan, saling berbagi, penuh respek dan empati merupakan aspek penting yang sangat dibutuhkan oleh anak-anak.

Sebagai pendidik di SD Kelas Awal, guru kelas 1 dan 2 sangat berpeluang untuk mampu mempertemukan budaya yang dibawa masing-masing anak, mengaitkan dengan pembelajaran yang dibutuhkannya. Di sinilah konteks muatan lokal memainkan peranannya. Kurikulum yang sekarang sangat terbuka untuk melakukan pendekatan pembelajaran yang dapat mengaitkan berbagai aspek dalam kehidupan anak sehari-hari dengan materi yang akan dikembangkan dalam proses pembelajaran sesuai dengan Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar yang ada. Pengalaman-pengalaman anak yang nyata, alamiah, dibawa dari beragam rumahtangga akan mudah dipertemukan dan dikaitkan dengan materi pembelajaran berbahasa, melalui perantara bahasa ibu (mother tongue) yang unik. Di sinilah kekuatan pembelajaran akan memainkan fungsinya, dengan tersedianya kesempatan untuk anak menggunakan bahasa secara otentik, kaya dengan kontekstual, dan berfungsi.

Pendekatan dan Teknik Pembelajaran di SD Kelas Awal Sebagai sebuah Seni Berbahasa Secara Utuh

“Anak bagaikan buku, mereka pun butuh dibaca”.

Saat anak memasuki SD, kemampuan bercakap sebagai bagian dari berbahasa oral/lisan itu amat jarang dipahami guru dengan baik. Bahasa oral/lisan ini sesungguhnya masih sangat kental dengan konten bahasa Ibu. Setiap anak membutuhkan kemampuan berbahasa dengan menggunakan pengalaman-pengalaman bahasa Ibu Saktinya berfungsi sebagai jembatan untuk menguasai bahasa utama. Namun yang sering terjadi pengalaman sosial, persepsi dan historis ini diabaikan saja, malah dinolkan. Bercakap-cakap sebagai pendekatan dan teknik pembelajaran memperkaya kosakata anak diabaikan kehadirannya.

Untuk bisa bercakap dengan baik, seorang anak membutuhkan kosakata 6000 hingga 8000. Dari sanalah kemudian anak mengembangkan kemampuan untuk bercakap-cakap dengan orang lain, berdiskusi, bertanya, menjawab, bermain drama, dan membaca nyaring. Seni berbahasa secara ekspresif melalui berbicara dan menulis membutuhkan waktu yang lama dibandingkan kebutuhan waktu untuk kecakapan membaca dan menulis. Semakin banyak anak menguasai kosakata, maka akan semakin menampilkan kemampuan menulis yang baik.

Terminologi bahasa oral/lisan dalam bercakap-cakap terkait dengan ponologi, sintaksis, dan semantik. Kecakapan anak akan ditampilkan dalam kemampuan berkomunikasi dengan kemampuan merangkai kata-kata yang diucapkan. Di sini kompetensi berkomunikasi akan menampilkan wujudnya.

Smith (1982) menjelaskan bahwa kesuksesan seorang guru yang memfasilitasi murid-muridnya mampu berinteraksi dengan menggunakan bahasa oral/lisan sekaligus kemampuan mendengarkan, akan memberi kekuatan pengalaman berbahasa mereka dalam bergaul. Bayangkan, jika kelas kita hanya dipenuhi kata-kata “Hai”—tanpa ada kalimat yang menerangkan konteks sosial kepada siapa bahasa itu hendak disampaikan dan untuk kepentingan apa, tentu saja kegiatan berkomunikasi akan terasa hambar, kurang bermakna, dan kurang sopan.

Interaksi sosial dan pesan budaya yang ditampilkan di seluruh sekolah dasar di Indonesia yang penuh keberagaman, sejatinya itulah “Integritas Pendidikan Indonesia” yang diidam-idamkan sesuai dengan hakikat kurikulum yang saat ini berlaku. Kelas menjadi miniatur masyarakat. Anak yang datang dari berbagai etnis seperti Sunda, Betawi, Minang, Jawa, Bugis, Ambon dan sebagainya melebur dalam sebuah kelas yang multikultural. Inilah keindahan kelas berbahasa yang Anda bangun, mampu melakukan koneksi kemanusian dalam kehidupan berbangsa sebagai bangsa Indonesia melalui seni berbahasa yang bernama Bahasa Indonesia. Dari sinilah kelak fungsi proses pembelajaran Bahasa Indonesia menjadi kekuatan, yang akan merajut aspek sosial emosi yang kelak akan memunculkan kecerdasan peserta didik secara akademik.

Semoga pertemuan ini bermanfaat dan berkah.
Salam Ibu Kehidupan

Dewi Utama Faizah
Staf Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar
Direktorat Pembinaan Sekolah Dasar.

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: