//
you're reading...
Creativity, Ekonomi, Entrepreneurship, Kemandirian

Jangan Pukul “Gong Nabi Sulaeman” : Resep di Tahun Harapan 2016.

Jusman Syafii Djamal
NOVEMBER 29, 2015

Ketika kemarin pulang kampung, supir penjemput sejak kecil tinggal di Medan. Kebetulan saya dan isteri sudah lama tak mampir. Sejak wafatnya ibu saya tercinta, baru kini aku balik Adik kandung menikahkan anak satu satunya. Jadi kuminta wahyudi, supirku membawa kami berputar putar kota.Raun Raun.

Dalam perjalanan sebelum tiba di Kualanamu untuk balik ke Jakarta sore hari,banyak koyok cerita berkembang. Supir bertanya “cem-mana sekarang ini bang”. “Apanya yang cem-mana”,kata saya, “Kita lebih baik dari negara tetangga kata saya. Tenang tak banyak lahir tembak menembak seperti di Paris atau Brussel. Kalau ekonomi samalah semua negara juga lagi begini, sulit berkembang”. “Tapi jangan hawatir Pemerintah, kini lagi sungguh sungguh bangun infrastruktur. Semua Menteri kerja keras. Jadi sebentar lagi semua nyaman dan aman”. Kata saya.

“Kau Tenang tenang saja duduk digoncengan, jangan ikut ikut sibuk jika motor sedang lari kencang dan menikung naik ke Brastagi. Bisa gawat nanti. Jaga keseimbangang”. Itu nasihat saya padanya.Kalau tahun depan “gimana pula nasib kita Bang”, merajuk pula dia.

“Ah tahun depan ya biasalah, ekonomi bisa tumbuh tapi masih lambat. Soalnya semua Negara masih menghadapi masalah. Amerika, Eropa dan China juga akan masih pusing tujuh keliling dengan masalah dalam negeri yang dihadapinya. Jadi semua negara pasti sedang cari jalan keluar dari masa turbulensi ini”, kata saya.

Itulah abang ini, “awak tanya cem-mana, abang bicara tinggi tingi kali”. Kata supirku tadi, “Manalah aku tau soal dunia bang”. “Yang gampang gampang ajalah kalau beri kuliah”. Medan gimana sekarang aku balas tanya ke supir ku. dia bilang :”ya beginilah masih juga sering bandara kualanamu mati lampu. Ajab awak dibuatnya”. Lanjut supir. “Ah yang benar” kata saya. Mana mungkin bandara mati lampu , sekarangkan PLN sudah bagus. Tiap hari kita dengan sedang mau bangun pembangkit listrik. Apalagi kini semua industri pengolahan sda diminta bangun smelter, tak ada listrik gimana ada smelter”. Kau ngarang aja, cerita byar pet listrik itu kisah lama.

“Inilah abang itu, bicara terus yang tinggi tinggi, tak terjangkau sama awak itu bang”. “Manalah pulak aku tau apa itu smelter. Yang awak tau mau belajar janganlah pake lilin atau lampu petromax” Supirku terus menyelak bicara, biasa anak Medan, dikasi kesempatan awak putus dibuatnya. Mati angin.

Di Medan ini memang kalau bicara perlu hati hati. Sebab kalau kehabisan bahan kita bisa pusing tujuh keliling. Orang Medan menyebutnya tak pintar berkolak, bisa repot dibuat teman bicara. Apalagi di Medan orang senang bermain catur, gitar sambil minum kopi. Bahan cerita menjadi bumbu penyedap. Yang dibahas bisa dari soal peniti hingga bom nuklir. Dari soal pilkada hingga soal Penyerbuan Paris oleh teroris.Medan dan Aceh adalah kota tempat banyak orang menimba ilmu bercerita. Disini tak tampak orang sedih. Semua gembira tertawa tergelak gelak.

Sejak kecil kita diajari oleh guru dan orang tua kita tentang banyak hikayat. Diantaranya dulu ketika kecil saya sering diminta baca buku cerita si kancil. Cerita tentang kecerdikan dan siasat. Bagaimana yang lemah menggunguli yang kuat yang sewenang wenang. Kancil jadi tokoh utama dalam buku komik. Kancil versus harimau, kancil versus buaya. Dalam setiap episode kancil selamat dari terkaman harimau atau buaya. Pameo lepas dari mulut harimau masuk ke mulut buaya tak masuk dalam kamus kehidupan kancil.

Satu yang masih saya ingat adalah kisah Gong Nabi Sulaeman. Kisah ini bercerita bagaimana kancil yang kecil dan cerdik mencoba membantu nasib kelinci yang sedang diuber uber oleh Harimau untuk dijadikan santapan. Harimau. Kelinci dan kancil atur siasat “Begini, kelinci, coba kau bilang pada harimau kalau aku , kancil telah menghajarmu. Karena kau sok kuat dan telah menggangguku.

Bilang sama si harimau , aku si kancil sakti ini akan menghajar siapa saja yang berani mengganggu kau. Kau temanku. Jangan macam macam sama kawanku. Kau cubit remuk kubuat jadi kerupuk, termasuk harimau. Apalagi saat ini aku baru diangkat jadi pengawal dan sedang menjalankan tugas penting,” kata kancil pada kelinci. “Tugas penting apa, Cil?” tanya kelinci heran. ” Sudah, bilang saja begitu, kalau si harimau nanti mencariku, antarkan ia ke bawah pohon besar di ujung jalan itu. Aku tunggu Harimau disana.” Itupun kalau berani. Bilang persis seperti kataku ya Kelinci.

“Tapi aku takut Cil, benar nih rencanamu akan berhasil?”, kata kelinci. “Percayalah padaku, kalau gagal jangan sebut aku si kancil “. “Iya, iya. Aku percaya, kata kelinci, tapi kamu jangan sombong, nanti malah kamu jadi lebih sombong dari si harimau lagi.”Si kelincipun menemui harimau yang sedang bermalas-malasan. Si kelinci gugup menceritakan yang terjadi padanya.

Setelah mendengar cerita kelinci, harimau menjadi geram. “Apa ? Kancil mau menghajarku? Grr, berani sekali dia!!, kata harimau. Anak kocik tak ukur otot sendiri. Kuterkam putus kepalanya. Kata harimau. Seperti yang diharapkan, harimau minta diantarkan ke tempat kancil berada. “Itu dia si Kancil!” kata Kelinci sambil menunjuk ke arah pohon besar di ujung jalan.

“Hai kancil!!! Kudengar kau mau menantangku ya?” Katanya kau mau buat aku jadi seperti kerupuk kesiram sayur. Tanya harimau sambil marah.

“Jangan bicara keras-keras, aku sedang menjaga barang wasiat ini”. Ada tugas penting”. “Tugas penting apa?”. Tanya harimau sambil beringsut. Kata kata tugas penting ini bikin Harimau mengkeret juga, rasa ingin taunya bergolak. Lalu Kancil menunjuk benda besar berbentuk bulat, yang tergantung pada dahan pohon di atasnya. “Aku harus menjaga gong wasiat itu.” Gong wasiat apa sih itu?” Tanya harimau heran. “Ini Gong Wasiat Nabi Sulaeman” yang aku harus jaga, jangan sampai ada yang memukulnya.

Sebab kalau dipukul suaranya akan menggetarkan jiwa. Yang memukul akan sakti mandraguna. Harimau jadi penasaran dengar kolak si kancil. “Aku boleh tidak memukulnya?, siapa tahu kepalaku yang lagi pusing ini akan hilang. Dan aku bisa jadi Raja penakluk hutan belantara ini setelah mendengar suara sakti dari gong itu.”

“Jangan, jangan,” kata Kancil. Makin dibilang jangan, makin penasaran harimau. Si Harimau terus membujuk si Kancil. Setelah agak lama berdebat, “Baiklah, tapi aku pergi dulu, jangan salahkan aku kalau terjadi apa-apa ya?”, kata si kancil. Setelah Kancil pergi, Harimau segera memanjat pohon dan dengan sekuat tenaga ia memukul Gong Nabi Sulaeman itu.

Tapi yang terjadi…. Nguuuung…nguuuung…..nguuuung sekelompok lebah yang marah keluar dari sarangnya karena merasa diganggu dengan pukulan Harimau itu. Lebah-lebah itu mengejar dan menyengat si harimau.”Ternyata yang disebut bende atau gong Nabi Sulaeman itu adalah sarang tawon atau sarang lebah yang bergantung besar berisi puluhan ribu lebah.

Cerita seperti inilah yang membuat kota Medan menyenangkan. Apalagi disini ada Mie Aceh Titi Bobrok, durian Ucok dan Kopi Mandailing serta Kopi Gayo serta Soto Medan , Martabak dan lontong disiram tauco yang maknyus.Cerita masa kecil di Medan merupakan pelajaran berharga untuk direnangkan. Kadangkala dapat jadi bekal para engineer. Don’t fix unbroken part. Jangan membongkar mesin yang sedang berjalan perlu jadi pegangan.

Di Bandung dikenal pepatah Caina herang laukna beunang. Tangkap ikannya, Jangan buat air keruh. Pesan bijaksana agar semua orang yang diberi amanah jabatan, tugas pokok dan fungsi memiliki tatacara penyelesaian masalah dengan tenang dan hati hati. Mengurai benang yang kusut memerlukan tatacara menelisik persoalan hingga rincian dan menemukan solusi tanpa timbul keributan yang tidak perlu.

Didalam tiap masalah pastilah tersembunyi solusi. Tiap sarang tawon menyimpan madu harapan masa depan. Madu ibarat value added, nilai tambah atau nilai guna yang tersembunyi. Tiap business process pada dasarnya adalah mata rantai proses penciptaan nilai tambah dan nilai guna. Proses mentransformasikan bahan baku menjadi produk setengah jadi atau produk jadi. Input di”create value” menjadi output yang deliverable. Tiap mata rantai proses nilai tambah ibarat menyingkirkan lebah dari madu.

Ini pesan hikayat dimasa kecil. Entah berlaku dimasa kini saya kurang tau pasti.

Tahun 2016 bagi Indonesia adalah tahun penuh harapan. Begitu sering dikatakan oleh Presiden Jokowi. Meski dunia sedang berada dalam suasana yang tidak pasti, konflik menyebar dimana mana, ekonomi melambat diseluruh region. Tapi di Indonesia harapan untuk menjadi lebih baik tetap terbuka. Ada kesempatan untuk membangkitkan minat investor untuk membangun infrastruktur. Ada opportunity untuk menemukan celah menciptakan lapangan kerja. Meski tidak mudah.

Karenanya dalam suasana perlambatan ekonomi saya kira kisah Kancil dengan Harimau yang rebutan Gong Nabi Sulaeman perlu dibaca ulang kembali untuk direnungkan. Jika setiap orang bebas menabuh “Gong Nabi Sulaeman” . Memukul sarang tawon tanpa fikir tentulah akan lahirkan puluhan atau bahkan ribuan masalah dan problema kecil yang muncul kait berkait.

“Gong Nabi Sulaeman”, selain menyembunyikan madu penyembuh segala jenis penyakit, juga dijaga ribuan lebah. Memukul tanpa kiat dan strategi yang tepat, pastilah yang terjadi semua orang lari lingtang pukang, terbirit birit mencari sungai lari dari sengatan lebah. Ribuan tawon yang mengejar kesana kemari ibarat membuat solusi dengan lahirkan situasi penuh ketidak pastian. Uncertainty, unpredictable. Ketidak pastian dan ketidak mampuan memperoleh kepastian akan masa depan ekonomi, adalah musuh pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan memerlukan stability yang dinamis. Unpredictable situation cendrung counter productive.

Menurut hemat saya tahun 2016 adalah tahun penuh harapan. Sukar dilalui tapi tidak sepenuhnya kelam. Banyak harapan. Banyak opportunitas. Harus dihadapi dengan penuh hati hati. Dunia sedang bergejolak, peta geopolitik berubah. Bersatu kita Bangkit, Bercerai kita rubuh. “The secret of success in life is for a man to be ready for hisopportunity when it comes.”, begitu kata Benjamin Disraeli.

Jika perusahaan tempat kita bekerja diibaratkan sebagai pesawat terbang. Turbulensi disepanjang perjalanan tahun 2016 mungkin akan terjadi. Awan Comulonimbus masih menggayut dalam perjalanan pesawat terbang yang ditumpangi.Pada tahun 2016, Politik Produktivitas perlu dikembangkan. Sisi lain dari produktivitas adalah Efisiensi.

Tanpa Produktivitas dan Efisiensi tak mungkin Daya Saing dan Cost of Doing Business di Indonesia akan lebih baik dibanding Negara Asean lainnya. Tahun 2016 Masyarakat Ekonomi Asean akan berlangsung. Pasar Domestik kita akan terbuka, barang impor dari negara asean akan mengalir tanpa kendala.

Pesan dimasa kecil, “Hati hati memukul Gong Nabi Sulaeman” perlu dimaknai dengan waspada. Jika perusahaan punya rencana untuk Restrukturisasi dan Reengineering Business process agar lebih ramping dan bermakna, perlu dikembangkan roadmap yang tepat. Cost of Doing Business untuk pengusaha dan industri nasional masih akan mahal. Karenanya proses transformasi untuk membuat perusahaan menjadi Lean and Mean, Ramping bermakna harus dilakukan. Prouktiv dan Efisien dua kata kunci yang wajib ditonjolkan.

Kisah Harimau Sumatera yang terpancing godaan Kancil penunggu sarang tawon lebah masa lalu, dan selalu memancing rasa penasaran untuk memukul “Gong Nabi Sulaeman”, perlu dihindari.Keinginan dan godaan untuk memiliki kesaktian dengan terus menerus memukul “Gong Nabi Sulaeman” perlu difikir ulang dua kali.Mudah mudahan cerita supir yang membawa saya keliling kota Medan bisa berguna. Jika senang sampaikan kepada kawan tak suka lupakan atau sampaikan kepada kami.

Mohon Maaf jika keliru. Salam

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: