//
you're reading...
Human being, Leadership, Review

A Bad Strategy vs A Good Strategy

Jusman Syafii Djamal
11 October 2015 

FRIENDS
Ada buku menarik dari Richard Rumelt, judulnya Good /Bad Strategy: The Difference and Why It Matters. Dalam buku ini Rumelt telah memanfaatkan pengalamannya sebagai akademisi dan konsultan strategi selama 40 tahun. Rumelt menggunakan cerita menarik dan pengalaman langsung untuk menjelaskan logika strategi yang baik, sementara menyoroti perangkap dan kesalahan yang harus dihindari dalam melahirkan strategi.

Rumelt menyatakan, “strategi yang buruk mengabaikan kekuatan pilihan dan keutamaan untuk fokus pada tujuan tertentu”. Strategi yang buruk berusaha untuk mengakomodasi dan menemukan kompromi atas banyaknya tuntutan yang saling bertentangan dan kepentingan yang saling bertumbukan. Keinginan untuk memuaskan semua pihak melahirkan kebingungan arah dan tujuan strategi. Kompromi bisa terjadi jika kepentingan sama, ambisi sama dan tujuan identik. Tapi jika kepentingan bertentangan dicampur seperti membuat urap atau pecel lele dalam satu baskom ibarat memasukkan musang kedalam kandang ayam. Yang muncul anarki, bukan sinergi.

Strategi buruk lahir karena perintah yang kurang rinci atau komando tanpa peta jalan. Karenanya dalam ilmu administrasi biasanya Surat Perintah akan diikuti oleh SPJ, surat perintah jalan yang berisi rincian kemana kota yang hendak dituju , berapa lama dan untuk apa. Jika ada perintah kabur serta tak jelas ibarat Pelatih dan kapten sepak bola yang memberi perintah pada timnya dengan satu kata ‘mari kita menang,’ Akan tetapi pelatih dan kapten tidak mengatur dan mendiskusikan tentang bagaimana cara menang, apa langkah yang perlu diatur, ritme permainan seperti apa yang hendak dituju. Akibatnya lahir semangat berkobar tanpa arah tujuan. Melalui perintah model global dan makro tanpa ukuran mikro detail begini seolah strategi ingin merangkul semua ambisi, visi, dan nilai-nilai yang tinggi tinggi dan amat luas cakupannya. Bagi Rumelt ini termasuk klasifikasi perintah yang akan melahirkan strategi buruk. Sebab semua pemain merasa bebas memberi interpretasi.

Dengan perintah yang bersifat makro, global penuh semangat :”mari kita menang”, menyebabkan semua pemain merasa diperbolehkan dan dipercaya pelatih dan kapten untuk menggoreng bola kesana kemari. Bagi mereka yang penting menang dan menganggap lawannya tak punya keahlian untuk menghentikan tingkah polah dan kelincahan mereka dalam menggiring bola. Para pemain yang merasa bebas “going to every where and ending in no where. “.

Mereka akan selalu merasa pintar sendiri. Sering dilupakan bahwa implementasi strategi memerlukan hirarki dan mata rantai komando. Ada jenjang dan layer.. Mana kapten mana pemain sayap, mana play maker dan siapa penjaga gawang atau gelandang dan wing back perlu didefinisikan dengan jelas. Tiap pemain memerlukan batas gerak maju atau ruang maneuver dan irama serta timing to execute. Timing memainkan bola dari kaki ke kaki mendikte irama permainan. Menang kalah dalam sepak bola ditentukan oleh speed dan timing. Begitu juga dalam laksanakan perintah untuk mewujutkan visi mencapai tujuan tertentu. Memilih apa yang tidak boleh dilakukan oleh seseorang merupakan bagian dari strategi. Choosing not to act is a strategy.

Coba bandingkan dengan perintah yang jelas dan terukur batas gerak majunya seperti dikemukakan oleh Ahli Strategi Indonesia yakni Jendral Sudirman. Coba lihat keindahan dari Maklumat dan Perintah pertama beliau dalam perang grilya. Beliau bilang :”jagalah rumah dan pekarangan mu masing masing hingga titik darah penghabisan”. Perintah jelas terang benderang, fokus tergambar dgn baik, ruang maneuver terdifinisi, dukungan logistik terukur. Ada batas gerak maju. Ada tupoksi masing2 prajurit. Dan ada spirit juang, esa hilang dua terbilang. Bahasa sederhana tidak bikin bingung. Beautifully crafted. Kata para ahli, Bagi Rumelt perintah ala Jendral Sudirman ini ada dalam kategori strategi yang baik.Ada empat perangkap yang menurut Romelt yang harus dilakukan untuk menghindari strategi yang buruk:

Pertama, Kegagalan untuk Mendefinsikan Masalah dengan baik dan benar : Strategi adalah pendekatan untuk mengatasi hambatan atau obstacle . Strategi adalah seni untuk mencapai tujuan. Yang utama adalah memilih mana aktivitas yang harus dihindari. Jika gagal mengidentifikasi dan menganalisis hambatan, strategi akan kehilangan makna.

Kedua, Kekeliruan menetapkan arah Strategi Menetapkan tujuan tanpa strategi pendukung dapat menyesatkan organisasi. Rumelt mengutip perintah seorang jenderal militer yang mungkin benar dengan satu kalimat “Hancurkan musuh dimanapun berada”.

Perintah ini menarik akan tetapi ternyata untuk melahirkan serbuan militer kesegala arah demi menghancurkan musuh dimanapun berada dan memberikan pukulan terakhir, memerlukan dukungan logistic yang tidak sederhana, bergantung pada peta kekuatan musuh yang dimiliki dan penetapan kemana serangan terakhir itu akan ditempatkan. Musuh dihancurkan dimana harus jelas spesifik. Digaris belakang musuhkah atau digaris depan ? Ditempat mana pukulan terakhir itu harus dilakukan. Dengan kata lain tujuan yang ditetapkannya nya masih perlu didukung oleh strategi yang jelas. Sebuah strategi yang baik akan menciptakan kondisi yang akan membuat pukulan terakhir itu Efektip . Untuk itu dukungan yang diperlukan harus tersedia.

Ketiga : Buruknya Definsi tujuan strategis yang dikembangkan Biasanya dalam melahirkan tujuan ada “session brainstorming” diantara para Staff dan Manager dalam sessi perencanaan. Semua sebelumnya telah mendengarkan dengan seksama visi dan misi yang disampaikan top leadernya. Dalam session brainstorming dibuat daftar panjang tentang tujuan dan rangkaian mata rantai aktivitas ikutannya yang secara seksama telah dirakit di sesi perencanaan. Biasanya akan lahir satu paket ide-ide , dan “wish list” daftar keinginan.

Yang terlupakan pada akhirnya adalah ketiadaan juklak dan juknis (petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknisnya). Ada daftar keinginan tidak ada petunjuk tentang mana yang boleh dikerjakan mana yang tidak. Dianggap semua sudah tau mau apa dan mau kemana. Tidak ada yang memiliki petunjuk tentang apa yang harus dilakukan atau bagaimana menuju ke sana.

Ketiadaan peta jalan ini merupakan tanda-tanda definisi tujuan strategis yang buruk. Tujuan strategis yang baik, sebaliknya, memfokuskan energi pada tujuan yang dampak tinggi dengan penggunaan sumber daya yang sedikit. Biasanya hal ini yang sangat sedikit menjadi pusat perhatian. Semua syur dan asyik dengan tujuan makro global, lupa pada yang rincian kecil dan seperti kata pepatah “the devil is in the detail”. Hanya batu krikil yang membuat kita tersandung dan jatuh.

Keempat : Strategi yang dibungkus dengan kata kata Indah dan Bombastis. Rumelt mendefinisikan kata puff sebagai “penyajian indah dan bombastis tentang semua jargon yang jelas dan kelihatan mentereng, dikombinasikan dengan taburan istilah-istilah penuh motivasi. Jargon indah ini biasanya berbau slogan yang menyamar sebagai sebuah keahlian pidato untuk menemukan kata kunci nan sakti. Seperti mantera yang dirancang untuk menutupi absennya substansi pikiran yang mendasar baik dan benar.

Dalam webster dictironary kata Puff yang merupakan bentuk plural yangpunya arti sbb : a. to breathe smoke from a cigarette, pipe, etc., in and out of the lungs b. to produce or send out small clouds of smoke or steam c. to move in a particular direction while producing clouds of steam or smoke
Misal sebuah bank ritel mengatakan “Strategi mendasar kami adalah menjadi World Class Bank. Bank Kelas Dunia dengan fokus “intermediasi customer-centric”. Kalau ditanya apa maksud dari kata World Class, dan customer centric serta intermediaries, semua kata itu memiliki makna berbeda pada setiap jenjang. Strategi World Class tanpa diikuti proses standardisasi dan key performance indicator akan membawa bank tersebut kejurang kehancuran.

Memang ada banyak alasan untuk melahirkan strategi yang buruk. Rumelt menunjukkan bahwa faktor yang mendasari berkontribusi terhadap lahirnya strategi yang buruk adalah kurangnya komitmen untuk kerja keras,akibat ketidak jelasan arah dan tujuan serta langkah aksi menuju kesana.

Strategi yang baik, merupakan buah atau hasil dari investasi waktu untuk menyaring pilihan dan membuat analisa tentang pelbagai kemungkinan pilihan sulit untuk mendapatkan fokus, dan mengidentifikasi hambatan dan bekerja keras untuk menangani semua kendala yang muncul dilapangan.Rumelt menyatakan bahwa ada tiga elemen kunci yang membentuk strategi yang baik:

1. Diagnosa KEKEPAN atau Kekuatan, Kelemahan, Peluang dan Ancaman berisi penjelasan tentang sifat tantangan, lingkungan strategis, kekuatan kelemahan peluang dan ancaman yang dihadapi baik dimasa kini maupun dimasa lima sepuluh tahun mendatang

2. A Guiding Policy, Arah Tujuan Kebijakan yang mampu melahirkan opsi pilihan strategis tentang pelbagai peta jalan menuju sasaran yang dipilih secara bertahap bertingkat dan berlanjut untuk mengatasi hambatan yang diidentifikasi dalam proses diagnose sebelumnya

3. Tindakan koheren sistimatis dan terencana berupa langkah-langkah yang terkoordinasi dan sinergi diantara anggota satu dengan yang lain untuk mendukung pencapaian implementasi dilapangan semua hal yang telah ditetapkan oleh Guiding Policy sebelumnya

Saya share ringkasan buku ini, siapa tau ada yang ingin membacanya. Mohon maaf jika keliru. Salam

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: