//
you're reading...
Creativity, Human being, Lingkungan, Motivasi, Pendidikan, Perubahan

“Seeds Philosophy”

Keywords:
Bibit, Biji, Benih, Biji Zarah

“Seeds” Story:
• Jack and the beanstalk
• Jhony the apple seeds
• Holly the apple tree
• Dewi Sri• Ina Pare
• Kisah Sufi nenek penanam biji korma

Prolog

Saat perserikatan bangsa-bangsa menyuarakan tentang isu ’climate change’ pada tahun 2005 lalu, maka kewajiban semua negara yang bersatu di bawah bendera PPB mesti melaksanakan ”EDUCATION FOR SUSTAINABLE DEVELOPMENT (ESD)” hingga tahun 2014, menjadi sebuah kemestian.

Kita melihat program ESD bertaburan di mana-mana seperti terpampang di jalan-jalan dan di berbagai kantor kementerian pemerintah hingga sekolah-sekolah melalui spanduk, billboard dengan aneka kata:
”Sepohon, setaman, sekebun, sehutan”
”Kecil Menanam Dewasa Memanen (KMDM)”
”Menanam seribu pohon, Sejuta pohon, Semilyar pohon”.

Siapa yang menanam?
Terbayangkankah dunia tanpa ‘seeds’? Tanpa biji-bijian, tanpa bibit, tanpa benih?

Bahaya yang Tak Menentu

Saat es di Kutub Utara mulai mencair karena pemanasan global, saat lubang raksasa ’lapisan Ozon’ di langit mulai menganga karena kesalahan manusia. Saat cadangan energi fosil mulai menipis, kemudian beralih menggunakan tenga nuklir untuk memenuhi semua fasilitas kesempurnaan untuk kesejahteraan manusia. Saat rusaknya lingkungan oleh tangan-tangan manusia yang tidak bertanggungjawab yang tidak mampu merekonstruk sistem pertanian di atas planet yang kita huni bersama ini. Saat penyakit tanaman datang, iklim datang tidak menentu, hujan dan panas terjadi tanpa aturan. Terjadilah rawan pangan, kelaparan di mana-mana, saat itulah semua biji-biji akan menghilang dari permukaan bumi.

Biji-bijian menyediakan makanan, serat, dan bahan bakar bagi kehidupan manusia. Baik itu biji-bijian liar atau biji-bijian yang dibudidayakan di lahan pertanian petani kita. Aneka biji-bijian itu menjadi salah satu bagian yang teramat penting sepanjang waktu dan sepanjang kehidupan makhluk di atas dunia ini. Jika semua aneka biji-bijian itu menghilang dari kehidupan kita, maka itulah pertanda hari ’akhir’ untuk manusia dan aneka hewan-hewan lainnya. Hari kiamat itu tiba!

Biji-bijian, udara, air, dan tanahlah yang membuat kita bertahan sebagai manusia hingga saat ini. Melalui aneka biji-bijian itulah keberlangsungan keindahan dan vitalitas bumi senantiasa terjaga. Biji-bijian menjadi esensial regeneratif kehidupan di dunia. Setiap biji memiliki cara unik mengisi kehidupan kita. Jika biji-bijian itu masih ada dan terjaga, maka sistem di atas planet ini akan turut terjaga dan membuat manusia dan seluruh makhluk masih bisa gratis bernafas. Setiap sat kita bernafas berarti kita menghirup oksigen yang diproduksi aneka tanaman. Biji-bijian menjadi partner setia kita, yang tak mampu berkata-kata, selalu bekerja dalam hening, untuk senantiasa merawat kehidupan semua makhluk di bumi ini menjadi nyaman, sehat, dan sejahtera.

Kebergantungan manusia dan tanaman terjadi sepanjang zaman. Saling mengantungkan hidup. Manusia menabur bibit biji-bijian, merawatnya, dan menuai hasilnya. Tanaman mempersembahkan makanan pokok kepada kita semua (padi, jagung, gandum, ubi ketela, dsbnya), memberi kita pakaian (kapas, rami, dsbnya), memberi kita tempat bernaung dan perkakas rumah tangga (rumah, mebeler, dsbnya). Hampir 80 % obat-obatan di dunia berasal dari tanaman. Bahkan setelah mati pun jasad aneka tanaman itu masih memberi manusia aneka kemewahan berlimpah ruah tak berhingga bernama bahan bakar minyak bumi, aneka batu permata, intan, emas, berlian, dan uranium. Sanggupkah kita kehilangan tanaman dari sekitar diri kita yang semuanya itu memiliki ‘bibit, biji-bijian’ yang menjaga kelangsungan hidup manusia dan kelangsungan hidup dunia?Kenyataannya, bahwa manusialah biang penghancur semua kebaikan hidup itu. Tumpah ruahnya kemewahan tak bisa terjaga oleh perilaku ganas dan rakusnya manusia. Perilaku boros, menghambur-hamburkan bahan bakar, boros air, dan kesombongan lembaga pendidikan kita yang tak suka anak didiknya memegang tanah dengan berbagai alasan sehingga jumlah petani terus menurun karena profesi petani dipandang rendah tak bergengsi. Lihatlah, banyak para petani kita memang hidup sangat miskin, dijerat para ijon dan rentenir. Pupuk kimia harga melangit, pupuk organik yang murah dianggap tidak bermutu dan tidak modern. Itulah mengapa para lulusan perguruan tinggi di bidang pertanian tak ada yang mau menjadi petani. Oleh karena menjadi petani tidak bisa menjadi kaya raya dan tidak bisa hidup mentereng.

Manusia menciptakan sendiri kehidupan dramatik pada dirinya seperti menjalani karma. Populasi manusia melaju cepat seiring dengan perilaku komsumtif dan hedonisnya. Industri raksasa yang memproduk makanan berdiri menjamur di mana-mana, telah menghabiskan sistem pendukung biologi dasar yang memicu pemanasan global. Alam kehilangan biodiversiti, air bersih, dan tanah yang subur. Semua itu telah mengancam kelangsungan biji-bijian (seeds).

Siapa yang akan mengontrol masa depan biji-bijian (Seeds) itu? Apakah industri pertanian yang menggunakan oplosan bahan kimia, dan teknologi genetik sebagai pilihan kita untuk menyongsong masa depan yang sehat itu mampu menjaganya? Apakah rekayasa genetik yang mengontrol teknologi komersial yang dikembangkan perusahan swasta (bukan pemerintah) yang menguasai pertanian kita semenjak dari menyemai bibit hingga menjadi makanan lezat di mulut kita yang akan menjadi sahabat kita?

Rekayasa genetik di bidang pertanian tidak dapat dibenarkan. Sebagai mana halnya rekayasa genetik pada manusia.

Ada 5 alasan pasti, yaitu:
1. Rekayasa genetik sebagai Ilmu pengetahuan yang buruk, karena mendeskreditkan masyarakat ilmiah, ia tumbuh berbasis asumsiyang non-logika (flawed assumptions).
2. Rekayasa genetik sebagai Ilmu biologi yang buruk, karena berpotensimenyebarkan kontaminasi genetik yang membahayakan kesehatanmanusia.
3. Rekayasa genetik merupakan kebijakan sosial yang buruk, karenakeberpihakan kepada pengusaha-pengusaha tertentu yang tidakberpihak kepada masyarakat banyak.
4. Rekayasa genetik menjadikan perekonomian memburuk, karenamenghabiskan dana yang sangat banyak sementara hasilnya tidaksebanding. Saat dipasarkan, tidak laku.
5. Rekayasa genetik membuat pertanian memburuk, karena tidakberpihak kepada masyarakat petani, di bawah kontrol bahan kimia,dan menghancurkan cara-cara bertani yang baik secara alamiah.

Saat sekarang, ada 50.000 tanaman yang bisa dimakan manusia di dunia ini. 150 jenis tanaman itu di antaranya menjadi tanaman komersial, dan 40 jenis ditanam recara reguler oleh para petani di seluruh dunia. Tiga di antaranya ––padi, jagung, gandum sebagai makanan pokok manusia. Tiga yang lainnya—kedele, kapas, dan canola digunakan dunia industri. Tanaman-tanaman penting lainnya yang ditanam manusia adalah kentang, singkong, ubi jalar, barley, sorghum. Sederet lis pendek ini menjadi kebutuhan dasar kita sebagai manusia, meski pun masih ada yang tanaman penikmat lainnya seperti tembakau, gula, kopi, bunga matahari, berbagai tanaman buah-buah-an, dan aneka sayur-sayuran. Semua itu merupakan tanaman yang berbiji.

Semua nenek moyang manusia memiliki kisahnya sendiri dengan aneka biji-bijian itu. Sebutlah asal usul terjadinya padi melalui kisah ”Dewi Sri” di suku Jawa. Atau kisah ”Ina Pare” di Ende Flores NTT. Terbayangkankah oleh kita, jika suatu hari ada pencuri yang tidak mencuri harta kita seperti perhiasan, mobil, motor, melainkan ia mencuri semua makanan yang ada di dapur, di kulkas, dan di ladang kita. Semua biji-bijian menghilang dari kehidupan kita……

Patut kita bersyukur, hingga hari ini di negeri kita tercinta ini masih hijau, masih kaya raya dengan beragam biji-bijian. Petani masih memiliki banyak bibit yang siap ditabur untuk dipersembahkan kepada kita sebagai orang kota yang penikmat segala. Semua jenis biji-bijian itu tumbuh menghijau subur sebagai tanaman.

Perhatikan sekarang, tidak ada tanaman yang tidak memiliki biji. Semua tanaman memiliki biji. Di awali dengan proses berbunga, berputik, dan kelak menjadi aneka buah yang di dalamnya ada sebutir atau beberapa butir biji. Sebagaimana halnya manusia yang juga menjaga kelangsungan keturunan yang dicintainya melalui hal yang hampir sama dengan filosofi tanaman. Bukankah manusia kelak jika ia mati, jasadnya akan kembali menjadi tanah kecuali tersisa hanya sebutir biji zarah?

Mampukah kita semua yang hadir di ruang yang berbahagia ini mulai peduli dengan semua biji-bijian yang ada di sekitar kita, yang kelak akan menjadi benih, kita tabur dan tanam untuk anak cucu dan cicit kita? Jika Anda adalah seorang pendidik di Taman Kanak-Kanak, bisakah Anda berjanji untuk menghadirkan aneka tema lingkungan terkait dengan tumbuh kembangnya aneka biji-bijian itu? Maukah Anda mengajak anak didik Anda bereksplorasi di alam semesta meremas tanah, mengamati cacing, membantu cacing menggemburkan tanah dengan tangannya tanpa merasa jijik? Atau jika Anda hanya berkarir sangat mulia sebagai Ibu, mampukah Anda menjadi ibu manusia dan sekaligus ibu kehidupan yang mampu merawat anak-anak manusia dan alam kehidupan? Yaitu seorang ibu yang mengasuh tangan anak-anaknya mau peduli kepada lingkungan, berkebun, membersihkan halaman, membuang sampah pada tempatnya, membuat pupuk organik, dan tidak membakar sampah sebagaimana kekeliruan petani nomaden yang masih saja dipertahankan sebagai kebiasaan buruk di beberapa daerah hingga saat ini.

Biji-Bijian di Taman Kanak-Kanak dan Sekolah Dasar.

Banyak manfaat dari program Hijau Indonesiaku melalui Eksplorasi Pembelajaran di Kesemestaan terkait dengan kecerdasan intelektual, kejiwaan, dan pisik anak. Secara intelektual program Hijau mengajak anak mengenali lingkungan dan melakukan konservasi. Program hijau akan mampu memainkan peranannya dalam mensukseskan pembelajaran tematik seperti yang diusung dalam Kurikulum 2013, karena dilakukan sendiri oleh anak melalui praktik-praktik dalam kehidupan sehari-hari . Anak belajar sains langsung dari alam (kebun) secara nyata dan terintegrasi secara utuh dengan berbagai bidang pengembangan seperti matematika, sains, berbahasa, seni, dsbnya.

Secara psikologis program hijau akan meningkatkan sederet nilai-nilai kebajikan (karakter) terkait dengan tanggungjawab, harga diri, percaya diri, kesabaran, ketangguhan, kepekaan pada alam, dan kerjasama pada anak. Dan terakhir secara pisik, mendukung pengetahuan nutrisi anak, karena ia belajar mengetahui makanan yang bergizi, dari mana asal makanan, selain menyenangkan hatinya karena ia belajar di luar kelas.

Program berkebun dalam program Indonesia hijau terkait dengan semua aspek perkembangan anak (pisik, emosi, sosial, bahasa, kognitif, dan spritual). Juga berbasis pada kecerdasan beragam (multiple intelligence).EpilogSaya juga Anda tentunya memiliki aneka kisah dengan biji-bijian. Saya menjalani kehidupan sebagai anak desa yang tumbuh akrab bersama dengan aneka biji-bijian. Indonesia Hijau akan terjawab apabila seluruh warganegara Indonesia peduli terhadap seluruh aneka biji-bijian yang ada di bumi pertiwi yang kita cintai ini. Seluruh nenek moyang bangsa manusia di dunia ini telah merawat bumi ini dengan filosofi biji-bijian (seeds) secara alamiah bukan melalui lensa teknologi modern yang merusak.

Kita semua dibesarkan karena adanya biji-bijian. Tuhan memberi kita gigi geligi bernama geraham dengan jumlah yang paling banyak dari semua saudara sepergigiannya. Semua dengan tujuan agar bermanfaat untuk mengunyah aneka biji-bijian. Saya sangat mencintai biji-bijian. Meski pun juga banyak saudara-saudara kita terkendala mengkomsumsi biji-bijian karena berada di daerah rawan pangan atau karena menderita penyakit diabetes.

Saya tidak memiliki dongeng atau pun resep khusus tentang masa depan Indonesia Hijau. Tapi saya punya banyak pengalaman semenjak kecil hingga sekarang tentang kisah manusia dengan koleksi biji-bijiannya. Namun kisah lain yang tragis juga telah menyisakan kepedihan karena kisah krisis lingkungan dikarenakan industri teknologi yang meracuni berbagai jenis tanaman telah membuat ratusan biji-bijian kehilangan sistem kehidupannya yang alamiah.

Saya hanya dapat mengundang Anda mampu mempertimbangkan banyak pilihan dengan penuh kehati-hatian. Indonesia yang sangat kaya raya dengan 39.549.447 hektare hutan tropis terbesar di seluruh dunia dengan berbagai ragam hayati dan plasmanutfah, terlengkap di dunia!

Semua jawaban yang kita butuhkan akan datang apabila kita mampu berbuat menabur satu bibit dari tangan kita untuk memulai berkisah selanjutnya tentang HIJAU INDONESIA HARI INI DAN DI MASA DEPAN.Kita mulai di sekolah kita hari ini, sekarang!

Salam Kehidupan

Dewi Utama Fayza
27 Maret 2011

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: