//
you're reading...
Creativity, Human being, Life style, Motivasi, Perubahan

Kick Off

Eileen Rachman & Emilia Jakob
EXPERD CHARACTER BUILDING ASSESSMENT & TRAINING

Kompas, 9 Januari 2016

Pada pidato-pidato inaugurasi tahun 2016, kita mendengar banyak penyusunan rencana-rencana perubahan. ‘Reshuffle’ pun bisa menjadi tidak terelakkan lagi. Sebenarnya perubahan yang menggoyang rasa aman tidak hanya terjadi di kabinet saja, setiap dari kita yang berada dalam sebuah organisasi, pasti pernah mengalaminya begitu organisasi komit untuk berubah. Kita yang sadar bahwa ‘comfort zone’ bukan tempat yang ideal, harus siap menerima adanya gunting copot pemain ini. Dalam permainan sepak bola, lebih-lebih di dunia sepakbola profesional, kita melihat perpindahan pemain dari satu klub ke klub lain, dari satu negara ke negara lain. Hal yang sebetulnya mengkhawatirkan, baik bagi orang yang mengamati, para ‘stakeholders’ , maupun para pemainnya sendiri adalah kinerja tim baru tersebut. Masuknya orang baru pasti membutuhkan proses. Anggota tim harus berkenalan satu sama lain, menguji kekuatan , mengenali kelemahan, berlatih bersama dan membangun rasa percaya. Bukankah situasi ini bisa mengganggu kinerja lama yang sudah stabil?

Kita sering melihat bahwa konsolidasi tim ini benar-benar sulit bahkan mungkin cenderung bertele tele. Presiden pun sampai pernah menegur anggota kabinetnya akibat kurangnya saling respek, sulit mencapai katasepakat, bahkan cenderung potong memotong keputusan di saat kabinet diharapkan sudah berkinerja. Alangkah alotnya kolaborasi di tempat kerja ini? Mengapa sepertinya semua sadar bahwa kolaborasi sangat perlu untuk berkinerja tetapi tetap saja sulit untuk mewujudkannya?

Kolaborasi tak dapat dihindari

Kita memang sering menyaksikan dan mengalami sendiri bagaimana individu dalam tim tidak bisa bekerja sama , tetapi membiarkannya sebagai fenomena yang lumrah. Bahkan di banyak lingkungan hal ini dianggap sebagai sesuatu yang tidak bisa diubah. Tidak jarang pula, pemimpin yang malah sengaja mengadu domba, alih-alih mengupayakan kolaborasi. Konsultan sebagai pihak luar yang dianggap tidak memiliki conflict of interest sering dipanggil untuk memfasilitasi konsolidasi yang sudah direncanakan oleh organisasi. Banyak program sudah dilakukan. Pelatihan komunikasi, program-program peningkatan efektifitas menajemen, pembenahan Key Performance Indicator, nampak tidak berdampak nyata. Kondisi malahan semakin parah. Mengapa demikian? Mengapa sesuatu yang jelas positif, dan harus dilakukan , dihindari oleh banyak individu anggota tim? Yang tidak tahan bahkan mental keluar.

Kita sering lupa bahwa sebuah tim terdiri atas individu-individu dengan beragam latar belakang. Ada yang jebolan partai A dan ada yang fanatik berprinsip sesuai dengan prinsip politik partai B. Bukan saja misi yang berbeda, pendapat, keahlian, pekerjaan , legasi perguruan tinggi, cara bicara , semua berbeda. Semua orang sadar bahwa memang ada perbedaan. Tetapi , tidak semua orang sadar, bahwa ‘keberbedaan’ ini adalah sumber kekuatan bilamana kita berhasil mengelolanya dengan baik. Prinsip utama kolaborasi adalah menciptakan solusi yang lebih ‘pintar’ daripada perspektif tunggal individu bila ia seorang diri. Sekumpulan orang dengan berbagai kapabilitas dan wawasan tentunya akan lebih berhasil melihat suatu masalah dari berbagai sudut pandang ketimbang mereka yang memiliki sudut pandang yang sama dan berorientasi internal saja. Manusia adalah mahluk sosial berderajat paling tinggi akal budinya. Kemampuan untuk mengolah rasa dan akal adalah keahlian dan talenta yang paling mungkin dilakukan manusia dan sudah ada di tangan sejak dini. Mengapa tidak disempurnakan?

Hubungan yang efektif

Istilah hubungan antar manusia sering dilihat sebagai hal yang lazim dan dianggap sebagai fenomena yang sulit tetapi tidak digarap. Orang menikahpun , jarang berupaya memperbaiki hubungan dengan serius , kecuali hubungan sudah sangat menyakitkan. Namun, pernahkan kita berfikir , bahwa hubungan bisa dibuat lebih efektif? Rapat tidak usah bertele tele. Penjelasan tidak usah diulang ulang. Tindak lanjut tidak perlu di cek dan ricek. Lebih jauh lagi , rasa curiga, tidak percaya, perlu diselesaikan cepat cepat. Hubungan yang efektif akan sangat menguntungkan , dan memang perlu diupayakan setiap individu dewasa , yang ingin berorganisasi. Ini yang seharusnya dibuat secara sengaja di organisasi. Untuk membentuk kolaborasi yang efektif, seorang pemimpin perlu menampilkan hasrat besar untuk menguatkan hubungan antar individu di timnya. Untuk itu ia perlu serius menyediakan waktu dan menekankan pentingnya dan menyelesaikan masalah masalah seputar hubungan efektif.

One mission, Get things done

Baiknya kita mencontoh dari tim sepak bola yang melakukan konsolidasi dalam 10 menit pertama, baik itu mengenai lapangan, cuaca, trik musuh, dengan segala kompleksitasnya, Kesadaran untuk menang dan bekerjasama sudah bukan pertanyaan lagi. Hal ini bisa terjadi karena setiap individu yang terlibat di dalamnya memiliki gambaran peta dan arah tujuan yang sama. Kemudian, hal yang super penting lagi adalah , memfokuskan energi untuk memulai, maju bersama dan bersama mengantisipasi kesulitan di masa depan. Bukankah hal ini lebih penting lagi bila kita menjalankan usaha, bisnis, bahkan pemerintahan? “No one can whistle a symphony. It takes an orchestra to play it.” -H.E. Luccock

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: