//
you're reading...
Creativity, Human being, Pendidikan, Perubahan

Calistung

Calistung tak layak diajarkan pada anak di bawah 7 tahun, walau dilakukan dengan fun, happy dan tak memaksa.

Pertama, hal-hal yang berhubungan dengan “latihan kecakapan kompleks” itu baru dilakukan saat anak telah berusia 7 tahun. Calistung termasuk kecakapan kompleks, karena telah meliputi aspek kognitif (knowledge), afektif (attitude) dan psikomotorik (skill) sekaligus.

Kedua, calistung adalah aktivitas yang telah melibatkan operasi-operasi kognitif (concrete operation level). Di dalamnya telah ada proses konstruksi angka dan huruf. Anak-anak di bawah 7 tahun secara kognitif tak seharusnya melakukan fungsi operasi dan konstruksi, karena akan mengganggu perkembangan otak, emosi dan gerak motoriknya.

Ketiga, usia di bawah 7 tahun adalah usia kreatif-dekonstruktif. Yang akan merusak pengembangan kreasi-dekonstruksi ini adalah konstruksi, pola, mekanisme, operasi, sistem atau apapun yang bersifat “menata”. Jangankan calistung, game (permainan) pun bukan makanan anak usia ini. Ini adalah usia play (bermain)Ketika suatu generasi hanya ditekankan pada pembelajaran-pembelajaran sistemik, seperti calistung, metodologi, IT dsb., tapi kering dengan pembelajaran tentang wisdom, seperti cerita, kisah, dongeng, seni, kreasi dsb., maka lahirlah generasi robot mekanistik seperti sekarang ini.

Banyak hal yang jauh lebih bermanfaat diajarkan pada AUD (Anak Usia Dini) daripada calistung.
Untuk menetapkan pembelajaran pada anak memang harus mampu menjawab dua pertanyaan : 

1. “Apakah anak sudah mampu?” 
2. “Apakah anak sudah perlu?”

Saat TK, yang penting adalah anak diajari tentang bentuk, ukuran, warna, garis dan keterampilan motorik halus. Jika sudah dikuasai, calistung lebih mudah dipelajari.

Dalam desain tes seleksi masuk SD, sebaiknya tidak menguji kemampuan calistung. Yang diuji adalah School Readiness : Motorik halus, bentuk, warna, ukuran, menarik garis, memegang pensil, duduk tenang dan meniru bentuk.

Sesuai dengan kurikulum SD baik KBK, KTSP maupun Kurtilas, bahwa pengajaran calistung diberikan saat kelas 1 sd 3 SD. Anak baru boleh diberikan ujian tertulis PERTAMA KALI di akhir kelas 3 SD.

Tidak benar bahwa kurikulum kelas 1 SD sampai kelas 3 SD telah menuntut siswa bisa membaca, menulis dan berhitung. Yang benar adalah mengajarkan siswa membaca, menulis dan berhitung.

Tentang TK, telah ada Permendiknas No. 37/2014 yang menyatakan bahwa TK tidak mengajarkan calistung. Beberapa pemerintah daerah bahkan telah mengeluarkan perda yang mengancam akan menutup TK yang masih mengajarkan calistung.

Ada empat hal yang harus terjadi saat anak harus belajar calistung :

Pertama, proses abstraksi, karena anak sudah berurusan dengan simbol angka dan huruf.

Kedua, proses konstruksi, karena anak sudah diminta untuk menata huruf dan angka menjadi sesuatu yang bermakna

Ketiga, proses operasi, karena anak harus menjalankan operasi penjumlahan, pengurangan, penetapan subyek-predikat dsb

Keempat, proses sistematisasi, karena anak secara disiplin dan konsisten harus menstrukturkan huruf dan angka dalam sebuah sistem.

Alhasil, calistung telah melibatkan proses mental yang cukup tinggi (higher mental processes). Ia bukan sekadar skill, tapi sebuah competence.Masalahnya, apakah sudah saatnya anak pra 7 tahun melakukannya?

Adriano Rusfi
Konsultan Senior, Psikolog, Pelaku Pendidikan. 

Belajar Membaca

Sistem proprioseptif adalah kemampuan seorang anak untuk mengetahui keberadaan tubuhnya dalam ruang. Kematangan sistem proprioseptif sangat erat kaitannya dengan kemampuan untuk duduk tenang dan memusatkan perhatian. Selama tujuh tahun awal kehidupan anak, otak anak masih harus memetakan lokasi otot, tendon, dan sendi-sendi di seluruh tubuh. Kalau sistem proprioseptif belum matang, seorang anak akan kesulitan belajar membaca dan menulis.

Jika anak belajar membaca pada usia 4-7 tahun, maka bagian otak yang akan dipakai adalah belahan otak kanan. Belahan ini membuat anak mengenali apa pun sebagai gambar, termasuk huruf dan angka. Jika cara membaca dengan otak kanan itu terpatri di pola pikir anak, di kemudian hari ia akan mengalami berbagai problem belajar. Anak-anak yang membaca dengan belahan otak kanan pasti bakal kewalahan setelah membaca beberapa alinea.

Saat ini makin banyak siswa kelas 4, 5, 6 SD bahkan SMP di sekolah negeri maupun swasta yang masih kesulitan mengeja atau masih membaca secara visual. Anak-anak ini telah didesak untuk membaca terlalu cepat, saat hanya otak kanan mereka yang sudah siap.

(Ringkasan tulisan dr. Susan R. Johnson, FAAP dari sudut perkembangan anak).

Fenomena ‘pengasuhan karbitan’ yang mencuri dan membangkrutkan kehidupan anak-anak Indonesia. Pengasuhan yang ‘membangkrutkan’ inilah awal munculnya bibit-bibit subur jiwa ‘korup’…. Apakah kita termasuk orangtua yang abai terhadap masa depan anak?

(Dewi Utama Fayza)

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: