//
you're reading...
Creativity, Human being, Kemandirian, Lingkungan, Pendidikan, Perubahan

Renungan Pendidikan #56

Harry Santosa – Millenial Learning Center

Pada tahun 1913, seorang pemuda dari desa kumuh dan miskin di India, hanya kuli yang tidak pernah sekolah sepanjang hidupnya, menulis surat kepada GH Hardy, seorang pakar matematika hebat dari Inggris untuk memohon pendapat ahli matematika Inggris itu.

Surat anak muda itu berisi ide ide nya tentang bilangan. Hardy segera menyadari bahwa surat itu, bukan sembarang surat, tetapi merupakan idea dan karya jenius. Bagi Hardy, surat itu menjadi petunjuk bagi penyelesaian problem matematika yang tidak terpecahkan selama ratusan tahun, dan kini akan menemui titik terang.

Hardy lalu mengatur agar anak muda yang bernama Srinivasa Ramanujan untuk dapat datang ke Inggris. Maka sejak itu dimulailah sebuah kolaborasi yang paling mustahil dan produktif yang pernah dicatat sejarah dunia matematika.

Semangat cerita di atas dituangkan dalam sebuah buku yang kaya dan menggugah, berjudul “The Man Who Knew Infinity: A Life of the Genius Ramanujan” ditulis oleh Robert Kanigel. Buku ini membawa kita melanglang dari kuil-kuil dan kampung kumuh di Madras India ke ruang ruang persidangan para ahli dan kapel di Cambridge University.

Di tempat itulah Ramanujan, ‘Pangeran Intuisi,’ diuji secara teori bersama pakar brilian canggih dan eksentrik Hardy, “‘the Apostle of Proof”.

Seiring waktu, intensitas kreatif Raman membuahkan warisan karya “magis” dan menginspirasi sehingga rahasianya masih diselami sampai hari ini. Tentu banyak manfaat bagi dunia dari karya yang dihasilkan ini.

Kisah di atas sesungguhnya bukan bermaksud menceritakan tentang sosok anak yang jenius, karena sesungguhnya setiap anak adalah “jenius” sesuai fitrah bakatnya masing masing.

Namun, coba bayangkan apabila jutaan anak anak kita di Indonesia, dengan beragam bakatnya masing masing, dapat berjumpa dengan ribuan pakar atau maestro yang bersesuaian bakatnya?

Para pakar atau maestro ini tersebar di dalam dan luar negeri, sepanjang mereka menyadari dan mau ikhlas mengundang anak anak berbakat (talented) pada bakat yang sesuai untuk berbagi dan belajar bersama serta berkolaborasi intens, maka kita bisa membayangkan bahwa mereka dan anak anak kita akan melahirkan karya karya terbaik yang menebar manfaat dan rahmat.

Hanya negara yang bodoh dan buta peradaban yang tidak mau melihat peluang dan kesempatan ini. Menggerakkan pengembangan bakat dan belajar relevan berbasis komunitas dan semesta adalah keniscayaan dan keharusan untuk percepatan peradaban.

Sejujurnya, banyak pakar mengingatkan bahwa kehebatan pengetahuan pada hari ini bukan lagi ada di kampus kampus dan di sekolah sekolah yang cenderung menghilangkan bakat lewat formalitas dan standardisasi penyeragamannya, namun kehebatan pengetahuan dan karya pada hari ini ada di tangan para pakar atau maestro ikhlash yang ada pada ribuan bidang dan pada jutaan bakat di dunia nyata. Kitapun bisa mengakses pengetahuan pengetahuan hebat di dunia maya dan memproduksinya.

Ayo para orangtua juga pendidik, jangan ragu membantu anak anak kita untuk menyurati para pakar dan maestro yang bakatnya relevan dengan bakat anak anak kita sehingga anak anak kita dapat berkunjung dan magang bersamanya untuk mengembangkan bakat dan akhlaknya. Hidupkan kembali konsep Surau dan Rantau dalam pendidikan anak anak kita.

Jika kita seorang pakar atau maestro dalam sebuah bidang yang sukses, maka jangan ragu, undanglah anak anak belasan tahun yang bakatnya bersesuaian dengan bakat atau bidang kita, untuk mendalami bakatnya dalam proyek real bersama kita. Jadikan bakat dan sukses itu bernilai abadi sepanjang masa dengan mendidik generasi mendatang.

Maka sediakan ruang keikhlasahan yang lapang. Tularkan kehebatan pengetahuan dan bakat kita, teladankan kebaikan akhlak kita, agar generasi mendatang bisa mandiri, berperan dan berkarya ketika aqilbaligh mereka tiba. Tidak ada lagi cerita anak anak muda yang kehilangan orientasi hidupnya dan rusak fitrahnya jika mereka menemui eksistensi dirinya dan berkarya sesuai bakatnya.

Sesungguhnya ada jutaan anak berbakat dalam beragam bidang seperti Raman, pemuda di India itu, yang menanti, yang bahkan sebagian besarnya miskin.

Pendidikan bukanlah tentang persekolahan namun tentang menularkan kehebatan bakat dan kemuliaan akhlak agar fitrah bakat, fitrah belajar dan fitrah keimanan anak anak kita tumbuh dan berbuah sempurna menjadi akhlak mulia.

Ingatlah bahwa, kehebatan bakat dan kemuliaan akhlak tidak bisa diajarkan, tetapi ditularkan dan diteladankan oleh mereka yang memiliki peran dan bakat yang sesuai dalam kehidupan nyata.

Hidup bukanlah tentang mengejar uang dan popularitas, namun tentang memaknai panggilan jiwa dan panggilan Tuhan, yaitu tentang mendidik generasi masa depan untuk dunia yang lebih baik dan damai, dunia yang menebar manfaat dan rahmat.

Semangat Zakat Fitrah di bulan Ramadhan ini semoga bukan sekedar tentang berbagi 3.5 liter makanan pokok kepada mereka yang lemah, namun adalah tentang semangat membebaskan, menyelamatkan dan menumbuhkan Fitrah setiap jiwa anak anak kita, generasi masa depan agar mereka memiliki peran peradabannya bukan menjadi budak peradaban sebagaimana generasi sebelumnya.

Salam Pendidikan Peradaban‪
#‎pendidikanberbasispotensi
‬‪#‎pendidikanberbasisfitrah‬ dan akhlak

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: