//
you're reading...
Ekonomi, Lingkungan, Renungan

Cloud, Space Time and Speed : Deja Vu, Bertemu Kenangan Masa Lalu

Jusman Syafii Djamal
September 24, 2015

Cloud, Space Time and Speed : Deja Vu, Bertemu Kenangan Masa Lalu

Siang tadi saya dapat berkah, Selasa 22 September 2015, saya bertemu kenangan masa lalu yang indah. Awalnya dua hari lalu sms dihandphone saya menginformasikan permintaan Prof.Dr.Ing B.J.Habibie untuk mendampingi beliau makan siang jam 12 tgl 22 sept dikediaman duta besar Jepang. Saya kaget. Undangan tak biasa. Sudah 12 tahun lebih saya tak pernah dampingi beliau lagi. Jadi saya hadir. Saya datang lebih cepat. Ada kegembiraan yang mengalir diam diam. Sebuah kenangan masa lalu bangkit kembali. Deja Vu.

Prof.B.J.Habibie Presiden Indonesia ke 3 datang dengan jas berwarna putih. Jas kesayangan beliau, ketika tahun 1990-1995 an, kalau makan siang bersama Ibu Ainun Habibie.Ketika bertemu, langsung beliau peluk saya, Hei Yusman, kamu kok gemuk. Perut dikecilkan. Jangan lebih 90cm, lingkarnya. Tidak olah raga ya. Jaga kesehatanmu. Ayo lari pagi lagi seperti biasa. Masih muda, jangan malas. Wah Pak Habibie lupa saya sudah pensiun.Jawab saya. Dia langsung menyambar, apa pensiun. Dua tahun lagi saya usia 80 tahun lho Yusman, tapi tak mau pensiun. Saya baru selesai nulis buku. Dan sekarang tambah sibuk. Mau nyelesaikan rancang bangun pesawat Regional 80 seater, advanced turboprop. Saya masih bermimpi dan merancang bangun pesawat terbang, Kamu pensiun, yang bener aja. Tegur Pak Habibie pada saya. Awas kalau kamu malas.

Saya diam sedikit terharu, karena tanpa saya sadar selama ini ternyata beliau masih memperhatikan kesehatan dan kemajuan saya. Beliau memang selalu begitu jika bertemu.Saya selalu ditegur dan dberi saran untuk lebih baik, sebab telah dianggapnya sebagai salah seorang anak intelektual beliau.

Oleh duta besar Jepang saya ditempatkan duduk disisi kiri Beliau. Dalam jamuan makan siang tadi, disebelah kanan beliau pak Rachmat Gobel, mantan Menteri Perdagangan. Makan siang hanya delapan orang. Lunch yang menarik karena penuh perbincangan tentang masa lalu pak Habibie yang bersahabat dengan banyak tokoh Jepang dan Jerman dimasa lalu.
Duta Besar Jepang Tanizaki Yasuaki saat ini ternyata ingin mengenal lebih dekat Prof.B.J.Habibie, beliau pernah bertugas di Jerman selama 7 tahun. Jadi pembicaraan sering diselang selingi dengan bahasa Jerman.

Salah satu topik menarik adalah tentang photography. Sebab sebelum makan dimulai, Pak Habibie mengambil iphone 6 beliau dan memotret makanan jepang yang ada didepan beliau. Katanya untuk ditunjukkan ke Ilham Habibie, karena ia ngga bisa hadir. Selain itu untuk dikirim ke koleganya di Jerman. Ternyata hobby pak Habibie memotret objek yang menjadi fokus perhatiannya tidak berhenti. Sekarang salah satu fokus nya adalah memotret keindahan sajian makanan dan tata letak ruang dimana ia berada.

Saya langsung ikut nimbrung. Ikut bercerita tentang pengalaman pribadi saya mendampingi salah satu hobby beliau ketika memotret deretan awan yang bergerak. Tahun 1993-1996 dalam perjalanan dengan pesawat terbang G-4 diketinggian jelajah 41 ribu kaki diatas permukaan laut, saya sering diminta beliau mencatat ketinggian, kecepatan pesawat , koordinat dan kondisi cuaca serta density udara. Beliau kalau duduk diatas pesawat terbang sering kali meminta saya memperhatikan jendela diluar dan melihat pola gumpalan awan yang menjadi teman perjalalan kami.Jika ada bentuk geometei awan yang menarik dan indah dipandang, beliau lantas ambil kamera dan memilih objeknya. Gugusan gumpalan awan yang beriringan membentuk pola geometri indah, dibidiknya.

Ada ratusan foto yang dibuat untuk satu lokasi, dan ketinggian serta jam yang sama tapi hari berbeda. Dalam ratusan foto itu saya menemukan sebuah kesimpulan sementara. Meski kami membuat potret tentang gumpalan awan, di kordinat , ketinggian dan kecepatan pesawat yang sama, tetapi dengan waktu yang berbeda, bentuk geometri serta pola gumpalan awan itu berbeda beda. Misalnya gumpalan gugusan awan yang kami temui ketika terbang diatas Teluk Benggala, selalu bersifat unik dan warna bias cahaya yang ditimbulkan juga berbeda. Selalu ada keindahan baru disana. Proses regeneration, terbentuknya geomteri baru selalu muncul.

Seperti kata A cloud is Benoit Mandelbrot “A cloud is made of of billows upon billows upon billows that look like clouds. As you come closer to a cloud you don’t get something smooth, but irregularities at a smaller scale” , karenanya Prof. BJ Habibie ketika itu kemudian menampilkan deretan foto tentang awan itu dalam satu rangkaian kisah dengan judul “Cloud. Space, Time and Speed”. Awan yang bergerak menembus ruang, waktu dan kecepatan.Makin defat kita pada gumpalan wan itu makin kita fathom makna ketidak beraturan dan ketidak pastian. Irregularities and Uncertainty. Many possibilities of shape dapat muncul setiap waktu.

Melihat deretan hasil jepretan fotography pak Habibie ketika itu, saya selalu mencoba mencari potret dengan bentuk geometri gumpalan awan yang sama, tak pernah ketemu. Ada rasa penasaran mengapa kami tak mampu bertemu dengan awan yang sama pada saat berbeda ? Ketika itu Prof Habibie mencoba menjelaskan ke saya perbedaan geometri awan yang berbeda itu melalui fenomena fisika, Dan saya diminta beliau untuk menemukan formula matematika dalam buku analisa cuaca. Saya mencoba membaca banyak buku, tak ketemu.

Sampai kemudian disuatu hari pak Habibie menilpon saya dirumah dan minta saya mengembangkan model simulasi matematika tentang suku bunga, inflasi dan exchange rate tahun 96. Model itu saya kembangkan berdasarkan catatan perjalanan dengan beliau diatas pesawat yang terbang diatas ketinggian 41000 kaki. Ketika itu beliau sedang meminta saya untuk mendeskripsikan fenomena aeroelastik dari Sayap N250 , Sayap pesawat Airbus dan Pesawat Tempur yang terbang dalam ketinggian jelajah yang berada dalam kondisi cuaca penuh turbulensi.

Fenomena perambatan tekanan pada kulit luar dan rangka sayap pesawat yang terayun ayun dalam fluktuasi gaya gaya yang bekerja sepanjang perjalanannya. Saya jadikan analogi untuk mengembangkan simulasi ekonomi. Beliau mengirimkan data dan informasi tentang suku bunga,inflasi, kecepatan uang beredar dan perubahan nilai tukar sepanjang waktu dari tahun setelah perang dunia kedua, hingga 1995 pada saya. Dari Amerika, Jerman, Inggris, Perancis,Jepang dan Indonesia.

Ketika model simulasi telah berhasil saya temukan dan buat gambar grafiknya serta mempresentasikan pada beliau, seperti biasa dengan pulpen merah biru beliau memberikan koreksi pada hal hal yang keliru yang saya buat. melalui coretan tangan Beliau meminta saya merubah formula matematika. Muncul formula baru yang difikirkan beliau setelah memandangi dan meneliti satu persatu grafik yang saya buat. Beliau mampu mendikte rumus tanpa melihat buku, hanya dengan melihat grafik yang saya hasilkan. Formulasi ini kemudian saya buat menjadi matriks koefisien pengaruh untuk memprediksi apa yang akan terjadi dimasa lalu dan alternatip solusi untuk mengatasinya jika terjadi. Sebuah matriks koefisien pengaruh yang mengikuti pola perhitungan aeroelastik dari sebuah sayap pesawat terbang yang sedang bergerak dengan kecepatan tertentu dalam situasi turbulensi penuh goncangan sepanjang perjalanannya.

Cloud, Space, Time and Speed. Gumpalan awan yang sama menembus ruang waktu. Berubah bentuk dan meningggalkan lokasi dengan kecepatan tertentu. Ia sirna ditelan waktu, diganti gumpalan awan yang lain. Yang berbeda bentuk geometri meski muncul dari ingredient yang sama, densitas, ketinggian dan uap air yang mirip. Serupa tapi tak sama.

Fenomena gumpalan awan yang tidak pernah identik itu, mengingatkan saya akan fenomena ekonomi hari ini tahun 2015 yang hampir mirip dengan tahun 97 dan 98. Nilai dollar melonjak hingga enam belas ribu. Kini diatas 14000 rupiah. Akan tetapi kita tak mungkin berhadapan dengan dampak yang sama persis meski nilai dollar kini ditahun 2015 menembus angka 14000 rupiah. Ada ingredient waktu berbeda, yang melahirkan pola tindak berbeda diantara kedua waktu. Dengan kata lain meski perlambatan ekonomi mulai terasa, akan tetapi kita memiliki kekuatan ekonomi berbeda. Juga pelaku usaha dan kondisi usaha yang tak sama persis. Karenanya kita tidak mungkin bertemu dengan krisis yang identik seperti dimasa lalu.

Seperti gumpalan awan, dalam ruang dan kecepatan yang sama tak akan menghasilkan pola geometri yang sama ketika dipotret dalam waktu berbeda. Cloud, Space, Time and Speed. Gumpalan awan perlambatan ekonomi yang kini kita hadapi bisa saja dianggap sebagai tanda badai akan tiba, akan tetapi dalam ruang waktu dan kecepatan tindakan yang berbeda dengan dimasa lalu pastilah menghasilkan bentuk dan pola situasi ekonomi yang tidak sama.

Seperti kata Presiden Jokowi, kita tidak akan masuk kedalam krisis seperti tahun tahun sebelumnya. Kini yang dihadapi adalah gejala ekonomi dunia yang tidak bersahabat. Karenanya optimisme terus harus dikembangkan, Momentum pertumbuhan ekonomi perlu terus digerakkan. Loncatan kemajuan perlu terus ditumbuhkan. Insya Allah kita sebagai Bangsa, ekonominya akan tumbuh berkembang.

Kini setelah hampir dua puluh tahun berlalu, deretan foto hasil jepretan pak Habibie diatas pesawat G-4 yang selalu bergerak diatas ketinggian 41 ribu kaki menembus awan, ruang dan waktu mengingatkan saya akan Rabinranath Tagore dalam puisinya berjudul Endless Time. Tagore pernah berucap begini :We have no time to lose,and having no time we must scramble for a chance.We are too poor to be late.

Dalam perjalanan hidup , kita tidak boleh menyia nyiakan kesempatan dan harapan. Kita tidak punya banyak waktu untuk dibuang percuma dengan segala jenis omong kosong dan main petak umpet tanpa kemajuan. Banyak momentum, kesempatan emas dan peluang yang tidak boleh kita biarkan begitu saja memudar ditelan waktu. Kita tak boleh terlambat memanfaatkan anugerah Illahi yang melimpah ruah disekitar kita. We are too poor to be late.

Saya share disini kegembiraan saya bertemu dengan masa lalu pada hari ini. Mohon Maaf jika keliru. Salam

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: