//
you're reading...
Human being, Leadership, Lingkungan, Perubahan

Rumus utama Manajer : Kendalikan emosi untuk ciptakan progress

Jusman Syafii Djamal
13 September 2015

Waktu minggu lalu ke jogja naik maskapai penerbangan LCC Premium Citilink anak perusahaan Garuda yang mengoperasikan Airbus A320, dikiosk buku Halim Perdana Kusuma saya membeli majalah Harvard Business Review judul covernya menarik : Be A Better Boss, How To Bring Out The Best in Your People.Jadilah Boss yang terbaik, Bagaiamana membangun tatacara menonjolkan kehebatan dan kejeniusan Staff atau Bawahanmu. Sebuah cover majalah menarik.

Tulisan dalam majalah itu mengingatkan saya akan Kyai Hamam Jakfar dari Pabelan. Dulu ketika tahun 1979 hingga 1984 saya masih rajin sowan menemui beliau dimalam hari, ketika hati sedang gelisah temukan masa depan yang tak pasti. Kini Pabelan baru saja merayakan ulang tahun yang ke 50. Saya diundang hadir kesana minggu lau , dan saya naik maskapai penerbangan Citilink, bertemu majalah tsb dikiosk sebelum boarding.

Kyai Hamam Jakfar ini hobbynya menemui banyak tamu dimalam hari. Jagongan sambil menyerup kopi dan topik pembicaraan bergerak dari spektrum hutang piutang atau cashbon para petani dan rakyat sekitar yang menghadapi kesulitan ekonomi hingga pada tataran global dan politik ekonomi Indonesia dimasa itu. Kalau saya bertamu dan bertemu beliau hanya bilang Yusman, kapan datang dan setelah itu diberikan kesempatan pada saya untuk ikut menjadi pendamping bertemu banyak tamu dimalam hari. Jika tamu tak muncul barulah ia bercerita tentang umi kalsum penyanyi kesayangan beliau dan musik musiknya, tentang tarikh dan pelbagai khasanah pengetahuan agama yang membuat saya kini sedikit tertarik pada karya sufism, tasawuf.

Ketika tahun 1979 an itu saya sering heran, dan sempat bertanya : Kyai kapan ngajarnya, kok ngga saya lihat masuk kelas atau berkhutbah. Beliau tertawa tergelak, dan bilang begini :” Lho kamu heran Yusman, Kyai ya harus begini. Terima tamu dan bicara tentang kehidupan. Mengajar para Santri tentang kehidupan jauh lebih utama dibanding yang lain.

Mengaji, belajar Al Quran, Bahasa Arab, Bahasa Inggris itu ada ahlinya. Yang kamu harus pahami , lanjut Kyai, dalam kalbu setiap insan itu ada dua Macan atau Harimau Sumatera. Macan yang bernama Kerakusan atau Greediness atau hawa nafsu. Dan Macan Akal Sehat atau Macan Rasa Ingin Tau. Kalbu itu berada diantara “dua jemari Allah”, Selalu berada dalam dilemma. Ikuti Hawa Nafsu atau ikut Akal Sehat, Tugas Kyai membangunkan “Macan rasa ingin tau dalam kalbu setiap Santri”. Jika macan rasa ingin tau itu bangkit dari tidurnya pastilah mereka akan menempatkan akal sehat didepan hawa nafsu. Dan karenanya para santri jauh lebih jenius dan lebih mumpuni dari Guru dan Kyainya.

Jika murid lebih pintar dari gurunya pastilah Guru itu memiliki ilmu yang lebih linuwih dan lebih mumpuni. Jika staff dan bawahan terlihat lebih pintar pastilah Boss jauh lebih hebat. Karenanya tulisan dalam Harvard Business Review tahun 2015, terasa mirip dengan ceramah lima menit yang diberikan seorang Kyai disebuah desa dekat Muntilan pada hampir 30 tahun lalu. Hanya kini dilengkapi data dan hasil riset.

Dalam majalah itu ada tulisan menarik dari Heidi Grant Halvorson berjudul :”Managers Can Motivate Employees with One Word”.
Manajer mampu menggerakkan bawahannya dengan satu kalimat. Tak perlu ngamuk dan tak perlu banting pintu. Apalagi sampai bongkar tembok kamar hanya untuk membuat karyawan atau staff dibawahnya bekerja mengejar target. Motivasi jauh lebih penting. Dalam tulisan itu Halvorson mengutip hasil penelitian seorang ahli NeuroScientist, Mathew Lieberman yang menulis buku Social, Why our brain Are Wired to Connect (Crown Publisher 2013).

Setiap insan adalah mahluk sosial, seluruh jaringan neuron dalam otak selalu memberikan rangsangan atau motivasi untuk membangun relationship. David Rock CEO of the NeuroLeadership Institute mengindentifikasikan pelbagai parameter social yang mendorong kita untuk membangun kerjasama, keterkaitan satu sama lain sebagai satu teamwork, synergy. Rasa mendapatkan amanah dan kepercayaan (feeling of trust), connection, belonging (melu handarbeni kata orang jawa), adalah element utama.

Karenanya kini di kantor Modern seperti Google, Facebook atau kantor perusahaan public ternama lainnya, “space lay outing” pengaturan tata ruang, tata letak kursi yang menghancurkan tembok, sekat yang memisahkan ruang psychology antara atasan dan bawahan kini dikembangkan. Ruang bermain, meeting dan restaurant serta olah raga ditata sedemikian rupa agar terbangun sebuah kampung kreatip, community approach. Pengembangan inovasi, sains dan teknologi melalui dialog para ahli secara informal. Sementara standardisasi, quality dan sop dijaga melalui interaksi kreatip. Tak mudah. Tapi kehidupan mirip dikampung kampung pulau jawa dan bali dimasa lalu dimana sungai dan sawah menjadi ajang silaturahmi membangun sinergi dan produktivitas itu kini dikembangkan pada level yang lebih tinggi. Diperlukan tata letak meja kerja dan ruang bagi terciptanya Psychological Space Management untuk membangun “connectivity”.

Dalam majalah itu tulisan lain yang menarik berjudul :”You Can not Be a Great Manager if you are not a good coach”. Tulisan Monique Valcour ini dimulai dengan aline pertama berbunyi begini :If you have room in your head for only one nugget of leadership wisdom make it this one : “The most powerfully motivating condition people experience at work is making progress at something that is personally meaningful”.

Motivator utama bagi setiap pekerja adalah mendapatkan kesempatan untuk menunjukkan kejagoan dan kehebatannya dalam menjalankan tugas yang dipercayakan pimpinan padanya. Dan kepercayaan itu akan mendorongnya untuk bekerja sepenuh hati, bekerja melebihi waktu wajib dan panggilan tugasnya untuk menciptakan karya cipta terbaik dari dirinya. Karenanya dalam kesimpulan nya Monique Valcour merekomendasikan satu kata kunci bagi para boss :” Its essential to restraint your impulse to provide the answer. Your path to solution sometimes not necessarily your employee path. Jalan yang dipilih mereka yang tumbuh berkembang dari lapangan, umumnya berbeda dengan yang ada dalam fikiran pimpinan. Apa yang dipikir oleh Collin Powell di Pentagon pastilan berbeda dengan Schwarzkop yang berada dalam medan tempur di Desert Storm. Apa yang ada dalam benak Sukarno berbeda dengan gejolak hati dan fikiran Jenderal Sudirman. Karenanya Sukarno memilih tetap di Jogja, Sudirman memilihi gerilya sambil ditandu menyusuri lembah dan gunung didesa desa. Paduan keduanya menentukan nasib Republik hingga kini. 

Karenanya Ada lima langkah yang dianjurkan ditempuh para manager dan Boss.

Pertama : Listen Deeply. Gunakan dan manfaatkan kedua telinga dan Hati. Dengarkan dengan sepenuh hati. Dont hearing without listening kata sebuah lagu.

Kedua : Ask, Don’t Tell. Banyak Bertanya, Jangan Banyak Perintah. Ingat bagaimana Jenderal Sudirman mengembangkan konsep perang gerilya dengan satu kalimat yang jitu. “Hai Prajurit, Jagalah hingga titik darah penghabisan, setiap rumah dan pekarangan mu”. Ia mendengar banyak, perintah terbatas,

Ketiga : Create and Sustain a developmental alliance. Ciptakan dan bangun jaringan kerjasama untuk mencapai kemajuan. Jangan kembangkan atmospher conspiracy dan persaingan tidak sehat , atau permusuhan , jangan biarkan sesama anggota tim saling jegal menjegal atau “office politics”. Build Trust.

Keempat : Focus on moving forward positively. Pusatkan perhatian pada target bersama, bergeraklah satu langkah demsi satu langkah sesuai jadwal untuk mengejar tenggat waktu dari setiap mata rantai aktivitas, yang teal digariskan dalam ‘network planning”.

Kelima : Build Accountability. Kembangkaq transparency dan akuntabilitas agar steep orang dapat menilai kemajuan atau kemunduran yang terjadi dalam kelompok kerja.

Begitu kata majalah Harvard Busines Review. Saya share disini, agar ada pembanding tulisan ilmiah yang mengatakan manjadi Boss atau atasan itu tidak perlu tiap hari mengamuk dan marah marah. Sebab semua orang ingin dihargai dan dipercaya. Trust is more powerful. Lebih kurangnya mohon dimaafkan. Salam

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: