//
you're reading...
Pendidikan

Literasi Ilmiah yang Digegas

Oleh: Sofie Dewayani

SAVANNAH mengambil jurnalnya dari tangan Mrs Bev. “Tambahkan lebih banyak detail,” kata Mrs Bev. Itu adalah revisi yang kedua. Savannah sudah mengisahkan pengalamannya selama akhir minggu kemarin di jurnal sepanjang empat halaman itu. ‘I W t MCD’, tulisnya di halaman pertama. Maksudnya, I went to McD. Namun itu belum cukup rinci menurut Mrs Bev. Maka, Savannah menambahkan di halaman kedua, I A F C. Maksudnya, I ate fried chicken. Lalu, Savannah menggambar lekuk-lekuk rambut keriting di gambar kepala-kepala yang masih gundul. Lalu gambar kentang goreng dibuatnya di sebelah paha ayam. “Apakah ini cukup, Mrs Bev?” tanya Savannah sambil menunjukkan gambarnya. Mrs Bev menggeleng. “Kamu pergi dengan siapa? Naik apa? Nah, kamu harus menggambar semuanya.”

Savannah bukanlah murid S-1, atau S-2, atau S-3 di sebuah perguruan tinggi bergengsi. Di kelas TK-nya yang riuh oleh celoteh itu, Savannah dan teman-temannya menelan ERR–edit revise rewrite–sebagai menu wajib sehari-hari. Bahkan ketika belum lihai merangkai alfabet menjadi kata yang punya makna, Savannah paham bahwa gambar, seperti halnya produk tertulis lainnya, belumlah final. Tulisan ialah produk sebuah dialog. Ia terbuka untuk ditentang, dipertanyakan, dan diubah. Sejak dini, Savannah belajar bahwa ketidakfinalan ialah fondasi dalam tradisi penulisan ilmiah.

Sekolah Savannah di belahan Midwest Amerika itu merupakan potret tipikal pendidikan dasar di negara-negara yang memiliki tradisi literasi yang telah mapan. Kelak, saat mampu mengonstruksi ide melalui tulisan, Savannah tetap harus menulis jurnal harian. Di sekolah menengah, Savannah tidak hanya menuliskan pengalaman, tetapi juga menganalisis fenomena sosial. Di perguruan tinggi, Savannah belajar memahami isi buku teks dengan cara mengkritisinya. Apabila Savannah menempuh jenjang pendidikan pascasarjana, rantai tradisi literasi itu akan semakin panjang dan kompleks.

Keseluruhan proses itu menggambarkan literasi tidak dapat dimaknai secara sempit sebagai kegiatan membaca dan menulis semata. Literasi ilmiah melibatkan proses menafsir dan merefleksi. Dalam proses itu, menulis ialah produk dari membaca kritis. Menulis ialah sebuah proses menciptakan teks. Penulis mengendapkan teks bacaan dalam dirinya, lalu membandingkannya dengan fenomena sosial di sekitarnya.Penciptaan teks, dengan demikian, bukan hanya merupakan proses konstruksi, melainkan juga reproduksi dan intertekstualitas.Penulis menyintesis dan mengambil jarak dari pemikiran yang sudah ada, kemudian meramunya dengan penghayatan penulis terhadap teks sosial atau realitas kehidupan. Tugas sekolah, dengan demikian, ialah menyediakan teks yang beragam dan mengajarkan cara mencerna bacaan dengan aktif. Membaca ‘aktif’ menempatkan pembaca sebagai subyek yang menafsir, bukan menelan bacaan sebagai hafalan.

Metode membaca kritis itu menjadi spirit dalam metode cara belajar siswa aktif (CBSA) yang pernah populer di Indonesia lebih dari dua dekade lalu. Meski sekian kali berganti format, kurikulum pendidikan yang berambisi meningkatkan kemandirian dan peran siswa di dalam kelas itu tidak pernah ditunjang konten kurikulum dan metode evaluasi yang selaras. Misalnya, ujian kelulusan siswa di level pendidikan dasar dan menengah masih berfokus pada pertanyaan untuk menguji daya hafal siswa terhadap materi pelajaran. Itu tentu ironis mengingat daya hafal sejatinya ialah kemampuan kognitif terendah menurut Benjamin Bloom.

Kemampuan aplikasi, analisis, dan evaluasi, misalnya, tidak sempat tereksplorasi dengan konten kurikulum yang begitu padat. Guru tak leluasa mengendapkan materi melalui kegiatan membaca kritis dan menulis.Teks bacaan terpaksa dihafal dengan bergegas. Siswa tak sempat merefleksi, apalagi menyandingkannya dengan teks sosial. Analisis kritis tak sempat terbentuk karena yang penting bagi siswa ialah menghafal materi ujian nasional untuk meraih NEM yang memuaskan.Apa pun namanya, kurikulum yang berambisi menjadikan siswa ‘aktif’ hanyalah basa basi literasi yang tak pernah merombak cara ‘pembacaan’ teks di sekolah.

Dalam laju literasi yang digegas itu, gegap-gempita teknologi digital menghadang. Di negara-negara yang memiliki tradisi literasi mapan, melimpah ruahnya informasi yang disajikan internet dapat disikapi dengan bijak. Teks digital dibaca dengan kritis. Media digital digunakan sebagai sarana untuk mewadahi kegiatan menulis dengan ruang
dialog yang lebih interaktif ketimbang sebelumnya. Di negara seperti Indonesia, teknologi internet seringkali baru berfungsi untuk memuaskan kebutuhan instan penulisan di sekolah. Teks digital tidak diendapkan dan dipilah, tetapi dijiplak mentah-mentah untuk dikemas sebagai tugas ilmiah. Semua itu terjadi karena tugas menulis diberikan kepada siswa yang sejatinya telah merasa lelah. Mereka penat dengan kurikulum yang padat, dengan menulis yang menjadi begitu sulit karena tradisi memproduksi pemikiran tak dibina sejak dini. Lagi-lagi, pengalaman Savannah menjadi valid sebagai pembanding. Di sekolah Savannah, pelajaran menulis tak terasa sebagai aktivitas yang membebani karena kurikulum pendidikan dasar dan menengah di sana begitu sederhana dan ramping. Savannah diberi waktu yang cukup untuk mencerna satu materi. Beda halnya di Indonesia, materi pelajaran akan dijejalkan dengan gegas, tanpa memberi ruang untuk refleksi dan berdiskusi.

Paulo Freire menganggap pendidikan literasi ‘ala bank’ itu hanya menjejali siswa dengan pengetahuan tanpa ruang jeda untuk bersikap kritis dan reflektif. Setelah lulus sebagai celengan yang gemuk, anak-anak Indonesia membaca dan menulis dengan gagap di perguruan tinggi. Mereka menganggap buku sebagai teks dogmatis yang harus diamini dengan pasif. Maka, tak dapat dibayangkan apabila anak-anak ini diperkenankan lulus hanya kalau telah mempunyai publikasi di sebuah jurnal ilmiah. Tanpa revolusi menyeluruh pada sistem pendidikan dasar, menengah, dan tinggi, tuntutan publikasi sebagai syarat kelulusan pendidikan tinggi hanya akan memakan korban. Sebagai celengan yang hanya diisi, anak-anak ini sudah cukup ‘tertindas’ oleh kurikulum pendidikan, meminjam istilah Freire.

Persyaratan publikasi tanpa perubahan mendasar dalam pendidikan hanya akan menciptakan penindasan baru. Sebagai contoh, proses review di jurnal internasional yang kredibel dapat memakan waktu berbulan-bulan hingga bertahun-tahun. Proses seleksi seketat ini niscaya akan menjadi momok bagi mahasiswa doktoral di Indonesia yang harus lulus dalam kurun waktu 5 tahun. Itu tentu belum mempertimbangkan bahwa para mahasiswa doktoral ini masih harus memberi nafkah keluarganya dan harus mengajar mahasiswa yang jumlahnya lebih banyak ketimbang yang diajar seorang dosen di luar negeri.

Tulisan ilmiah yang baik ialah yang mampu menyintesis dan merujuk pada peta pemikiran sebelumnya, lalu menawarkan sesuatu yang orisinal, entah berupa cara pandang atau fenomena sosial yang menunjukkan peta itu perlu diperbarui. Kemampuan ini tentu memerlukan pijakan yang kukuh, yaitu ketersediaan ragam bacaan dan cara pembacaan kritis. Tanpa dua hal mendasar ini, sebuah artikel ilmiah akan menjadi dangkal dan rapuh tanpa bangunan argumentasi yang kukuh. Karena itu, ketidakmampuan peneliti Indonesia untuk bersaing di peta jurnal internasional selayaknya dilihat dalam kerangka kurangnya keseriusan sistemis, terutama pemerintah, untuk mendukung reproduksi pemikiran ilmiah itu.

Tentu kegelisahan terhadap kuantitas dan kualitas publikasi jurnal akademik di negeri ini perlu dilihat sebagai iktikad baik. Kalangan akademis di perguruan tinggi sudah lama mengeluhkan jumlah kelulusan doktor baru yang sama sekali tak bisa mendongkrak intensitas riset dan produktivitas publikasi ilmiah. Mendikbud Mohammad Nuh menyentil produktivitas jurnal ilmiah di Indonesia sangat rendah. Namun keresahan akan kuantitas publikasi ilmiah belum cukup menjadi amunisi untuk melejitkan produktivitas menulis di dunia akademik. Tradisi penulisan ilmiah hanya bisa ditumbuhkan. Ia tak bisa digegas dengan paksa.

Dalam proses pertumbuhan itu, siswa selayaknya mendapat kesempatan luas untuk mengakses banyak ragam bacaan ilmiah. Pemerintah perlu mendukung ketersediaan jurnal nasional dan internasional di pendidikan tinggi.

Konten kurikulum selayaknya dibuat lebih sederhana agar memberikan ruang untuk pengendapan melalui diskusi dan menulis reflektif. Kegiatan literasi dan praliterasi, sejak pendidikan usia dini, selayaknya berfokus pada proses, bukan hasil. Menulis–mengedit-merevisi-menulis ulang merupakan rantai keprigelan yang menjadi bekal untuk bersaing di arena publikasi internasional. Setelah semua upaya itu dilakukan, baru mekanisme disinsentif–yaitu sanksi bagi mereka yang tak memenuhi target publikasi–bisa diberlakukan.

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: