//
you're reading...
Human being, Lingkungan, Motivasi, Pendidikan, Perubahan, Renungan

Bahasa Ibu

“MOTHER TONGUE/BAHASA IBU”
(Materi disampaikan pada kulwap Grup WA Nasional_HEbAT)
Oleh: Dewi Utama Fayza
Direktorat Pendidikan TK dan SD Ditjen Dikdasmen, Depdiknas, Program Director untuk Institut Pengembangan Pendidikan Karakter divisi dari Indonesia Heritage Foundation.
🌐🌼🌼🌼🌼🌐

Saat ini muncul kecenderungan, sejak TK dan SD, anak dikenalkan bahasa asing sebagai penanda status sosial. Fenomena ini tumbuh bukan hanya di Jakarta, tapi juga di kota-kota lainnya di Indonesia.

Indonesia dengan beragam suku dan budaya mulai Sabang hingga Merauke adalah himpunan kekayaan sosial- spiritual- material tiada hingga, yang selama ini telah diabaikan keberadaannya dalam pelayanan pengasuhan dan pendidikan. Anak-anak masuk sekolah dasar banyak dinolkan pengalaman belajarnya.

Beragam bahasa ibu sebagai bahasa pertama yang dikuasai anak manusia sejak ia lahir melalui interaksi sosial dengan sesama anggota masyarakat bahasanya, seperti keluarga dan masyarakat lingkungannya, sesungguhnya merupakan investasi luar biasa yang harus kita perjuangkan dalam mengusung lahirnya kembali generasi emas.

Tercerabutnya anak-anak dari bahasa ibu mereka sebagai wujud pesan budaya yang mereka miliki akan memunculkan beberapa risiko, menghadang tumbuh kembang anak dalam proses pembelajarannya dan berdampak rendahnya budaya literasi.

Vygotsky mengatakan bahwa kontribusi budaya, interaksi sosial, dan sejarah sangat mempengaruhi perkembangan mental individual anak, khususnya dalam perkembangan bahasa, membaca, dan menulis. Lebih lanjut Vygotsky menyampaikan bahwa pembelajaran yang berbasis pada budaya dan interaksi sosial sesungguhnya adalah sebuah pendekatan proses pembelajaran yang mengacu pada fungsi mental tinggi (Higher Order Thinking Skill) yang berdampak pada persepsi memori, dan berpikir anak.

Ida Wayan Oka Granoka dalam seminar budaya Parum Param di Bali (2013) dan dalam bukunya Reinkarnasi Budaya mengakui kehebatan bahasa ibu sebagai “Bahasa Ibu Sakti” yang memperkuat gerak bahasa anak menjadi menyempurna, karena peristiwa pemerolehan bahasa berasal dari rahim Ibu. Bukan dari lembaga bernama sekolah. Oka Granoka mengistilahkan gerak bahasa bayi dengan ibunya itu dengan istilah “Guttural-Palatal-Cerebral”.

Hal yang sama RA. Kartini memperjuangkan konsep bahasa ibu dalam membangun Konsep Keluarga sebagai Entitas Sosial yang melahirkan peradaban. Beliau menyampaikan dalam surat-suratnya. ”…dalam hariban si ibu itulah anak akan belajar merasa, berpikir, berkata-kata-kata” (awal tahun 1900 surat untuk Nyonya Ovink Soer).

Hal yang sama sebagai inspirasi, Jepang misalnya, memperkuat tradisi mereka mampu tegak gagah berdampingan dalam era globalisasi ini karena berkembang pesatnya gerakan ”kyo iku mama —ibu-ibu pendidik” yang mengusung konsep inti, lahirnya ”Mitsu no Tamashi”— masa-masa emas, di mana kaum ibu bertugas meletakkan pendidikan dasar semenjak janin berada di dalam rahimnya hingga bayi mereka usia tiga tahun pertama.

Program Generasi Emas Jepang untuk menguatkan kebahasaan alamiah kebahasaan, sosial, dan kognitif muncul beriringan dalam diri calon bayi sebelum lahir itu dikenal dengan “Mimi-Me-Te- Kokoro”. Sebuah program sensori-inderawi yang kaya dengan pembekalan agar calon ibu cerdas melakukan stimulasi kebahasaan dini.

Vygotsky dan Piaget dalam riset-risetnya yang berkembang kemudian menambahkan lagi bahwa “private speech” yang didampingi dengan verbal art dalam pengasuhan akan membawa anak mampu meraih ZPD “Zone of Proximal Development”.

Verbal Art melalui bercerita, menembang/lulluby, mendongeng, dalam pengasuhan ini sangat kental pada suku Aceh, Minang, Jawa, Sunda dan sebagainya, yang pada abad ke 19 melahirkan generasi emas di zamannya. Sebutlah Cut Nya’Din, Teuku Umar, Natsir, Sjahrir, Hatta, Bung Karno, dan sebagainya.

Riset-riset longitudinal di PAUD menyatakan bahwa anak-anak yang mendapat perlakuan yang patut di sekolah dasar yang menggunakan BAHASA IBU mereka sebagai pengantar di kelas awal mampu merawat motivasi, minat belajar hingga jenjang pendidikan tinggi (minimal S1).
🌰🌰🌰

Strategisnya peran bahasa ibu bagi masyarakat pendukungnya, dalam kenyataannya bahasa ibu sebagai lokal konten (muatan lokal) harus tersisih manakala berhadapan dengan bahasa-bahasa utama yang dipakai dalam kehidupan modern.

Bahasa utama itu di dalamnya termasuk penggunaan bahasa Indonesia dan bahasa-bahasa asing lainnya yang diberikan kepada anak di awal tahun masuk SD dengan pendekatan yang keliru dan tidak patut.

Sebagai contoh adalah masuknya muatan lokal Bahasa Sunda di wilayah Jabobedatek dikurikulum SD yang menumbuhkan masalah baru dalam proses pendidikan dan pembelajaran.

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: