//
you're reading...
Ekonomi, Entrepreneurship, Kajian, Review

Cash Management, Indicator Sehat tidaknya Ekonomi ?

Jusman Syafii Djamal
11 September 2015

Dua hari lalu saya kebetulan bertemu seorang teman yang sudah lama tak bertemu dan kini masuk ke area Investment Banker. Dia ingin tau apa pandangan saya tentang ekonomi di Indonesia. Saya ngga bisa jawab dengan baik. Sebab dia selalu punya argumen untuk memberikan perspektip berbeda. Sementara saya cuma ingin bertanya bagaimana ia memandang investasi di Indonesia. Pandangan nya menarik untuk disimak. Ia bilang Indonesia masih merupakan bagian dari surga investasi. Pasarnya besar, kelas menengahnya rajin belanja. Manusia bersumber daya iptek nya berkualitas tinggi.

Sayang features keunggulan Indonesia itu tertutupi oleh suasana ketidak pastian. Jarang satu urusan yang disebut beres itu bener bener beres dan tuntas. Ada ekor masalah yang bikin suasana investasi menjadi tak kelihatan ujung pangkal nya. Apalagi “message” yang tertangkap kadang cerah kadang “wait and see”.

Ia rujuk contoh sederhana listrik. Masalah sederhana tiap kali ada kebakaran pasti yang disebut sebagai sumber adalah korsluiting , arus pendek listrik. Semua heran apa yang jadi akar masalah. Apakah karena listrik di Indonesia ini voltase nya tidak stabil dan naik turun yang menyebabkan peralatan bisa rusak dan kemungkinan korsluiting tinggi. Atau kabel ngga diperiksa, atau ada sebab lain. Begitu juga pajak. Selalu saja ada wacana pajak yang terus naik. Ada saja wacana pungutan ini dan itu naik terus. Semua seolah tanpa formula yang dapat diprediksi jauh hari berapa beban biaya yang harus dikeluarkan. Penjelasan yang bikin sukar menarik konklusi pada pembebanan biaya bisnis yang harus dikeluarkan.

Suatu penjelasan dan berita berita yang muncul dipermukaan yang membuat lahir persepsi ketidak pastian pada “cash management”, aliran biaya dan aliran revenu sukar ditaksir.

Apalagi kini ada “surga investasi lain” yang menarik yakni Yunani, karena dilanda krisis semua property jatuh harganya. Turisme di Yunani jumlahnya jauh lebih banyak dari Indonesia, harga property jatuh dan lebih murah dibanding Bali, jadi para investor bilang kalau investasi di Bali juga sukar mengapa tak melirik Yunani ?

Ya memang semua investor yang dilirik cuma satu kata “kalau saya invest 1 juta dollar” di Indonesia dalam berapa lama saya bisa punya uang 1,1 juta dollar dan berapa lama pula jadi 1,5 juta dollar ? Satu tahun, dua tahun atau tidak pernah sama sekali. Ini namanya ilmu “management resiko”.

Dengan kata lain sebagai investment banker orientasinya selalu pada kepastian Return On Investment nya. Dan semua ROI ujung ujungnya pada persolan how to manage cash in and cash out every day, every month and every year. Mengelola uang keluar masuk tiap detik itulah Cash Management.

Sebetulnya baik investment banker maupun ibu rumah tangga kini menghadapi persoalan pelik disaat ini : Cash Management.

Isteri saya sejak kawin tahun 90 dengan saya punya keunggulan sebagai orang minang. Pinter mengatur uang keluar masuk. Meski ketika itu kami mendapatkan gaji pas pasan, Insya Allah biduk keluarga bisa bergerak menghadapi segala jenis turbulensi ekonomi.

Cash Management yang ia gunakan mirip seperti cash management semua ibu rumah tangga. Sebab semua ibu rumah tangga pada dasarnya di Sekolah Menengah Atas telah diajarkan tentang metodologi tata buku dan tata hitung ongkos secara sederhana.

Mampu membedakan mana komponen uang keluar, mana uang masuk dan berapa besar sisa yang bisa ditabung atau diarahkan kealokasi lainnya. Pada umumnya ibu rumah tangga di Indonesia memiliki kemampuan mengelola keuangan rumah tangga yang mulur mungkret. Mereka biasanya menggunakan rumus sederhana yang turun temurun , setiap jenis pengeluaran punya plafon nya, ada batas bawah dan batas atas. Dan itu diklasifikasi melalui susunan kotak pengeluaran.

Listrik dan PBB atau tagihan yang bersifat wajib warna merah. Tagihan yang bersifat tidak wajib tapi harus dikeluarkan dalam kotak warna kuning. Dan biaya yang masih bisa bebas atau free cash flow dalam kotak warna hijau. Yang bisa bikin pusing kepala jika kotak warna merah terus bertambah jumlah dan volume tagihannya. PBB yang naik sepanjang tahun tanpa formula. Biaya listrik, beras dan hal hal lain yang mau tidak mau harus dibayar. Dalam istilah airline no go item, jika tidak ada pesawat tak bisa bergerak. Jika tak tersedia uang dalam kotak bewarna merah artinya “anggaran rumah tangga” sudah masuk ke “perfect storm”, pengeluaran lebih besar dari pendapatan.

Ada teman fb, khalid zabidi bertanya kalau hutang diletakkan dimana ? hutang biasanya disebut dalam rumah tangga sebagai ‘cash bon’, pinjaman lunak kalau dari saudara atau mertua, pinjaman setengah keras jika dari kredit card dan pinjaman keras jika pake rentenir. Karena pinjaman punya masalah jatuh tempo dan bunga berbunga yang bergantung pada waktu, maka kotaknya dibuat menyolok, warna jingga atau mirip seperti black box, ini kotak yang dicari duluan. Agar semua kesulitan segera hilang. Salah kelola sita menyita akan terjadi. Klasifikasi, warna kotak memberi arah “policy” dalam pengelolaan rumah tangga begitu juga dalam anggaran perusahaan.

Dengan kata lain cash management yang mampu memberikan sinyal tentang kesehatan likuiditas perusahaan , pada gilirannya akan menjadi wahana untuk mengelola secara efektip pelbagai jenis sumber daya yang dimiliki untuk membangkitkan opportunitas dalam menumbuh kembangkan suatu bisnis.

Cash Management amat penting terutama dalam situasi ekonomi yang dibayangi mendung. Dimana harga meningkat kesempatan mendapatkan revenu tertutup. Cash Management pada umumnya ditentukan oleh kemampuan sebuah perusahaan untuk mengenerate “free cash flow”, suatu aliran dana yang tidak terikat pada kewajiban beban tagihan. Yang “non free cash flow” adalah suatu aliran dana yang telah terikat oleh kewajiban tagihan yang melekat padanya. Sebuah perusahaan pastilah memiliki “bank account” dan “monthly statement” yang memberikan gambaran rincian tentang keseimbangan diantara pelbagai jenis aktivitas yang menghasilkan revenu dan aktivitas yang memerlukan pembayaran biaya. Cost and Revenue statement.

Tanda awal krisis dalam satu perusahaan atau rumah tangga akan mulai muncul jika ada ketidak seimbangan diantara uang masuk dan uang keluar. Tiap hari muncul tagihan dan tidak ada tanda tanda revenu bakal tumbuh. Bank account menyusut terus dan tak mampu digunakan untuk membayar tagihan. Besar pasak dari tiang. Jika ini berulang terus tiap hari dan tiap bulan pastilah akan menjurus pada masalah besar.

Hal semacam inilah yang saya fikir kini menjadi concern semua investor ditengah isu perlambatan ekonomi. Para pengusaha yang sudah eksis pastilah memiliki penciuman yang tajam. Semua pastilah memiliki optimisme, bahwa Indonesia tidak akan menjurus pada krisis ekonomi 98. Meski dollar seolah naik terus harganya, semua pengusaha memiliki jurus ikat pinggang yang jitu. Banyak pengusaha telah menjadi veteran krisis ekonomi. Telah memiliki ilmu linuwih untuk hadapi badai kesulitan.

Lagipula realitas bisnis pastilah memiliki indikator yang mudah dicerna. Produksi 100 laku 20, artinya rugi 80. Produksi 80 laku 60 artinya rugi 20. Jika tiap hari terus jumlah kerugian meningkat terus dari 30 menjadi 50 menjadi 70 dan terus 90 pastilah bukan perlambatan yang dirasakan melainkan benih krisis.

Sebetulnya dari pembicaraaan dengan pelaku bisnis yang saya temui, kini concern utama mereka tidak lagi bertanya tentang apa peraturan yang keluar. Yang diomongkan adalah apa tahun depan pajak naik tidak ? Apa suku bunga akan naik tidak ? Apa dollar terus meningkat terhadap rupiah tidak, kalau pinjam uang bank apa beban biaya pinjamannya ketutup dengan revenu yang dihasilkan tidak ? Pungutan apa saja yang bakal keluar kalau bisnis terus dilaksanakan dalam situasi perlambatan ekonomi ?. Seberapa besar biaya atau Cost of Doing Business di Indonesia tahun 2015, tahun 2016. Apa cenderungmeningkat atau menurun ?

Sebab semua kalangan memahami bahwa bukan berapa jumlah “cash yang dimiliki” yang menentukan sukses tidaknya sebuah bisnis. Melainkan apakah Fungsi dari cash management bisa berfungsi tidak ? Sinyal yang diperlukan oleh para entrepreneur adalah celah kesempatan terbuka yang masih tersedia dalam perusahaan untuk mendapatkan sumber revenu baru. Selalu ada pertanyaan apakah ada celah bagi tumbuh berkembangnya dana ditempatkan sebagai “capital expenditure”. Apakah investasi dalam fortpolio bisnis baru yang memiliki kemungkinan untuk menghasilkan return on investment yang paling baik, dibanding diletakkan sebagai tabungan di bank. Kalau ada dimana, dan bagaimana serta apa “term and conditionnya”. Karenanya diperlukan kepastian berusaha. Cash Management adalah kata kuncinya. Dan biasanya ditengah perlambatan ekonomi itu yang sukar ditebak.

Apakah benar begitu, wallahu alam. Mohon Maaf jika keliru. Salam

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: