//
you're reading...
Human being, Lingkungan, Motivasi, Pendidikan, Renungan, Review

Berikan Jiwa Islam, Bukan Dogma

Harry Santosa -Millenial Learning Center

Ini adalah wawancara yang sudah sangat lama antara bunda Neno Warisman dengan Republika, mungkin saat ini pemikiran bunda Neno sendiri mengalami perbahan begitu pula kondisi sekolah2 Islam yang ada. Saya tertarik memposting ini untuk melihat perubahan2 apa yang telah dicapai dan pandangan teman2 terkait pendidikan Islam melalui dogma/doktrin. Saya memahami bahwa dogma/doktrin harus dibarengi keteladanan, pemberian imajinasi semacam dongeng dan praktek pembiasaan. Ini memerlukan teknik pendidikan dan kejiwaan yang baik. Bagaimana pendapat teman2 #

————————————————————-

Bagaimana sesungguhnya pendidikan agama yang ditanamkan di sekolah-sekolah Islam unggulan tersebut? Sudah tepatkah bimbingan agama yang diajarkan kepada anak didik? Atau jangan-jangan berbagai aktivitas unggulan itu hanya sederet * contrengan* yang ‘memuaskan’ sesaat para orang tua?

Konsultan sekaligus pemerhati pendidikan Neno Warisman mengupas seputar kegiatan sekolah-sekolah Islam unggulan dalam sebuah wawancara dengan Damanhuri Zuhri dari *republika*.

Menurut pimpinan Neno Educatioan and Care ini, ketika para orang tua memasukkan anak-anaknya ke institusi Islam, maka sebenarnya seratus persen orang tua mengharapkan anaknya memiliki tauhid yang kuat. Neno sangat menyayangkan, ternyata proses pembelajaran yang terjadi di banyak sekolah Islam termasuk yang unggulan, lebih banyak menekankan pada mekanisme, bukan pada esensinya.

”Ketika anak shalat misalnya, adakah dia menghayati dan merasakan ‘kehadiran’ Allah dalam shalatnya?” ujarnya. Hal-hal seperti ini dikesampingkan. Yang ada, jika anak mengikuti shalat maka ia akan mendapat stempel bagus, namun jika tidak dia akan ‘tanggung akibatnya’.

Berikut ini hasil wawancara selengkapnya dengan wanita yang hingga kini masih aktif menyanyi dan membaca puisi serta mengisi kegiatan seminar pendidikan.

# Dibanding** era tahun 1970-an dan 1980-an, belakangan ini banyak muncul sekolah-sekolah Islam unggulan. Menurut Anda apa yang melatarbelakangi munculnya sekolah-sekolah Islam unggulan itu? #

Saya termasuk generasi yang belum mengalami adanya sekolah-sekolah Islam unggulan. Ketika saya dulu berangkat remaja keunggulan pendidikan ada disekolah-sekolah Katholik. Baru ketika saya mulai kuliah bermunculanlah sekolah-sekolah Islam. Menurut hemat saya, sebagaimana juga Barat, muncul kesadaran mencari dan menyusuri kembali energi yang super atau mereka bilang energi besar.

Saya kira memang itu fitrah sebagaimana juga kita sampai kepada fitrah yang menyetujui yang terbaik adalah pendidikan yang dilakukan sesuai dengan fitrah. Jadi ketika kita orang Islam berpihak kepada Islam maka semua sendi kehidupan kita arahkan orientasinya kepada Islam. Karena kita memang sudah mayoritas dan seiring dengan kesadaran adanya kebangkitan kefitrahan itu, maka institusi sekolah-sekolah Islam itu wajar jika kini menjamur.

# Berhasilkah sekolah Islam mewujudkan harapan para orang tua itu? #

Ketika kita memasukkan anak-anak kita ke institusi Islam maka sebenarnya seratus persen orang tua mengharapkan anak itu kuat tauhidnya. Namun, pembelajaran agama di sekolah-sekolah Islam menjadi mekanistis dan itu sebuah kesalahan besar. Saya ambil contoh, shalat itu penting. Ukuran tegaknya tauhid itu, mampu tidak anak kita menegakkan shalat lima waktu sehari. Tetapi ketika kita melihat bagaimana sekolah Islam menyampaikannya dengan cara yang sangat mekanikal, mirip cara kerja pabrik. Peristiwa shalat itu tidak mendapatkan penjiwaannya melainkan hanya label. Artinya, dia memenuhi badan saja tapi penjiwaannya yang tidak dilakukan.

Ini membutuhkan kerelaan dari sekolah-sekolah Islam untuk tidak kebut-mengebut dalam hal target. Sekolah negeri itu tidak mempunyai muatan khusus, tapi kalau sekolah Islam karena dia sudah janji muatan Islam itu besar sementara kurikulum dari Diknas juga padat sehingga jadwulnya dobel.

Kalau ini seolah-olah seperti ada kuantitas yang membludak, ‘mati’-lah anak kita. Kalau bisa disinergikan, dia akan tambah kuat. Tapi itu mudah dikatakan dan sulit dilakukan.

# Apa contoh kongkretnya? #

Misalnya, ketika jam shalat anak-anak berbondong-bondong wudhu karena dia punya waktu. Anak pada fitrahnya masih mau main tapi saat-saat shalat menjadi kewajiban bukan kesenangan maka akan beda sekali hasilnya. Kalau anak dididik tidak dengan kebahagiaan, sedekat apapun dia dengan Alquran, menegakkan shalat, atau hal-hal agamis lainnya, tetap kita tidak akan mendapatkan generasi seperti Rasulullah SAW. Karena Rasulullah bahagia, shalat bagi Beliau adalah satu kesenangan, istirahat, dan kebahagiaan. Tapi, sering kita lihat anak-anak melakukan shalat adalah sebuah kewajiban, sebuah keterpaksaan demi stempel-stempel dari gurunya. Maka, mengerikan sekali ketika anak-anak harus memenuhi *contrengan* itu. Ini awal sumber kebohongan.

# Kalau begitu, apa yang harus dilakukan sekolah-sekolah Islam? #

Student profile. Kembali melihat “student profile”, sebenarnya anak didik mau jadi apa. Apa mau seperti orang yang bisa membaca Alquran atau tahfidz (menghafal). Ada perbedaan yang nyata dari pendidikan Rasulullah SAW dengan pendidikan yang dilakukan sekarang. Misalnya, anak-anak yang berbakat dapat menghafalkan Alquran.

Rasulullah itu bukan menghafalkan Alqurannya, tapi cinta kepada Alquran. Cinta kepada muamalahnya dan berbuat baik dulu. Cinta kepada Allah dan Rasulnya, lebih dari pada yang lain, kata ini menjadi sangat penting. Kesuksesan seorang Muslim jika dia sampai kepada titik cinta kepada Allah dan Rasul melebihi cinta kepada dirinya sendiri. Sekarang bagaimana mungkin anak-anak kita cinta kepada Allah dan Rasulnya lebih dari cintanya kepada dirinya kalau yang dia terima itu hanya kewajiban. Dia tidak diberikan kesempatan untuk menghayati.

# Anda tampaknya paham betul anatomi sekolah Islam? #

Ini pengalaman saya. Ketika, ada institusi baru, dia mau membuat terobosan baru. Saya katakan pada mereka, semua harus Islami. Mulai dari penerimaan guru, misalnya. Guru itu harus orang yang bukan hanya memiliki kecerdasan saja tapi dia adalah anggota masjid yang baik, tetangga yang baik, pemurah dermawan walaupun dia miskin. Lalu bagaimana dia bisa memberdayakan kurikulum menjadi hal yang menyenangkan. Tapi, ‘tuhan’ mereka tetap: kalau anak kita cuma berangin-angin kemudian kapan belajarnya. Kemudian bagaimana nanti kalau dia mau masuk SMP, terus bagaimana kalau dia tidak masuk sekolah unggulan, nanti dia mau jadi apa? Pertanyaan-pertanya an itu muncul dari para orang tua.

Ini yang “nggak” dipegang. “Ghoyah” (target utama- red) dilupakan, wasilahnya yang dipakai. Semua diukur dengan prestasi akademik. Kalau bagi saya, setiap anak itu bintang. Tidak ada anak yang bodoh dan tidak ada anak yang kurang. Rasulullah SAW pun mengajarkan demikian. Banyak contoh anak-anak yang lulusan dari sekolah Islam malah menjadi pemberontak agama Allah karena penekanannya mekanistik, rutinitas, dan kewajiban. Bukan jiwa Islam yang diberikan.

# Sejauh yang Anda amati, bagaimana peran sekolah menanamkan nilai-nilaiagamabagi siswa? #

Memang sekolah tidak sendirian, yang nomor satu itu orang tua. Pendidik utama itu tetap orang tua, sekolah itu hanya membantu. Jadi, kalau perihal disiplin shalat diserahkan sama sekolah menurut saya juga kebablasan. Karena peristiwa shalat itu adalah peristiwa kehangatan. Anak itu ada “golden opportunity” . Ketika anak didekatkan dengan ritual sedangkan dia belum mengerti bacaannya, dia akan tetapi dia suka berada di situ asal orang-orang menerima dia, boleh tiduran, naik ke punggung, dia “nggak” merasa tegang dengan shalat.

Saya sedih kalau melihat anak-anak, misalnya, mampu menghafal tiga juz Alquran, sekolah lalu membanggakan hafalannya itu. Bukankah setiap anak diajarkan untuk rendah hati, tidak untuk diperlombakan, karena sebenarnya bukan hafalnya yang penting, tapi kecintaan dia mempelajarinya. Kita membutuhkan kerendahan hati para pemilik sekolah.

# Pendek kata, Anda melihat kurikulum di sekolah Islam kebanyakan memberatkan anak didik? #

Sangat. Rasa gembira ketika mengajarkan ilmu itu tidak ada. Memang kelihatannya anak-anak senang. Tapi ketika emosi mereka terbakar sedikit, langsung memukul. Semestinya, Buatlah anak-anak bebas dari rasa takut ketika berangkat ke sekolah, ketika dia bertemu guru hatinya ringan, dan guru-gurunya itu sahabatnya. Jangan seorang guru itu menghakimi muridnya. Kita penghukum sekali kepada anak-anak. Kalau anak sudah dididik dari kecil dengan hukuman nanti dia akan tumbuh menjadi orang-orang yang senang men-“justice”.

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: