//
you're reading...
Human being, Lingkungan, Motivasi, Pendidikan

Sebuah alegori atau kiasan untuk Fitrah

……bahwa fitrah laksana benih.

Benih mengandung di dalamnya segala sesuatu yang dibutuhkan untuk berkecambah, bertumbuh, dan akhirnya berbunga dan berbuah pada kondisi dan saat yang tepat.

Tapi bumi mengandung berbagai jenis tanah, beberapa tanah yang terlalu asam, atau memiliki kandungan garam tinggi, yang lain terlalu berair, dan sebagian tanah ada yang sesuai namun temaram gelap karena cahaya sinar matahari yang terang terhalang oleh pohon-pohon tinggi

Jika bibit ditanam di tanah yang salah, atau di tempat gelap, tanaman yang dihasilkan akan lemah, menjadi sakit atau bahkan mati sebelum waktunya. Sebagian tanah akan mengizinkan tanaman tumbuh hanya sebagian dari potensi penuhnya, dan tanah lainnya akan memungkinkan tanaman untuk mencapai segala sesuatunya sebagaimana dimaksudkan untuk menjadi demikian oleh benih.

Fitrah, seperti benih, tidak pasif, dan dapat beradaptasi dengan keadaan yang terbatas, tetapi hanya sampai batas titik tertentu.

Benih yang ditanam di tempat dengan sinar matahari yang terbatas, akan tumbuh menjadi tanaman yang condong dengan sendirinya ke arah matahari untuk meningkatkan eksposur, beberapa akar tanaman akan aktif tumbuh menuju sumber air dan meningkatkan akses ke air, tetapi sebagian benih jika ditanam sepenuhnya dalam gurun gersang, atau di tempat yang benar-benar gelap, mereka tidak akan pernah tumbuh selamanya.

Akal adalah Ahli Kebun, yang dapat memilih untuk menanam kembali benih di tempat terbaik yang mereka dapat temukan, tapi banyak tukang kebun merasa terlalu sulit untuk mencabut dan memindahkan tanaman, sekali akarnya telah tumbuh, dan sebagian tukang kebun menjadi terpesona dengan satu-satunya bunga tanaman yang dihasilkan, dan tidak tahu seberapa banyak yang sebenarnya telah bisa dihasilkan pada saat yang sama jika tanaman berada di tanah yang lebih baik.Kondisi tanaman saat ini, itu karena adanya ‘Nafs’ (diri emosional insting, atau ‘bawah sadar’), adalah mereka yang mengenal hanya tanah yang buruk, kemudian membuat akar di sana. Lalu karena mungkin dikhawatirkan akan tumbang atau memiliki beberapa akar buruk atau daun berpenyakit maka dipangkas untuk membuat jalan bagi pertumbuhan yang sehat.

Ini adalah kondisi Manusia di seluruh dunia, dan inilah makna Fitrah.

Kita harus tumbuh dengan keunikan sendiri seperti tukang kebun yang bijaksana, dan tidak disesatkan oleh pertumbuhan kecil kita yang seolah membuat kita menemukan kesenangan, dengan mengorbankan potensi tinggi kita yang dimaksudkan Allah untuk dicapai ketika tumbuh di lahan terbaik.

Abdullah al Andalusi

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: