//
you're reading...
Human being, Kajian, Lingkungan, Motivasi, Pendidikan, Perubahan, Renungan

Tidak Menyia-nyiakan Bakat Anak

Harry Santosa – Millenial Learning Center

Di dalam Kitab Tuhfatul Maudud (hal 147-148), Al Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,
ومما ينبغي أن يعتمد حال الصبي، وما هو مستعد له من الأعمال، ومهيأ له منها، فيعلم أنه مخلوق له، فلا يحمله على غيره ما كان مأذونا فيه شرعا.
“Perkara yang sudah sepatutnya diperhatikan oleh orang tua adalah keadaan si anak, potensi apa yang dia miliki, bakat apa yang terpendam pada dirinya. Maka orang tua hendaknya mengetahui bahwa untuk bidang itulah anaknya diciptakan. Maka orang tua hendaknya tidak memalingkan si anak dari bakatnya selama itu diperbolehkan oleh syari’at.”

Apa akibatnya bila dia dipaksa untuk fokus pada sesuatu yang bukan bakatnya?

Beliau rahimahullah melanjutkan,
فإنه إن حمله على غير ما هو مستعد له- لم يفلح فيه، وفاته ما هو مهيأ له،
“Apabila anak dipaksa untuk menyukai suatu bidang yang bukan bakatnya, maka dia tidak akan meraih kesuksesan di bidang itu. Luputlah darinya apa yang sebenarnya merupakan potensi dirinya. “

Lantas apa yang harusnya menjadi tugas orang tua?
Kata beliau rahimahullah,
فإذا رآه حسن الفهم، صحيح الإدراك، جيد الحفظ، واعياً- فهذه علامات قبوله، وتهيئه للعلم؛ لينقشه في لوح قلبه ما دام خالياً، وإن رآه ميالاً للتجارة والبيع والشراء أو لأي صنعة مباحة- فليمكنه منها؛ فكل ميسر لما خلق له.
“Apabila orang tua melihat bahwa anaknya bagus pemahamannya, bisa mengerti dengan baik, hafalannya pun bagus, dan cerdas, maka ini menunjukkan tanda penerimaan dan kesiapan dia untuk belajar, untuk mengukir ilmu di dalam hatinya yang masih polos.
Namun apabila dia melihat anaknya memiliki kecenderungan kepada dunia perdagangan, jual-beli, atau pada bidang lain yang diperbolehkan oleh syariat (seperti pertanian, kedokteran, teknologi dll –pent) maka hendaknya dia beri kesempatan kepada anaknya untuk mengembangkan potensi itu. Setiap orang akan dimudahkan oleh Allah untuk melakukan apa yang telah ditetapkan baginya.”
Selesai nukilan dari Ibnul Qayyim rahimahullah.

(QS AL ISRAA (17):84)
Dalam Tafsir alAzhar
….datanglah ayat yang selanjutnya: “Katakanlah: “Tiap-tiap orang beramal menurut bawaannya.” (pangkal ayat 84). Dalam ayat ini tersebut syakilatihi yang telah kita artikan bawaannya. Karena tiap-tiap manusia itu ada pembawaannya masing-masing yang telah ditentukan Tuhan sejak masih diguligakan dalam rahim ibunya.

Pembawaan itu ada macam-macam, berbagai warna, berbagai rupa, berbagai perangai, aneka ragam, sehingga yang satu tidak serupa dengan yang lain. Iklim atau alam tempat kita dilahirkan, entah kita orang pulau entah kita orang darat. Entah orang yang hidup di pergunungan entah hidup di tepi laut. Entah di daerah khatul-istiwa ataupun di negeri yang mengandungi empat musim; semuanya membuat syakilah. Demikian juga lingkungan orang tua yang melahirkan, demikian juga pendidikan dan pergaulan di waktu kecil, demikian juga pengalaman dan perantauan dan perlawatan, semuanya membuat bentuk jiwa.

Dalam pada itu tidak ada manusia yang serupa, khabarnya lebih tiga ribu juta manusia dalam dunia ini di zaman sekarang, tidaklah ada yang serupa. Sampai pun bunyi suaranya tidaklah serupa. Sidik jarinya tidaklah serupa. Maka di dalam ayat ini disuruhlah manusia itu bekerja selama hidup di dunia ini menurut bawaannya masing-masing itu. Sebab itu sudah seyogianya manusia itu mengenal siapa dirinya, supaya mudah dia menempuh jalan yang mudah ditempuh oleh bawaan dirinya itu. Supaya hidupnya jangan gagal dan jiwanya jangan sakit. Dan semua amal dalam dunia ini adalah baik dan mulia, asal saja dilakukan dalam garis yang ditentukan Tuhan. Itu sebabnya maka lanjutan ayat berbunyi: “Maka Tuhan kamu lebih tahu siapa dia yang telah lebih mendapat petunjuk perjalanannya.” (ujung ayat 84).

Memang Tuhanlah yang lebih mengetahui ke mana jalan yang patut ditempuh dalam kita beramal, yang sesuai dengan bawaan atau yang disebut juga BAKAT. Oleh sebab itu maka di dalam mencari siapa sebenarnya diri kita itu menjadi syarat mutlak kita mendekati Tuhan selalu, mencari ridhaNya, melaksanakan apa yang diperintahkanNya dan menghentikan apa yang dilarangNya. Maka dengan kepatuhan kepada Allah, Dia berjanji akan menunjuki kita JALAN. (Perhatikan ayat penghabisan dari Surat al-Ankabut, yaitu Surat 29, ayat 69, dalam juzu’ ke20)..

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.”
(QS:29:69)

Semoga kita termasuk hamba hambanya yang berjihad kepada keridhaanNya.
Allahumma aamiin
😊

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: