//
you're reading...
Creativity, Entrepreneurship, Kemandirian, Motivasi, Perubahan

Bisnis Airline dan Bisnis Tukang Cukur : Food for thought

Jusman Syafii Djamal
August 22, 2015

Salah satu bisnis tertua di Indonesia adalah bisnis tukang cukur. Dulu ketika saya masih bersekolah di Langsa, ayah say yang kini sudah almarhum selalu tiap dua minggu sekali membawa saya ke tukang pangkas rambut. Setiap ayah ingin anaknya rapi dan bercukur paling tidak dua minggu sekali. Apalagi kalau di sekolah SD dan SMP ketika itu masih ada acara pemeriksaan kuku dan rambut. Yang panjang dan tak terurus pastilah mendapat teguran dari guru. Pada masa lalu kurang lebih 40 tahun lalu, disekolah SD dan SMP yang menjadi ajaran pertama bagi setiap murid adalah kerapihan dan keteraturan. Karenanya pemeriksaan kuku, rambut dan baju yang bersih serta bersterika menjadi acara tiap pagi sebelum memulai segala urusan. Begitu juga buku catatan yang rapi ditulis sering diperiksa.

Tidak heran hingga kini kalau bertemu dengan mereka yang berusia 50 hingga 70 tahun masih ada teman yang selalu mencatat apa yang didendengar dan dibaca dengan pulpen warna merah dan biru. Informasi Yang tak diketahui dan perlu diperdalam berwarna merah, fakta yang valid dan benar berwarna biru. Melalui pendekatan kebiasaan seperti itu anak sekolah diajarkan arti klasifikasi, dekomposisi , induksi dan deduksi dasar dari logika. Tak mungkin logika muncul jika tak ada keteraturan berfikir. Tak mungkin lahir logika dalam kesemrawutan berfikir yang tak mampu membedakan mana kacang mana kulit, mana substansi mana kembang dari suatu fakta.

Dengan kata lain dari tukang cukur saya belajar tentang keteraturan dan kerapihan. Hingga kini meski rambut saya hilang tetap saja setiap seminggu sekali saya ke tukang cukur, selalin karena kebiasaan juga karena ternyata rambut saya meski tipis masih bisa tumbuh cepat. Kalau tak dicukur , ketemu Bang Hariman Siregar pasti dibilang jangan tamak kau Yus : gundul mau, gondorong mau, sebab kesemrautan panjang pendeknya rambut muncul.

Bisnis tukang cukur mengajarkan keteraturan dan kerapihan. Bisnis maskapai Penerbangan berdiri diatas pilar keteraturan dan kerapihan. Jadi bisnis tukang cukur bisa dibilang awal mempelajari filsafat bisnis Maskapai Penerbangan. Tanpa keteraturan dan kerapihan tak mungkin muncul Keselamatan dan Keamanan Penerbangan. Tanpa upaya sistimatis berkelanjutan untuk menjaga dan memproteksi keselamatan Pesawat terbang , tak mungkin ada pelanggan mau naik maskapai penerbangan. Keselamatan dan Keamanan merupakan kata kunci dari Bisnis Maskapai Penerbangan.

Dari bisnis tukang cukur , pengelola maskapai penerbangan dapat menemukan inspirasi tentang makna “waste”, bercukur berarti membuang mana yang tak punya “value” dan menyimpan mana yang “bernilai tambah tinggi”. Rambut yang terpotong dan terbuang adalah waste. Sesuatu yang tak bernilai tambah tinggi. Rambut yang tersimpan dikepala adalah rambut yang meberikan sinar pada pemiliknya, ketampanan dan kerapihan senyuman. Value tersendiri. Karenanya ada ungkapan lama Rambut adalah mahkota kecantikan. Membedakan mana “added value” mana yang tidak pada dasarnya adalah fondasi semua bisnis. Karena bisnis tukang cukur berorientasi pada sasaran untuk membentuk kerapihan, keindahan dan keteraturan rambut diatas kepala, dan bisnis maskapai peerbangan berdiri diatas fondasi keteraturan, kerapihan , kedisiplinan pada sop untuk Keselamatan dan Keamanan Penerbangan.

Kedua bisnis ini menghindari suatu hal yang sama : Jangan gunakan peralatan tua. Pisau cukur tua yang tumpul dilarang. Pesawat tua yang tak terurus dilarang. Modernisasi alat peralatan utama jadi kata kunci.

Akan tetapi Bisnis tukang cukur tidak identik dengan bisnis maskapai penerbangan. Berbeda seperti bumi dan langit. Dalam bisnis tukang cukur dikenal adagium “service mendahului pembayaran” , cukur dulu baru bayar. Begitu juga jika makan di warung makan atau diwarung tegal Makan dulu baru bayar. Dalam dunia maskapai penerbangan yang terjadi terbalik : Pembayaran mendahului Service. Penumpang memesan kursi dan membayar ticket untuk hari, jam dan tujuan keberangkatan. Maskapai penerbangan menerima pesanan dan pembayaran baru kemudian menyiapkan layanan sempurna. Motto yang digunakan tetap sama, jika puas sampaikan kepada kawan tak puas sampaikan kepada kami.

Konsep service mendahului pembayaran ini melahirkan model bisnis tukang cukur yang sederhana, kalau jumlah pelanggan sedikit dan menjadi rumit kalau pelanggan terlalu banyak. Karenanya dalam istilah managemen binsis model tukang cukur, rumah makan termasuk bisnis yang “complicated”, rumit dan bikin pusing jika pelanggan jauh melebihi kemampuan daya dukung sumber daya nya. Sesuatu yang complicated atau rumit memang memusingkan kepala. Tetapi solusi dari problems mudah ditemui dan ada satu jawaban untuk segala urusan.

Dalam istilah ilmu permesinan masalah yang complicated mirip seperti masalah yang ditemui tukang reparasi jam. Dulu tahun 70 an masih banyak tukang reparasi jam di jalan banceu yang bermodal kaca pembesar disalah satu matanya. Dengan kacamata yang memiliki lensa pembesar seorang tukang jam dengan pinset nya akan memperbaiki komponen roda gigi atau per dari sebuah mata rantai kait berkait antar roda gigi ukuran kecil besar dalam sebuah jam yang rumit dan complicated. Ketika komponen yang rusak ditemui dengan mudah jam berfungsi seperti sediakala. Karenanya dalam bisnis yang complicated proses restrukturisasi solusi mudah dan sederhana dapat muncul dengan logika biasa. Jika rugi terus menerus sebuah bisnis tukang cukur atau rumah makan , mengapa harus pusing kepala tutp saja. Restrukturisasi bisni retail kadangkala menjadi sederhana tutup banyak outlet yang rugi, fokus saja di satu lokasi. Kalau banyak rugi, kembali lagi ke “ground zero”, tutup semua kios , kembali dari awal mula. Merangkak kembali dari bawah. Dari kecil tumbuh besar.

Konsep bisnis pembayaran mendahului service seperti bisnis masakapai penerbangan meski kelihatan sederhana dan mudah diurus, akan tetapi berdiri diatas sebuah mata rantai kait berkait yang kompleks. Pengertian Complex tidak identik dengan”Complicated”, meski dampaknya sama memusingkan kepala jika menimbulkan masalah. Menyelesaikan masalah yang complicated ada rumus yang cespleng sepanjang waktu. Masalah yang dihadapi oleh bisnis tukang cukur tahun 1945, 1955,1965,1995 dan 2015 pastilah identik dan solusinya unik, itu itu saja. Berbeda dengan masalah bisnis maskapai penerbangan yang berdiri diatas mata rantai nilai tambah dan mata rantai pasokan yang “complex”. Meski kelihatan dan kasat mata masalah tahun 1945, 1995 dan 2015 kelihatan identik dan sama sebangun solusi yang sama akan melahirkan outcome yang berbeda.

Karenanya resep atau obat serta model bisnis Maskapai Penerbangan berbeda sepanjang waktu. Tak mungkin ada satu solusi dari masalah yang sama seperti dimasa lalu.

Ambil contoh anjuran dan solusi agar maskapai Garuda menutup rute Internasional dan fokus saja pada rute domestik dan medium route seperti yang dikemukakan oleh ekonom senior yang berwibawa. Secara resep obat kelihatan ini sebuah resep obat dewa mukzizat. Cespleng. Akan tetapi cobalah ini dibahas dengan hati hati.

Garuda memiliki anak perusahaan yang fokus pada rute domestik dan regional, namanya Citilink. Didirikan dengan model bisnis “Low Cost Carrier Premium” meniru model tradisional “Southwest Airline”, fokus pada satu tipe pesawat, dioperasikan dalam jarak pendek dan waktu terbang singkat tak melebihi enam jam. Manajemen sederhana, tingkat kenyamanan dijaga tepat sasaran tak berlebihan. Bersaing dengan low cost carrier lainnya. Ini sumber revenue tersendiri. Dimasa depan akan terjadi Citilink Revenue nya meningkat terus.

Kini Garuda selalin memiliki anak perusahaan Citilink juga memiliki armada dengan rata rata usia 4,5 tahun. Paling muda di jajaran maskapai penerbangan dunia. Jenis armada Boeing737, Boeing 777, Airbus A330, ATR72 dan CRJ, dan fasilitas perawatan pesawat terbaik di ASEAN yakni GMF. Manusia bersumber daya iptek baik di Garuda maupun di Citilink , memiliki pengalaman dan jam terbang tinggi. Keahlian dan kedisiplinan serta etos kerja sangat baik. Karenanya Garuda kini menjadi maskapai nomor delapan dunia. Awak kabin dikelas ekonomi mendapat penghargaan terbaik didunia. Garuda telah menunjukkan bahwa manusia bersumber daya iptek Indonesia mampu bersaing ditingkat internasional.

Ini semua merupakan “value” atau “nilai tambah tinggi” yang tidak lah pas jika dianggap nol dan kemudian diberi satu resep :”sudahlah ngapain berkompetisi dengan maskapai penerbangan timur tengah, nggak akan mampu, pastilah bangkrut lagi”. Jual saja semuanya dan kerutkan rute, fokus saja pada rute domestik bersaing di kandang sendiri jauh lebih nyaman. ???? Takut pada adagium “setiap keledai pasti terperosok pada lubang yang sama”, boleh saja dibesar besarkan. Akan tetapi yang perlu dicatat ekosistem tahun 1999 dan ekosistem tahun 2015 amat jauh berbeda. Lubang yang sama bisa lebih dalam bisa lebih cetek. Keledainya juga bisa berbeda. Generasi Bangsa Indonesia yang lebih muda, generasi anak anak kita dimasa kini jauh lebih pintar dan lebih jenius dibanding generasi ayah bundanya. Menutup rute dalam bisnis yang mengandung “complexities” bukan perkara mudah. Ada komplikasi lain yang perlu ditelaah dengan hato hati. Salah ditutup tak mungkin bangkit selamanya.

Pernyataan yang sering disuarakan dan selalu saja Meragukan kemampuan bangsa sendiri dalam menguasai iptek dan memenangkan persaingan dalam bisnis berteknologi tinggi, telah menjadi makanan sehari hari saya sejak tahun 1982 ketika saya bekerja di IPTN. Keraguan dan ketidak percayaan pada kemampuan bangsa sendiri seringkali jadi tameng untuk kita terus mengkerdilkan BUMN dan Perusahaan swasta Nasional kita. Memang sudah nasib insinyur penerbangan dan insinyur teknologi tinggi di Indonesia. Bangsa sendiri tak percaya, bangsa lain angkat jempol.

Akan tetapi keraguan dan cemoohan itu menurut hemat saya merupakan tanda rasa sayang. Ibarat orang tua yang selalu tidak mengijinkan anak anaknya ikut olah raga berbahaya seperti arung jeram, daki gunung dan panjat tebing serta balap motor dan mobil. Kehawatiran itu merupakan cambuk supaya kita berfikir dan bekerja lebih keras.

Beda lain diantara bisnis tukang cukur dan bisnis maskapai penerbangan adalah berkaitan dengan dampak kenaikan nilai dollar terhadap rupiah. Binis tukang cukur tak tergoyahkan, maskapai penerbangan sedikit sempoyongan.

Yang jelas ditengah situasi ekonomi yang tidak mudah berupa fluktuasi nilai rupiah yang sudah menembus angka 13900 rupiah per dollar. Tiap maskapai penerbangan harus melayani penumpang yang membeli ticket tiga bulan lalu dengan harga 1 dollar sama dengan 12000. Ketika berangkat penumpang itu harus dikelola dengan biaya operasi dengan nilai 1 dollar sama dengan 13900. Kerugian operasi karena kurs tampak nyata. Kalau bisnis tukang cukur tak terpengaruh nilai tukar, Bisnis maskapai penerbangan pastilah terkena dampak. Apalagi jika ada maskapai penerbangan yang Hutangnya dibuat tahun 2007 ketika dollar bernilai 9000 kini harus dibayar ketika dollar bernilai 13000 rupiah. Belum lagi harga avtur di Indonesia lebih mahal 12 % dibanding harga Singapura. Singapore AIrline yang beroperasi rute Jkt – Spore- Jkt memiliki biaya fuel lebih rendah dibanding maskapai domestik. Kambing ketemu singa ditengah jalan.

Bisnis tukang cukur bisa sederhana dan dapat complicated. Bisnis yang complicated memiliki solusi yang sama sepanjang waktu. Sementara Bisnis Maskapai penerbangan harus dikelola melalui pendekatan “systems dan complexity”. Setiap mata rantai nilai tambah dan mata rantai pasokan yang menyertainya ibarat organisme yang memiliki life cyclenya sendiri sendiri dan memiliki DNA nya sendiri sendiri.

Pesawat terbang memiliki “life cycle”, Tiap jenis pesawat memiliki keunggulan dan kelemahan. Pesawat jenis Boeing 787-900 dan Airbus A350 pada tahun 2020 an akan menjadi pesawat unggulan berdaya saing tinggi, dibandingkan dengan generasi pesawat sebelumnya apalagi jenis pesawat Airbus A320, A330 , Boeing 737 dan Boeing 747 yang direkayasa dengan teknologi tahun 2000 an. Produksi pesawat dengan konsep rancang bangun teknologi tahun 2013 an lebih efisien, lebih ringan dan lebih mudah dikendalikan. Padat teknologi composite, dan digital technology. Biaya operasi persatuan tempat duduk rendah. Daya jangkau tinggi, jika mau dapat digunakan untuk melayani kepentingan jemaah haji Banda Aceh madinah, Makasar Madinah dan juga Kuala Namu Madinah. Ball Game dan peta persaingan maskapai penerbangan tahun 2020 an tidak lagi sama sebangun dengan masa kini apalagi masa tahun 1998-1999 ketika Indonesia menghadapi krisis ekonomi politik. Karenanya membatasi pilihan tipe pesawat terbang terlalu dini juga bukan anjuran yang bijaksana. Lets the expert talk and we decide later adalah anjuran yang perlu dikemukakan.

Tiap generasi pesawat terbang memiliki kandungan teknologi yang semakin modern dan semakin efisien. Bertumpu pada pesawat yang 10 tahun lagi berusia 14 tahun dan tidak diganti juga bukan langkah yang bijak. Berfokus pada pesawat terbang tua dan kadaluarsa bukan solusi satu satunya. Begitu juga hanya ingin memilih seperti bisnis tukang cukur yang jago dikampung sendiri karena dikampung orang lain sudah ada tukang cukur yang lebih ahli belum tentu menjadi resep yang pas untuk sebuah model bisnis Maskapai Penerbangan. Model Bisnis maskapai penerbangan tumbuh berkembang. Kini sudah lahir model bisnis generasi keempat dalam konsep Low Cost Airline dan Network Airline. Sejak peristiwa September 2001 World Trade center New York, Bisnis maskapai penerbangan model tahun 1945-2000 sudah menjadi kadaluarsa. Tidak lagi ada satu resep untuk semua masalah.

Meski demikian , anjuran dan rekomendasi seorang tokoh serta ekonom senior yang berwibawa dan mencintai Garuda, juga patut dijadikan bahan rujukan untuk dikenali mana titik lemah yang disorot dan apa reason yang menyebabkan bahaya kebangkrutan jika memilih jalan yang ditakutkan dapat muncul. Tetap saja peringatan ekonom senior dan berwibawa itu tak juga boleh dipandang sebelah mata. Seperti ramalan Cuaca BMKG yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Perlu dijadikan bahan pertimbangan Go and No Go nya sebuah alternatip. prudent dalam mengambil keputusan perlu terus dijaga melalui iterasi kritik, analisa, kritik dan sintesa. A good atmosphere dari suatu dialogue dari para pemimpin perlu terus dipelihara. Kita patut berterima kasih untuk hal tersebut.

Lebih kurangnya mohon dimaafkan Salam.

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: