//
you're reading...
Creativity, Human being, Kajian, Kemandirian, Lingkungan, Pendidikan, Perubahan, Renungan

Jika Pendidikan Dianggap Sebuah Industri

Iwan Pranoto
Guru Besar Ilmu Matematika ITB

24 November 2015

Jika pendidikan dianggap sebuah industri, apa masukannya dan keluarannya? Sebenarnya, pemahaman “pendidikan sebagai industri jasa” yang sering keliru dianggap sebagai industri produk atau barang atau benda mati inilah sumber masalahnya. Jika pendidikan merupakan industri produk atau benda, masukannya calon murid, keluarannya orang berketerampilan atau berkompetensi tertentu.

Gambaran pendidikan sebagai pabrik ini yang disindir Pink Floyd dalam The Wall. Pada video The Wall, masukannya adalah anak-anak, kemudian diproses, diseragamkan, sehingga keluarannya “orang-orang” yang patuh, terampil, mampu kerja. Jika pendidikan dianggap industri produk atau pabrik, tentu gambaran itu memang pas. Dampaknya, kita ingin masukannya seseragam dan sebaik mungkin. Akibatnya, persekolahan mensyaratkan calon siswanya yang paling terampil, paling dekat dengan gambaran lulusannya yang diangankan.

Seperti yang kita lihat sekarang. Taman kanak-kanak bahkan meminta calon muridnya sudah dapat membaca atau berhitung karena pendidikan dianggap pabrik. Perguruan Tinggi di Indonesia juga menganggap dirinya sebuah industri produk, bukan industri barang. Akibatnya, mutu Perguruan Tinggi diukur dari lulusannya, seperti gaji lulusannya. Seperti industri otomotif, mutunya tentu diukur dari mobil yang dihasilkan. 

Oleh karena itu, cara pandang pendidikan sebagai industri produk ini, institusi pendidikan tak tertarik mendidik anak “bodoh” atau “termarginalkan”. Mereka berpikir, sebagai sebuah pabrik, tentunya yang ideal itu dengan sedikit berupaya, menghasilkan lulusan sebanyak-banyaknya, secepat-cepatnya, dan sekaya-kayanya.  

Dampak anggapan pendidikan sebagai industri produk ini pula yang menghasilkan pikiran menghasilkan “lulusan terstandarkan” yang kecakapannya seragam. Seperti pabrik kompor, pendidikan sebagai industri produk, mengangankan keluarannya (baca: lulusannya) memiliki ukuran dan mutu yang sama.

Pendidikan sebagai industri produk tentu mengangankan lulusannya berkecakapan sama, andal, dan patuh, agar dapat diterima sebagai pekerja. Namun, tentu ini cara pandang tak beres. Lulusan pendidikan haruslah manusia-manusia yang berkemampuan optimum sesuai dengan talentanya.

Jadi, ini akan tertuju pada pertanyaan, “Di pendidikan, apa yang harus distandardisasi?”

Untuk mengoreksi ini, pendidikan harus dipandang sebagai sebuah industri jasa. Serupa dengan travel dan biro yang melayani perjalanan kita. Jika kita ke kantor layanan perjalanan, apa masukannya? Apa keluarannya? Tentu masukannya bukan orang bukan? Rumah sakit tentu juga tak memandang masukannya orang sakit dan keluarannya orang “sehat” dan “mati”, kan? Layanan pendidikan seperti juga layanan kesehatan harus dipandang sebagai sebuah industri jasa.Jika pendidikan dipandang sebagai industri barang, masukannya adalah standar nasional, kurikulum, keluarannya adalah pembelajaran. Pebelajaran di sini meliputi dari penyediaan peluang, fasilitas, sampai konsultasi dalam proses belajar, jasa perpustakaan contohnya. 

“Jika pendidikan dipandang sebagai industri barang, masukannya adalah standar nasional, kurikulum, keluarannya adalah pembelajaran”

Oleh karena itu, pendidikan dikatakan bermutu baik, jika penyediaan peluang dan fasilitas pembelajaran seoptimum mungkin bagi setiap murid. Murid bukan masukan maupun keluaran, tetapi justru sebagai pengguna atau pemanfaat keluaran, yakni pembelajaran. Murid pandai hanya mungkin jika dia ingin pandai dan mau belajar. Pelanggan atau pengguna industri jasa harus AKTIF memanfaatkan, otherwiserugi.

Di pendidikan sebagai industri produk atau pabrik, tentu anak tidak akan menjadi pintar atau keluaran menjadi cacat, tak terstandardisasi, harus diafkir atau disortir atau bahkan dibuang. Anak tak sesuai standar tak ada tempat di pendidikan sebagai pabrik. Hasil akhir pendidikan sebagai pabrik memang menghasilkan lulusan berkemampuan standar. 

Namun, pendidikan sebagai industri jasa justru menyerahkan pada pelanggan (murid) untuk memanfaatkan keluarannya, yakni peluang pembelajaran itu. Murid punya pilihan bagaimana memanfaatkan layanan jasa pembelajaran yang disediakan pendidikan, untuk menjadikan dirinya seoptimum mungkin. 

Pendidikan seperti sebuah dapur yang menyediakan bumbu dan fasilitas memasak dan bimbingan memasak, tetapi murid harus memasak sendiri. Tiap murid harus meracik sendiri pembelajaran yang dibutuhkan, tentu dengan bimbingan guru sehingga memungkinkan dirinya berkembang seoptimum mungkin. Sama seperti saat ke travel biro, dua orang  belum tentu ingin bepergian ke tujuan yang sama. Pendidikan yang baik, seperti jasa layanan perjalanan yang baik, memungkinkan pelanggannya menentukan tujuannya sesuai dengan keinginannya, dengan dibantu.

Tak ada pula travel biro yang bilang “biar kami saja yang jalan-jalan, yang lelah, Ibu atau Bapak tunggu di rumah, nanti kami ceritakan perjalanannya.” Kita menggunakan jasa (pendidikan atau petualangan atau perjalanan) untuk menikmati proses “petualangan”nya. Walau travel atau biro hanya satu, tujuan dan pengalaman perjalanan tiap pelanggan tentu berbeda. Namun, setiap orang dapat puas karena “belajar”.

Jika birokrat dan politisi masih memahami pendidikan sebagai industri produk atau barang, akan tetap muncul ide penyeragaman anak karena dianggap barang. Ini tantangan yang sangat berat, bagaimana membelajarkan gagasan pendidikan sebagai industri jasa ini ke para pengambil kebijakan. 

“Sebaliknya, pendidikan sebagai industri produk atau pabrik akan membuat gagasan penyeragaman lulusan sebagai sesuatu yang wajar”

Sebaliknya, pendidikan sebagai industri produk atau pabrik akan membuat gagasan penyeragaman lulusan sebagai sesuatu yang wajar. Jika pendidikan merupakan pabrik, dan keluarannya adalah lulusan, tentulah menyeragamkan lulusan itu ide cemerlang. Akhirnya, akan selalu kembali pada prinsip bagaimana kita memandang pendidikan: industri produk atau industri jasa.

Ujian Nasional dan Kurikulum 2013 juga ilustrasi pendidikan dipandang sebagai pabrik, tujuannya adalah penyeragaman kelulusan. Semoga Pak Mendikbud dan Kemdikbud membenahi prinsip dasar pendidikan sebagai industri jasa ini. UN dan K13 hanya fenomena dari pendidikan sebagai pabrik. 

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: