//
you're reading...
Human being, Kemandirian, Motivasi, Pendidikan, Renungan

Sebuah inspirasi dari Timur…

Lukito Edi Nugroho
October 1, 2015

Anak-anakku, kali ini bapak ingin berbagi cerita tentang pengalaman bapak dalam mewawancarai para pelamar beasiswa afirmasi LPDP di Kupang beberapa waktu yang lalu. Bapak ingin memulai dengan menyampaikan beberapa ungkapan mereka saat ditanya mengapa mereka ingin belajar lagi.

“Saya ingin sekolah lagi agar saya bisa ikut menjaga daerah saya. Saya ingin belajar tentang ketahanan nasional karena saya tinggal di daerah rawan konflik. Saya tidak daerah saya jadi ajang konflik”.

“Saya ingin memperdalam pengetahuan tentang manajemen air karena daerah saya selalu mengalami kekeringan dan pengelolaan air di sana masih belum baik”.

“Banyak sekali persoalan logistik di Indonesia, sehingga harga-harga barang menjadi mahal. Di NTT saja, transportasi antar pulau masih memrihatinkan, padahal ada banyak penduduk miskin yang tinggal di pulau-pulau kecil yang sulit dijangkau. Ini yang membuat saya terpanggil untuk belajar tentang supply-chain management”.

Coba kalian perhatikan, tidak ada yang mengatakan alasan studi lanjut untuk mencari pekerjaan yang lebih baik, atau ingin merasakan studi di luar negeri, atau alasan-alasan lain yang berorientasi kepentingan pribadi.

Mungkin kalian berpikir, “ah…alasan tersebut kan bisa saja dibuat-buat. Toh sekarang orang bisa mendapatkan ‘petunjuk menghadapi wawancara’ dengan mudah…”. Ahh…seandainya kalian melihat bagaimana sorot mata mereka yang penuh semangat saat mereka mengucapkan harapan-harapan yang tinggi itu… Lagipula bapak juga melakukan crosscheck.
Ketika mereka ditanya tentang perjalanan hidup, ada yang bilang sewaktu kecil dia harus menggembala kambing untuk menyambung hidup… ada pula yang bercerita bagaimana dia berusaha bangkit dari keterpurukan saat kedua orang tuanya bercerai…dan ada pula yang bercerita bahwa dia bisa bersekolah sampai S1 karena ibunya yang bekerja keras mencari biaya sekolah bagi dia dan adik-adiknya — dan Bapak melihat ada kesamaan saat mereka bercerita tentang masa lalu: getaran emosional yang tinggi, bahkan ada yang meminta tissue untuk menghapus air mata… Dengan itu semua, bapak tidak berani meragukan kejujuran dan kepolosan mereka. Mereka bukan tipe orang yang biasa me’make up’ situasi.

Di antara mereka ada yang melamar sekolah ke perguruan tinggi di LN, sebagian lagi ingin bersekolah di perguruan tinggi di Jawa. Sebagian besar belum pernah keluar negeri sebelumnya, beberapa orang bahkan belum pernah pergi ke Jawa. Jadi bagaimana kalau mereka menghadapi problem di rantau? Bagaimana jika mereka jatuh dihantam problem berat sementara mereka jauh dari keluarga? Dengarlah jawaban mereka saat ditanya tentang problem yang pernah mereka hadapi dan bagaimana menghadapinya.

“Sewaktu sekolah di Semarang dulu, saya sering diolok-olok dan dikerjain teman-teman karena saya tidak bisa berbahasa Jawa, Mereka juga takut bicara dengan saya karena nada bicara saya yang keras, dikira saya marah. Meski dijauhi teman-teman, saya tetap mencoba mencari teman. Ada juga yang baik dengan saya. Lama-lama, teman saya semakin banyak juga”.

“Saya shock karena di NTT saya selalu juara kelas, saat kuliah di Jawa saya peringkat buncit. Harga diri saya terbanting keras. Saya hampir putus asa, tetapi saya masih punya keyakinan bahwa masa depan saya adalah dengan melanjutkan kuliah. Kalau lagi frustasi gitu, saya menyanyi. Saya juga curhat dengan beberapa teman saya. Itu yang membuat saya bisa bertahan”.

“Saat orang tua saya berpisah, saya begitu terpuruk. Saya tidak bersemangat meneruskan kuliah. Tapi kalau saya tidak meneruskan sekolah, apa yang terjadi dengan adik-adik saya? Mereka pasti ikut-ikutan patah semangat. Ini akan membuat ibu jadi tambah sedih.

Jadi saya memaksa diri untuk tetap melanjutkan sekolah. Teman-teman dalam kelompok gereja bisa menjadi sandaran saya saat saya lemah”.
Mereka mengalami banyak problem berat. Mereka terpuruk dan jatuh, tapi yang penting mereka tahu bagaimana menguatkan diri dan mencari solusi. Mereka bisa move on. Itu yang membuat bapak yakin mereka akan survive kelak.

Cukup banyak di antara mereka yang kemampuan bahasa Inggrisnya bagus sekali. Beberapa punya IELTS dengan skor 6.5. Satu orang bahkan skor IELTSnya 7.0. Kemampuan speakingnya juga baik. Ketika ditanya dari mana mereka belajar bahasa Inggris sehingga memiliki kemampuan seperti itu, semua mengatakan: belajar sendiri. Anak-anakku, jangan kalian bayangkan NTT seperti Yogya. Tidak ada kursus semacam EF.

Tidak banyak kesempatan untuk praktek bicara dalam bahasa Inggris. Tapi mereka bisa, dan bagi mereka, keterbatasan bukanlah halangan untuk maju. Mereka hanya punya kerja kerjas dan persistensi, dan kenyataannya itulah yang mengantarkan mereka pada kemajuan.

Anak-anak, bapak bercerita seperti ini agar kalian bisa berefleksi…melihat ke dalam diri kalian sendiri. Kalian dianugrahi dukungan yang lebih baik. Sekolah yang bermutu, sumber daya untuk belajar tersedia melimpah, dan kesempatan untuk maju juga terbuka lebar. Dengan kondisi seperti itu, semestinya kalian bisa melompat lebih jauh. Kalian harusnya bisa berprestasi lebih tinggi. Jika kenyataannya belum bisa, pasti ada sesuatu yang belum pas.

Tahukah nak, bahwa kemampuan untuk mengenali kelemahan itu adalah kunci untuk mencapai kesuksesan? Orang yang mampu mengenali kelemahan diri berarti tahu apa faktor-faktor yang menghambatnya untuk maju.

Dari sinilah kemudian usaha-usaha perbaikan itu dimulai.
Setelah itu tentu saja yang diperlukan adalah kemauan keras untuk maju. Belajar keras, berusaha dalam segala keterbatasan yang ditemui, dan tidak mudah menyerah jika mengalami problem. Sering kali tantangan terberat dalam hal ini adalah mengalahkan diri sendiri. Mengalahkan ketakutan untuk gagal, mengalahkan kemalasan dan prokrastinasi, mengalahkan keputusasaan, dsb.

Kalian tahu, beberapa bulan ini bapak suka sepedaan. Bapak sering gowes jauh, bahkan pernah sampai lebih dari 100km. Apa tujuan bapak melakukan itu? Sebenarnya…bapak melakukannya untuk kalian🙂 Bapak ingin memberikan contoh bagi kalian, bahwa apa yang kelihatannya sulit sekali dicapai, jika diusahakan dengan telaten, insyaAllah suatu saat akan bisa dicapai. Kalian tahu bapak bukan tipe olahragawan. Berolahraga bukan hobi bapak, apalagi mencapai target tertentu. Jadi saat pertama kali gowes, sama sekali tidak terbayangkan bisa gowes sampai 100 km atau sampai mencapai Kaliurang.
Tapi bapak terus dan terus berusaha, sampai akhirnya bapak mencapai capaian-capaian itu. Potret perjalanan inilah yang ingin bapak tunjukkan kepada kalian.

Cerita tentang anak-anak Timor di atas juga potret yang mirip. Jadikan itu inspirasi bagi kalian.

Kemarin, setiap selesai melakukan wawancara dengan seorang pelamar, bapak selalu bilang, “Sukses ya..”. Itu bukan sekedar basa-basi. Terkandung di dalamnya doa, dan juga keyakinan bahwa mereka akan mencapai kesuksesan pada saatnya. Bapak yakin karena mereka sudah menunjukkan apa yang harus dilakukan untuk mencapai kesuksesan.

Saat kalian pergi dari rumah kita kelak, bapak juga ingin mengucapkan hal yang sama kepada kalian. Sebuah doa dan keyakinan akan kesuksesan…🙂

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: