//
you're reading...
Human being, Lingkungan, Motivasi, Pendidikan, Perubahan

Kepribadian Kunci Sukses

Eileen Rachman & Emilia Jakob,
EXPERD CHARACTER BUILDING ASSESSMENT & TRAINING

Kompas, 8 Agustus 2015
Hampir semua orang setuju bahwa kecerdasan adalah salah satu kunci utama kesuksesan seseorang, sebagai motor kinerja. Oleh karena itu tes kecerdasan seringkali menjadi tes wajib untuk menyaring individu dan memisahkan antara yang dianggap kompeten dan tidak kompeten. Sementara tes kepribadian dianggap sebagai tes pelengkap manakala organisasi memiliki budget yang lebih besar. Bahkan ujian masuk perguruan tinggi pun biasanya hanya didasarkan pada tes kecerdasan semata tanpa penelusuran mendalam terhadap apakah kepribadiannya akan cocok dengan jenis pekerjaan yang diwakili oleh bidang studi tersebut. Kepribadian dianggap bisa disesuaikan di kemudian hari, selama individu memiliki kapasitas berpikir yang mumpuni untuk menyelesaikan pendidikannya. Ketika organisasi menghadapi calon karyawan dengan inteligensi yang cemerlang dengan kepribadian yang kurang sesuai, seringkali organisasi beranggapan bahwa kepribadian individu bisa diasah belakangan. “Toh orangnya bisa menurut dan bisa bekerja sama. Pasti ia juga bersedia untuk dikembangkan”. Padahal beberapa tahun mendatang ketika sudah waktunya bagi individu untuk dipromosikan kita baru menyadari bahwa inisiatif, ambisi dan kreativitas individu tetap tidak berkembang seiring dengan kecerdasannya. Bayangkan seorang pemimpin yang cerdas tetapi penakut dan selalu ragu ragu. Bukankah ia tidak bisa menjalankan fungsinya sebagai pemimpin? Memang kita pernah mendengar cerita mengenai beberapa pemimpin organisasi yang sangat sukses ternyata memiliki kecerdasan jauh di atas rata-rata namun dengan kepribadian yang kurang ‘menyenangkan’ bagi anak buahnya. Kelemahan kepribadian mereka diatasi oleh kecerdasannya. Namun berapa banyak populasi yang amat sangat cerdas seperti itu? Sebagian besar populasi dengan kecerdasan yang rata-rata perlu meyadari bahwa kecerdasannya akan semakin ‘menjual’ bila ditopang dengan kepribadian yang tepat. Kekuatan seseorang dalam pelayanan pelanggan dan bekerja tim, menentukan sebagian besar kesuksesannya.

Kepribadian bukan sekedar ‘style’ , preferensi, atau ciri-ciri temperamen seseorang. Kepribadian bisa menjadi peluru ampuh atau malah menjadi penghambat kesuksesan karir seseorang bilamana tidak disadari oleh individu. Untuk memanfaatkan kekuatan pribadi, seseorang harus dengan jujur dan tulus mengenal pribadinya sendiri, menerima kekuatan dan kelemahannya lalu mengotak-atiknya. Banyak cara yang bisa ditempuh oleh seseorang untuk mengenal dirinya sendiri. Bisa melalui atasan, mentor ataupun rekan kerjanya. Bisa dibantu dengan sistem umpan balik 360 derajat ataupun hasil observasi obyektif dari kegiatan sehari hari. Prof Robert Hogan menggambarkan kepribadian sesorang pada pekerjaan dalam 3 bagian yang saling terkait. Yang pertama adalah the Bright Side, kepribadian yang menunjang karirnya. Bagian kedua adalah the Dark Side yang menggambarkan reaksi yang cenderung muncul ketika seseorang mengalami kesulitan atau konflik. Sementara bagian yang ketiga lebih menggambarkan nilai-nilai yang dipentingkan individu dalam berkarir yang dapat memotivasi dia untuk semakin berprestasi

Bright Side vs Dark Side

Belakangan ini dikenal konsep strength based yang berfokus pada kekuatan ketimbang memperbaiki kelemahan seseorang. Individu yang mengenal kekuatannya perlu mencari jalan agar kekuatan ini bisa semakin ditonjolkan dalam kondisi yang pas. Seorang yang senang mengamati sesuatu secara mendetil akan dengan mudah berprestasi ketika pekerjaannya sangat membutuhkan ketelitian dan pencatatan.Tidak semua orang perlu lancar berbicara dan pandai bergaul. Para pendiam, asal tekun dan kuat ‘mengulik’ bisa sukses sebagai engineer dan programmer. Pepatah cina kuno juga mengatakan bahwa bibit yang baik akan tumbuh subur di lahan yang cocok. Karena itu perlu sekali bagi organisasi untuk mengkaji, membuat prioritas, menyusun kompetensi yang tepat untuk membedakan kunci kesuksesan individu sehingga tidak didapati kompetensi yang sama dan standard di semua bidang pekerjaan dan jabatan. Mengingat kepribadian juga bagaikan dua sisi mata uang, individu juga perlu menyadari reaksi – reaksi apa yang seringkali dimunculkan manakala ia dalam keadaan tertekan maupun menghadapi konflik. Konflik pastinya akan selalu muncul, bahkan seringkali menjadi batu ujian menuju kesuksesan. Pernyataan :” Itu memang saya..” tidak lagi bisa dijadikan alasan bilamana sukses adalah tujuan Anda . Kita perlu bersikap proaktif terhadap munculnya ‘dark side’ kita, dan pandai pandai meredam reaksi yang merugikan.

Kekuatan Motivasi

Banyak orang yang beranggapan bahwa motivasi itu berubah ubah tergantung pada stimulus eksternal, sehingga motivator-motivator terkenal banyak dipanggil untuk memberi suntikan motivasi. Padahal sebetulnya motivasi bermuara pada talenta dan potensi kepribadian kita, suatu motor penggerak di dalam diri yang membuat kita bisa berkutat lama pada tugas tanpa mengeluh. Karenanya kita perlu memahami profil kepribadian dan menentukan dengan lebih tepat, situasi dan tugas apakah yang akan membuat kita lebih bermotivasi. Jadi seyogyanya setiap individu dan atasannya, harus sama-sama mengerti sumber motivasi individu yang dapat mendorongnya berkinerja optimal. Pada saat itulah kita sudah memegang 80 % kesuksesan.

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: