//
you're reading...
Human being, Leadership, Perubahan

Mengelola Manusia

Eileen Rachman & Emilia Jakob,
EXPERD CHARACTER BUILDING ASSESSMENT & TRAINING

KOMPAS , 4 JULI 2015

Semakin lama kita berkecimpung di dalam organisasi, semakin kita akan menyadari bahwa kebanyakan dari masalah – masalah yang dialami dalam organisasi sebagian besar bersumber dari manusia. Mulai dari kompetensi yang semakin dirasa tidak memenuhi spesifikasi masa kini, sampai kepada masalah konflik yang tidak terselesaikan . Banyak di antara kita bersikap pasif terhadap kenyataan ini, ataupun menunda untuk mencari solusinya , banyak dengan alasan bahwa ada hal hal lain yang lebih penting. Padahal sudah nyata nyata terbukti , bila manusia tidak digarap, tidak terjadi perbaikan. Ironisnya sangat sedikit pendidikan tentang manusia yang kita peroleh di bangku sekolah. Bahkan pendidikan tinggi psikologi , yang kesarjanaanya dapat dituntaskan dalam 4 tahun, belum menjamin lulusannya menjadi piawai menghadapi manusia. Sampai sekarang, manusia masih tetap merupakan misteri terbesar semesta ini. Tetapi , kenyataan ini tetap tidak membuat kita sadar bahwa kita sering ‘taking for granted’ mengenai masalah pengelolaan manusia, dan bahkan menempatkan hal ini sebagai prioritas paling akhir di manajemen. Mungkin hal ini wajar, karena kita pikir tanpa perlu di gerakkan, manusia yang mau bekerja, pasti tahu bahwa ia harus bekerja. Namun kita sering menyaksikan betapa misi dan visi pemimpin yang bagus, ternyata sering tidak bisa terwujud karena manajemen manusia yang terlantar. Dengan banyaknya realitas mengenai buruknya koordinasi, komunikasi dan kerjasama dalam tim, antar lembaga, antar departemen, apakah kita masih mengira bahwa pengelolaan manusia ini memang suatu hal yang mudah? Pengelolaan manusia yang tampaknya ‘common sense’ ini, memang tidak ada pendidikan formalnya. Tetapi , itu bukan berarti bahwa hal ini mudah digarap. Ada ahli yang mengatakan : ” Just because something is common sense doesn’t mean it’s commonly practiced”. Sekolah kepemimpinan manapun tidak bisa mendera kita untuk menjadi piawai mengelola manusia. Memang buku-buku dan teori pengelolaan manusia sangat banyak. Tetapi kita tentu kerap membuktikan, bahwa apa yang tertera di buku-buku sering tidak bisa dipraktekkan dengan efektif. Kita sering mengumpamakan seorang pemimpin ibarat konduktor orkestra yang seharusnya mengatur bekerja samanya beberapa departemen dengan sasarannya masing-masing menjadi suatu harmoni. Namun harmonisasi indah itu sering sulit menjadi kenyataan. Manajemen bisa diibaratkan sebagai orkestra yang selalu sedang menghadapi keribetan gladi resik di mana semua tetap harus dimonitor dan diperiksa. Konduktor manajemen lebih tepat disebut berperan sebagai montir yang membenahi masalah yang timbul.

Kita tidak pernah menjadi expert tentang manusia

Seorang psikolog , Daniel Kahneman dalam bukunya Thinking, Fast and Slow, menyatakan bahwa banyak sekali perkiraannya yang dibuat mengenai manusia berdasar penglihatan yang seringkali keliru dikarenakan kita terlalu cepat membuat kesimpulan meskipun sebenarnya kita juga sadar bahwa harus bersikap obyektif. First impression begitu mempengaruhi kita, di mana kita kemudian berusaha mencari referensi yang ada di benak kita, menggunakan kerangka berfikir yang ada, untuk mengkonfirmasinya. Karenanya, pengetahuan mengenai manusia kita, tanpa disadari sering tidak berkembang. Pemahaman dan penilaian yang salah bisa membawa kita pada strategi pengembangan yang salah. Kita perlu ber ‘mindset’ bahwa manusia yang dikelola ini adalah organisme hidup yang bergerak terus, berkomunikasi, bersatu , berpisah dan bisa bersatu lagi. “We recruited these people, we trained them, we managed them. If our people aren’t good enough, it’s not their fault, it’s our fault.” Apakah hal ini juga berlaku untuk orang orang berkaliber tinggi, sampai ke menteri di pemerintahan? Mengkoordinasi kabinet berarti menyelami dan berkomunikasi mendalam dengan salah satu, atau dua, bahkan keseluruhan tim untuk menyamakan visi. Dan ini perlu terjadi setiap hari. Bukankah kita tidak bisa berkerja sama dengan orang yang tetiba menjadi asing dan tidak kita kenal lagi setelah kurun waktu tertentu ?

Jangan lupa tetap ‘employee-centric”

Mudah mudahan sekarang kita semakin meyakini bahwa manajemen itu tidak semudah teorinya. Manusia yang dikoordinasi tidak selamanya pekerja keras, bersikap keren dan bertalenta luar biasa. Ada yang pintar tetapi keras kepala. Ada yang pandai bekerjasama tetapi tidak cemerlang. Ada yang agresif namun tidak produktif dan mereka semua tercampur baur dalam organisasi Anda. Kita harus menerima kenyataan bahwa pengelolaan manusia memang sangat rumit. Semua masalah manusia perlu kita sikapi sebagai teka teki yang harus kita tuntaskan . Konflik tidak bisa diredam ataupun dilawan. Kita perlu menganggap bahwa konflik adalah bahan pengaduk tim yang paling ampuh. Conflict is the currency of management. Dari konflik , kita bisa belajar tentang persepsi masing – masing anggota tim kita. Dari kompromi penyelesaian konflik kita juga bisa melanjutkan kerja sama dengan resolusi yang lebih konstruktif. Jadi, kepemimpinan memang adalah kepandaian mengelola intrik, konflik , dan mendapatkan wawasan yang lebih holistik tentang manusia, lalu mencari solusi yang lebih efektif.

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: