//
you're reading...
Creativity, Entrepreneurship, Kemandirian, Motivasi, Perubahan, Renungan

70 Tahun Indonesia Merdeka dan Masa Depan Kekuatan Inovasi sebagai Engine for Growth ? Catatan Pertama

Jusman Syafii Djamal
August 7, 2015

Pada 17 Agustus 2015 kita merayakan Indonesia Merdeka yang ke Tujuh Puluh. Tujuh dasawarsa bukan waktu yang singkat. Kemerdekaan adalah Jembatan Emas kata Founding Father. Setelah Merdeka kita mulai faham bahwa 70 tahun belum cukup waktu untuk menyebrangi jembatan emas itu. Jalan menuju tercapainya cita cita Founding Fathers masih jauh. Reformasi dan Demokrasi yang menyertainya dan dilahirkan pada tahun 1998 belum mampu lahirkan kesejahteraan yang diidam idamkan. Pertumbuhan ekonomi belum mampu diikuti oleh peningkatan kesejahtaeraan bersama. Democracy for prosperity belum sepenuhnya terjadi. Masih panjang jalan. Masih penuh onak dan duri. Kini kita menuju 100 tahun Indonesia Merdeka tahun 2045, Insya Allah.

Sebagai suatu bangsa, kita telah berhasil lolos dari pelbagai krisis. Kita berhasil keluar dari lubang jarum dan meliwati 70 tahun usia kemerdekaan dengan selamat.

Nasib kita sebagai bangsa tidak seperti Uni Soviet. Revolusi Oktober yang bergolak di Rusia pada tahun 1917 menyebabkan runtuhnya Kekaisaran Rusia.Uni Soviet didirikan pada tanggal 30 Desember 1922 dengan anggota RSFS Rusia,RSFS Transkaukasia,RSS Ukraina, dan RSS Byelorusia .Uni Soviet dan negara-negara satelitnya di Eropa Timur terlibat dalam Perang Dingin yaitu perebutan pengaruh ideologi dan politik global yang berkepanjangan melawan Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya di Blok Barat. Pada akhirnya, Uni Soviet mengalami kekalahan dalam hal ekonomi serta politik dalam dan luar negeri. Pada akhir tahun 1980-an, pemimpin Soviet yang terakhir, Mikhail Gorbachev, mencoba merestrukturisasi negara yang dipimpinnya melalui kebijakan glasnost dan perestroika, tetapi justru memicu perpecahan di Uni Soviet yang akhirnya secara resmi bubar pada tanggal 26 Desember 1991. Soviet bubar tepat ketika mereka ingin merayakan 70 tahun (30 Desember 1922 – 26 Desember 1991) (sebagai awal mula untuk mudahnya baik dilihat cerita ttg keruntuhan soviet ini di wikipedia)

Para ahli politik dan ekonomi ditahun 1997 pernah meramalkan bahwa Indonesia akan menjadi Balkanisasi. Tepecah menjadi negara kecil ikuti jalan Yugoslavia dan Negara Balkan. Balkanisasi adalah sebuah istilah geopolitik, awalnya dipakai untuk menyebut proses fragmentasi atau pembagian suatu wilayah atau negara menjadi beberapa wilayah atau negara kecil yang sering bertentangan atau tidak kooperatif satu sama lain.Istilah balkanisasi merujuk pada pembagian semenanjung Balkan, yang sebelumnya hampir seluruhnya dikuasai oleh Kekaisaran Utsmaniyah, menjadi beberapa negara kecil antara 1817 dan 1912.Istilah ini menjadi umum setelah Perang Dunia Pertama dengan menyebut beberapa negara yang muncul setelah runtuhnya Kekaisaran Austria-Hongaria dan Kekaisaran Rusia.Istilah ini juga dipakai untuk menyebut bentuk lain disintegrasi. (lihat istilah ini di wikipedia)

Akan tetapi dengan ijin Allah, Indonesia berhasil lolos krisis politik dan ekonomi tahun 1998 tidak melahirkan balkanisasi akan tetapi melahirkan Rezim Reformasi dan proses Demokratisasi disegala bidang.Krisis demi krisis, cobaan demi cobaan telah mampu diatasi oleh kekuatan manusia bersumber daya yang dimiliki Indonesia. Rakyat Indonesia ternyata jauh lebih perkasa dibanding para pemimpinnya. Pemimpin boleh jatuh bangun, silih berganti. . Rakyat tetap berdiri tegak menghadapi semua badai yang melanda.Tepatlah jargon para mahasiswa tahun 1998. Rakyat bersatu tak mudah terkalahkan. Dan 70 tahun dapat kita liwati dengan baik. Insya Allah.

Sebagai Bangsa kita pernah dijuluki Adam Scwartz dengan bukunya sebagai “Nation in waiting”. Negara sabar menanti. Mirip seperti nama sebuah orkes melayu. Ternyata Indonesia unjuk kekuatan dan kita merubah jargon Nation in Waiting menjadi “Nation in the making”, Bangsa yang sedang bekerja keras, memeras otak, menempuh segala daya upaya untuk bangkit berdiri menjadi Negara berdaulat diatas kaki sendiri sepanjang masa. Kebhinekaan kita sebagai suatu bangsa yang tadinya diprediksi sebagai sebuah “liability” atau beban dan dapat jadi pemicu perpecahan etnis, suku dan agama ternyata merupakan suatu asset, atau modal sosial untuk mencapai kemajuan bersama. Bhineka Tunggal Ika. Bersatu dalam keaneka ragaman.

Pada tahun 2002 sebuah lembaga “think tank” terkemuka di America Rand Corporation pernah menerbitkan laporan berjudul :” THE MILITARY AND DEMOCRACY IN INDONESIA : Challenges, Politics,and Power ditulis oleh Angel Rabasa dan John Haseman. Makalah ini membuat pelbagai skenario dan prediksi tentang masa depan demokrasi di Indonesia tahun 2002. Studi mereka mengatakan ada enam scenario termasuk yang paling jelek adalah terjadi Balkanisasi atau Disintegrasi (yang telah terbukti tidak terjadi dan Inysa Allah tidak akan terjadi). Diantaranya yang patut dikemukakan disini dua scenario berikut (sebab dua skenario ini kemungkinan akan berjalan sperti bandul politik, jika konsolidasi berhasil tidak muddling through, jika kurang berhasil muddlig through).

Pertama adalah SCENARIO : DEMOCRATIC CONSOLIDATION. In the best-case scenario, Indonesia continues to develop along a democratic trajectory, makes progress in resolving some ofthe critical problems in the economy, and satisfies demands for provincial autonomy without losing central control of its macro economic policy.

Kedua adalah SCENARIO MUDDLING THROUGH , this second scenario builds on trends that are already evident.Indonesia continues on a democratic path, but fails to make meaningful progress on economic and political reform.

Scenario kedua ini merujuk pada kemungkinan Bangsa Indonesia tidak mampu mentransformasikan kekuatan politik dan democracy sebagai wahana pencipta kesejahteraan bersama. Jika ini terjadi maka kita sebagai suatu Bangsa akan terus jalan ditempat tanpa kemajuan. Tidak maju, tidak mundur. Dan tidak kemana mana. Demokrasi yang dikembangkan tidak berhasil ditransformasikan menjadi kekuatan pembangun kesejahteraan rakyat. Demokrasi Politik tidak mampu melahirkan Demokrasi Ekonomi. Partai Politik tidak mampu melahirkan sosok kenegarawanan. Kepentingan sempit dan berjangka pendek dari para politisi mungkin muncul. Jika ini dominan diprediksi oleh para pemikir skenario di Rand potensi Bangsa Indonesia masuk kedalam skenario “muddling through” tinggi. Dengan kata lain, Indonesia bisa masuk Jebakan lumpur persoalan tak kunjung selesai. Meski roda politik demokrasi dan pemilihan umum berlangsung akan tetapi mesin ekonomi kesejahtraan rakyat tak kunjung hidup. Ibarat mobil terjebak dalam lumpur, rodanya terus berputar akan tetapi badan mobil dan penumpang tidak bergerak kearan tujuan. Jalan ditempat.Muddling Through. Sementara skenario pertama mengatakan bahwa Indonesia mampu mengkonsolidasikan demokrasi dan menjadi Negara Industri Maju berkesejahteraan dimasa depan.

Mana yang terjadi Wallahu alam.

Dengan perlambatan ekonomi tahun 2015 ini, semua pihak kini sadar bahwa kita tidak mungkin terus bertumpu pada sumber daya alam sebagai kekuatan pertumbuhan ekonomi. Kebijakan”menggali ” eksplorasi dan eksploitasi sumber daya alam tanpa kendali tak mungkin lagi diterapkan. Selain harga komoditi terus merosot, juga kerusakan lingkungan tak tertanggungkan. Apalagi kian hari cadangan kian menyusut. Hutan habis, mineral tinggal tunggu waktunya. Karenanya masa depan memerlukan sumber mata air pertumbuhan kesejahteraan selain SDA.Kesadaran untuk tidak lagi sepenuhnya bergantung pada sumberkakayaan alam sebenarnya telah jadi “insight” dan”vision” para pemimpin .”A new landscape of economic growth” perlu kembali ditemu kenali.

Kita sebetulnya memiliki banyak potensi Kawasan kawasan pertumbuhan ekonomi baru. Kawasan Industri kita tidak kalah menarik jika dibandingkan dengan Silicon Valley atau kawasan Industri di Tiongkok. Mengapa mereka berhasil kita tidak, ini perlu dibahas, disentuh dan dirapikan serta didaya gunakan dengan seperuh hati. Kita memiliki Perguruan Tinggi Teknologi yang telah berdiri hampir seratus tahun, tepatnya 95 tahun. Yakni Institut Teknologi Bandung yang berdiri tahun 1920. Kita juga memiliki Universitas tertua Gajah Mada, Universitas Indonesia. Kita juga memiliki Institut Pertanian Bogor dan ratusan Perguruan Tinggi lainnnya. Dengan kata lain kita tak pernah kekurangan sumber mata air manusia bersumber daya iptek. Agent of change bisa lahir setiap waktu.

Menurut hemat saya ditiap kawasan pertumbuhan ekonomi yang dimiliki saat ini ada potensi tersembunyi. Dalam kawasan industri tersembunyi kekuatan ekspor produk yang mumpuni. Dari kawasan perkebunan ada potensi untuk melahirkan komoditi yang baik dan unggu; Dari kawasan parawisata ada keindahan dan kultur daerah yang eksotis dan menarik. Semua dapat dibangkitkan menjadi kawasan pertumbuhan ekonomi. Kini kawasan itu seolah tidak berfungsi maksimal. Padahal secara teoritis ketika nilai rupiah anjlok, kawasan itu mampu melahirkan produk berharga kompetitip. Secara teoritis, kalau rupiah merosot turis manca negara akan hadir dan menikmati keindahan wisata Indonesia. Mengapa belum terjadi ? Dan mengapa negara lain mampu kita seolah tidak ? Begitu juga kalau rupiah merosot hingga 13500 seharusnya produk Indonesia akan mampu menembus pasar dunia, akan tetapi ternyata pasar justri menyempit. Ada kesempatan terbuka tapi tak mampu dikelola, apa yang keliru ?

Banyak ahli techno ekonomi yang berpendapat bahwa masa depan pertumbuhan ekonomi adalah :”Innovation driven”.

Dalam skala mikro, Setiap perusahaan memiliki potensi nilai guna dan nilai tambah proses inovasi dari “existing systems”. Ekosistem atau lingkungan kerja yang ada saat ini, secara internal memiliki kapasitas untuk maju. Akan tetapi ekosistem makro ekonominya belum berpihak pada kekuatan inovasi. Cost of Capital yang tinggi, Pajak yang seperti tambah bertambah. Misal mau buat inovasi memerlukan biaya Riset dan memerlukan kerjasama dengan Pendidikan Tinggi agar dapat menshare resources, akan tetapi ketika mau bekerja sama hitung punya hitung pada setiap transaski yang terjadi pastilah lahir pajak pertambahan nilai. Begitu juga pajak pertambahan nilai dalam setiap mata rantai produksi yang menggunakan mekanisme “value chain” dan “supply chain”. Di Tiongkok mekanisme value chain dan supply chain ini jadi keunggulan. Semua industri dunia menempatkan pabriknya disana termasuk ipad karena biaya lebih kompetitip, Di Indonesia meski memiliki kualitas keahlian dan kualitas produksi yang sama, hasilnya bisa lebih mahal. Sebab setiap ada proses pengolahan bahan baku menjadi komponen atau barang setengah jadi dioutsource ke tempat lain yang memiliki keahlian, tidak dipandang sebagai penciptaan lapangan kerja melainkan dipandang sebagai transaksi jual beli biasa dan harus ada pajaknya. Makin banyak outsource makin tinggi pajaknya.

Disetiap perusahaan swasta, BUMN dan BUMD muncul masalah klasik seperti yang dikatakan Claus Schested · Henrik Sonnenberg dalam bukunya Lean Innovation :A Fast Path from Knowledge to Value. “Most companies have a huge untapped potential for increasing innovation value through their existing systems, collective experience and dedicated employees. The possibilities for creating extra value early in the value chain, where the solutions are developed are practically endless. Success is really only limited by the imagination”. Kebanyakan perusahaan terbelenggu potensi manusia bersumber daya ipteknya. Ecosystem yang tumbuh tidak mampu menciptakan kegairahan manusia bersumber daya ipteknya untuk tumbuh berkembang melahirkan produk dan proses unggulan. Jepitan prosedur administrasi dan birokrasi telah memudarkan kekuatan inovasi dalam perusahaan.

Apa yang dikatakan Claus Schested itu adalah kenyataan bahwa kekuatan inovasi, daya kreativitas, produktivitas yang tumbuh didalam masyarakat terbelenggu bukan oleh benih melainkan oleh kekuatan luar. Ibarat pohon besi kalimantan yang secara DNA bisa tumbuh besar dan bernilai tambah tinggi jika ditempatkan di Hutan Kalimantan, akan tetapi karena tumbuh dalam pot ia menjadi bonsai. Kecil indah dipandang tapi menderita. Eksosistemnya yang perlu dibenahi bukan benihnya. Ambil contoh pemain catur alamiah yang dulu bisa mencapai gelar grandmaster kini punah. Pemain bola, pemain bulu tangkis dan segala jenis seni pertunjukan rubuh bukan karena tidak ada benih unggul melainkan karena organisasi saling ribut sendiri. Koperasi juga tak maju karena pengurus bukan anggota. Dengan kata lain semua kekuatan inovasi seringkali terbelenggu oleh struktur dan mekanisme.

Inovasi adalah suatu proses “thinking outside of the box” , atau tata cara berfikir luar biasa dalam memecahkan persoalan biasa. Menemukan sudut pandang dan persfektip baru dalam menagani masalah yang telah muncul setiap hari tanpa solusi. Inovasi dalam kawasan produksi adalah upaya untuk menemukan dan menciptakan produk dan proses layanan yang baru dalam persaingan pasar terbuka. Sesuatu yang baru yangmemiliki nilai guna dan nilai tambah dipasar. Inovasi adalah hasil “insight” atau cara pandang baru atau visi baru untuk melahirkan gagasan yang memiliki dampak luar biasa dalam pertumbuhan. Inovasi yang diartikan sebagai Innovation = The introduction of a new product or service in the market or of a product or service with significantly improved features(OECD) or Innovation = Something new that has a value in the market (TheEU Innovation Council) or Innovation = Insight + ideas + impact (?What If! The Innovation Company) or Innovation = New and useful systems seolah terbelenggu. Kita sebagai Bangsa velum mampu menghargai “the best and the brightest talent” yang kita miliki. 70 tahun waktu belum cukup.

Selain ada hambatan struktural seperti disampaikan diatas, ada juga “bottleneck” dalam proses edukasi ketika melahirkan manusia bersumber daya iptek dari sejak SD hingga Universitas. Herbert A. Simon, seorang ilmuwan “artificial inteligence” atau kecerdasan buatan, menganjurkan kepada pengelola pendidikan tinggi untuk mentransformasikan kurikulum yang lebih menekankan pada disiplin berfikir analitis menjadi kurikulum yang memusatkan perhatian pada bagaimana bekerja dengan pola berfikir systems yang mengedepankan proses sintesis.

“Critical analytical thinking” dan tataca membedah persoalan melalui proses dekomposisi dalam kurikulum masa kini dianggap lebih berharga untuk menemukan solusi masalah ketimbang tatacara untuk menggunakan “know how” dan kreativitas untuk menciptakan sesuatu yang baru. Fokus pada “Analytical Critical Thinking” yang sekarang menjadi pusat perhatian kurikulum pendidikan tinggi hasilnya telah muncul dalam pengalaman praktis lima tahun kemudian setelah mahasiswa menjadi Sarjana.

Ketika di Perguruan Tinggi setiap mahasiswa trampil menguasai tata cara berfikir analitik dan pintar mengolah informasi melalui metode deduktip, induktip dan dekomposisi karena begitulah yang diajarkan terus menerus. Setelah menjadi sarjana semua sangat ahli dan terampil mengenali persoalan yang dihadapi. Semua terampil mendeskripsikan masalah sampai kerincian kecilnya dari hilir kehulu. Tiap saat dapat lahirkan daftar persoalan. Semakin hari semakin panjang. Akan tetapi tidak diimbang kemampuan sintesa.Daftar masalah lebih panjang dari daftar solusi. Dengan kurikulum yang hanya memusatkan perhatian pada tatacara berfikir analitis ternyata Solusi baru sukar muncul yang banyak lahir persoalan baru. Daftar persoalan semakin panjang yang disusun selama 70 tahun ternyata telah membawa kita pada lingkaran setan tak berujung pangkal. Setiap orang kini menambah daftar masalah bukan malah menguranginya.Karenanya ada anjuran agar kita memusatkan perhatian pada tatacara berfikir sintesis.

Mengurangi daftar masalah, dan lebih berfokus pada pada daftar solusi. Banyak orang akan mendapat manfaat jika fokus pada kemampuan berpikir kritis analitis untuk membuat daftar persoalan agak dikurangi. Banyak anjuran agar kita menjauhkan diri dari upaya sistimatis untuk menemukan titik lemah dalam ide-ide orang lain dan, sebaliknya,melihat ide ide orang lain nya sebagai sumber inspirasi bagi upaya menemukan sesuatu yang baru yang dapat dibangun diatas ide orang lain tersebut. Penciptaan sesuatu yang baru bukanlah semata mata diandalkan pada proses analitis dimana segala sesuatu dibedah menjadi bagian bagian kecil. Kita memerlukan proses sintesa dan dialektika didalamnya. Kita perlu belajar dari masalah masa lalu untuk menemukan solusi. Sebab dalam perkataan solusi dikenal istilah dialektika proses tarik menarik kepentingan yang terjadi dalam proses pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kemajuan ekonomi suatu bangsa.

Teknologi kini tidak lagi tumbuh dan berada dalam ruang vacum. Penguasaan Teknologi perlu diperlakukan sebagai suatu kekuatan organis yang tumbuh dalam ekosistem. Bukan mekanik , barang jadi yang mudah dibeli. Dengan kata lain teknologi sebagai proses dan produk sekaligus ditempatkan sebagai kekuatan endogen dari sistem ekonomi yang dikembangkan.

Pada masa lalu para ekonom selalu beranggapan bahwa teknologi adalah barang jadi. Kekuatan eksogen yang berada diluar ekosistem pembangunan bangsa. Seolah teknologi suatu produk dan proses yang mudah dibeli dan dicangkok. Kalau perlu jalan tol baru atau jalan kereta api, kenapa susah susah, panggil saja orang Jerman, Jepang atau Tiongkok dan pinjam uang dari mereka sekaligu minta dibangunkan jalannya. Turnkey menjadi istilah populer. Mau bangun pabrik cukup shooping around diseluruh manca negara, pindahkan pabrik kelokasi di Indonesia. Tak pernah kita menyediakan kesempatan kepada putra putri Indonesia untuk mengerjakan dan menguasai teknologi dengan membuat sendiri. Semuanya dibeli dari luar. Pandangan Pembangunan berbasis SDA menjadi fondasi.

Dimasa depan jika kita berubah arah dan orientasi pembangunan kearah berbasis Manusia Bersumber Daya, maka pendekatan baru dalam paradigma berfikir dan struktur yang lebih emansipatip perlu dimunculkan.

Sejak kini kita harus berupaya agar setiap persoalan bangsa dipandang sebagai suatu Challenges sekaligus opportunitas untuk melahirkan kekuatan produktip dan inovasi Manusia Bersumber Daya Iptek Indonesia. Suatu kesempatan untuk membangkitkan kekuatan produksi dan daya cipta putra putri bangsa Indonesia sendiri. Sebagai contoh jika ada kebutuhan 3000-5000 Bis atau angkutan umum, tentu ini harus dipandang sebagai suatu opportunitas bagi perusahaan dalam negeri untuk memiliki kemampuan produksi Bis dan menguasai teknologi otomotip. Begitu juga jika ada kebutuhan ratusan lokomotip dan gerbong kereta api, pastilah ini akan menjadi ladang yang subur bagi PT INKA untuk menumbuh kembangkan potensi penguasaan teknologi perkeretapian. Demikian juga kapal laut, kapal nelayan dan lain sebagainya. Dalam hal ini tentu peraturan perundangan undangan yang memayungi gerak sinergi diantara kekuatan buyer and seller, atau pembeli dan penjual serta konsumen dan produsen ini perlu diciptakan. Melalui pendekatan ini Indonesia dimasa depan akan menjadi Negara Prosumen. Negara yang memiliki kekekuatan Industri dan Perdagangan. Kekuatan Produksi dan Pasar Dalam Negeri yang sehat dan bermanfaat bagi tumbuhnya kekuatan kemandirian Bangsa. Pembangunan Infrastruktur harus menjadi mesin pencipta lapangan kerja seperti yang dikatakan oleh Keyness. Infrastruktur yang semuanya dibeli dari luar akan membuat masyarakat kita menjadi penonton, infrastruktur yang dibangun dengan kekuatan bangsa sendiri akan melahirkan masyarakat yang produktip dan bekerja. Itu yang utama.

Karenanya ketika kita menjalani usia 70 tahun kemerdekaan, ada baiknya kita belajar memperhatikan ketekenunan , kesabaran para “Dukun mobil tua” yang bekerja dibengkel bengkel. Mereka para montir itu menyenangi dan selalu mencintai mobil tua. Tak pernah mengeluh dnegan kekadaluarsaan. Tetapi merawat dan memodifikasi agar yang kadaluarsa dirawat dan diganti dengan peremajaan sehingga berfungsi dengan spirit yang awal. Ditangan dukun mobil yang ada di setiap kota, mobil tua menjadi mobil klasik bernilai tinggi tanpa kehilangan orisinalitasnya. Tiap komponen ditelusuri jejaknya, tiap kabel diurut hulu dan hilirnya , ditemukan mana yang berfungsi mana yang tidak. Melakukan proses peremajaan dan penyegaran, Rejuvenation. Continuity and Change, Transformasi.

Value meningkat bukan karena membuang mobil tua yang bernilai tinggi dengan mobil baru. Bagi dukun mobil tua, dan pencinta mobil klasik, penghayatan sejarah perjalanan mobil tua menjadi dasar membangun fungsi baru untuk masa depan. Dari mobil tua kita seolah bisa belajar asal usul proses rekayasa dan rancang bangun yang tercipta serta bagaimana dan kapan ia sampai ketangan pemilik terakhir. Melalui pemahaman sejarah teknologi mobil, sejarah rekayasa dan rancang bangunnya, para Dukun Mobil Tua mampu membangun kembali mobil tua pelbagai jenis entah itu Mercedez, Volvo ataupun VW menjadi mobil klasik dengan pelbagai klub.

Dari para dukun mobil tua itu kita belajar dan kita amati tiga proses. Pertama tatacara menghayati sejarah masa lalu. Kedua teknik mempreteli komponen mesin hingga ke yang paling kecil atau “tear down”. Dan memeriksa mana yang kadaluarsa serta memisahkan mana komponen yang masih berfungsi mana yang tidak. Kemudian yang ketiga proses peremajaan dengan penuh dedikasi dan perhatian. Fokus memperbaiki dan melakukan modifikasi satu demi satu komponen. Serta jika perlu memordenisasikan teknologi yang sudah usang dengan mencanggkok yang baru, proses hibrida terjadi. Untuk kemudian tiap komponen dikembalikan ketempat semula, agar mesin dan mobil tua dapat berjalan sempurna kembali.

Bagi Indonesia mungkin istilah yang sering digunakan para pemimpin politik seperti Restorasi, Rejuvenation atau peremajaan, Revitalisasi dan Modernisasi perlu dilaksanakan disemua bidang dengan penuh dedikasi dan ketekunan.

Bung Karno menyebutnya dengan dua kata kunci Menjebol dan Membangun. Menjebol bangunan lama yang tidak sesuai dan membelenggu potensi manusia bersumber daya dan Membangun struktur baru yang lebih pas dan lebih tepat bagi upaya untuk menjadikan Demokrasi sebagai kekuatan Pencipta Pertumbuhan Ekonomi dan Kesejahteraan bersama sesuai konstitusi. Demokrasi yang melahirkan Manusia Bersumber Daya Iptek yang penuh daya inovasi. Mungkinkah ?

Dirgahayu Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 70.

Lebih kurangnya mohon dimaafkan , Salam

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: