//
you're reading...
Uncategorized

Renungan Pendidikan #51

Harry Santosa – Millenial Learning Center

‪#‎fitrahkehidupan‬ ‪#‎fitrahrealitasummat‬

Sebuah gedung megah dan berpagar tinggi, berdiri pongah di tengah desa yang masih hijau dan indah. Bangunan itu nampak kontras dengan rumah rumah sederhana di sekitarnya.

Setiap bulan pada waktu tertentu, mobil mobil berplat kota lalu lalang keluar masuk gerbang gedung yang nampak ekslusif itu. Warga desa yang sebagian miskin nampak hanya bisa melongo menonton parade ini.

Orang orang bermobil itu nampak bangga dan prestis dengan kehadiran dirinya. Walau tak satupun warga mengenal akrab mereka dan penghuni bangunan itu.

Awalnya warga bertanya tanya, gedung dan bangunan apa gerangan? Lambat laun warga paham, ternyata gedung yang berdiri bak jamur di musim kemarau atau anomali itu adalah gedung sebuah lembaga pendidikan.

Konon anak didiknya adalah anak anak ABG yang berasal dari kota besar, dari kalangan nyaris menengah, menengah dan hampir atas. Tidak satupun berasal dari anak anak warga desa di sekitar lembaga itu. Tentu saja apabila cukup mampu membayar.

Ya, itulah sebuah model pendidikan yang “berpisah dari masyarakatnya”. Konsepnya secara umum memang bak kuil, atau seperti menara gading yang sudah pasti tidak “menyapa” kehidupan sekitarnya apalagi menebar rahmat dan memberi solusi manfaat.

Guru gurunya nampak klimis perlente berdasi seolah menunjukkan kadar professional sejati, sesekali sedikit ramah basa basi dan menebar senyum kepada warga bak selebriti, lalu menghilang di balik gedung megah itu.

Sesekali juga guru dan siswanya keluar dengan membawa buku, entah kitab sains atau Kitab Suci untuk menikmati dan memuaskan dahaga intelektual dan spiritual lewat kajian di alam terbuka. Namun tak berapa lama, lalu kembali lenyap bagai hantu ditelan gedung berpagar tinggi mirip penjara itu.

Lagi lagi warga sekitar nampak hanya bisa melongo menonton “makhluk” kota ini, lalu kemudian melupakannya karena warga sendiri sibuk oleh kemiskinannya sehari hari, lagipula toh lembaga pendidikan seperti ini tidak menambah sesuatu yang signifikan bagi berdayanya warga kecuali beberapa program tebar santunan karikatif..

Dalam model pendidikan demikian, tak satupun kehidupan yang tersentuh oleh lembaga pendidikan ini. Kiranya model pendidikannya lebih mirip pusat intelektual dan spiritual, tempat kawah candradimuka untuk mencetak rahib rahib atau pendeta pendeta genius yang terpisah dari realitas sosial masyarakat sekitarnya.

Jadi beginikah platfom sebuah pendidikan peradaban sejati?

Renungkanlah sejak beratus bahkan beribu tahun sejak Nabi Adam AS, bahwa di setiap suku, di setiap desa, di setiap ummat, di setiap nagari berdiri di dalamnya ta’dibiyah atau tarbiyah atau pendidikan yang membuat peradaban tegak..

Pendidikan seharusnya alat tranformasi semua potensi fitrah individual dan fitrrah komunal menuju peran peran peradabannya yang menerbar rahmat dengan semulia mulia akhlak.

Pendidikanlah yang membuat masyarakat sekitarnya menjadi beradab yang kemudian kita sebut peradaban.

Maka pendidikan sejatinya terintegrasi dengan fitrah kehidupan atau fitrah realitas sosial dan keseharian problematika ummat dan masyarakatnya sejak hari pertama berdirinya.

Begitulah konsep pendidikan pesantren tempo dulu, ulama, guru dan anak didiknya serta warga sekitar bahu membahu dalam proses pendidikan dan pemberdayaan sehingga mampu menebarkan rahmat dan solusi manfaat sejak awal proses pendidikannya. Kyai, ustadz, santri, dan warga sama sama turun tangan dan turun kaki di sawah dan ladang, berjibaku mengentaskan masalah ummat.

Kita akan gagal memahami konsep di atas jika menganggap pendidikan adalah kawah candradimuka dimana manusia diisi sebanyak banyak sampai penuh lebih dulu, kemudian baru diterjunkan ke masyarakat, mirip perguruan silat atau akademi militer atau kuil kuil para rahib.

Modell seperti kawah atau kuil hanya melahirkan para elitis jenius yang gagal sensitif dan gagap solutif bagi permasalahan ummat apalagi memimpinnya. Hanya bermimpi.

Mereka melupakan bahwa para cendikia atau intelektual yang memiliki spiritual yang baik atau Ulil Albab adalah mereka yang sangat memahami realitas problematika ummatnya dan memperjuangkannya sampai titik darah terakhir.

Itu hanya terjadi jika proses pendidikannya terintegrasi dan relevan dengan fitrah komunal, yaitu fitrah kehidupan berupa realitas sosial dan problematika ummat, sejak hari pertama mereka menjalani proses pendidikannya.

Salam Pendidikan Peradaban

‪#‎pendidikanberbasispotensi‬
‪#‎pendidikanberbasisfitrah‬

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: