//
you're reading...
Creativity, Ekonomi, Entrepreneurship, Kemandirian, Perubahan

Geography of Jobs and Innovation : food for thought

Jusman Djamal
June 18, 2015 at 8:49am

Ada buku menarik karya Peter Dickens judulnya Global Shift.Pergeseran Global, dengan subjudul Mapping the Changing Contours of the WorldEconomy, Pemetaan perubahan kontur atau landskap Ekonomi Dunia. Buku ini mengisahkan bagaimana kemajuan teknologi Transportasi dan Komunikasi telah mempersempit jarak dan memperpendek waktu serta melahirkan pergeseran kekuatan ekonomi global. Dengan perkataan lain diperlukan pemahaman tentang Geopolitik dan Geoekonomi memadai para pengambil kebijakan. Jika tidak akan lahir konsepsi tentang kebijakan antisipasi globalisasi yang disandera oleh fenomena katak dibawah tempurung.

Tiap wilayah kini tidak mungkin lagi terisolasi dan tidak terjangkau. Tiap sudut geography memiliki kesempatan untuk menjadi tumbuh berkembang. Istilah terpencil, terbelakang dan terpinggirkan atau tertinggal dimasa datang hilang dari kosakata pembangunan ekonomi sebab sudah kadaluarsa.Semua potensi manusia bersumber daya yang masih terbelenggu, kini sudah dimungkinkan bangkit. Diperlukan Policy Formation yang pas dan cespleng rumusan nya.

Konsep Desentralisasi politik dan ekonomi, jika dilengkapi dengan sarana prasarana transportasi dan komunikasi akan membangkitkan potensi ekonomi suatu wilayah. Keterhubungan wilayah dengan pesawat terbang kapal laut, bis umum dan angkutan darat lainnya serta kereta api akan menyebabkan kawasan produksi menyatu dengan kawasan pemasaran. Transportation Telecommunication,Trade and Tourism perlu dijadikan prioritas, Perdagangan dan Turisme menjadi pendorong pertumbuhan kawasan.

Ketika saya berkunjung ke perbatasan Indonesia Malaysia tepatnya di Naga Badau dan Putusibau saya dapat merasakan denyut pertumbuhan ekonomi diwilayah perbatasan itu. Meski disana sini masih lebar gap atau perbedaan diantara kawasan ekonomi yang dikembangkan oleh Indonesia dengan tetangganya Malaysia, paling tidak kita sudah mampu menemukan Bupati dan Camat yang semakin aktip memikirkan pola dan cara cara baru membangkitkan potensi ekonomi daerah.

Masyarakat kini telah semakin memiliki kecerdasan dan daya wiraswasta yang cukup mumpuni untuk meningkatkan pendapatan daerah. Masalah utama yang dihadapi adalah apa yang di Amerika disebut dengan istilah :”Regulation Wall”, Tembok Berlin berupa peraturan peraturan model jaman Belanda dan jaman sebelum Reformasi 98 yang masih tersisa dan belum diformat ulang dengan kemajuan proses desentralisasi yang ada. Tembok Berlin Peraturan dan birokrasi yang menyebabkan aturan investasi jadi tumpang tindih dan berbelit belit.

Infrastruktur jalan raya menuju perbatasan, kini sudah diperbaiki. Tahun 2004 seorang teman saya di Yayasan Mandiri yang mengunjungi daerah itu –Sentanu — bilang :” untuk membawa peralatan pembangkit listrik mikro hidro”, kita harus berjuang hampir lebih empat puluh delapan jam menaklukkan jalan yang seperti kubangan kerbau dimana Truk dan kenderaan seperti siput bergeraknya.

Kini ke Putusibau mudah, sebab ada pesawat baling baling jenis ATR yang terbang dan mendarat di ibukota kabupaten. Bupatinya juga ramah dan bersahabat. Disana ada banyak ahli pengembang biak ikan arwana. Sementara dari Putusibau ke Nanga Badau dapat ditempuh tiga jam. Tiga perempat jalan sudah beraspal. Mudah mudahan kalau semua telah diaspal jarak itu dapat ditempuh dalam satu jam. Kalaukita terus meliwati batas dan masuk kejalan jalan dikawasan Malaysia semuanya seperti jalan jalan raya di daerah Aceh. Lebar dan Mulus, memanjakan para pengemudi.Di Malaysia daerah perbatasan ditumbuhi oleh pepohonan karet milik perkebunan swasta dan badan usaha miliki Negara. Di Indonesia BUMN perkebunan mengalami kesukaran untuk mendapatkan ijin membuka lahan dan merubahnya menjadi kawasan perkebunan karet dan kelapa sawit. Jadinya jika di Malaysia kita menemukan perkebunan sawit yang rapi. Di Indonesia kita menemukan kawasan perkebunan karet yang tambal sulam karena masih berstatus perkebunan karet rakyat. Terlihat ada Engineering Value Added yang timpang, lahan dengan luas sama di Kalimantan Barat kawasan Indonesia memiliki nilai tambah perhektar lebih rendah dibanding dengan nilai tambah kawasan Malaysia.

Kawasan dengan nilai tambah lebih tinggi mampu memberikan lapangan pekerjaan lebih besar dibanding kawasan dengan nilai tambah lebih rendah. Ada perpindahan tenaga kerja baik trampil maupun tidak dari kawasan di Indonesia ke kawasan di Malaysia. Masalahnya Value Added process disana jauh lebih baik. Sering kita nelongso kalau lihat Tenaga Kerja Indonesia yang jauh lebih produktip kalau bekerja di Negara lain dan menghasilkan devisa bagi Negara dengan remittance tinggi, akan tetapi tidak dihargai di negeri sendiri. Padahal Tenaga kerja Indonesia kini jauh lebih trampil dan lebih sejahtera jika bekerja di kawasan dengan nilai tambah tinggi .Banyak Negara ingin memiliki Tenaga Kerja Indonesia. Sebabnya sederhana, multi talent, tak banyak menuntut jika kerja lembur dan tidak membuat ekslusivitas di negara orang lain. Tenaga kerja Indonesia sangat bersaing dengan tenaga kerja dari China dan India. Tapi sayang kita yang tak faham peta Geography of Jobs and Innovation, hanya focus pada masalah penganiayaan dan emosi menyala nyala sehingga ambil jalan pintas. Semua orang kini akan tidak diperbolehkan kerja di luar negeri. Lebih baik tetap disini, mangan ora mangan asal kumpul.

Padahal apa yang terjadi sesungguhnya adalah fenomena Brain Gain bukan Brain Drain, Tenaga Kerja Indonesia memiliki nilai tambah perjam yang jauh lebih tinggi jika bekerja di Malaysia atau di Negara lain. Sebab utamanya adalah pada ketimpangan kualitas sarana prasarana atau infratruktur.Ketimpangan kualitas ini juga tampak dari kualitas penggunaan potensi sumber daya alam. Di kawasan perbatasan Malaysia Putusibau pemerintah setempat karena tidak memiliki danau Sentarum, membuat waduk yang meniru persis bentuk dan kontur danau Sentarum yang ada di Putusibau.Tentu keindahan alam danau buatan yang ada di Malaysia kalah jauh dengan keindahan alam danau yang sesungguhnya ada di kawasan Indonesia.Akan tetapi yang di Malaysia danau buatan ini telah menghasilkan devisa jauh lebih besar dibandingkan dengan danau Sentarum asli yang ada di kawasan Indonesia. Sebab waduk danau buatan ini telah mampu dijadikan Pusat Pembangkit Tenaga Listrik Tenaga Air dan Turisme.Sentarum Asli belum terjamah. Danau buatan di Malaysia juga dipinggirnya memiliki Hotel Hilton sehingga banyak turisme yang datang. DI Indonesia kawasan ini masih perawan, Tidak dibuat apa apa dan dibiarkan tanpa pemeliharaan. Jika musim panas sedikit surut airnya sehingga banyak anak muda bermain motor trail disana. Pembangkit tenaga listrik tidak dibangun dan dikembangkan.Turisme tidak ada. Yang ada penangkaran ikan arwana.

Sebuah gap nilai tambahsecara geografis terjadi.Contoh diatas seperti inilah yang kemudian dalam buku GlobalShift ini dikembangkan menjadi thesis dan phenomena Geographies of Innovation.Dikatakan oleh Peter Dickens Inovasi sebagai jantung penggerak aliran darahperubahan dan kemajuan teknologi sebetulnya adalah proses belajar dari suatubangsa.

Proses peningkatan nilai tambah tenaga kerja Indonesia memerlukan infrastruktur iptek. DI Indonesia infrastruktur iptek yang masih tertata adalah Serpong BPPT dan LIPI. Itupun kembang kempirs. Fikiran kita masih terbelenggu pada pemahaman infrastruktur jalan jembatan waduk dan listrik. Yang semuanya benar adanya. Kita masih terus saja berfokus pada infrastruktur jalan dan listrik. Lupa pada kepentingan strategis membangkitkan infrastruktur iptek berupa kawasan industry sebagai pusat pertumbuhan ekonomi penyerap tenaga kerja. Batam dilupakan dan kawasan industri lain dibiarkan dalam status hidup segan mati tak mau. Tiap tahun ada pembahasan insentif fiscal dan moneter ini dan itu. Semua insentif seolah dibicarakan untuk membangkitkan daya saing kawasan industry yang telah lahir jauh sebelum China membangun kawasan industry yang terkenal itu. Realisasinya berjalan setengah hati. Ambil contoh ketimpangan infrastruktur iptek ditingkat sekolah dasar, sekolah menengah dan universitas yang melahirkan ketimpangan nilai ujian akhir . Pelajar dengan infrastruktur modern jauh lebih cepat menguasai ilmu pengetahuan dibandingkan pelajar yang bersekolah di kampus tak punya infrastruktur. jadi mesik setiap anak didik memiliki IQ rata rata sama 120 hingga 140 , akan tetapi gap infrastruktur iptek akan melahirkan perbedaan hasil ujian. Yang terlihat pintar dan jenius mereka yang berasal dari kota besar.

Demikian juga proses belajar atau learning by doing yang terjadi dalam suatu kawasan industri untuk melahirkan tenaga terampil dan dengan penguasaan teknologi yang terakumulasi juga mirip seperti itu. Setiap pekerjaan dengan tingkat kesulitan berjenjang bertingkat dan berkseinambungan merupakan wahana dan sarana yang amat baik bagi seorang tenaga kerja terampil untuk meningkatkan kualitas penguasaan teknologinya. Learning by doing ,by using, by observing and sharing ideas with others depend upon the accumulationnand development of relevant knowledge. Proses ini bisa berbeda antar wilayah.Perbedaan akumulasi pengetahuan dan teknologi yang diperoleh dalam proses belajar sambil bekerja, sambil beinteraksi gagasan dengan mereka yang lebih cerdas, proses belajar dengan mengamati dan memiliki pengalaman untuk mengoperasikan, merawat dan meperbaiki serta mengoverhaul semua peralatan dan permesinan berteknologi canggih akan melahirkan perbedaan kualitas sumber daya manusia.

Arus globalisasi yang terlambat diantisipasi akan melahirkan apa yang disebut perbedaan kontour dan landskap penguasaan teknologi. Ada wilayah terbelakang ada wilayah yang penuh teknologi canggih. Pusat inovasi tumbuh dengan laju berbeda. Ada yg cepat ada yang lambat.. Pada akhirnya melahirkan perbedaan peta kekuatan inovasi suatu kawasan yang disebut dengan istilah Geography of Innovation gap between regions. Dan kekuatan Inovasi biasanya memiliki sifat alamiah yang mirip seperti air mengalir, bergerak dari wilayah padat inovasi (reservoir innovation”) ke tempat kering inovasi. Dari tempat tinggi kualitas inovasi ke tempat rendah kualitas inovasi.Tak heran jika tak ditangani dengan serius, Indonesia akan bisa terus jadi pasar produk Tiongkok dan Negara lain. Neraca berjalan terus deficit. Dollar terus tak terbendung. Mau ekspor produk tak mampu bersaing. Kekuatan produktip nya mandek, Inovasi tak hadir. Kita seolah dalam posisi maju kena mundur kena. Sementara tenaga terampil dan terdidik biasanya cenderung berenang melawan arus mereka pindah dari tempat yang rendah inovasi ke kawasan yang memiliki inovasi tinggi.

Tenaga kerja tak mungkin dihalangi untuk bekerja dikawasan penuh inovasi dan tantangan. Sebab usia dan umur tak mungkin ditahan maju. Jika terus menunggu, usia tua akan menggerogoti tulang dan fikiran.Semua tenaga terampil cenderung mencari samudera luas dan dalam agar otot otot keterampilan teknologi yang dikuasainya terus terlatih dengan tantangan dan menemukan ruang amat luas untuk melakukan pelbagai jenis maneuver proses inovasi. Karenanya tenaga kerja Indonesia di Hongkong, Singapura , Malaysia dan Timur Tengah kini perlu diberi dorongan agar yang berangkat kesana paling tidak yang memiliki ijazah Sekolah Kejuruan atau tamat SMU dan D4, D3 dan S1. Agar mereka bisa belajar menguasai iptek dan jika kembali bangkit jadi kekuatan pendorong inovasi dan pencipta lapangan kerja. Untuk menjadi jembatan dan merubah peta geography of innovation jobs di sini.

Mohon maaf jika keliru. Salam

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: