//
you're reading...
Human being, Lingkungan, Motivasi, Pendidikan, Perubahan, Renungan

Renungan Pendidikan #50

Harry Santosa – Millenial Learning Center

‪#‎fitrahalam‬ ‪#‎fitrahbumi‬

Anak anak nelayan di Pulau Bacan, Halmahera Selatan, sejak pagi gelap buta setelah sholat Subuh sudah berada di dermaga, menyambut kapal kapal nelayan yang bersandar setelah semalaman berlayar mencari ikan.

Anak anak nelayan itu yang selalu enerjik dan ceria, segera bermandi peluh membantu mengangkat ikan dari dek kapal ke pasar pelelangan ikan. Mereka membantu memilah ikan tangkap sesuai jenisnya, menimbang dan menghitung harganya.

Matahari menyingsing adalah dilema besar buat mereka antara harus ke sekolah atau tetap bercengkrama dengan aroma laut dan kehidupan real mereka sebagai nelayan sejati.

Sekolah dan guru sekolah, bagi mereka adalah anomali dan makhluk “jadi jadian”, yang asing bagi dunia mereka, yang tidak mengajarkan sesuatupun tentang kelautan dan perikanan bahkan buta sama sekali. Lihatlah pelajaran penjumlahanpun dalam buku teks buatan negara, isinya bukan 2 ikan ditambah 5 ikan, tetapi 2 jeruk ditambah 5 jeruk.

Ada kesenjangan yang jauh antara kodrat mereka sebagai manusia yang ditakdirkan Allah swt hidup di bagian bumiNya yang diliputi air laut dan pasir, ikan dan perahu, ganggang dan hutan bakau dstnya, dengan apa apa yang diwajibkan dan dipaksakan negara untuk diajarkan kepada mereka oleh sistem persekolahan modern.

Ketahuilah ketika Allah swt mentakdirkan seseorang lahir sebagai anak nelayan yang hidup di desa pesisir maka sejatinya Allah telah memberi amanah kepada mereka untuk membangun desanya sesuai keunggulan lokalnya, sesuai fitrah alam dan fitrah buminya, yaitu kelautan dan perikanan atau kemaritiman.

Sampai rincinya fitrah ini, bahkan sebuah penelitian menyebutkan bahwa ditemukan pada anak anak nelayan sejak lahir, usus dan lambungnya hanya bisa diisi banyak ikan bukan nasi. Begitulah kehendak Allah swt.

Mengapa sistem persekolahan tidak mendidik anak anak nelayan untuk mampu menghebatkan kelautan dan perikanan?
Mengapa tidak mendidik anak anak nelayan agar mampu memandirikan dan menghebatkan desanya?

Bukankah sejak Indonesia merdeka tidak ada satupun desa nelayan yang berubah menjadi kota perikanan (minapolitan)? Yang ada malah semakin terpuruk dan ditinggalkan (disebut dengan sopan sebagai tertinggal).

Jika sistem pendidikan bisa relevan secara radikal dengan keunggulan dan kearifan lokal, maka anak anak nelayan tidak perlu dilemma antara pergi ke sekolah dan pergi ke laut, bukankah banyak hal yang dapat dipelajari di laut?

Anak nelayan bisa belajar bukan hanya tentang budidaya perikanan saja, mereka bisa belajar membuat kapal laut, belajar navigasi perbintangan, belajar energi terbarukan kelautan, belajar konservasi hutan mangrove, belajar pengelolaan bencana laut, belajar pertahanan dan keamanan laut dan pesisir dsbnya.

Mengapa pergi melaut bagi anak nelayan tidak menjadi program sekolah saja? Bukankah anak nelayan tidak hanya harus belajar di gedung sekolah yang sering hampir roboh karena kurang dana, mereka sesungguhnya bisa belajar di atas kapal, di pasar lelang, di pantai, di hutan bakau dstnya?

Jika program ini digulirkan secara konsisten dan berlanjut, maka anak anak nelayan ini akan menjadi local leader, agent of change, yang mampu memandirikan dan menghebatkan peradaban desanya. Bukankah peradaban besar dimulai dari desa, sebagaimana Rasulullah saw membangun peradaban Islam dari desa bernama Yastrib?

Lalu pertanyaannya, apakah semua anak nelayan harus jadi nelayan?

Ketahuilah bahwa kelautan dan perikanan memiliki rantai proses yang memerlukan para professional di setiap simpul proses ini. Anak nelayan yang berbakat pemasaran, berbakat pemimpin, berbakat komunikasi, berbakat peneliti, berbakat strategi, berbakat engineer, berbakat komputasi, berbakat beternak, berbakat energi terbarukan dll dapat mengisi rantai proses tersebut.

Intinya adalah kelautan dan perikanan merupakan amanah yang Allah swt berikan kepada manusia daerah pesisir sebagai fitrah alam dimana mereka ditakdirkan lahir dan hidup.

Begitupula anak anak yang ditakdirkan hidup di daerah pertanian, kerajinan, kehutanan dsbnya, dapat menjalani peran bakat peradabannya sesuai keunggulan fitrah alamnya.

Mengapa sistem persekolahan modern abai terhadap hal ini?

Mereka para perancang sistem ini, menganggap kehebatan peradaban adalah ketika semua manusia menghamba kepada modernisme buatan mereka para modernist yang umumnya penjajah peradaban. Melalui kakitangannya, dirancanglah sistem persekolahan modern yang mencerabut generasi anak2 kita dari akarnya.

Kita mudah melihat bahwa sistem persekolahan modern dirancang agar orang hidup modern di kota kota besar, tercerabut dari akar lokalitasnya, akar kearifan lokal dan agamanya, dari akar desa dan akar komunitasnya.

Maka tidak heran, sistem persekolahan modern memacu urbanisasi besar besaran, menggiring anak anak generasi kita menjadi budak budak peradaban di kota besar, yang tidak tahu membangkitkan desa tempat tinggalnya.

Mengapa orang mau tinggal di kota besar, padahal semua serba mahal, serba sulit, serba hectic dan crowded dstnya karena sistem persekolahan membuat mereka tidak mampu membangun daerahnya, mendorong mereka hanya terampil bekerja sebagai buruh di pabrik dan di perusahaan di kota besar. Sebagian mereka bahkan sejak lahir sudah ada di kota besar sebagai lanjutan generasi urban.

Itu semua karena mereka produk persekolahan modern yang “have no idea” untuk membangun desanya, mereka buta terhadap potensi keunggulan fitrah alam atau fitrah bumi juga fitrah kearifan yang diamanahkan kepadanya.

Lalu kepada siapa amanah Allah swt berupa fitrah alam dan fitrah bumi akan diberikan atas daerah dimana kita atau orangtua kita atau kakek kita ditakdirkan lahir di atasnya?

Jika tidak ada yang memikul amanah ini, maka desa atau daerah terus merana dan tidak pernah ada peradaban lahir di atasnya, sebagaimana merananya mereka yang hidup melayang di perkotaan karena tidak mampu membangun peradaban desanya.

Salam Pendidikan Peradaban

‪#‎pendidikanberbasispotensi‬
‪#‎pendidikanberbasisfitrah‬

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: