//
you're reading...
Human being, Lingkungan, Pendidikan, Perubahan, Renungan

Renungan Pendidikan #49

Harry Santosa – Millenial Learning Center

Dinosaurus punah bukanlah karena gagal beradaptasi, mohon maaf, kita bukan penganut ajaran Darwinisme.

Namun mereka punah karena memang zamannya telah selesai, Dinosaurus dkk diciptakan Allah swt memang hanya untuk zamannya. Dinosaurus dan kerabatnya telah selesai menjalani panggilan zamannya sesuai peruntukan zamannya.

Ketika zaman berubah untuk peruntukan yang berbeda sesuai grand scenario Sang Maha Pencipta, maka dipunahkanlah sesuatu makhluk, dipertahankan sebagian dan diciptakanlah sesuatu makhluk lain yang baru sesuai peruntukan zamannya.

Begitupula pada peradaban manusia, Allah swt telah jadikan bumi tempat yang nyaman untuk memulai peradaban manusia, tempat dimana Ayahanda Adam dan Bunda Hawa ditakdirkan merintis peradaban manusia di muka bumi. Maka yang tidak sesuai hidup berdampingan dengan manusia, Allah punahkan.

Begitupula, sepanjang peradaban manusia di muka bumi, di sepanjang zaman Allah swt telah hadirkan dan takdirkan para pahlawan dan peran peran spesifik yang memang cocok untuk zamannya.

Hanya ada satu peran dan satu pahlawan pada diri satu orang di sebuah zaman. Kemudian diantara manusia, ada yang menunjukkan makna kehadirannya pada sebuah peran khusus di zamannya, dan ada manusia yang tidak amanah pada peran spesifiknya itu dan kemudian hilang ditelan zaman bahkan digilas zaman. Kehadirannya pada zaman itu sama dengan ketidakhadirannya.

Tidak ada peran spesifik pada sebuah zaman yang bisa diulang persis pada zaman lainnya.

Kehadiran Nabi Adam as dan nabi nabi sesudahnya, masing masing berbeda walau misi menegakkan Tauhidnya sama. Begitupula kehadiran Rasulullah saw, sebagai Nabi akhir zaman juga berbeda dengan nabi2 sebelumnya walau misinya sama, yaitu menegakkan Tauhid.

Begitupula kehadiran para ulama, para cendekiawan, para pemimpin, para pahlawan sepanjang sejarah di setiap zaman memiliki peran dan purpose yang berbeda. Semua kehendak dan kuasa Allah swt untuk meletakkan mereka pada zamannya.

Maka Zaman adalah keniscayaan, begitulah setiap manusia ditakdirkan untuk lahir pada zaman tertentu, termasuk anak anak kita. Maka di setiap zaman, Allah ciptakan generasi yang diperuntukkan bagi zaman itu.

Maka “…didiklah anakmu untuk menghadapi zaman yang bukan zamanmu”, begitu pesan seorang Sahabat Nabi as.

“Jangan paksakan anakmu untuk menjadi seperti kamu, karena dia diciptakan bukan untuk zamanmu. Didiklah anak-anakmu untuk menghadapi zamannya, dan jangan engkau didik sesuai dengan zamanmu. Mereka adalah anak-anak zamannya dan bukan anak-anak kehidupan di zamanmu. Bila seorang anak kau didik untuk mengikuti zamanmu, maka ia akan tertinggal di zamannya.”

Maka pendidikan bukanlah mendidik generasi agar menjadi sesuatu peran spesifik di zaman kita apalagi di zaman yang telah lalu. Walau misinya sama yaitu menegakkan Tauhid, menebar Rahmat, menjadi Bashiro wa Nadziro, secara komunal menjadi ummatan wasathon dan khoiru ummah, namun tidak ada satu peran spesifik yang bisa diulang.

Pola sejarah memang berulang, namun peran peran spesifik sesuai zaman adalah unik dan tidak akan pernah berulang.

Imam Bukhari bila hadir zaman ini pasti bukan zaman yang tepat baginya, Muhammad alFatih jika hadir hari ini juga bukan di zaman yang tepat baginya, Hasan alBanna jika hadir di zaman ini juga bukan zaman yang tepat baginya. Karena semuanya sudah Allah takdirkan hadir pada zamannya dan mereka menuntaskan peran spesifik mereka pada zamannya dengan amanah.

Maka didiklah anak untuk mencapai peran spesifiknya yang diperuntukkan pada zamannya. Alangkah naifnya berupaya mengulang model pendidikan yang memang dirancang untuk melahirkan sebuah peran spesifik pada zaman tertentu.

Ingat bahwa satu satunya yang tidak pernah dipengaruhi oleh dimensi ruang dan waktu, memiliki hukum gerak tetap sejarah hanyalah aqidah atau Tauhid. Anak anak kita memerlukannya sebagai pijakan yang kokoh, sandaran yang tegar, pegangan yang kuat dalam menjalani peran spesifik peradabannya.

Lalu zaman seperti apa hari ini?

Tengoklah anak anak kita, kelahiran tahun 2000an, mereka secara stereotype begitu berbeda dengan generasi seangkatan kita, ayah bundanya. Umumnya mereka lebih seniman, lebih ramah pada siapapun, mudah tersenyum dan tidak terlalu serius kaku sebagaimana generasi ayah ibunya, mereka senang guyub, senang imajinasi, suka di alam terbuka dstnya.

Daniel Pink dalam bukunya “A Whole New Mind”, memaparkan bahwa generasi mendatang adalah generasi yang lebih banyak berperan dan bekerja dengan imajinasi, visionary, art & creativity, interaksi dan hubungan personal antar manusia dstnya. Dia menyebut zaman ini dengan zaman pemaknaan atau Conceptual Age.

Intinya, di zaman ini, serahkanlah yang teknis, rumit dan rutin pada mesin, komputer dan robot. Manusia kembali kepada hakekat fitrah kemanusiaanya, fitrah keindahan dan estetikanya, fitrah keharmonian dengan alam, keharmonian dengan sosialnya dan keharmonian dengan Tuhannya, yaitu membuat dunia lebih bermakna dan lebih indah, lebih penuh cinta dan lebih penuh rahmat, lebih hijau dan damai.

Dunia hari ini bukan lagi sekedar memerlukan fungsi tetapi juga dunia yang menghargai desain artistik. Dunia bukan lagi sekedar tumpukan analisa analisa formal namun juga dunia yang menghargai jalinan indah sintesa informal. Dunia bukan lagi orang2 egois hebat sendiri, namun dunia dimana orang bekerja bersama kolaboratif layaknya sebuah simphony yang indah.

Dunia kini bukan lagi kumpulan argumen argumen kaku, namun dunia sudah mengutamakan cerita sastrawi yang menyentuh kalbu. Dunia bukan lagi cuma kumpulan logika garing dan kejam, namun dunia kini penuh dengan penghargaan atas perasaan orang lain atau emphaty.

Dunia bukan lagi keseriusan yang mengerikan seperti pada zaman industri dan informasi, namun dunia kini menghargai kebersamaan yang menyenangkan.

Dunia masa depan bukan lagi penjejalan materi dan target target pengetahuan, namun lebih ke pencerahan pengetahuan untuk semakin menjadi diri, semakin menyelami esensi tujuan hidup, menghayati makna kehidupan, memenuhi tugas dan panggilan hidup dstnya.

Alangkah indah hikmah dan bukti kebenaran Islam, mengapa sebagai agama akhir zaman diturunkan di bangsa Arab yang sangat Sastrawi bukan Rasionali atau Materi, karena ternyata akhir zaman adalah zaman bagi mereka yang bekerja dan berperan dengan hati, dengan makna, dengan konsep, dengan cerita sastrawi, dengan estetika dan keindahan.

Bukan kebetulan jika Sastra Kitabullah dari agama akhir zaman sangat tinggi sebagai bekalan akhir zaman yang memang menghendaki pemaknaan yang indah dan mendalam.

Lihatlah bahwa dalam dunia dan zaman seperti inilah anak anak kita sesungguhnya ditakdirkan hidup.

Maka didiklah anak kita sesuai zamannya, agar mereka mampu mencapai peran spesifik peradaban yang ditakdirkan pada zamannya. Jangan berobsesi mendidik mereka untuk mengulang peran peran spesifik pada zaman yang berbeda. Sejarah memang berulang, namun peran kepahlawanan tidak akan berulang. Anak anak kita ditakdirkan menjadi pahlawan pada zamannya dengan sekecil apapun perannya.

Ingat bahwa satu satunya yang tidak boleh berubah dan terus berulang hanyalah pendidikan tauhid dan aqidah, karena inilah yang akan memuliakan akhlak tiap generasi dalam menjalankan peran spesifik peradabannya kelak sebagaimana Allah takdirkan tiap generasi itu hidup pada zamannya.

Salam Pendidikan Peradaban

‪#‎pendidikanberbasispotensi‬
‪#‎pendidikanberbasisfitrah‬ dan akhlak

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: