//
you're reading...
Leadership, Lingkungan

Antara Organisasi Massa Dan Organisasi Profesional

Imam Suprayogo
May 31, 2015

Seringkali muncul kekecewaan dari banyak kalangan terhadap prestasi kepemimpinan seseorang. Pada awalnya seseorang dianggap hebat dan kemudian ditunjuk atau dipilih menjadi pemimpin. Akan tetapi, belum lama menjabat, ternyata kepemimpinanya dianggap tidak memuaskan. Pemimpin dimaksud tidak menunjukkan kemampuan sebagaimana yang diharapkan. Akibatnya, banyak orang kecewa atas kepemimpinannya itu.

Kekecawaan tersebut sebenarnya bersumber dari hal sederhana. Yaitu tidak disadari bahwa ada perbedaan antara kepemimpinan organisasi massa dan organisasi profesional. Seseorang yang semestinya cocok memimpin organisasi massa diserahi tugas untuk memimpin organisasi profesional. Seseorang yang tampak pintar berpidato di muka umum, ceramah, atau berkotbah sebenarnya belum tentu mampu memimpin organisasi profesional, misalnya memimpin kampus, birokrasi pemerintah, atau perusahaan.

Dua jenis organisasi, yaitu antara organisasi massa dan organisasi profesional seharusnya dilihat secara berbeda, dan begitu pula dalam memilih pemimpinnya. Memimpin organisasi profesional, seperti birokrasi pemerintah, perguruan tinggi, sekolah, perusahaan, dan sejenisnya akan berbeda dengan memimpin organisasi massa. Pemimpin organisasi profesional harus memahami betul tentang jenis tugas, sumber daya, target yang harus diselesaikan, dan bahkan jenis dan jumlah anggaran yang diperlukan sehari-hari dan bahkan pada setiap tahunnya.

Berbeda dengan pemimpin organisasi profesional adalah pemimpin organisasi massa. Pemimpin organisasi massa sehari-hari tidak terlalu dituntut untuk melakukan sesuatu, kecuali pada saat-saat tertentu, yang memang sedang memerlukan penyelesaian terkait dengan organisasinya. Pemimpin partai politik atau organisasi sosial keagamaan misalnya, sehari-hari tidak perlu berada di kantor untuk memimpin anak buah sebagaimana pemimpin organisasi profesional. Oleh karena itu, pemimpin organisasi massa bisa dirangkap dengan tugas-tugas lainnya.

Kekeliruan dalam melihat perbedaan antara keduanya, yakni antara pemimpin organisasi profesional dengan pemimpin organisasi massa, maka akan berakibat fatal. Misalnya, organisasi profesional dipimpin oleh orang yang hanya bisa berpidato, berceramah atau berkhutbah, maka organisasinya tidak akan maju dan atau berkembang. Memimpin organisasi profesional tidak cukup hanya berbekalkan sebagaimana yang diperlukan oleh pemimpin organisasi massa. Selain pintar berceramah, pemimpin organisasi profesional seharusnya juga mampu memanage organisasinya secara profesional.

Kedua jenis organisasi tersebut memiliki ciri yang berbeda. Organisasi massa bisanya digerakkan oleh kekuatan idiologis. Oleh karena itu pemimpin yang mampu menjelaskan idiologi organisasinya, maka akan dianggap hebat. Penjelasannya itu akan melahirkan simpatik dan bahkan kecintaan dari para pendukungnya secara mendalam. Itulah sebabnya, organisasi massa seringkali diliputi oleh suasana emosional, subyektif, tertutup, dan bahkan irrasional. Berbeda dengan organisasi massa, adalah organisasi profesional, biasanya lebih bersifat rasional, terbuka, obyektif, dan mudah diukur.

Pemimpin perguruan tinggi, ———-tidak terkecuali adalah perguruan tinggi agama, seharusnya adalah orang yang mampu menempatkan diri sebagai pemimpin organisasi profesional. Seorang pimpinan perguruan tinggi agama tidak cukup hanya berbekalkan kemampuan berpidato, khutbah, atau memberi pengajian, tetapi yang bersangkutan harus mampu mengelola lembaga yang dipimpinnya sebagai organisasi modern. Ia harus tahu secara detail tentang gerak yang seharusnya dilakukan sehari-hari. Sebagai pemimpin organisasi profesional, ia tidak cukup hanya berceramah, duduk memperbincangkan sesuatu tanpa ada kaitannya dengan kemajuan perguruan tingginya.

Jika dilihat secara saksama, sebenarnya banyak pemimpin, termasuk pemimpin perguruan tinggi berbasis agama, dipilih atau diangkat hanya berdasarkkan kelebihannya dalam berpidato, berceramah atau memberi pengajian. Akibatnya, lembaga yang dipimpinnya menjadi tidak berkembang dan atau tidak maju. Yang terjadi adalah munculnya kelompok-kelompok, dan persaingan atau bahkan konflik antar kelompok itu. Organisasi yang seharusnya dikelola secara profesional menjadi lebih tampak sebagai organisasi massa, misalnya tampak serba subyektif, irrasional, dan muncul suasana perebutan antara kalah atau menang. Wallahu a’lam

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: