//
you're reading...
Kajian, kuliah, Motivasi, Pendidikan, Research

Riset adalah Persoalan Budaya

Mikrajuddin Abdullah
21 May 2015

Diskusi tentang rendahnya produktivitas peneliti Indonesia dalam menghasilkan karya ilmiah internasional terus berlangsung hingga saat ini. Gambar memperlihatkan perbandingan jumlah publikasi internasional yang terindeks di Scopus (www.scopus.com) antara UI, ITB, dan UKM (Malaysia). Ditampilkan juga perbandingan jumlah publikasi ilmiah internasional yang tercatat di Scopus sejumlah perguruan tinggi utama di Asean. Sangat menonjol perbedaan jumlah publikasi yang dihasilkan perguruan tinggi utama di Indonesia dan negara Asean lainnya. Perbedaan tersebut akan makin membesar, ditandai dengan gradien kurva yang berbeda jauh. Menjadi pertanyaan hingga kini mengapa produktivitas peneliti Indonesia sangat rendah.

Perubahan jumlah makalah ilmiah yang terindeks di Scopus antara UI, ITB dan UKM (Malaysia) pada berbagai waktu. Inset adalah perbandingan total makalah ilmiah yang terindeks di Scopus beberapa perguruan tinggi utama di Asean (data dioleh dari blog Prof. Hendra Gunawan, ITB)

Beberapa dekade yang lalu sejumlah argumen dilontarkan para peneliti terkait kurang produktifnya mereka dalam kegiatan riset dan sulitnya menghasilkan karya ilmiah taraf internasional. Pertama, pendapatan yang rendah sehingga sebagian waktu tersita untuk “pekerjaan sampingan” sekedar untuk mempertahankan dapur mengepul. Kedua, peralatan riset yang tidak memadai. Ketiga, institusi tidak berlangganan jurnal ilmiah internasional sebagai referensi terbaru.

Saat ini kondisi sudah lebih baik. Dari sisi penghasilan, dosen guru besar mendapat tunjangan kehormatan dan dosen bukan guru besar mendapat tunjangan sertifikasi dosen. Peneliti dari institusi penelitian mendapat tunjangan kinerja. Memang masih ada pendapat bahwa tunjangan tersebut belum optimal. Beberapa perguruan tinggi dan lembaga riset sudah memiliki alat riset canggih. Institusi yang belum memiliki alat sejenis memiliki peluang akses ke peralatan yang dimiliki institusi lain.

Sejumlah perguruan tinggi dan lembaga riset sudah berlangganan jurnal ilmiah internasional. Pada saat bersamaan banyak jurnal ilmiah “akses terbuka” (open access) yang dapat diunduh dan dibaca secara bebas. Walaupun ada perdebatan mengenai kualitas jurnal open access, namun harus diakui banyak jurnal jenis ini yang berkualitas baik, ditandai dengan impact factor yang cukup tinggi atau jumlah rujukan yang sangat tinggi pada sejumlah makalah yang diterbitkannya.

Atas sejumlah perbaikan tersebut apakah produktivitas riset di Indonesia telah menjadi lebih baik? Adakah korelasi positif antara perbaikan kondisi riset dengan produktivitas riset? Sepanjang pengamatan penulis belum tampak korelasi yang signifikan. Peneliti yang melontarkan sejumlah argumen awal tetap saja kurang produktif. Kita mudah menelusuri produktivitas peneliti mengunakan mesin pencari keskolaran seperti scholar.google.com atau scopus.com. Yang menarik, justru saat memasuki taraf hidup yang lebih mapan banyak peneliti menunjukkan performa riset menurun, kontradiktif dengan argumen bahwa penghasilan kecil adalah penyebab tidak produktif dalam riset.

Kalau saat ini terdapat peningkatan jumlah publikasi di jurnal internasional yang dihasilkan beberapa perguruan tinggi, sebenarnya peningkatan tersebut lebih banyak disumbang dosen-dosen muda yang baru menyelesaikan perogram doktor. Mereka masih membawa budaya riset dari perguruan tinggi tempat mengambil doktor. Mereka masih memiliki kecintaan yang tinggi pada riset dan rasa bangga jika berhasil menembus jurnal ilmiah internasional.

Dapat disimpulkan bahwa kegiatan riset bukan sekedar persoalan anggaran atau peralatan tetapi lebih ke persoalan budaya. Riset akan terus tumbuh jika telah terbangun budaya riset yang kuat pada diri peneliti. Budaya riset yang kuat dapat mendobrak segala rintangan yang ada. Dosen di Jepang dan Korea rela berada di laboratorium hingga malam setiap hari karena memiliki budaya riset tinggi. Apakah karena mereka memiliki gaji besar sehingga tidak perlu memikirkan objek sampingan? Gaji memang tinggi, tetapi habis hanya untuk memenuhi kebutuhan bulanan. Justru banyak profesor di Jepang yang tidak sanggup memiliki rumah sendiri, suatu kondisi yang jarang terjadi di Indonesia.

Jika budaya riset telah tumbuh maka guru besar akan malu jika tidak menghasilkan makalah di jurnal ilmiah internasonal. Dosen dengan jabatan akademik lebih tinggi akan malu kalau ada dosen dengan jabatan lebih rendah lebih produktif dalam menghasilkan karya ilmiah internasional. Dosen lebih bangga menjadi pimpinan laboratorium daripada pimpinan birokrasi.

Karena budaya riset belum tumbuh banyak dosen menjadi mandul riset begitu diangkat menjadi guru besar. Menjadi guru besar seolah akhir dari semua aktivitas riset. Ini menimbulkan pertanyaan: apa manfaat sebuah perguruan tinggi memiliki guru besar kalau hanya menghasilkan kemandulan riset?

Riset haruslah menjadi budaya. Budaya mencari temuan baru dan mendokumentasikannya dalam bentuk karya ilmiah untuk diwariskan kepada generasi mendatang.

Mikrajuddin Abdullah's photo.

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: