//
you're reading...
Human being, Motivasi, Pendidikan, Perubahan, Renungan

Renungan Pendidikan #47

Harry Santosa – Millenial Learning Center

Akhir abad 19, menjelang keruntuhan Kekhalifahan Islam terakhir, Turki Utsmani atau dikenal dengan nama Ottoman, sejarah mencatat seorang Ulama besar Turki bernama Said Nursi (1878 – 1960), berupaya mengingatkan agar Sultan Abdul Hamid II segera merubah sistem pendidikan modern yang dijalankan ketika itu di Turki Utsmani.

Sistem pendidikan modern di Turki, sebagaimana ditanamkan dan dicangkokan kolonial ke seluruh negeri negeri Muslim jajahan dan bangsa bangsa di Afrika, Amerika Latin dan Asia bahkan sampai saat ini memang sangat berorientasi pada pengetahuan dan keterampilan modern semata.

Dalam sistem ini, fitrah generasi terutama fitrah keimanan (spirituali) dan akhlak serta sistem hidup atau agama sangat diabaikan.

Said Nursi, semoga Allah merahmati Beliau, bukan hanya mengingatkan tetapi mengusulkan agar pendidikan memadukan aspek sains, aspek sistem hidup atau syariah dan aspek ruhiyah. Dalam pandangannya, pendidikan sangat erat kaitannya dengan tegak atau runtuhnya peradaban.

Pendidikan bukan bertujuan sebagai pengisian lapangan pekerjaan, pabrik dan perkebunan agro kolonial.

Sayangnya, peringatan dan usulan tidak digubris bahkan beliau dijebloskan ke dalam penjara dan dibuang ke pengasingan. Sultan Abdul Hamid II, khalifah Turki terakhir terlambat menyadari bahayanya sistem pendidikan modern yang ternyata berujung kepada runtuhnya kekhalifahan Turki Utsmani. Kekhalifahan Islam terakhir.

Begitu dahsyatnya sebuah sistem pendidikan meruntuhkan peradaban besar Islam, Ottoman, yang sudah ada sejak abad 14M silam. Dari sistem pendidikan modern buatan kolonial ini lahirlah, Young Turk Movement, gerakan generasi pemuda Turki, yang cerdas, tersekolahkan namun minus agama dan akhlak. Generasi inilah sesungguhnya yang berjasa “menghabisi” kekhalifahan Turki.

Apa makna kisah di atas?

Bahwasannya jika ingin melihat kehancuran atau keruntuhan suatu bangsa atau suatu peradaban, maka laihatlah bagaimana kerusakan sistem pendidikannya.

Jika ingin menjadi sebuah bangsa atau peradaban yang mengalami perbudakan, maka rekayasalah sistem pendidikannya menuju perbudakan dan ketergantungan selamanya.

Maka untuk mengembalikan sebuah peradaban yang gemilang dan merdeka, bangunlah sistem pendidikan yang berorientasi peradaban yang mandiri dan merdeka.

Tentu yang dimaksud bukan pendidikan dalam arti sekolah setingginya agar banyak orang bergelar dan pandai. Tentu yang dimaksud bukan sembarang sistem pendidikan, namun pendidikan yang mampu membebaskan dan memerdekakan peradaban.

Tentu juga bukan pendidikan yang cuma berisi akumulasi penumpukan ilmu modern dan ilmu syariah, namun pendidikan yang mampu mengintegrasikan keseluruhannya dalam kerangka kerja yang berorientasi menumbuhkan dan membebaskan semua potensi fitrah yang Allah karuniakan menuju peran peran peradaban dengan semulia mulia akhlak.

Lihatlah mengapa banyak lembaga dan model pendidikan gagal melahirkan generasi peradaban yang tercerahkan dan terhidayahkan sehingga mampu memerdekakan dirinya dan peradabannya?

Itu karena lembaga dan model yang ada, masih berorientasi kepada materi muatan ilmu semata tanpa orientasi menumbuhkan potensi fitrah dan berujung kepada melahirkan peran peradaban sesuai fitrahnya itu.

Orientasi lembaga dan model yang ada umumnya adalah pengisian dan penjejalan ilmu sebanyaknya, secepat dan sedini mungkin, namun tanpa sadar sebenarnya hanya untuk menggiring anak anak kita menjadi kuli dan budak peradaban.

Janganlah menegakkan peradaban terbaik dengan meniru sistem pendidikan yang bertujuan menjajah peradaban itu sendiri.

Lalu bagaimana model pendidikan yang terbaik untuk mengembalikan peradaban yang cemerlang?

Upaya mengembalikan pendidikan yang membebaskan firrah (kodrat) dan berujung kepada pembebasan peradaban bukan tidak dilakukan setelah runtuhnya Turki Utsmani. Kita mengenal tokoh tokoh pendidikan untuk pembebasan peradaban di seantero dunia. Ada Hasan alBanna di Mesir, ada KH Ahmad Dahlan di Indonesia, Abul A’la Maududi di Pakistan dsbnya.

Tentu rujukan terbaiknya ada pada bagaimana Rasulullah saw membangun sistem pendidikan para Sahabat yang kita kenal dengan manhaj (metode) Tarbiyah (Penddikan).

Ali Abdul Halim Mahmud (1910-1978 M) – Syekh al-Azhar. Penulis Buku Perangkat Perangkat Tarbiyah Ikhwanul Muslimin, mengatakan bahwa:

“Tarbiyah adalah cara ideal dalam berinteraksi dengan fitrah manusia, baik secara langsung melalui kata-kata maupun secara tidak langsung dalam bentuk keteladanan, sesuai dengan sistem dan perangkat khusus yang diyakini, untuk memproses perubahan dalam diri manusia menuju kondisi yang lebih baik”

Jadi sistem pendidikan yang memerdekakan peradaban hanya ada apabila pendidikan mampu memerdekakan semua potensi fitrah anak anak generasi lalu memuliakannya dengan sistem hidup yang terbaik sehingga setiap anak generasi secara personal mencapai peran peradaban penebar rahmat dan pembawa berita gembira serta peringatan. Lalu secara komunal mencapai peran peradabannya sebagai khoiru ummah dan ummatan wasathon.

Seorang pendidik atau Murobby hendaknya memahami metode merawat dan menumbuhkan fitrah, bukan obsesi dan kepanikan menjejalkan anak anak kita dengan berbagai pengetahuan sedini mungkin.

“Katakanlah: tiap tiap orang itu beramal menurut bakat pembawaannya masing masing (Syaakilah). Maka Tuhanmu lebih mengetahui orang yang lebih benar dan lebih tepat jalan yang ditempuhnya” [al ishro 17:84]

Simak dan renungkanlah ucapan Syaikh Ali Hasan al-Halabi dari Syaikh Abdurrahman al-Albani dalam bukunya Madkhal Ila at-Tarbiyah fî Dhau`i al-Islam berikut ini:

“Murabbi/pendidik sebenarnya secara mutlak adalah Allah Subhanahu wa Ta‟ala, karena Dialah Al-Khaliq. Pencipta fitrah dan Penganugerah berbagai bakat manusia. Dia pula yang yang telah menyediakan jalan bagi tumbuh, berkembang, dan bekerjanya fitrah serta bakat-bakat manusia secara bertahap. Dia-lah yang telah menetapkan syariat agar fitrah-fitrah itu tumbuh semakin sempurna, bagus, dan menjadi berbahagia. Aktifitas seorang murabbi/pendidik harus mengikuti fitrah yang ditetapkan Allah, dan harus mengikuti syariat serta hukum-hukumAllah.”

Maka wahai para pendidik, wahai orangtua, wahai para perancang dan pendiri pendidikan, wahai para aktifis pendidikan, orientasikanlah pendidikan generasi kita kepada pembebasan peradaban.

Jika pendidikan berhasil membebaskan fitrah anak anak kita sesuai yang Allah kehendaki maka kelak mereka akan berhasil membebaskan dan menghebatkan peradabannya.

Berangkatlah, awalilah dengan mensyukuri dan memerdekakan semua karunia fitrah anak anak kita dan juga diri kita, lalu muliakanlah semua itu dengan aqidah yang lurus dan akhlak sehingga anak anak generasi mencapai peran peradabannya.

Semoga Allah swt menjadikan kita orang orang yang terpanggil untuk mengembalikan kegemilangan peradaban terbaik di muka bumi. Semoga generasi setelah kita menyaksikan peradaban yang merdeka dan menebar rahmat di muka bumi.

Salam Pendidikan Peradaban
‪#‎pendidikanberbasispotensi‬
‪#‎pendidikanberbasisfitrah‬danakhlak

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: