//
you're reading...
Creativity, Ekonomi, Entrepreneurship, Perubahan, Review

Minsky Moment dan Pentingnya faktor Pengungkit atau Engine Pendorong ditengah Perlambatan Ekonomi : Peran Entrepreneur dan Inovasi

Jusman Syafii Djamal
19 May 2015

Ada sebuah buku menarik judulnya : Stabilizing an Unstable Economy, karya Hyman P Minsky. Beliau adalah seorang ahli ekonomi murid dari Joseph Schumpeter dan Wassily Leontieff di Unvresitas California Berkeley Brown University dan Harvard Univesrity. Ia wafat tahun 1996. Di Wall Street orang menegenal apa yang disebut dengan Minsky Moment untuk mendeskripsikan titik balik pertumbuhan ekonomi untuk bangkit dari keadaan tertekan ketika ekonomi suatau wilayah seperti pesawat yang terbang dan berada dalam turbulensi. Sementara Pilot meminta penumpang untuk mengencangkan sabuk pengaman,pesawat terguncang guncang akan tetapi arah ketujuan bandara yang dimaksud tetap dipelihara.

Dalam situasi turbulensi, aliran Keyness merekomendasikan pendekatan untuk mengedepankan kebijakan moneter yang kadangkala dibarengi dengan stimulus fiskal. . Hal ini dimaksudkan ada suatu energi bagi sistem ekonomi suatu wilayah untuk memiliki kemampuan “counter cyclical”. Energi untuk membalikkan keadaan tertekan menjadi kembali ke posisi semula. Karenanya sebagai tindakan berjaga jaga Keynes selalu menganjurkan agar siste ekonomi yang diterapkan disuatu wilayah harus dapat lahirkan surplus budget ketika periode pertumbuhan. Surplus budget ini kemudian menjadi kekuatan cadangan ketika turbulensi ekonomi berlangsung, sehingga ada ruang maneuver untuk membawa siklus bisnis ke wilayah “soft landing” dan koreksi kebijakan ditengah perjalanan atau “mid course coorection” jika terjadi ketidak stabilan atau gangguan turbulensi.

Sementara Minsky mengusulkan pendekatan yang berbeda. Ia lebih menekankan pada ancaman bahaya yang dihadapi wilayah yang mengalami tekanan turbulensi ekonomi paling kuat. Wilyah ini biasanya akan menghadapi fenomena ketidak pastian aliran dana investasi. Yang tadinya akan diprediksi mengalami pertumbuhan akibat mengalirnya investasi, kini akan mengalami sengatan masalah. Dana investasi datang tidak sesuai jadwal. Atau investasi dibatalkan. Dan multiplier effectnya adalah gangguan aliran dana segar atau “cash flow” pada perusahan yang bergerak didaerah tersebut. Gangguan melahirkan apa yang disebutnya dengan “volatility of investment”.Suatu ketidak seimbangan atau volatilitas investasi.

Gangguan investasi ini akan dapat menyeret wilayah itu menjadi tertekan lebih dalam. Karena pada umumnya sebuah perusahaan yang sedang dalam fase investasi memerlukan kesinambungan aliran dana yang tak dapat dihentikan.

Jika tersendat maka investasi yang telah ditanam dalam bentuk gedung atau alat pralatan utama sebagai modal kebangkitan ekonomi dimasa depan, akan mangkrak dan jadi besi tua. Timbul kerugian. Dan tiap kerugian akan melahirkan “bleeding cash flow” yang sukar ditanggulangi jika terjadi akumulasi. Karenanya Minsky menganjurkan agar ketika suatu wilayah berada dalam situasi turbulensi, arah kebijakannya adalah pada “pengamanan investasi”. Pro pada investor. Keran kredit investasi dibuka. Insentif fiscal dikembangkan. Dan kebijakan moneternya sedikit diperlonggar agar likuiditas terjadi.

Buku Stabilizing the unstable economy menarik. Disini Minsky mencoba menjelaskan mengapa ekonomi suatu bangsa bisa amat rentan jika berhadapan dengan fluktuasi dan turbulensi. Juga digambarkan tentang bagaimana kemungkinan pilihan agar tiap wilayah ekonomu memiliki instrument untuk “mencontained” atau “memagari” perambatan fluktuasi yang terjadi. Minsky lebih memusatkan perhatian pada peranan “agent of change” ketimbang faktor faktor penyebab fluktuasi ekonomi yang terjadi. Minsky sepertinya tidak tertari pada sebab akibat adanya kejutan atau “shock” baik karena faktor diluar pengetahuan atau akibat “irrational excuberance”atau “foolish policy”.

Bagi Minsky proses yang menyebabkan “financial fragility” bersifat alamiah yang inherent ada sebagai kekuatan tersembunyi yang bekerja dalam sistem ekonomi suatu wilayah. Tiap wilayah ekonomi pasti secara alamiah akan mengalami pasang surut. Ada boost ada boom ada bust. Menggelembung dan mengkerut. Ini yang disebutnya sebagai “business cycle” yang bersifat alamiah. Siklus bisnis ini perlu diprediksi ada yang lima tahunan ada yang sepuluh tahunan. Tapi karena wilayah ekonomi kini tidak dapat diisolasi mungkin saja ada banjir kiriman yang menyebabkan suatu wilayah terganggu sabilitas ekonominya karena wilayah yang berdekatan dengannya mengalami gangguan. Dengan kata lain siklus naik turun itu juga kadangkala mengalami tekanan atau shick yang tiba tiba tanpa dapat diprediksi sebelumnya. Karena itu saat bilamana pasang atau pertumbuhan ada atau bilamana ia surut atau resesi muncul itu yang kadangkala sukar diramalkan secara tepat.

Dalam segala situasi Minsky lebih mengedepankan peranan inovasi dan daya entrepreneurship untuk mengambil resiko sebagai faktor penggerak utama dari Business Cycles. Kedua faktor ini yakni entrepreneurship dan innovasi harus dijadikan wahana pembangkit energi yang dapat membuat tiap fluktuasi dapat terkelola dengan baik. Inovasi dan entreprenuership mampu melahirkan energi yang membuat suatu wilayah mengalami pertumbuhan ekonomi, Inovasi dan entrepreneurship jugalah yang menjadi engine atau faktor pendorong yang memicu proses kebangkitan dari Dengan kata lain agent of change jauh lebih utama untuk dijadikan fokus kebijakan dibandingkan dengan upaya untuk memerangi fenomena pasang surutnya.

Ketika masa pertumbuhan ekonomi, entrepreneuship dan inovasi dapat menjadi faktor “destabilizing” yang mengungkit kearah positip . Keberanian entrepreneur mengambil resiko dengan melakukan investasi pada inovasi produk baru atau proses baru atau industry bari akan mengalirkan investasi pada masa depan.

At its core, the Minsky view was straightforward: When times are good, investors take on risk; the longer times stay good, the more risk they take on, until they’ve taken on too much. Eventually, they reach a point where the cash generated by their assets no longer is sufficient to pay off the mountains of debt they took on to acquire them. Losses on such speculative assets prompt lenders to call in their loans. “This is likely to lead to a collapse of asset values,” Mr. Minsky wrote.

Kegigihan menemukan jalan baru dan tatacara baru yang penuh resiko melahirkan pelbagai jenis investasi yang dianggap perlu bagi upaya percepatan dan perluasan wilayah pertumbuhan ekonomi, Investasi yang bervariiasi melahirkan moment pengerak perubahan situasi kondisi. Muncul factor pengungkit dan engine pertumbuhan ekonomi. Keaadan yang tadinya terasa nyaman dan stabil berubah menjadi seolah ada fluktuasi akibat terjadinya proses ekspansi. Situasi seolah menjadi tidak stabil atau sebaliknya jika ada perlambatan ekonomi, lahirnya entreneurship, mereka yang berani anmbil resiko dan kegigihan untuk lakukan ininovasi akan membawa kondisi tidak stabil menjadi stabil.

Karenanya Engine pendorong berupa entrepreneurship dan inovasi perlu terus menerus dipelihara melalui pelbagai kebijakan ekonomi yang diterapkan. Baik dikala kondisi normal maupun ada dalam tekanan.

Kondisi normal sering menimbulkan ransangan bagi mereka yang kreatip untuk melakukan investasi dan pelbagai inovasi serta keberanian untuk mengambil resiko. Tindakan ini seperti mengusik kondisi tenang itu dan menjadi pemicu gangguan kestabilan. Unusr fluktuasi naik turun dalam pertumbuhan muncul karena dua faktor utama yang digerakkan oleh “agent of change” dalam masyarakat baik sebagai insititusi maupun sebagai individu.

Melalui pendekatan ini Minsky melengkapi teori Keyness tentang “investment theroy of the cycle” atau teori investasi dalam siklus bisnis dengan “financial theory of investment” atau theory finansial investasi.

Dalam publikasinya ditahun 1950 hingga pertengahan tahun 1960 Minsky mengembangkan analisanya tentang Business cycles. Dalam tulisannya ia mengedepankan faktor utama penggerak business cycle adalah institusi. Yang disebut institusi adalah Pemerintah, Struktur Regulasi, Sistem dan Pranata Hukum serta Perusahaan. Ia berbeda dari Keyness yang lebih menekankan faktor moneter dan fiskal yang dirumuskan dalam model Investasi, Tabungan dan Money Supply yang tergambar dalam kurva IS – LM.Misky lebih tertarik untuk mengembangkan “multiple accelerator model” yang memberikan alternatip kemungkinan lahirnya “ledakan pertumbuhan ekonomi” atau tenaga pendorong kebangkitan ekonomi jika terjadi krisis.

Ia menyatakan Institusi memiliki energy yang cukup besar untuk memproduksi kemampuan untuk bangkit, tumbuh dan berkembang. Kedua Misnky juga menekankan pentingnya inovasi dari institusi finansial untuk ikut melahirkan model model pembiayaan investasi baik ketika suatu Bangsa berada dalam era pertumbuhan maupun dalam era menjelang krisis.

Membaca Minsky memang sukar. Apalagi jika seperti saya yang tak memiliki latar belakang ekonomi. Aka tetapi argumen argumen yang disajikannya kadangkala amat menarik untuk ditelusuri lebih lanjut. Sebab melalui penelusuran itu kita menjadi lebih optimis untuk menemukan solusi dari persoalan defisit yang kin terjadi. Melalui Minsky kita dapat mencari “loophole” atau celah bagaimana kita mampu memotog rantai kecenderungan “spiral down” atau pusaran siklus yang menyedot semua energi kita saat ini.

Pada saat ini seolah seperti sedang berada dalam pesawat terbang , kita semua terguncang guncang menghadapi turbulensi. Ada arus pusaran yang ditimbulkan oleh defisit neraca perdagangan,yang kemudian melahirkan arus pusaran harga dollar yang terus meningkat dan rupiah yang melemah.

Kedua arus pusaran utama itu telah mengganggu kehidupan rumah tangga dan disana sini telah menyentuh sendi sendi ketahanan ekonomi rumah tangga. Sebab kedua arus pusaran ini melahirkan arus pusaran berikutnya yakni kenaikan harga harga yang cenderung tak terkendali. Tak terkendali karena hukum supply and demand seolah tak berlaku.

Misal, ketika kita ingin mengurangi defisit neraca berjalan. Ada kecenderungan untuk melarang semua barang impor. Kita ingin menutup diri. Agar tidak terkena pengaruh dollar. Padahal struktur industri kita bahan bakunya boleh dikatakan 60% mengandalkan pasokan impor, agar pabrik atau rumah makan berjalan. Ambil contoh industri hotel dan retoran, tak mungkin kedap dari aliran bahan baku makanan impor. Entah itu daging, kedelai maupun minuman. Jika dilarang maka restoran tutup. Ditengah kenaikan nilai dollar tentu saja, Meski ada intervesnsi pasokan daging atau pasokan kedelai, tetap saja kedua komoditi itu terasa langka dan harga cenderung lebih mahal. Kedua komoditi itu merupakan barang modal bagi Pedang Rumah Makan Padang dan Pedagang Tahu dan Tempe.

Turunan akibat dari hal itu, Kenaikan harga tak dapat dibendung. Dan ini semua akan menyebabkan modal operasional terkuras dan investasi masa depan tersendat. Terjadi aliran cashflow atau aliran dana segar yang tersendat pada level mikro di wilayah ekonomi pedagang kecil rumah tangga seperti pedagang tahu tempe dan rumah makan padang.

Karenanya setiap kecendrungan yang melahirkan kelangkaan komoditi tahu tempe , atau kelangkaan barang lainnya dipasar, yang ikut mempengaruhi harga semua bahan kebutuhan pokok perlu diwaspadai. Ada minsky moment disana. Ada wilayah yang bisa terganggu tekanan turbulensi ikutan yang menyebabkan semua bahan kebutuhan pokok merangkah naik harganya.

Kenaikan harga membawa aliran daya beli rumah tangga merosot kebawah. Uang belanja menjadi semakin tidak cukup memenuhi kebutuhan hidup. Ibu Ibu rumah tangga mulai pusing memikirkan cara untuk mengelola anggaran rumah tangga, sebab semua harga naik secara perlahan.

Jika dibiarkan terus Masyarakat akan berada pada kondisi ekonomi di level yang lebih rendah dibanding sebelumnya. Karenanya Siklus spiral down ini perlu dihentikan. bagaimana caranya ?

Ini yang mungkin disebut sebagai Minsky Moment. Karenanya ada baiknya buku ini dibaca ulang kembali untuk melahirkan pilihan yang lebih terbuka agar kita semua kembali mengalami proses “stabilizing of an unstable economy”.

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: