//
you're reading...
Pendidikan, Perubahan

Pendidikan Mengantarkan Bangsa Menjadi Semakin Unggul

Imam Suprayogo
February 19, 2015

Akhir-akhir ini terkait kebijakan pendidikan nasional ramai dibicarakan tentang kurikulum. Kebijakan pendidikan yang dibuat oleh Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Prof. Mohammad Nuh di akhir masa jabatannya, khusus terkait dengan pembaharuan kurikulum, ternyata tidak berkelanjutan secara penuh. Anies Baswedan sebagai menteri pendidikan pelanjutnya, mengambil kebijakan setengah-setengah, yakni membolehkan sebagian sekolah kembali ke kurikulum sebelumnya, dan sebagian lagi lainnya dipersilahkan mengimplementasikan kurikulum 2013 dimakkud.

Memperbaiki kualitas pendidikan melalui perbaikan kurikulum dilihat dari beberapa aspek memang penting dan strategis. Sebab berbicara pendidikan tidak akan mungkin sama sekali meninggalkan perbincangan tentang kurikulum. Hanya persoalannya adalah, apakah kurikulum sepenuhnya dan bahkan hingga cara mengajarnya harus ditentukan oleh seorang menteri, adalah yang perlu diperincangkan. Manakala semua hal terkait pendidikan hingga yang bersifat teknis sekalipun diambil oleh pejabat tertinggi, maka apa yang tersisa dan menjadi bagian yang harus dipikirkan oleh pejabat teknis.

Para ahli pendidikan dan juga ahli ilmu-ilmu sosial mengatakan bahwa manusia bukan benda mati. Makhluk hidup terbaik, atau ahsanut taqwiem, terdiri atas bagian fisik berupa jasmani dan dilengkapi dengan akal, qalb dan nafsu. Baik bagian fisik maupun bagian yang bersifat lunak itu tidak bisa diseragamkan, oleh karena manusia itu adalah unik. Masing-masing orang pasti berbeda dari lainnya. Pembawaan dan faktor lingkungan yang berpengaruh juga berbeda-beda hingga melahirkan keunikan itu. Secara sederhana dan mudah perbedaan itu bisa digambarkan bahwa anak petani berbeda dengan anak pedagang, dan berbeda pula dengan anak pengrajin, pelaut, dan seterusnya. Menyamakan sesuatu terhadap yang senyatanya berbeda adalah sebuah kekeliruan yang tidak boleh terjadi.

Pendidikan seharusnya dimaknai sebagai piranti untuk membangun bangsa ke depan. Perbincangan yang seharusnya dikembangkan bukan sekedar terkait hal teknis seperti kurikulum, pelaksanaan ujian nasional, ijin penyelenggaraan pendidikan, dan sejenisnya. Pada tataran staregis perbincangan pendidikan seharusnya menyangkut hal-hal besar, luas, dan mendasar yang kemudian seharusnya dituangkan dalam kebijakan-kebijakan untuk diimplementasikan pada tataran teknis. Pejabat di tingkat menteri, seharusnya tidak terlalu masuk pada wilayah yang bersifat teknis itu. Persoalan kurikulum, ujian nasional, dan kelengkapan lainnya, akan menjadi lebih berkualitas jika diserahkan kepada para pelaksana, yaitu para kepala dinas dan juga kepala sekolah masing-masing.

Para pengambil kebijakan yang bersifat strategis, seharusnya mengambil posisi strategis pula. Pendidikan yang berada pada suasana atau zaman perubahan yang semakin cepat seperti sekarang ini, persaingan yang semakin ketat, tuntutan kualitas yang tidak mungkin bisa dihindari, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi semakin dahsyat, maka semua itu menuntut adanya kebijakan-kebijakan strategis untuk menjawabnya. Kekeliruan di dalam mengambil kebijakan, maka bangsa ini akan semakin tertinggal dari hiruk pikuk kemajuan bangsa lainnya. Selain itu, kebijakan yang bersifat seragam, tunggal, dan terpusat akan mempersempit peluang, terutama dari para pejabat teknis, untuk mengembangkan kreatifitasnya. Para pejabat tingkat teknis, seperti kepala dinas, kepala sekolah dan hingga guru, perannya hanya sebatas pelaksana, pengikut, dan bahkan menjadi tukang yang seolah-olah dilarang berpikir dan berjiwa kreatif.

Padahal bangsa unggul adalah bangsa kreatif. Sementara kreatifitas itu adalah hanya akan lahir dari berbagai tantangan yang dihadapi sehari-hari. Pembatasan kewenangan oleh karena tidak adanya kepercayaan, apapun alasannya, hanya akan menjadikan banyak orang tidak tertantang dan itulah sebenarnya yang menjadi sebab masyarakat bersifat apatis, kurang kreatif, dan bahkan menjadi terbodohkan dengan sia-sia. Fenomena itu bisa dilihat di berbagai wilayah di negeri ini. Para pejabat menunggu petunjuk, juklak, juknis, dan bahkan atas kerjanya mereka harus membuat laporan kegiatan hingga berelebihan, padahal semua itu tidak digunakan, kecuali sebatas sebagai bahan dokumentasi yang juga beresiko memenuhi gudang belaka.

Pendidikan harus menjadikan semuanya semakin cerdas. Hanya dengan kecerdasan itulah bangsa ini akan mampu bersaing dengan bangsa-bangsa lain di dunia ini. Berbekalkan kecerdasan itulah bangsa ini akan mampu hidup mandiri, bertanggung jawab, gagah perkasa, dan diharapkan berhasil memenangkan persaingan dalam kehidupan global sekarang ini. Bangsa yang dituntun-tuntun dengan berbagai dalih hanya akan memperlemah mental, intelektual, dan spiritualnya. Jika pendidikan diinginkan menjadi kekuatan modal bersaing di masa depan, maka harus ada keberanian memperlonggar birokrasi pendidikan. Berilah kebebasan kepada para pelaksana pendidikan tentang hal-hal yang bersifat teknis implementatif. Kebebasan itulah yang akan melahirkan kreatifitas, kecerdasan, dan ketangguhan yang dibutuhkan oleh semua orang dalam kehidupan yang semakin terbuka dan modern sebagaimana sudah semakin jelas kita rasakan sekarang ini. Wallahu a’lam.

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: