//
you're reading...
Motivasi, Pendidikan, Perubahan, Review

Andaikan Pesantren Mengajarkan Sains

Imam Suprayogo
February 25, 2015

Perasaan prihatin terhadap kondisi umat Islam sudah muncul di mana-mana. Lewat berbagai pertemuan, sillaturrahmi, atau kegiatan apa saja banyak dibicarakan bahwa kondisi umat Islam mengalami ketertinggalan baik di bidang ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi, politik, sosial, pendidikan, dan lain-lain. Kesadaran tersebut menjadikan sementara tokoh Islam gelisah dan berusaha mencari jalan keluar untuk mengatasinya.

Kehidupan di dunia ini memang selalu dihiasi dengan persaingan, kompetisi, dan bahkan juga perebutan. Siapapun yang kuat, sebagaimana tulisan saya pada hari kemarin, maka mereka itulah pemenangnya. Rupanya, ——disadari atau tidak, umat Islam sejak lama tidak memasuki wilayah persaingan dan perebutan itu.

Perlu disadari bahwa persaingan yang terjadi sekarang ini adalah dalam wilayah ilmu pengetahuan dan teknologi. Mereka yang menguasai kedua hal tersebut mampu menghimpun kekuatan luar biasa. Kita lihat, bangsa-bangsa yang kuat di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, mereka berhasil menguasai ekonomi, social, politik, pertahanan, dan lain-lain.

Sementara itu umat Islam seakan-akan tidak peduli pada pengembangan kedua hal dimaksud. Lembaga pendidikan Islam di mana-mana belum menyentuh pada persoalan sains dan teknologi. Hal demikian itu, tidak saja terjadi di Indonesia, melainkan juga di berbagai negara Islam lainnya. Tatkala umat Islam mengembangkan lembaga pendidikan, hingga pendidikan tinggi sekalipun, sementara ini masih sangat terbatas jumlahnya yang berusaha mengembangkan bidang ilmu yang menjadi tolok ukur kemajuan itu.

Di mana-mana, ketika umat Islam belajar dan juga membangun lembaga pendidikan, maka yang dicari dan atau dibangun adalah apa yang selama ini disebut ilmu “agama”. Sedangkan yang dimaksud ilmu agama adalah meliputi ilmu tauhid, ilmu fiqh, akhlak dan tasawuf, tarekh, dan sejenisnya. Tentu, pandangan seperti itu sama sekali tidak salah. Akan tetapi , lewat al Qur’an, umat Islam sebenarnya juga dianjurkan untuk mengkaji ciptaan Allah, baik di langit maupun di bumi. Maka artinya, umat Islam, melalui kitab sucinya, juga diperintah untuk mengkaji ilmu-ilmu alam, ilmu-ilmu sosial, dan humaniora.

Berbagai jenis keilmuan yang disebut terakhir itu, amat terasa sekali, umat Islam masih belum terlalu banyak yang berusaha mengembangkannya. Lembaga pendidikan Islam yang mengkaji ilmu fisika, kimia, biologi, sejarah, sosiologi, psikologi, dan lain-lain masih terbatas jumlahnya. Di Indonesia sejak beberapa tahun terakhir, muncul perkembangan yang amat melegakan. Sekalipun jumlahnya belum seberapa, sudah mulai tumbuh lembaga pendidikan yang mengajarkan sains dan teknologi sebagaimana dimaksudkan itu, melalui madrasah dan juga perguruan tinggi Islam.

Umat Islam pada akhir-akhir ini, sudah mulai memiliki madrasah yang memberikan pelajaran tentang sains dan ternyata unggul. Untuk menyebut beberapa contoh, yaitu Madrasah Insan Cendekia di Serpong dan di Gorontalo. Selain itu, di beberapa kota juga muncul madrasah unggul, seperti di Malang, di Yogyakarta, Jakarta, dan di beberapa kota lainnya. Madrasah yang memiliki kelebihan itu, ternyata menjadi rebutan masyarakat. Demikian pula di tingkat perguruan tinggi, pada akhir-akhir ini ada perubahan kelembagaan dari bentuk STAIN dan IAIN menjadi UIN.

Khusus menyangkut pendidikan tinggi Islam tersebut, ketika sudah berubah bentuk menjadi universitas, atau UIN, maka kewenangannya bertambah. Lembaga pendidikan tinggi dimaksud boleh membuka fakultas sains dan teknologi. Akan tetapi, perubahan tersebut juga masih ada dari sementara kaum muslimin sendiri yang meragukan akan manfaatnya. Perubahan itu dikhawatirkan akan mengurangi kualitas kajian Islam yang seharusnya dikembangkan. Sedangkan yang dimaksud lingkup kajian Islam yang dimaksudkan itu adalah sebagaimana yang selama ini dipahami, yaitu ilmu ushuluddin, syari’ah, tarbiyah, adab dan dakwah. Sementara itu, ilmu kedokteran, termasuk juga sains, sekalipun secara jelas diperintahkan di dalam al Qur’an agar dipelajari, ternyata belum dipahami sebagai bagian keilmuan Islam.

Rupanya setiap perubahan, termasuk perubahan dalam memandang wilayah keilmuan, ternyata harus memerlukan waktu lama. Kiranya nanti, entah kapan, jika keberadaan UIN di beberapa kota, ———sekarang ini di seluruh Indonesia sudah ada 11 buah, berhasil menunjukkan bahwa perubahan kelembagaan itu, ternyata kajian Islam justru semakin maju, maka akan segera diterima dan bahkan diidolakan oleh umat Islam sendiri. Selama ini, saya berkeyakinan, bahwa pada saatnya nanti, melalui UIN akan lahir ilmuwan muslim yang akan mampu menjawab persoalan besar sebagaimana dikemukakan di muka.

Bahkan, dari melihat keunggulan tradisi keilmuan yang ada di pesantren, saya menjadi berpikir, seumpama di pesantren-pesantren tertentu yang sudah mapan, para santri mulai diajarkan sains———fisika., kimia, biologi, sosiologi, psikologi, dan lain-lain, maka dari pesantren akan lahir para sainstis muslim yang handal. Optimisme itu muncul oleh karena siapapun yang belajar ke pesantren tidak pernah memikirkan dan apalagi mengejar ijazah atau sertifikat yang akan diterima. Para santri belajar di pesantren hanya untuk memperoleh ilmu. Berbekalkan niat dan atau motivasi seperti itu, maka dari lembaga pendidikan Islam tradisional itu justru akan lahir ilmuwan Islam yang sebenarnya.

Wallahu a’lam.

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: