//
you're reading...
Human being, Lingkungan, Motivasi, Pendidikan, Perubahan, Renungan

Renungan Pendidikan #46

Harry Santosa – Millenial Learning Center

‪#‎bercerita‬, ‪#‎bernarasi‬, ‪#‎bertutur‬

Sepanjang sejarah, kita temukan bahwa bercerita, bernarasi dan bertutur adalah aktifitas tertua untuk mewariskan pengetahuan dan nilai nilai antar generasi.

Dalam sebuah penelitian bawah laut di Austalia ditemukan gugusan pulau pulau yang dahulu berada di permukaan air. Yang mengejutkan bukan itu, tetapi informasi tentang keberadaan pulau pulau itu tersimpan dalam cerita yang disampaikan turun temurun secara lisan pada suku Aborigin selama 10.000 tahun dalam beberapa ratus generasi.

Namun fungsi bercerita, bernarasi dan bertutur, lebih jauh lagi bukan hanya untuk mewariskan pengetahuan dan nilai tetapi juga kepada menggerakkan masa untuk perubahan.

Cerita, narasi atau tutur biasanya disampaikan oleh para pemimpin atau ulama atau Rasul yang diutus pada suatu kaum atau suku bangsa. Para pemimpin hebat sepanjang sejarah adalah orang orang yang piawai bercerita, benarasi dan bertutur yang mampu menggerakan manusia untuk membuat perubahan yang lebih baik bagi bangsa dan peradaban.

Para pencerita, penarasi dan penutur sepanjang sejarah adalah para arif bijaksana, merekalah kearifan berjalan atau akhlak berjalan yang diilhamkan begitu banyak hikmah dan bahkan diantaranya diwahyukan ajaran langit.

Merekalah yang mengkonstruksi peradaban melalui cerita hebat, narasi besar dan tutur indah yang menggugah jiwa, menggerakkan hati dan raga pada kaum atau suku bangsa itu untuk melakukan perubahan ke arah peradaban yang lebih baik.

Proses selanjutnya dari Cerita hebat kepahlawanan, Narasi besar martabat peradaban dan Tutur indah sastrawi keberanian dan keharmonian ini adalah kemudian disampaikan kepada anak anak generasi baru, dalam satuan pendidikan terkecil di dalam suku bangsa tersebut. yaitu keluarga keluarga, melalui ayah ataupun ibu mereka.

Sampai sini, kita bisa memahami pentingnya bahasa ibu. Maka agar pesan, makna dan ekspresi dari cerita, narasi dan tutur sampai dengan kuat maka harus disampaikan secara lisan dalam bahasa Ibu atau bahasa natif atau bahasa penutur asli di suku bangsa tersebut.

Mengapa lisan? Karena cerita, narasi dan tutur yang disampaikan dengan lisan lewat berceria, bernarasi dan bertutur, umumnya lebih mudah diingat dalam waktu panjang bahkan seumur hidup karena menghadirkan kesan dan imajinasi yang mendalam, nalar yang logis, terekam dalam gerak atau muscle memory dstnya.

Ada suasana kejiwaan dan emosional yang terlibat, ada kedekatan yang terbangun antara penutur dan pendengar, ada komunikasi yang terjalin baik mata, telinga, rasa dsbnya, Ini semua melampaui yang bisa dicapai oleh multimedia interaktif manapun.

Tentu saja bukan sembarang cerita, bukan asal narasi, bukan sekedar bertutur, namun ambilah dari cerita cerita hebat kepahlawanan yang menginspirasi gerakan, dari narasi narasi besar kebanggan, kehormatan dan peran peran besar dalam sejarah yang menggugah kesadaran, dan tutur tutur indah sastrawi yang membangkitkan keberanian dan menggetarkan kalbu perjuangan.

Maka kita bisa renungkan bahwa bukan kebetulan dan bukan ketidaksengajaan, ketika Allah swt menghadirkan agama akhir zaman di kalangan bangsa Arab yang memiliki budaya bercerita kepahlawanan, bernarasi kebanggaan, bertutur keindahan cinta dan akhlak. Ada banyak hikmah.

Lihatlah ketika budaya bercerita, bernarasi dan bertutur dalam bangsa Arab yang dikenal jahiliyah, terbelakang secara intelektual bertemu dengan Kitab dan Hikmah dari seorang Nabi akhir zaman maka sejarah mencatat perubahan luar biasa pada bangsa Arab sehingga melahirkan peradaban besar, sebuah peradaban yang tentu saja berangkat dari cerita hebat, narasi besar dan tutur indah yang diwarnai api tauhid dari Kitab dan Hikmah yang dibawa sang Nabi akhir zaman.

Kitab dan Hikmah itu sendiri merupakan cerita hebat, narasi besar dan tutur sastrawi yang indah.

Diantara hikmah dari diturunkannya agama akhir zaman pada bangsa Arab yang gemar sastra adalah bahwa sampai hari ini ternyata bercerita, bernarasi dan bertutur adalah keniscayaan hingga akhir zaman. Dunia hari ini mengakui kekuatan luar biasa dari cerita, narasi dan tutur maupun dari aktifitas bercerita, bernarasi dan bertutur terhadap perubahan perubahan kepada peradaban yang lebih baik.

Tidak ada satu segmen kehidupanpun pada hari ini, yang tidak membutuhkan cerita hebat, narasi besar dan tutur yang indah. Anda membangun produk, membangun politik, membangun negara, membangun ekonomi dsbnya memerlukan orang orang yang bergerak secara fikiran, perasaan dan perbuatan yang berangkat dari cerita hebat, narasi besar dan tutur indah. Apalagi mendidik anak dan keluarga.

Hari ini seolah rumah rumah kita sepi dari cerita hebat, narasi besar dan tutur indah. Seolah semua cerita, narasi dan tutur tergantikan dengan dikirmnya anak anak kita ke sekolah. Seolah bercerita, bernarasi dan bertutur adalah pekerjaan guru guru di sekolah, bukan amanah ayah dan bunda di rumah.

Berapa sih waktu yang disisihkan guru untuk bercerita, bernarasi dan bertutur dibandingkan dengan target target calistung dan akademis?

Maka berceritalah kepada anak anak kita dengan cerita hebat yang menginspirasi amal hebat, bernarasilah dengan narasi besar yang mendorong peran besar dan bertuturlah dengan tutur indah yang mengilhamkan sikap penuh rahmat dan harmoni indah. Bercerita, bernarasi dan bertutur adalah pekerjaan para Nabi.

Cerita hebat, narasi besar dan tutur indah hanya berangkat dari Kitab dan Hikmah dari Zat yang Maha Hebat, Maha Besar dan Maha Indah.

Jangan jadikan kitab dan hikmah hanya sebagai kumpulan text yang diingat dan sama sekali tidak mampu menggugah jiwa, menggerakkan amal kebaikan dan meretas perubahan peradaban yang merdeka dan mandiri, karena kita tidak pernah menceritakannya dengan cerita hebat di dalamnya, karena kita tidak pernah menarasikannya dengan narasi besar, karena kita tidak pernah menuturkannya dengan tutur yang indah.

Berceritalah, bernarasilah, bertuturlah kepada anak anak kita dengan ikhlash, ridha dan penuh cinta, karena jiwa jiwa mereka akan bangkit bergairah, ruhiyah mereka akan hidup menyala, fitrah mereka akan tumbuh subur.merekah. Agar mereka menjadi generasi terbaik (khoiru ummah) dan pertengahan (ummatan wasathan) pada zamannya.

Salam Pendidikan Peradaban

‪#‎pendidikanberbasispotensi‬
‪#‎pendidikanberbasisfitrah‬ dan akhlak

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: