//
you're reading...
Human being, Motivasi, Pendidikan, Perubahan, Renungan

Renungan Pendidikan #45

Harry Santosa – Millenial Learning Center

Ada pertanyaan menarik, mengapa peran parenting seolah dipersepsikan hanya sebagai peran ibu.

Barangkali kita bisa punya jawaban yang berbeda, tetapi yang pasti para ibulah yang selalu tergopoh gopoh melakukan sesuatu bila terkait dengan pengasuhan anak, sejak mengajarkan ini itu, stress bila anaknya begini begitu, selalu wajib mengambil rapot, dipanggil ke sekolah karena anaknya begini dan begitu, sibuk ikut seminar parenting ini dan itu dstnya.

Lantas kemana Ayah? Ayah nampak bak burung Flamengo, nampak anggun di singasananya, sedikit sekali bicara pendidikan, otaknya penuh dengan bisnis dan pekerjaan, banyak mengamati seperti pengamat politik atau komentator bola, tidak jarang diantara mereka yang hanya tahu banyak komplain namun tidak pernah punya visi yang jelas tentang pendidikan.

Sebagian lagi memandang keluarga mirip manajemen di kantor, semua harus serba sistematis, serba terstrukur, hanya berlaku kaidah “if only if” dstnya. Dia fikir anak dan istrinya adalah spreadsheet atau baris baris code program atau SOP atau segepok prosedur yang bisa dijalankan sesuai instruksi.

Padahal mendidik adalah perkara seni berinteraksi dengan fitrah dan manusia yang kompleks, bukan dengan mesin. Mendidik tidak selalu punya formula yang sama untuk setiap anak, setiap kasus, bahkan berbeda antar tiap keluarga.

Mereka, para ayah nampak kaku, sesekali mau juga ikut seminar parenting namun sedikit malas malasan, apalagi Sabtu adalah hari paling bersejarah untuk tidur seharian atau menonton TV seharian melepas kepenatan kerja. Biasanya yang mau ke Seminar Pendidikan atau Parenting adalah kelompok yang istrinya lebih dominan atau lebih galak. Jarang kita temui para ayah antusias dengan pendidikan.

Usut punya usut ternyata ada miskonsepsi tentang memandang Parenting. Umumnya parenting dianggap sebagai pengajaran bukan pendidikan. Maka, secara Ibu adalah Madrasah, tempat mengajar, lantas peran parenting langsung dinisbatkan sebagai peran ibu.

Pendidikan dan pengajaran adalah dua arus yang berbeda. Pendidikan adalah menumbuhkan fitrah (inside out) anak anak kita sehingga mencapai peran peradabannya, sementara pengajaran adalah pengisian skill dan knowledge (outside in) agar tahu dan terampil. Pengasuhan atau parenting adalah bagian dari pendidikan, yaitu upaya menumbuhkan dan merawat fitrah atau inside out

Jadi pahamilah bahwa parenting bukanlah pengajaran atau persekolahan, dia bagian dari pendidikan, karena bagian juga dari upaya menumbuhkan fitrah anak anak kita sehingga mencapai peran peradabannya.

Maka aneh jika ada penggiat parenting yang membuat persekolahan yang isinya pengajaran untuk anak anak, karena sejatinya parenting adalah justru mengembalikan peran sejati pendidikan ayah dan bunda di rumah dan di jamaah.

Miskonsepsi bahwa parenting adalah peran ibu, bermula dari persekolahan yang mengidentikan dirinya dengan pendidikan. Maka semua bentuk pengajaran dianggap sebagai pendidikan. Maka begitupulalah nasib Parenting, dia masuk ke ranah pengajaran, padahal bukan.

Maka tak pelak, peran Parenting bukanlah peran Ayah, tetapi peran Ibu.

Tapi coba ubahlah cara pandang begitu. Lihatlah parenting sebagai pendidikan maka kita akan segera menemukan kecemerlangan peran Ayah yang nampak menjadi begitu besar.

Maka kita bisa segera paham dan menerima mengapa bertebaran dalam alQuran, Ayah Ayah yang diabadikan alQuran adalah Ayah yang sedang menjalani peran pendidikannya dan memiliki visi pendidikan yang kokoh.

Lihatlahlah bagaimana Ayah Luqmanul Hakim, menasehati anaknya tentang Aqidah. Lihatlah bagaimana wasiat Ayah Yaqub as tentang aqidah kepada anak anaknya dsbnya. Maka kita bisa paham bahwa aqidah ada di ranah peran Ayah, sementara proses menumbuhkan aqidah atau fitrah keimanan ada di ranah pendidikan bukan pengajaran.

Maka kita bisa paham dan segera nyambung dengan doa seorang Ayah bernama Ibrahim as, yang memohon kepada Allah agar menjadikan keluarga dan anak keturunannya sebagai Mutaqina Imama, pemimpin orang2 yang bertaqwa. Karena visi menjadikan anak dan keturunan sebagai pemimpin orang yang bertaqwa adalah visi pendidikan bukan visi pengajaran.

Dari visi pendidikan dan peran pendidikan yang besar dari sang Ayah inilah kemudian para Ibu menurunkannya menjadi pengajaran yang relevan dengan visi pendidikan tsb, baik di rumah maupun di jamaah atau komunitas.

Mari para Ayah, kembalilah ke peran pendidikanmu, maka engkau akan segera berubah menjadi ayah tampan luar dalam, yang bukan cuma dianggap bagai kuda pencari nafkah tetapi para ayah berkelas Nabi, yang bervisi pendidikan setara Nabi, para ayah peradaban, para ayah yang bervisi menjadikan anak dan keturunannya sebagai pemimpin orang yang bertaqwa.

Salam Pendidikan Peradaban
‪#‎pendidikanberbasispotensi‬
‪#‎pendidikanberbasisfitrah‬ dan akhlak

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: