//
you're reading...
Human being, Lingkungan, Motivasi, Renungan

Antara Kepentingan Ekonomi Dan Kesalehan Sosial

Imam Suprayogo
May 15, 2015

Dalam hidup ini orang pasti membutuhkan kecukupan ekonomi. Tanpa kecukupan ekonomi maka seseorang akan bagaikan mobil kekurangan bahan bakar. Mobil itu tidak akan bisa berjalan, dan akhirnya tidak akan nyampai tujuan. Demikian pula seseorang harus berkecukupan harta sebagai bekal hidup. Maka artinya, betapapun harta menjadi sangat penting.

Tanpa ada sumber ekonomi yang memadai, orang lantas akan menggantungkan kepada orang lain. Padahal siapapun seharunya mandiri dan tidak boleh menjadi tanggungan orang lain. Dalam ajaran Islam disebutkan bahwa tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Orang yang sanggup memberi adalah lebih mulia dibanding orang yang diberi. Umat Islam dianjurkan untuk menjadi pemberi dan bukan sebaliknya, menjadi pihak yang diberi.

Dalam kehidupan sehari-hari, banyaknya harta ternyata selalu dijadikan indikator harga diri atau martabat seseorang. Orang yang banyak hartanya biasanya dihormati orang, dan demikian pula sebaliknya. Seseorang yang datang pada sebuah pertemuan, maka penghormatan yang diberikan akan didasarkan pada jumlah hartanya. Seorang kaya, yang ditunjukkan dari keadaan pakaian yang dikenakan, kendaraan yang dibawa, dan lainnya, maka orang dimaksud akan diberikan penghormatan lebih, misalnya dipilihan tempat duduk yang dianggap terhormat.

Sebaliknya orang miskin, biasanya tidak mendapatkan perhatian dan apalagi penghormatan. Tatkala orang miskin datang, biasanya tidak banyak yang menyapa. Mau duduk saja, orang miskin tidak ada yang mempersilahkan, mereka harus memilih tempat duduk sendiri, asalkan tidak menduduki tempat yang dipersiapkan bagi orang yang dianggap penting, termasuk orang kaya. Akhirnya orang miskin yang tidak memiliki kelebihan, kecuali kemiskinannya itu, maka tidak akan dihormati dalam kehidupan social.

Betapa pentingnya harta kekayaan itu, sehingga orang dalam kehidupannya sehari-hari hanya mencari rizki untuk menambah kekayaannya. Dalam soal rizki, ternyata orang tidak pernah merasa cukup, dan juga tidak akan pernah berhenti mencarinya. Sepanjang masih ada peluang dan atau kemungkinan, mereka bersedia melakukan apa saja, termasuk cara-cara yang sebenarnya tidak pantas dilakukan, misalnya korupsi, oleh karena pasti merugikan orang lain, masyarakat, dan bahkan negara.

Memandang harta sebagai sesuatu yang amat penting, berharga, dan bahkan dijadikan ukuran terhadap tingkat derajad seseorang, maka akan menjadikan masyarakat tidak memiliki sosidaritas social. Konsep tentang kesalehan social yang sedemikkian indah tidak akan pernah bisa diimplementasikan oleh karena masyarakat bersifat hedonis, materialis, dan atau terlalu mencintai harta kekayaan. Ukuran keberhasilan hidup bukan lagi dilihat dari ketakwaan dan keluhuran akhlak seseorang, melainkan dari jumlah harta kekayaan yang dikuasainya. Oleh karena itu, di tengah-tengah masyarakat sebagaimana disebutkan di muka, maka apa yang disebut dengan konsep kesalehan social tidak mudah dicari buktinya.

Masyarakat hedonistik dan materialistik akan menganggap bahwa harta kekayaannya masih selalu dirasakannya kurang, atau masih belum berhasil menang dibandingkan dengan milik pesaingnya. Sekalipun harta yang dimilikinya itu sudah melimpah, maka tidak akan berhenti mencarikan tambahan. Dalam al Qur’an disebutkan bahwa orang tidak akan berhenti menumpuk harta hingga yang bersangkutan masuk ke liang kubur. Hartanya sudah berlimpah, dan kemampuannya untuk menggunakan juga sudah terbatas, tetrapi semangatnya untuk mencari tambahan dan atau menjadi lebih kaya lagi tidak pernah berhenti.

Jika pada akhir-akhir ini banyak orang mulai merasa gelisah oleh karena semakin lebarnya jarak kesenjangan social, banyaknya orang yang menderita kemiskinan, langkanya lapangan kerja, orang miskin semakin miskin, banyak orang frustarasi, terjadinya korupsi, terorisme, manipulasi, pembegalan dan sebagainya, maka sebenarnya hal itu disebabkan oleh karena sifat tamak, jiwa materialis, atau adanya orang yang berkelebihan dalam mencintai harta. Pada hakekatnya, sebab utama terjadinya penyakit masyaraat adalah adanya sifat tamak dan kecintaan terhadap harta yang berlebihan itu.

Oleh karena itu kepentingan ekonomi yang berlebihan akan menjadikan kesalehan social di tengah masyarakat tidak mudah diwujudkan. Secara empiris gejala dimaksud bisa disaksikan oleh siapapun di setiap saat. Bisa dilihat bahwa orang yang tamak dan berlebihan dalam mencintai harta, sekalipun kekayaannya sudah melimpah, mereka masih saja membuka usaha tanpa memperhatikan lingkungannya. Berbagai mall, pasar modern didirikan di mana-mana. Padahal akibatnya, usahanya itu akan membunuh berbagai jenis usaha kecil yang telah ada sebelumnya. Akhirnya, kehidupan masyarakat bagaikan di laut lepas, yaitu ikan-ikan kecil tidak saja kehilangan sumber makanan, melainkan justru dihirup oleh ikan raksasa atau Hiu.

Dalam keadaan seperti itu, pemerintah seharusnya, —–dengan berbagai kewenangan dan kekuasaannya, berpihak kepada rakyat kecil yang tidak berdaya. Ikan-ikan besar yang selalu mengganggu ikan kecil, seperti teri dan atau nener, harus dihalau hingga menjauh. Sebaliknya, akan sangat membahayakan rakyat, manakala misalnya, pemerintah justru berpihak pada ikan hiyu atau ikan raksasa. Memang benar, bahwa berpihak pada pengusaha atau pemodal besar akan membuka lapangan kerja secara luas. Akan tetapi, jika hal itu dilakukan secara bebas justru akan membunuh kehidupan rakyat kecil, sehingga seharusnya dihindari. Kemampuan melindungi kehidupan rakyat kecil dan lemah itulah yang ditunggu, sebagai bentuk kesalehan social.

Wallahu a’lam

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: