//
you're reading...
Creativity, Ekonomi, Kajian, Kemandirian, Perubahan

Uncertainty, Creative Destruction dan Inovasi ditengah Perlambatan Ekonomi.

Jusman Syafii Djamal
May 14, 2015

Bagi sebagian masyarakat perlambatan ekonomi pastilah melahirkan suasana ketidakpastian. Harga kebutuhan pokok yang terus naik. Biaya produksi yang meningkat 30% dan Revenue yang merosot 20 % . Pasar yang menyempit. Kecenderungan ini akan masuk dalam “Boardroom”, ruang rapat di kantor kantor perusahaan. Ada debat dalam banyak rapat perusahaan. Semuanya tiba pada satu pertanyaan :”apakah perlambatan ini ekonomi ini bersifat permanen ? Gejala lokal atau gejala global ? Sampai kapan ia berlangsung ? Satu tahun atau dua tahun ? Atau gejala perlambatan ini menunjukkan satu fenomena akan kekadaluarsaan produk dan teknologi yang kita kuasai ? Atau fenomena pasar yang sudah jenuh ? Apakah penurunan pendapatan ini petanda bahwa bisnis perusahaan sudah  jenuh ? Dan harus berganti haluan dengan sektor bisnis yang baru. ? Atau fenomena ini adalah sebab sebab lainnya ?”

Dalam setiap rapat  para manajer dan pemimpin bisnis ,pastilah akan mencoba memberikan motivasi dan semangat tak kenal menyerah. Selalu ada pengulang perintah yang sama :”Jangan bertindak biasa pada situasi luar biasa. Cari fikiran “out of the box”, temukan terobosan. Kalau tidak kita akan hancur, perusahaan ini bisa gulung tikar. Badai belum mereda, cuaca mendung ekonomi sedag tampak diufuk barat. Akan tetapi ada yang optimis bilang, tidak apa apa, jangan pesimis kita pasti survive. Ini biasa. Perusahaan kita pasti lolos. Dont worry. Begitu seterusnya.

Semua orang, semua ahli, semua kalangan mencoba mencari jalan untuk melakukan Inovasi. Kata inovasi banyak didengungkan tapi semua pihak akan terbentur pada masalah yang sama “inovasi apa dan kemana ? “. Semua tiba tiba sadar bahwa selama ini kita sebagai bangsa telah mengabaikan kata “Research and Development”. Sebagai bangsa kita telah memiliki pandangan keliru bahwa “Teknologi, Inovasi gampang dibeli dan ditiru dari luar”. Seolah kata inovasi sama dengan membajak software atau membajak lagu atau mencopy fikiran orang lain, tanpa perlu berusah payah melakukan investasi dan membangun kawasan Riset Pengembangan tersendiri. Semua abai sampai ekonomi mengalami perlambatan dan ketidak pastian ada didepan mata.

Kata Inovasi sering dikaitkan dengan Pengembangan Teknologi Baru. Teknologi bisa diterjemahkan sebagai suatu Systems yang memeiliki mekanisme, tatacara dan struktur serta metode. Atau Teknologi dapat diejawantahkan sebagai proses penciptaan karya cipta dan produk Atau teknologi dipandang sebagai Produk. Di Indonesia jarang kita memandang teknologi sebagai suatu Systems dan mekanisme. Kita selalu terjebak memandang teknologi sebagai produk atau barang jadi. karenanya kita tergiru dan terjebak untuk mengatakan bahwa Teknologi adalah kekuatan eksogen dalam sistem ekonomi kita. Ia barang luar yang ditempelkan dalam sistem ekonomi kita. Sebagai barang jadi ia mudah dibeli. Kata teknologi maju dan pengembangan teknologi dipandang sebelah mata dan ditempatkan sebagai infrastruktur yang bisa dibeli dan diimpor dari luar. Mengapa pusing membuat bis di Indonesia. Kalau ada kebutuhan bis ribuan buah beli saja dari China atau Bis Bekas, lebih murah dan cepat datangnya. Jika minta industri karoseri dalam negeri atau industri dalam negeri membuat ribuan bis pastilah lama dan belum tentu jadi, Biaya mahal dan waktu delivery penuh ketidak pastian.

Bagaimana teknologi tumbuh berkembang dan dikuasai oleh suatu kelompok atau suatu bangsa banyak ditulis dalam karya para ekonom sejak 1715 hingga kini. Hanya saja di Indonesia kata inovasi dan penguasaan teknologi belum terwujut menjadi kultur dan dimanfaatkan sebagai pertumbuhan ekonomi. Seolah Pusat Pusat Riset dan Pengembangan Teknologi terlepas dari pertumbuhan ekonomi. Amati saja riwayat timbul tenggelamnya peran Akademi Ilmu Pengetahuan atau AIPI. Dewan Riset Nasional dan lembaga Riset serta Pemnguasaan Iptek seperti LIPI, BPPT dan Pusat Riset di Universitas. Beruntung kini Menteri Riset digabung dengan Dikti. Universitas dipadukan dengan Ristek.

Dalam teori modern tentang pertumbuhan ekonomi, pengembangan teknologi dipandang sebagai kekuatan endogen yang tersembunyi dalam system eonomi yang dikembangkan. Teknologi hanya mungki tumbuh dan berkembang dalam suatu ekosistem yang diciptakan secara sengaja dalam sistem ekonomi yang hendak dibangun dan dikembangkan. Seperti gunung api pengembangan teknologi ibarat magma dan lava yang selalu bergolak dalam sistem. Karenanya mengembangkan ekosistem untuk pertumbuhan dan penguasaan teknologi memerlukan insentip dan upaya sistimatis berjenjang dan berkelanjutan. Teknologi dapat dipandang sebagai suatu output dari mata rantai produksi karyacipta dan proses pengembangan produk baru yang lahir dari kawasan produksi, kawasan industri, dan laboratorium yang sengaja diciptakan untuk itu. Adanya kawasan dengan tujuan tertentu melahirkan langkah sistimatis untuk menempatkan Capital, mengumpulkan manusia bersumber daya iptek, lahirnya kebiajakan fskal dan moneter yang memberikan insentip nbagi munculnya teknologi karya anak bangsa.

Dengan rujukan kata Creative destruction yang kita tempatkan pada Wikipedia, maka kata Inovasi dapat digandengkan dengan istilah  Creative destruction (bahasa Jerman: schöpferischeZerstörung), kadang-kadang dikenal sebagai Schumpeter Gale , adalah suatuistilah dalam ilmu ekonomi sejak tahun 1950-an yang diidentifikasi sebagai mahakarya ekonom Amerika Austria Joseph Schumpeter yang dipopulerkan sebagaidasar dari teori inovasi ekonomi dan siklus bisnis. Mengapa Inovasi dikaitkan dengan kata “creative dsetruction”, sebab pada umumnya kata inovasi yang sering diterjemahkan sebagai jalan baru, terobosan baru, proses penciptaan baru, produk baru digunakan ketika berada dalam jalan buntu. Ada kejenuhan pasar, ada kejenuhan proses penetrasi meraih pelanggan baru karena produk yang dimiliki telah kadaluarsa. Komputer prosesor pentium I dan II jauh kadaluarsa dibanding komputer quad core yang ada saat ini. Proses tumbuh berkembangnya inovasi hadir seperti gelombang perubahan. Yang baru merusak yang lama seperti diperlihatkan oleh gambar grafik dibawah ini :

Pada tahun 1995, penulis Harvard Business School Richard L. Nolan dan David C. Croson menerbitkan buku berjudul Creative Destruction: A Six-Stage Process for Transforming theOrganizationBuku  Creative Destructionini menggambarkan Proses Enam Tahap untuk Mentransformasikan Organisasi. Bukuini  bagus digunakan sebagai panduandalam proses perampingan untuk membebaskan manusia bersumber daya iptek untuklebih leluasa berinovasi dan bangkit daya kreativitasnya. Manusia bersumberdaya iptek yang memiliki daya kreativitas dan tingkat produktivitas tinggi inipada gilirannya akan menemukan jalan bagi peningkatan daya saing perusahaan danmenemukan produk baru serta celah pasar yang baru dan kemungkinan areapertumbuhan baru. Yang kesemuanya akan melahirkan margin keuntungan meningkatdan keberlangsungan hidup perusahaan ditengah krisis ekonomi, ketidak pastianataupun perlambatan ekonomi seperti kita alami sekarang ini. Hasil inovasi inikemudian dapat diinvestasikan kembali untuk menciptakan keunggulan kompetitif.

Tulisan ini merujuk Schumpeter, ketika menggunakan istilah destruksi kreatif menggambarkan “prosesmutasi pada mata rantai produksi atau pada klaster industri atau pada timbultenggelamnya industry satu diganti dengan yang lainnya yang secara erus-menerusakan berlangsung sepanjang masa dan merevolusi struktur ekonomi akibat kekuatanendogen dari dalam struktur dan mekanisme industry sendiri. Proses ini akanberlangsung tanpa henti dan proses ini akan seolah menjadi kekuatan untukmenghancurkan struktur industry yang lama yang sudah mengalami titik jenuhuntuk diganti dengan yang baru. Proses kreatip dan inovasi yang muncul dariproses olah fikir dan olah ide dari manusia bersumber daya iptek dalammasyarakat tak henti-hentinya membuat suatu siklus kehidupan yang baru”.

Sosiolog Jerman Werner Sombart telah menggunakan istilah-istilah“Creative destruction” ini dalam karyanya Krieg und Kapitalismus (“Perangdan Kapitalisme”, tahun 1913 . Dalam bukunya berjudul “Capitalism ,Socialism and  Democracy” tahun  1942, Joseph Schumpeter yang menjadi rujukan kalangan Techno Economy, secara cermat mengembangkan konsep dari istilah “creative destruction” ini sebagai kekuatan inovasi bagi munculnya kekuatan pertumbuhan ekonomi dan perubahan kearah kemajuan yang terjadi dalam msyarakat. Schumepeter dengan hati-hati membaca pemikiran yang dikembangkan Marx yang selalu menggambarkan bagaimana “the idea of creative destruction or annihilation (German:Vernichtung) implies not only that capitalism destroys and reconfigures previous economic orders, but also that it must ceaselessly devalue existing wealth”.

Ide yang muncul dari istilah “destruksi kreatif” Schumpeter oleh Max Page digunakan dalam karyanya dalam sebuah buku tahun 1999, berjudul “The CreativeDestruction of Manhattan, 1900-1940” . Buku ini menelusuri proses penemuankembali jejak transformasi yang terjadi di wilayah Manhattan yang sering kalidibayar dengan pengorbanan keruntuhan gedung gedung dan bangunan masa lalu.Dibanyak tulisannya ia menggambarkan proses ini sebagai “kehancurankreatif,” . Pages melalui buku ini menggambarkan perjalanan historis yangterjadi dalam sebuah kota yang kompleks. Perubahan tata letak, keseimbanganpertumbuhan  ekonomi antar wilayah, jatuhbangunnya bisnis disuatu region dan berganti dengan pertumbuhan bisnis diwilayahlain,. Perubahan kondisi sosial akibat hilangnya bangunan dan tempat bermainyang kadangkala diikuti oleh perubahan kepribadian penghuni nya. Dengan katalain dalam karya ini Page membawa kita pada perubahan penting dalam CityscapeManhattan, dlaam perjalanan proses transformasinya. Buku ini bisa dijadikaninspirasi untuk menjejaki perubahan yang terjadi di Jakarta selama 400 tahundari sejak sundakelapa, Batavia dan Jakarta masa kini. Riwayat kota tua,gelodok dan pasar baru serta blok M dan wilayah pinggiran Jakarta lainnya yang terus berubah sepanjang masa.

Selain Max Page, ada penulis lain yang menggunakan istilah”destruksi kreatif” untuk menggambarkan proses pembaruan danmodernisasi perkotaan. T.C. Chang dan Shirlena Huang  menggunakan istilah “penghancurankreatif” dalam makalah dan tulisan mereka berjudul “Recreating Place ,Replacing Memory: Creative Destruction at Singapore River. Para penulismengeksplorasi pengalaman batin dari para penghuni pinggiran sungai Singaporeketika menghadapi proses  untuk membangunkembali daerah tepi sungai yang  kemudianmelahirkan gaya hidup dan budaya baru dengan bayaran hilangnya tapak masa lalusejarah daerah tersebut . Begitu juga Rosemary Wakeman mencatat evolusi prosestransformasi diwilayah yang terletak di pusat kota Paris, Prancis yang dikenalsebagai Les Halles.

Les Halles pada abad kedua belas merupakan pasar yang meriah. Padapada tahun 1971, pasar direlokasi dan paviliun yang ada disekitar pasartersebut diruntuhkan. Di tempat itu sekarang berdiri sebuah hub untuk keretaapi , kereta bawah tanah dan bus. Les Halles kini menjadi pusat perbelanjaanterbesar di Perancis dan Centre of Georges Pompidou yang penuh kontroversi.

Istilah “creative dsetruction” juga lahir di bidang  seni. Alan Ackerman dan Martin Puncher (2006)menjadi editor dari beberapa kumpulan esai dengan judul Against Theater:Creative destruction on the modernist stage. Mereka secara detail mencatatsetiap perubahan dan motivasi tersembunyi dalam pengalaman timbul tenggelamnyasebuah kelompok teater sebagai akibat dari modernisasi baik akibat teknikproduksi pertunjukan dan mulur mungkretnya kondisi ekonomi yang menyebabkankelompok teater jatuh bangun dalam perubahan jaman. . Mereka berbicara tentangbagaimana teater telah  bangkit kembalidalam menghadapi kecenderungan anti-theater. Banyak generasi muda yang tak lagimenyenangi drama hidup diatas panggung dan lebih memilih filem atau sinetron.Ketegang akibat proses tarik ulur diantara batas-batas tradisional  dan inovasi untuk memasukkan teknikpementasan avant-garde dalam teater melahirkan proses hilang tumbuh dalam Creative destruction pada dunia teater. .

Destruksi kreatif juga telah dikaitkan dengan pembangunanberkelanjutan. Keterkaitan antara proses destruksi creative dengan pembangunanberkelanjuta secara eksplisit disebutkan untuk pertama kalinya digambarkan olehStuart L. Hart dan Mark B. Milstein dalam artikel pada 1999 berjudul Global Sustainability and the Creative Destruction of Industries. Dalam tulisa itu dijelaskan bagaimanapeluang keuntungan baru terletak pada putaran proses penghancuran kreatif yangdiikuti oleh inovasi untuk sustainability. keberlanjutan global. Tulisan ini kemudian diikuti oleh tulisan lainberjudul : Creating Sustainable Value dan tahun 2005, dengan makalah :  Innovation, Creative Destruction and Sustainability”.

Dengan kata lain apa yang ingi saya share dalam tulisan ini ditengah perlambatan ekonomi seperti sekarang ini ada baiknya kita melakukan refleksi untuk mengkaji ulang dan mendaftar kembali semua daftar keberhasilan kita sebagai Bangsa dalam menciptakan inovasi, proses baru, produk baru sejak lama. Agar kita mampu membangun kekuatan kemandirian kita untuk menguasai dan mengembangkan teknologi baru. Kita perlu kembali menciptakan keyakinan bahwa hanya Inovasi mampu dimanfaatkan sebagai “engine for growth”. Kekurangan infrastruktur dan keinginan kita membangun infrastruktur hendaknya diikuti oleh kepercayaan bahwa manusia bersumber daya iptek yang kita miliki, perusahaan BUMN, Koperasi dan Swasta yang kita miliki mempunyai kemampuan untuk membangun jalan raya, jalan kereta api, gerbong kereta api, lokomotip, bis, kapal dan juga pembangkit tenaga listrik.

Jika proyek pembangunan infrastruktur dipercayakan pada BUMN, Swasta Nasional atau Koperasi maka akan tercipta kesempatan lapangan kerja baru, wahana olah fikir dan olah cipta yang memberikan pengalaman nyata bagi manusia bersumber daya iptek kita untuk menjadi tenaga ahli yang mumpuni. Terutama kesempatan langka ini perlu diberikan kepada mereka yang baru lulus Sarjana dan masih berusia 21 hingga 40 tahun. Sebuah kesempatan langka untuk membangun profesionalisme.

Mohon maaf jika keliru. Salam

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: