//
you're reading...
Human being, Lingkungan, Motivasi, Renungan

Pernikahan, Dakwah dan Jihad

Dalam syariat Islam menolak terhadap semua ajakan menjadi rahib dan kehidupan membujang.

Allah SWT menciptakan manusia dengan memberikan sejumlah kecenderungan dan naluri yang penting untuk menjaga keberlangsungan spesiesnya. Selain itu, Allah juga menurunkan hukum-hukum yang sesuai dengan kebutuhan kecenderungan dan naluri manusia tersebut, dan menjamin keberlangsungan hidup spesiesnya.

Pernikahan yang telah disyariatkan Islam tiada lain untuk memenuhi naluri kecenderungan manusia kepada lawan jenis, agar manusia dapat menjalani kebutuhan seksnya dengan cara yang baik, tanpa terpengaruh oleh syahwat atau hawa nafsu yang melebihi batas.

Pandangan Islam terhadap seks

Pandangan Islam terhadap seks berdasarkan atas pemenuhan kebutuhan fitrah manusia, sehingga manusia di dalam masyarakat tidak melampaui batasan fitrahnya dan tidak menempuh jalan yang menyimpang yang bertabrakan dengan nalurinya. Bahkan, ia bisa menjalani tuntutan manhaj yang lurus yang telah digariskan oleh Islam, yaitu pernikahan. Mahabenar Allah yang Maha Agung yang berfirman:

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang…” (QS. Ar-Rum [30]: 21)

Dari sini harus kita ketahui bahwa Islam mengharamkan tidak menikah dengan niat untuk mencurahkan hidup hanya untuk ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah. Apalagi jika keadaan , seorang muslim tersebut sudah mampu untuk menikah karena telah memiliki sarana dan prasarananya. Bahkan kita mendapati dalam syariat Islam, adanya penolakan terhadap semua ajakan untuk menjadi rahib dan membujang, karena itu bertentangan dengan fitrah manusia dan naluri kecenderungan yang dimilikinya.

Sa’ad bin Abi Waqash ra berkata, “Sesungguhnya Allah telah menggantikan untuk kita kerahiban yang lurus lagi toleran.” (HR Al-Baihaqi)

Diriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda:
“Barangsiapa yang mampu untuk menikah, tapi ia belum juga menikah maka ia bukan termasuk umatku.” (HR. Ath Thabrani clan Al-Baihaqi)

Di antara sikap Rasulullah SAW dalam mendidik masyarakat dan menanggulangi penyakit kejiwaan adalah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik ra:

Ada tiga orang datang ke rumah-rumah para istri Nabi SAW. Mereka bertanya mengenai ibadah Nabi SAW. Maka ketika diberitahukan kepada mereka, seolah-olah mereka menganggap ibadah mereka masih sedikit sehingga mereka berkata, “Lalu di manakah kedudukan kami dibandingkan Nabi SAW? Sungguh telah diampuni dosanya yang telah lalu dan yang akan datang.”

Salah seorang di antara mereka berkata, “Adapun aku, pasti akan melakukan shalat malam selamanya.” Yang lainnya berkata, “Aku pasti akan melakukan puasa setahun dan tidak akan berbuka.” Dan yang lainnya lagi berkata, “Aku akan meninggalkan perempuan dan tidak menikah selamanya.”

Maka Rasulullah SAW datang menghampiri dan bersabda:

“Kaliankah yang berkata begini dan begitu? Demi Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut kepada Allah di antara kalian dan aku pula orang yang paling bertakwa kepada-Nya di antara kalian. Akan tetapi, aku berpuasa dan berbuka, aku shalat dan tidur, dan aku pun menikahi perempuan. Maka barangsiapa yang membenci sunnahku, ia bukan dari golonganku.”

Sikap Rasulullah SAW ini adalah bukti yang paling kuat bahwa Islam adalah agama yang sesuai dengan fitrah. la adalah aturan hidup dan risalah yang abadi, sampai Allah mewarisi bumi dan seisinya. Dan siapakah yang paling baik hukumnya daripada Allah bagi kaum yang meyakininya?

Di antara pandangan Islam terhadap seks adalah bahwa seks harus dipenuhi kebutuhannya dengan cara yang halal, yaitu dengan cara menikah. Menikah termasuk amal shalih, yang bagi siapa melakukannya berhak untuk mendapatkan ridha Allah dan ganjaran pahala.

Diriwayatkan dari Abu Dzar ra, beberapa shahabat Nabi SAW berkata kepada beliau, “Wahai Rasulullah, orang-orang kaya telah mendapatkan pahalanya. Mereka shalat seperti kami, puasa seperti kami, dan mereka dapat bersedekah dengan kelebihan harta mereka.”

Rasulullah bersabda, “Bukankah Allah telah menjadikan apa yang bisa kalian sedekahkan? Sesungguhnya setiap tasbih itu sedekah, setiap takbir sedekah, setiap tahmid sedekah, setiap tahlil sedekah, memerintahkan kebaikan sedekah, melarang kemungkaran sedekah, dan mendatangi istri kalian (jimak) adalah sedekah.”

Para shahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah salah seorang di antara kami melepaskan syahwatnya mendapatkan pahala?”

Rasulullah menjawab, “Bagaimana pendapatmu jika ia melakukannya dengan yang haram, apakah ia berdosa?”

Mereka menjawab, “Tentu.”

Beliau bersabda, “Maka demikian pula jika ia melakukannya dengan yang halal, maka ia mendapatkan pahala.” (HR Muslim)

Kehidupan dalam keluarga tidak sekadar melampiaskan syahwat dan melupakan dakwah.

NAMUN di antara perkara yang harus diketahui oleh pasangan suami istri adalah agar mereka tidak memahami hadits, “Dan mendatangi istri kalian adalah sedekah,” dalam artian menghabiskan waktu dengan melampiaskan syahwatnya kepada istrinya sehingga melupakan kewajiban dakwah, jihad, dan menegakkan Islam. Karena, Islam menghasilkan manusia yang kuat dan seimbang yang dapat memberikan semua yang memiliki hak sesuai kebutuhannya dalam kehidupan, tanpa melebihkan satu hak atas hak yang lain, atau satu kewajiban di atas kewajiban yang lain.

Bahkan, ketika maslahat Islam, jihad, dan dakwah kepada Allah bertentangan dengan maslahat penghidupan, istri, anak dan harta, maka sudah seharusnya seorang muslim mendahulukan maslahat jihad dan dakwah di atas semua maslahat duniawi, dan keuntungan pribadi, keluarga, dan nasionalisme. Hal ini disebabkan, mendirikan masyarakat yang Islami, menegakkan pilar-pilar negara Islam, dan menuntun manusia menuju Islam adalah tujuan yang paling utama. Bahkan, ini merupakan tujuan dan harapan yang luhur dalam pandangan seorang muslim.

Hal ini sangat jelas terlihat pada sikap Rab’i bin `Amir ra ketika berada di hadapan pemimpin pasukan Persia, Rustum, pada perang Qadisiyah. la berkata kepada Rustum, “Allah telah mengutus kami untuk mengeluarkan manusia dari penghambaan kepada hamba, kepada penghambaan kepada Allah. Dari sempitnya dunia kepada keleluasaannya. Dan dari kesemena-menaan agama kepada keadilan Islam.”

Berikut ini beberapa contoh sikap salafus shalih yang mendahulukan kepentingan Islam dan jihad di atas kepentingan pribadi dan keluarga, apalagi istri:

Hanzhalah bin Abu Amir

Hanzhalah bin Abu Amir menikahi Jamilah binti Ubay pada malam Jum’at. Keesokan harinya, ada seruan untuk berjihad. Baru saja ia mendengar seruan itu, ia langsung menyelendangkan pedangnya, mengenakan pakaian perangnya, dan menyiapkan kudanya. Kemudian ia pergi untuk berperang di Perang Uhud. Ketika peperangan dimulai, ia langsung bertempur dengan gagah berani.

Ketika kaum muslimin terdesak oleh musuh, Hanzhalah terus merangsek maju melewati barisan orang-orang musyrik, sampai ia mendapati Abu Sufyan. Ketika ia mendapatinya, ia langsung menyerangnya sampai Abu Sufyan terjatuh. Saat Hanzhalah akan memenggal lehernya, Abu Sufyan berteriak meminta tolong kepada kaum Quraisy. Beberapa orang Quraisy mendengar suaranya, lalu mereka langsung menyerang Hanzhalah dan menebasnya dengan pedang sampai ia meninggal dalam keadaan syahid.

Nabi SAW lalu diperlihatkan alam gaib oleh Allah, sehingga beliau bersabda kepada para shahabatnya:
“Aku melihat para malaikat memandikan Hanzhalah di antara langit dan bumi dengan air dari awan pada wadah dari perak.”

Para shahabat pun segera menuju jenazah Hanzhalah dan ternyata kepalanya sudah bertetesan air. Lalu mereka mengirim orang kepada istri Hanzhalah untuk menanyakan tentang Hanzhalah. Maka istrinya memberitahukan bahwa ketika Hanzhalah mendengar seruan perang, ia langsung keluar dalam keadaan junub dan belum sempat mandi. Sampai akhirnya malaikat yang memandikannya.

Abdullah bin Abu Bakar

Abdullah bin Abu Bakar ra menikahi ‘Atikah binti Zaid. la adalah seorang istri yang cantik dan berakhlak baik, sehingga membuat Abdullah absen dari peperangan dan jihad. Maka ayahnya, Abu Bakar Ash-Shiddiq ra memerintahkan untuk menceraikannya dengan alasan, “Ia telah menyibukkanmu dari peperangan (di jalan Allah), maka ceraikanlah dia.”

Abdullah pun menceraikannya. Dan ketika Abu Bakar melewatinya, Abdullah sedang bersenandung:
Aku belum pernah melihat ada orang
yang mau menceraikan istri seperti dia.
Dia harus diceraikan tanpa ada salah dan dosa.
Padahal ia memiliki akhlak yang luhur, pintar,
dan berkedudukan melebihi aku yang biasa-biasa saja.

Mendengar hal itu membuat hati Abu Bakar luluh. la pun memerintahkan Abdullah untuk rujuk dengan istrinya. Setelah itu, ia ikut perang bersama Nabi SAW di perang Thaif. Pada perang itu ia terkena anak panah hingga akhirnya meninggal di Madinah.

Abu Khaitsumah

Ath Thabrani dan Ibnu Ishaq meriwayatkan bahwa Abu Khaitsumah mendatangi rumahnya pada hari yang panas (padahal Rasulullah SAW sudah pergi bersama pasukannya beberapa hari yang lalu). Maka Abu Khaitsumah mendapati dua istrinya di dalam dua gubuknya di kebun miliknya. Lalu dua istrinya menyirami air kepada Abu Khaitsumah, sampai air itu membuatnya segar. Istrinya lantas menyiapkan makanan untuknya. Ketika ia berdiri di depan pintu, ia melihat kepada dua istrinya yang telah menyiapkan makanan untuknya.

Kemudian ia berkata, “Rasulullah SAW sedang berada di bawah sengatan matahari, terpaan angin, dan panas, sedangkan Abu Khaitsumah berada di bawah naungan yang teduh dan makanan yang telah tersedia serta ditemani istri yang cantik. Apa-apaan ini?”

la melanjutkan, “Demi Allah, aku tidak akan masuk ke dalam sampai aku menyusul Rasulullah SAW.”

Lalu dua istrinya menyiapkan bekal untuknya. Setelah untanya siap, ia pergi untuk menyusul Rasulullah SAW sampai ia mendapati beliau sedang beristirahat di Tabuk.

Umat Islam yang telah menikah harus menjaga keseimbangan antara kewajiban dan tanggung jawab yang ada di pundaknya terhadap Islam.

SUDAH bisa dipastikan, ketika umat Islam dan pemudanya lebih mendahulukan cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya, jihad di jalan Allah, dan dakwah daripada segala hal yang berharga di dalam hidupnya, maka pasti Allah akan menjadikan mereka kuasa di bumi ini. Allah akan menggantikan rasa takut mereka dengan rasa aman, kelemahan dengan kekuatan. Dunia menjadi di bawah kuasa mereka dan semua umat manusia tunduk dan patuh kepada perintah dan larangan mereka.

Namun jika sebaliknya, maka tunggu saja sampai Allah memperlihatkan ketentuannya dan menurunkan siksa-Nya. Karena Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang tidak taat kepada-Nya dan keluar dari petunjuk dan jalan-Nya.

Mahabenar Allah yang berfirman:
“Katakanlah, ‘Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.’ Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS. At Taubah [9]: 24)

Kita pun tidak boleh melupakan peran perempuan dalam kewajiban dakwah dan jihad. Islam telah memberi mereka tanggung jawab untuk ikut berjihad, jika memang dibutuhkan dan mendesak. Perempuan muslimah zaman dulu selalu siap berdiri di samping Rasulullah SAW dan para shahabatnya untuk berperang dengan pedang, mengobati yang terluka, merawat yang sakit, memindahkan yang terbunuh, dan membuatkan makanan. Berikut ini beberapa kisah keikutsertaan para perempuan muslimah dalam jihad.

Ar-Rabi’ binti Mu’awwidz

Diriwayatkan oleh Muslim bahwa Ar-Rabi` binti Mu’awwidz ra berkata, “Kami ikut berperang bersama Rasulullah SAW dan mengangkut yang terluka dan terbunuh ke Madinah.”

Ummu Athiyah Al-Anshariyah

Dalam riwayat Ummu ‘Athiyah Al¬Anshariyah ra, ia berkata, “Aku berperang bersama Rasulullah SAW sebanyak 7 peperangan. Aku berada di belakang mereka, membuat makanan, mengobati yang terluka, dan yang sakit.”

Ummu ‘Imarah

Diriwayatkan oleh Ibnu Hisyam di dalam kitab sirahnya bahwa Ummu Sa’ad bin Ar-Rabi’ menemui Ummu `Imarah. la berkata, “Wahai bibi, ceritakanlah kepadaku kisahmu di perang Uhud.” Maka Ummu ‘Imarah berkata, ‘Aku keluar pagi hari sambil menunggu apa saja yang dilakukan orang-orang. Saat itu, aku membawa tempat air minum yang sudah penuh terisi. Aku menghampiri Rasulullah SAW yang sedang bersama para shahabatnya dan kemenangan sedang berada di pihak kaum muslimin. Ketika kaum muslimin kalah, aku mendekat kepada Rasulullah lalu berdiri untuk melindungi beliau dengan pedang dan membidikkan anak panah hingga aku terluka.”

Shafiyah binti Abdul Muthalib

Diriwayatkan oleh Ibnu Hisyam bahwa Shafiyah binti Abdul Muthalib ra ketika melihat seorang Yahudi berkeliling di benteng, ia langsung menuruni benteng untuk mengejar musuh dan membunuhnya.

Dan masih banyak lagi contoh lainnya, yang tidak bisa disebutkan satu per satu.

Sedangkan kewajiban perempuan muslimah terhadap dakwah dan amar makruf nahi mungkar sama seperti laki-laki. Sebagaimana firman Allah SWT:
“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang makruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat menunaikan zakat, dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. At Taubah [9]: 71)

Itulah pandangan-pandangan Islam yang sangat penting. Seseorang yang telah menikah harus dapat menjaga keseimbangan antara mendapatkan hak dan melaksanakan kewajiban dalam kehidupan, tanpa meremehkan tanggung jawab yang ada di pundaknya dan kewajiban yang harus dijalankannya. Inilah Islam yang sesungguhnya.*

Dipetik dari tulisan Dr. Abdullah Nashih ‘Ulwan pada bukunya “Pendidikan Anak dalam Islam”.

Sumber http://www.hidayatullah.com/konsultasi/keluarga-sakinah/read/2015/05/12/69602/pernikahan-dakwah-dan-jihad-1.html

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: