//
you're reading...
Creativity, Ekonomi, Entrepreneurship, Kemandirian, Review

Food for thought : Produktivitas Bangsa Indonesia dapatkah ditingkatkan ?

Jusman Syafii Djamal
13 May 2015

Ditengah perlambatan ekonomi dua kata kunci yang harus dikelola oleh setiap manajer perusahaan. Pertama Peningkatan Efisiensi atau Cost Reduction dan Kedua Peningkatan Produktivitas. Dulu tahun 80 – 90 an di Indonesia ada Dewan Productivitas Nasional. Di Indonesia secara bersama sama ada gerakan peningkatan Produktivitas. Tiap Perusahaan memiliki gugus tugas Produktivitas. Sebab pada saat itu Menteri Tenaga Kerja Laksamana Soedomo gandrung dan selalu berkata Produktivitas Tenaga Kerja Indonesia harus secara sistimatis dan berkesinambungan ditingkatkan tiap hari, tiap bulan dan tiap tahun. Dewan Productivitas ini dipimpin langsung oleh Presiden, Ketuanya ditunjuk.

Melalui Dewan Produktivitas Nasional ono Ada measurement yang dikembangkan. Dikenal istilah Capital Productivity , bagaimana setiap sen peningkatan biaya operasional dan setiap rupiah yang dikeluarkan untuk capital expenditures harus diukur kinerja nya dalam bentuk revenue. Begitu juga setiap rupiah yang dikeluarkan untuk biaya tenaga kerja yang meningkat harus diimbangi oleh peningkatan sales per tenaga kerja pertahun. Ada labour Productivity.  Ukuran dan catatan tentang produktivitas pada tiap perusahaan diperlukan untuk mengukur sehat tidaknya sebuah perusahaan. Melalui gerakan produktivitas maka tiap perusahaan menjadi “concern’ Atau peka terhadap setiap pemborosan yang terjadi dalam mata rantai produksi barang dan jasa. Ada langkah untuk menurunkan “waste”. Ada upaya untuk menurunkan biaya pada setiap potongan mata rantai aktivitas. Efisiensi ditumbuhkan menjadi “kultur”. Lahir struktur organisasi yang ramping bermakna, lahir tenaga kerja yang semakin terampil skill meningkat, lahir mekanisme penguruangan “waste” atau pemborosan p[enggunaan bahan baku dan waktu kerja dan lain sebagainya. Sejak Reformasi semua Aktivitas Productivitas ini diserahkan pada masing masing perusahaan. Pemerintah tidak lagi mau ikut campur. Mau produktip silahkan, mau bangkrut ya monggo.

Sebetulnya hal ini yang juga dilaporkan oleh Mc Kinsey Global Institute pada November 2014 dengan judul :Southeast Asia at the crossroads: Three paths to prosperity”. dalam laporan tersebut ditampilkan dua gambar grafik menarik : Pertama yang memberikan gambaran bagaimana peningkatan biaya tenaga kerja perhari, perminggu, perbulan dan pertahun dari Negara Asean dan China tidak mampu menandingi tingkat produktivitas tenaga kerja yang ada di industri China.


Disebutkan dalam lapran tersebut :”The transitions taking place in China—including rising labor costs and the shift toward an economic model that is less reliant on exports—are creating ripple effects in Southeast Asia. ASEAN has a window of opportunity to capture a greater share of global manufacturing, especially from multinationals that are seeking a lower cost base or are simply daunted by the challenges of doing business in China. The availability of low-cost labor in Cambodia, Indonesia, Laos, Myanmar, and Vietnam can be a competitive advantage. Average costs for factory labor are about $7 a day in Vietnam and $9 in Indonesia, far less than the $28 average in China (which has posted a 19 percent compound annual growth rate in wages since 2007)”.

” However, the advantage of low labor costs in these countries is undermined by weak output per worker. In 2012, average labor productivity in Vietnam’s manufacturing sector was only about 7 percent of that in China . Southeast Asia’s lower-income countries will have to grapple with their productivity challenges in order to lift the wages of factory workers in the future while remaining competitive.”

Dengan kata lain ada potensi daya saing tenaga kerja di industri Negara Asean kalah produktip. Biaya yang dikeluarkan belum sebanding dengan revenue yang diperoleh seperti dperlihatkan dalam gambar tersebut diatas.

Karenanya meski secara historis pertumbuhan produktivitas tahun 2000-2013 dari masing masing Negara Asean digambarkan oleh barchart biru muda dan pertumbuhan produktivitas tahun 2013-2030 harus naik tajam agar Negara dikawasan Asean mampu menjadi “manufacturing power house” yang mengimbangi kekuatan China seperti diprediksi melalui gambar chart berwana biru tua dibawah ini :


Dalam laporan Mc Kinsey dikatakan :”And despite the upward trend line, overall productivity levels remain low across much of the region. Excluding Singapore and Brunei, average labor productivity in ASEAN countries is still approximately 40 percent lower than in China.

After two decades of robust growth, ASEAN has now reached an inflection point. Its member states could find themselves struggling to build on the initial momentum caused by the shift from agriculture to urban employment. In addition, while the demographics are still favorable in most ASEAN countries, the boost to economic growth derived from rising numbers of young people entering the workforce will eventually abate. In fact, some countries will need to more than double the pace of historic productivity gains to sustain economic growth rates. This will prove to be challenging, as much of the “low-hanging fruit” has already been harvested in the first wave of industry modernization. It will take a concerted effort to implement deeper efficiency improvements that can make individual sectors globally competitive”.

Peningkatan produktivitas tenaga kerja di Indonesia merupakan Pekerjaan Rumah yang perlu ditangani secara bersama sama. Investasi peningkatan keahlian, proses sertifikasi yang berjenjang dan bermetode atas semua bidang keahlian dan upaya membangun tingkat profesionalisme dengan attitude kerja keras bagi seluruh tenaga kerja di Indonesia perlu terus dikembangkan.

Produktivitas secara teoritis adalah Ps = Jumlah keluaran (output)/Jumlah masukan terpakai (input added). Nisbah Ps biasa disebut total company productivity ratio menghitung keseluruhan pengeluaran untuk memproduksi suatu barang dan jasa inti maupun sampingan yang tercipta dalam mata rantai produksi. Semua pengeluaran tersebut disebut sebagai Cost of Production harus diimbangi oleh tingkat pendapatan yang diperloeh perusahaan. Rumusan Produktivitas dapat juga diubah menjadi Ps= Jumlah Nilai Tambah Kelauaran /Jumlah Masukan terpakai. Rumus ini disebut dengan istilah “value added Productivity. (baca buku Grand Techno Economic Strategy yag saya tulis bersama mertua saya Prof. Mathias Aroef).

Dalam buku yang saya tulis itu, saya berpendapat bahwa tingkat Produktivitas suatu Bangsa pada gilirannya akan memiliki kaitan dengan laju inflasi. Bangsa yang produktivitas nya rendah biasanya dapat dilihat dari tingkat inflasi. Produktivitas rendah inflasi tinggi. Produktivitas tinggi membendung inflasi. Sama seperti juga dengan kebijaksanaan moneter yang arahnya pada pengendalian inflasi. Nilai dollar terus meningkat akan berakibat pada peningkatan inflasi semua harga harga naik. Nilai dollar yang melemah dan rupiah meningkat akan menekan laju inflasi. Produsktivitas tinggi pada gilirannya juga akan melahirkan margin keuntungan yang tinggi. Keuntungan yang tinggi pada gilirannya akan mampu dimanfaatkan sebagai cadangan investasi peningkatan keahlian manusia bersumber daya iptek di Indonesia.

Saat seperti sekarang ini  ditengah perlambatan ekonomi seperti sekarang ada baiknya kita mulai fokus pada upaya sistimatis untuk meningkatkan produktivitas tenaga kerja kita, peningkatan produktivitas manusia bersumber daya iptek kita melalui penguasaan teknologi maju untuk melahirkan terobosan dan pengelolaan finansial yang jauh lebih modern agar tercipta Capital Productivity. Setiap dollar yang diinvest akan melahrikan pertumbuhan perusahaan yang terus meningkat.

Secara mikro perusahaan ada tiga langkah utama yang dapat dilaksanakan segera :

Pertama Rekayasa ulang mata rantai produksi barang dan jasa, poting mata rantai yang tidak perlu. Cegah pemborosan berlanjut. Ciptakan mata rantai produksi barang dan jasa yang mampu menghemat penggunaan bahan baku atau bahan setengah jadi. Pertimbangkan “policy “Buy or Made”. Yang lebih murah dibuat oleh orang lain kenapa tidak di “outsorce” atau dibeli dari pasar. Yang kualitas, biaya dan waktu deliverya lebih baik buat sendiri dengan kekuatan manusia bersumber daya yang dimiliki sendiri.

Kedua : Melalui rekayasa ulang mata rantai produksi lakukan upaya efisiensi dan penghematan biaya dan waktu kerja orang (manhours) , hemat penggunaan jam kerja mesin (machining hours) dan pengurangan langkah kerja atau aktivitas dan penyingkatan prosedur.

Ketiga : Kurangi keluhan pelanggan. Ciptakan rasa nyaman pada pelanggan. Tingkatkan Kualitas Produk, Kecepatan waktu delivery dan Price yang kompetitrip.

Mudah mudahan “food for thought” ini bermanfaat. Mari bekerja penh semangat, Atasi perlambatan ekonomi dengan produktivitas. Salam

 

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: