//
you're reading...
Human being, Lingkungan, Motivasi, Pendidikan, Renungan

30 Tahun mendatang anak kita

M Fauzil Adhim.

Jangan remehkan dakwah kepada anak-anak! Jika telah terikathatinya dengan Islam, mereka akan mudah bersungguh-sungguh menetapi agama inisetelah dewasa. Jika engkau siapkan mereka untuk siap menghadapi kesulitan,maka kelak mereka tak mudah ambruk hanya karena langkah mereka terhalang oleh kendala-kendala yang menghadang. Tetapi jika engkau salah membekali, mereka akan menjadi beban bagi ummat ini di masa yang akan datang. Cemerlangnya otaksama sekali tidak memberi keuntungan jika hati telah beku dan kesediaan untukberpayah-payah telah runtuh.

Maka, ketika engkau mengurusi anak-anak di sekolah, ingatlahsejenak. Tugas utamamu bukan sekedar mengajari mereka berhitung. Bukan! Engkausedang berdakwah. Sedang mempersiapkan generasi yang akan mengurusi umat ini 30tahun mendatang. Dan ini pekerjaan sangat serius. Pekerjaan yang memerlukan kesungguhan berusaha, niat yang lurus, tekad yang kuat serta kesediaan untuk belajar tanpa henti.

***

Jangan sepelekan dakwah terhadap anak! Kesalahan mendidik terhadap anak kecil, tak mudah kelihatan. Tetapi kita akan menuai akibatnyaketika mereka dewasa. Betapa banyak yang keliru menilai. Masa kanak-kanak kitabiarkan direnggut TV dan tontonan karena menganggap mendidik anak yang lebihbesar dan lebih-lebih orang dewasa, jauh lebih sulit dibanding mendidik anaknkecil. Padahal sulitnya melunakkan hati orang dewasa justru bersebab terabaikannya dakwah kepada mereka di saat belia.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Kepada Allah Ta’ala kita memohon pertolongan. Maafkan saya.

Karenanya, jangan pernah main-main dalam urusan ini. Apa punyang engkau lakukan terhadap mereka di kelas, ingatlah akibatnya bagi dakwahini 30 40 tahun yang akan datang. Jika mereka engkau ajari curang dalammengerjakan soal saja, sesungguhnya urusannya bukan hanya soal bagaimana agarmereka lulus ujian. Bukan. Yang terjadi justru sebaliknya, masa depan umatsedang engkau pertaruhkan!!! Tidakkah engkau ingat bahwa induk segala dustaadalah ringannya lisan untuk berdusta dan tiadanya beban pada jiwa untukmelakukan kebohongan.

Maka, ketika mutu pendidikan anak-anak kita sangatmenyedihkan, urusannya bukan sekedar masa depan sekolahmu. Bukan. Sekolahambruk bukan berita paling menyedihkan, meskipun ini sama sekali tidak kitainginkan. Yang amat perlu kita khawatiri justru lemahnya generasi yangbertanggung-jawab menegakkan dien ini 30 tahun mendatang. Apa yang akan terjadipada umat ini jika anak-anak kita tak memiliki kecakapan berpikir, kesungguhanberjuang dan ketulusan dalam beramal?

Maka…, ketika engkau bersibuk dengan cara instant agarmereka tampak mengesankan, sungguh urusannya bukan untuk tepuk tangan saat ini.Bukan pula demi piala-piala yang tersusun rapi. Urusannya adalah tentangrapuhnya generasi muslim yang harus mengurusi umat ini di zaman yang bukanzamanmu. Kitalah yang bertanggung-jawab terhadap kuat atau lemahnya mereka dizaman yang boleh jadi kita semua sudah tiada.

Hari ini, ketika di banyak tempat, kemampuan guru-guru kitasangat menyedihkan, sungguh yang paling mengkhawatirkan adalah masa depan umatini. Maka, keharusan untuk belajar bagimu, wahai Para Guru, bukan semata urusanakreditasi. Apalagi sekedar untuk lolos sertifikasi. Yang harus engkau ingatadalah: “Ini urusan umat. Urusan dakwah.” Jika orang-orang yang sudah setengahbaya atau bahkan telah tua, sulit sekali menerima kebenaran, sesungguhnya inibermula dari lemahnya dakwah terhadap mereka ketika masih belia; ketika masihkanak-kanak. Mereka mungkin cerdas, tapi adab dan iman tak terbangun. Maka,kecerdasan itu bukan menjadi kebaikan, justru menjadi penyulit bagi merekauntuk menegakkan dien.

WahaiPara Guru, belajarlah dengan sungguh-sungguh bagaimana mendidik siswamu. Engkaubelajar bukan untuk memenuhi standar dinas pendidikan. Engkau belajar dengansangat serius sebagai ibadah agar memiliki kepatutan menjadi pendidik bagianak-anak kaum muslimin. Takutlah engkau kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Sungguh,jika engkau menerima amanah sebagai guru, sedangkan engkau tak memilikikepatutan, maka engkau sedang membuat kerusakan.

Sungguh, jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya,tunggulah saatnya (kehancuran) tiba.

Ingatlah hadis Nabi shallaLlahu ‘alaihi wa sallamsebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari:

إِذَا ضُيِّعَتِ اْلأَمَانَةُ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ. قَالَ: كَيْفَ إِضَاعَتُهَايَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ:إِذَا أُسْنِدَ اْلأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِفَانْتَظِرِ السَّاعَةَ.

“Jika amanah telah disia-siakan,maka tunggulah hari Kiamat,” Dia (Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)bertanya,“Wahai Rasulullah, bagaimanakah menyia-nyiakan amanah itu?” Beliau menjawab,“Jika satu urusan diserahkan kepada bukan ahlinya, maka tunggulah hari Kiamat!”(HR. Bukhari).

Maka, keharusan untuk belajar dengan sungguh-sungguh,terus-menerus dan serius bukanlah dalam rangka memenuhi persyaratan formalsemata-mata. Jauh lebih penting dari itu adalah agar engkau memiliki kepatutanmenurut dien ini sebagai seorang guru. Sungguh, kelak engkau akan ditanya atasamanah yang engkau emban saat ini.

Wahai Para Guru, singkirkanlah tepuk tangan yang bergemuruh.Hadapkan wajahmu pada tugas amat besar untuk menyiapkan generasi ini agar mampumemikul amanah yang Allah Ta’ala berikan kepada mereka. Sungguh, kelak engkauakan ditanya di Yaumil-Qiyamah atas urusanmu.

Jika kelak tiba masanya sekolah tempatmu mengajardielu-elukan orang sehingga mereka datang berbondong-bondong membawa anaknyaagar engkau semaikan iman di dada mereka, inilah saatnya engkau perbanyakistighfar. Bukan sibuk menebar kabar tentang betapa besar nama sekolahmu.Inilah saatnya engkau sucikan nama Allah Ta’ala seraya senantiasa berbenahmenata niat dan menelisik kesalahan diri kalau-kalau ada yang menyimpang darituntunan-Nya. Semakin namamu ditinggikan, semakin perlu engkau perbanyakmemohon ampunan Allah ‘Azza wa Jalla.

Wahai Para Guru, sesungguhnya jika sekolahmu terpuruk, yangpaling perlu engkau tangisi bukanlah berkurangnya jumlah siswa yang mungkinakan terjadi. Ada yang lebih perlu engkau tangisi dengan kesedihan yang sangatmendalam. Tentang masa depan ummat ini; tentang kelangsungan dakwah ini, dimasa ketika kita mungkin telah tua renta atau bahkan sudah terkubur dalamtanah.

LIMAHALYANG PERLU DIAJARKAN KEPADA ANAK ANAK KITA SEBELUM MEREKA DIAJARI BERBAGAIPENGETAHUAN

1, Ajarilahanak didikmu untuk mengenali kebenaran sebelum mengajarkan kepada merekaberbagai pengetahuan.

2.Asahlah kepekaan mereka terhadap kebenaran dan cepat mengenali kebatilan.

3.Tumbuhkanpada diri mereka keyakinan bahwa Al-Qur’an pasti benar, tak ada keraguan didalamnya.

4.Tanamkanadab dalam diri mereka.

5.Tumbuhkanpula dalam diri mereka keyakinan dan kecintaan terhadap As-Sunnah Ash-Shahihah. Bukan menyibukkanmereka dengan kebanggaan atas dunia yang ada dalam genggaman mereka.

Ini juga berlaku bagi kita.

Ingatlah do’a yang kita panjatkan:

“اللهُمَّأَرِنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَاالتِبَاعَةَ وَأَرِنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ”

“Ya Allah, tunjukilah kami bahwayang benar itu benar dan berilah kami rezeki kemampuan untuk mengikutinya. Dantunjukilah kami bahwa yang batil itu batil, serta limpahilah kami rezeki untukmampu menjauhinya.”

Inilah do’a yang sekaligus mengajarkan kepada kita agartidak tertipu oleh persepsi kita. Sesungguhnya kebenaran tidak berubah menjadikebatilan hanya karena kita mempersepsikan sebagai perkara yang keliru.Demikian pula kebatilan, tak berubah hakekatnya menjadi kebaikan dan kebenarankarena kita memilih untuk melihat segi positifnya. Maka, kepada Allah Ta’alakita senantiasa memohon perlindungan dari tertipu oleh persepsi sendiri.

Pelajarilah dengan sungguh-sungguh apa yang benar; apa yanghaq, lebih dulu dan lebih sungguh-sungguh daripada tentang apa yang efektif.

Dahulukanlah mempelajari apa yang tepat daripada apa yangmemikat. Prioritaskan mempelajari apa yang benar daripada apa yang penuhgebyar.

Utamakan mempelajari hal yang benar dalam mendidik daripadasekedar yang membuat sekolahmu tampak besar bertabur gelar.

Sungguh, jika engkau mendahulukan apa yang engkau anggap mudah menjadikan anak hebat sebelum memahami betul apa yang benar, sangat mudahbagimu tergelincir tanpa engkau menyadari. Anak tampaknya berbinar-binar sangat mengikuti pelajaran, tetapi mereka hanya tertarik kepada caramu mengajar, tapi mereka tak tertarik belajar, tak tertarik pula menetapi kebenaran

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: