//
you're reading...
Creativity, Ekonomi, Perubahan

Resep hadapi perlambatan Ekonomi : Selesaikan masalah kecil dan sederhana

Jusman Syafii Djamal
9 May 2015

“Think small, act fast” , fokus pada yang sederhana, bertindak cepat”, adalah pelajaran berharga yang diperoleh pengusaha Indonesia ketika menghadapi krisis 1998. Pada saat krisis ekonomi yang bergulir dari Thailand akibat merosotnya nilai tukar bath yang merembet pada pelemahan nilai rupiah dan menyebabkan banyak perusahaan bangkrut, telah membuat semua pengusaha dan entrepreneur tidak sempat lagi terobsesi pada upaya memikirkan gagasan-gagasan besar dan grandiose. Pengusaha dipaksa keadaan fokus pada hal-hal yang kecil dan sederhana. Cash flow, likuiditas, uang keluar masuk pada arus kas menjadi pusat perhatian. Semua mengejar upaya untuk tidak terkena krisis. Ketika itu pengusaha tidak punya banyak waktu untuk berasyik masyuk dengan kegelisahan nya sendiri. Sebab “bleeding cash flow” dan hutang terus menekan keadaan. Kecepatan tindakan amat diperlukan”. Dalam krisis ekonomi 1998 ternyata usaha kecil menengah dan sektor informal menjadi bantal kestabilan ekonomi. Pengusaha kecil menengah ternyata lebih tahan banting dan lebih ulet.

“Dari pengalaman mengatasi krisis ekonomi, semua pengusaha Indonesia banyak belajar untuk melihat dan percaya pada kekayaan Manusia Bersumber Daya yang dimilikinya. Ternyata potensi kreatif yang dimiliki untuk merobah kesulitan jadi oportunitas melalui karya cipta sendiri, menjadi kekuatan yang tak dapat diabaikan. Apalagi dalam situasi krisis tidak ada seorang teman tempat bergantung.

Krisis hanya dapat diselesaikan oleh kekuatan diri sendiri. Dari krisis kita belajar ternyata pada tiap meja kerja, tiap mesin, tiap alat, tiap ruang kerja, tiap jenis pekerjaan, tiap bidang keahlian, mempunyai pesarnya sendiri-sendiri. Tiap ruang kerja mempunyai pundi-pundi emas permatanya sendiri,”

Karena itu, semua pengusaha ketika itu berupaya untuk mulai membersihkan meja kerja masing-masing karyawannya dari persoalan yang rumit rumit dan jelimet. Para karyawan diminta untuk merapihkan ruang kerja masing-masing, diminta untuk saling bekerja sama bahu membahu dan menjaudi debat berputar putar dan berdiskusi tanpa henti tentang kesulitan ekonomi. Perusahaan yang cenderung sempoyongan tak mungkin dipaksa menaikkan gaji. Semua berfikir perusahaan lolos krisis 1998 saja sudah harus disyukuri. Semua fokus diarahkan pada upaya menemukan pasar yang dapat diterobos melalui keahlian dan peralatan yang dimiliki.

Semua karyawan juga belajar dari krisis bahwa banyak menuntut sesuatu yang tak mampu dipenuhi oleh kesanggupan dana perusahaan akan membawa kejurang kebangkrutan bersama. Karenanya semua pekerja selalu bersatu , tiada yang mencoba jalan sendiri-sendiri apalagi dengan bikin perusahaan dalam perusahaan, Sebab perilaku semacam itu akan meruntuhkan semua. Itu adalah pelajaran krisis tahun 98.

Kini kita tidak berada dalam krisis seperti itu lagi. Insya Allah ditahun 2015, masa depan Indonesia akan tetap cerah. Memang terasa banyak tantangan dan kesulitan yang dihadapi tapi pasti dapat diatasi.

Dari pengalaman dua kali krisis atau gonjang ganjing ekonomi tahun 1997-1998 krisis ekonomi Asia, 2008-2009 tahun finansial krisis , paling tidak pengusaha Indonesia sudah belajar bahwa siklus bisnis memang selalu naik turun, ada pasang surut. Kadangkala krisis menyergap tanpa diduga. Meski ahli ekonomi mengatakan fundamental ekonomi baik. Akan tetapi seringkali krisis dapat terjadi meski fundamen nya baik.

Fenomena bisnis kini kian menjadi kompleks. Keterkaitan antar wilayah, globalisasi perdagangan, kekuatan finansial global menyebabkan semua faktor berjalin kelindan. Kelamahan internal berupa kelambatan antisipasi dan tekanan perubahan ekonomi global bisa saling menimbulkan resonansi yang berdampak spiral down. Kejutan dan diskontinuitas pertumbuhan ekonomi bisa lahir tanpa peringatan.

Karenanya kini banyak perusahaan besar yang membelah portofolio bisnisnya kedalam pelbagai Strategic Business Unit dan Unit Profit Center. Sebuah kapal induk direstrukturisasi menjadi memiliki pelbagai fast boat, kapal cepat dan kapal fregat serta kapal selam untuk menghadapi pelbagai kemungkinan ancaman. Restruktursasi melahirkan organisasi yang ramping bermakna (lean and mean), organisasi yang adaptip dan memiliki fleksibilitas untuk memitigasi resiko jika diperlukan. Melalui cara diskritisasi melalui pelbagai unit reaksi cepat dalam skala ukm membuat ruang inovasi perusahaan besar menjadi lebih terbuka. Perusahaan skala besar perlu bertingkah laku seperti usaha kecil menengah. Biaya produksi efisien, penetrasi pasar lebih menonjol memenuhi setiap ceruk pasar yang semakin mengecil.

Dalam tulisan David Wessel, “In FED We Trust.” Crown Publishing Group, 2009 digambarkan bagaimana Manusia Bersumber Daya Iptek seperti Bernanke (Gubernur Bank Central Amerika), dan Geithner Menteri keuangan Amerika pada tahun 2008 bekerjasama bahu membahu dalam upaya temukan solusi terbaik. Keduanya merupakan “the best among equal”atau primus interpares” yang ahli dari yang expert” pada saat krisis itu.

Keduanya sebagai Gubernur Bank Sentral pengelola instrumen moneter dan Menteri Keuangan sebagai pengelola instrumen fiskal tidak sibuk dan asyik masyuk dengan kejagoan diri sendiri. Masing masing tak merasa syok aksi mempertahankan independensi aktivitas. Sebab mereka ibarat dua sisi dari mata uang yang sama. Tidak mungkin intrumen moneter bisa bekerja sendiri terlepas dari instrumen fiskal. Karenanya baik Bernanke maupun Geithner telah menunjukkan profesionalisme dan menurunkan ego sektoralnya. Mereka membangun sinergi dan memiliki komitment dan dedikasi untuk secara bersama membangkitkan ekonomi Amerika yang sedang terpuruk ketika itu, dilanda krisis finansial tahun 2008.

Dari Geithner kita memperoleh tiga “lesson learned” ketika kita hadapi krisis yakni :

1. Selalu Pecahkan masalah kompleks menjadi puluhan masalah rinci yang sederhana dan kelihatan mudah dipecahkan. Diskritisasi ” a complex system” through “hundred of subsystems” dengan pembagian tugas dan tim kerja yg profesional.Then, as Geithner always did in a crisis, he divided the necessary work among task forces.

2. Jangan cepat puas pada satu solusi. Sebab satu solusi belum tentu terbaik. Terus Lakukan proses Iterasi. Batin dan daya imajinasi kita harus terus diasah untuk senantiasa trengginas dan tidak pernah cukup puas dgn jawaban sembarangan dan apa adanya.Kita perlu mengembangkan daya kritis dan daya imajinasi Staff atau bawahan kita agar mereka menjadi problems solver yang andal. Karenanya kita harus meminta mereka pulang balik, lakukan pelbagai telaahan dan sugesti solusi. Jika perlu tiap dua jam mereka harus datang kembali dgn pilihan solusi yg lebih baik. Hanya melalui masalah yang berat keceradasan bisa dikembangkan.”He is very iterative,” one of Geithner’s aides said. “What’s the best idea? Go back and work on it. Come back in two hours.

3. Jangan pernah menyatakan “we give up”, kita menyerah. Kembangkan semangat Tak kenal putus asa u dapat solusi terbaik pada para staff. Bangun ekosistem intelektual dalam ruang kerja yang selalu berupaya teliti, cermat dan berdialog tentang pelbagai solusi. Sebuah ekosistem dimana para karyawan dan staf secara teliti dan cermat serta cekatan membuat solusi terbaik perlu terus menerus ditemukan dalam dialog dan iterasi. Jika perlu bolak balik 500 kali untuk ketemu policy terbaik bagi Bangsa dan Negara agar terhindar dari krisis finansial, Mengapa tidak. Ya ke 500 proses iterasi dilakukan dengan penuh kesabaran.

He’s incredibly tenacious. He just keeps going. How many iterations are required to get to where we want to go? Five hundred? OK, I’ll go to five hundred.”

Itulah yang kita bisa pelajari dari dua krisis 1998 dan 2008. Menurut hemat saya pada tahun 2015 ada baiknya kita fokus pada hal hal sederhana dan aksi individu yang cepat dan mudah dikerjakan. Sebab ekonomi dunia tidak lagi berada dalam suasana yang mudah dan sederhana.

Eropa masih limbung dilanda krisis ekonomi Yunani, Jepang sedang recovery, China sedikit melambat ertumbuhan ekonominya. Amerika sedang konsolidasi untuk menyelesaikan hutang piutangnya. Masalah Debt dan Defisit Anggaran menyebabkan Bank Central Amerika menerapkan “tapering policy”, memanggil kembali dollar pulang kandang.

Pasar uang internasional akan kesulitan mendapatkan dollar. Nilai dollar akan terus merambat naik. Indonesia masih akan berhadapan dengan masalah defisit neraca berjalan. Terlalu banyak impor kurang ekspor. Karenanya marilah Fokus pada yang sederhana dan kecil. Think Global act Locally. Think small think, act fast.

Dan Untuk bertindak cepat diperlukan lima langkah berikut ini :

Pertama, fokuskan diri pada upaya untuk meningkatkan revenue atau pendapatan perusahaan.

Kedua, pusatkan perhatian pada upaya sistematis guna menghilangkan kendala yang ada. Tidak usah kita mencari kambing hitam kalau ada kelambatan. Sebab semua orang tidak punya waktu banyak. Yang diperlukan adalah upaya untuk mencari jalan agar prioritas program-program kita tepat waktu. Tidak ada kesempatan untuk mencari siapa yang menjadi sebab masalah, akan tetapi fokus pada upaya menemukan solusi masalah. Cari solusi sederhana, bekerja sesuai prosedur kerja baku, untuk hasilkan karya cipta berkualitas tinggi.

Ketiga, Fokus pada Peningkatan Produktivitas untuk ciptakan Revenue, dan Efisiensi tinggi untuk kurangi biaya produksi. Ajak seluruh jajaran karyawan untuk lebih bertumpu pada kekuatannya sendiri. Himbau, dekati dan lakukan dialog agar semua karyawan mau diajak untuk bersatu dan tidak pernah tunduk pada kesulitan. Mereka diajak untuk tidak pernah takut menelusuri jalan-jalan baru yang sebelumnya tidak pernah dikenal. Mereka diajak untuk tidak pernah takut pada kegagalan. Sebab kegagalan adalah sukses yang tertunda. Karyawan dimasa krisis juga perlu memahami bahwa tidak bisa semua dana perusahaan dialirkan menjadi gaji dan insentip karyawan.Perusahaan bukan gudang duit. Jika Perusahaan gudang duitpun jika terus dikuras pasti habis juga. Tanpa produktivitas tak mungkin ada uang mengalir. Tanpa efisiensi pemborosan akan terjadi dimana mana.

Keempat, Ciptakan kesadaran baru bahwa setiap orang dan setiap benda mempunyai rezekinya sendiri. Itu sunatullah, ada ketentuan Allah di sana. Karena itu, ketertiban dan kedamaian kerja hanya ada jikalau segalanya berada pada tempat yang semestinya. Jika keadaan tidak beres, rezeki tidak muncul-muncul, pasti di sana ada masalah yang harus dicarikan solusinya.

Kelima Kita semua dapat memetik pelajaran dari China untuk mengembangkan kawasan industri berbiaya produksi murah, agar semua orang memiliki pekerjaan.Akan tetapi setelah berlangsung selama lima belas tahun kini ada tendensi semua pekerja menuntut gaji dan upah lebih tinggi. Tanpa terasa biaya produksi merangkak naik. Kini memproduksi barang di China tidak lagi murah. Masih ada tempat lain dan kawasan lain lebih murah. Karenanya industri yang “footloose” mudah bergerak seperti industri tekstil, alas kaki dan sepatu pindah ketempat lebih murah seperti Vietnam, Myanmar.

Akibatnya pengangguran mulai meningkat. Dan pengusaha di China kini memahami tidak semua pekerjaan memiliki standard gaji yang sama. Upah minimum tidak berarti semua lapangan pekerjaan memiliki gaji yang sama. Tak mungkin pekerjaan mencuci piring sama gajinya dengan penjaga malam. Tak mungkin juga penjaga malam sama gajinya dengan pembat kopi dan pembersih lantai. Dan tak mungkin juga tak ada perbedaan upah minimu diantara sopir, operator alat berat atau juga pembuat program komputer. Tiap jenjang pekerjaan memerlukan keahlian, tiap keahlian memiliki gaji yang berbeda pula. Sebuah pelajaran yang baik untuk direnungkan oleh semua kalangan bisnis agar terjadi efisiensi biaya produksi dan peningkatan produktivitas revenu persatuan tenaga kerja.

Dalam buku “The Book of Balance and Harmony” yang diambil dari terjemahan bahasa Inggris karya Sun Tzu. dalam “The Art of War.”, dikatakan : Setiap pekerjaan besar itu lebih mudah dimulai dari yang kecil, dan merencanakan sesuatu yang sukar dicapai dan dikelola hendaknya dilakukan ketika kita tak menghadapi kendala dimana semua terasa mudah. Semua yang sukar harus diselesaikan ketika persoalan muncul sebagai benih masalah krusial yang akan mengganjal sepanjang waktu seperti kerikil dalam sepatu. Jika krikil dalam sepatu tak segera dihilangkan dan tidak dibuang tak mungkin perjalanan berat mendaki gunung dapat dilaksanakan. Puncak gunung tak mungkin ditaklukkan. Karenanya semua yang besar selalu diawali dari yang kecil dan sederhana.

“Plan for what is difficult while it is easy, do what is great while it is small. The most difficult things in the world must be done while they are still easy, the greatest things in the “world must be done while they are still small.

For this reason sages never do what is great, and this is why they can achieve that greatness.”

“Deep knowledge is to be aware of disturbance before disturbance, to be aware of danger before danger, to be aware of destruction before destruction, to be aware of calamity before calamity.

Strong action is training the body without being burdened by the body, exercising the mind without being used by the mind, working in the world without being affected by the world, carrying out tasks without being obstructed by tasks.

By deep knowledge of principle, one can change disturbance into order, change danger into safety, change destruction into survival, change calamity into fortune.

By strong action on the Way, one can bring the body to the realm of longevity, bring the mind to the sphere of mystery, bring the world to great peace, and bring tasks to great fulfillment.” (Quote from “The Book of Balance and Harmony”)

Mohon maaf jika keliru, Salam

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: