//
you're reading...
Human being, Leadership, Motivasi, Perubahan

Back to Basics Leadership

Eileen Rachman & Emilia Jakob,
EXPERD CHARACTER BUILDING ASSESSMENT & TRAINING

Kompas, 9 Mei 2015

Bila kita melihat lihat di toko buku, dengan mudah kita dapat menemukan buku mengenai kepemimpinan. Baik itu mengenai biografi pemimpin dunia yang memiliki pengaruh begitu besar pada sejarah, biografi tokoh-tokoh bisnis terkemuka, maupun buku-buku teori kepemimpinan yang ditulis oleh para professor maupun praktisi bisnis. Beragam resep kepemimpinan ada di sana, ada yang saling melengkapi sampai yang tumpang tindih dan kontroversial sekalipun. Begitu banyaknya teori dan kisah sehingga bagi kita yang ingin ‘belajar’ menjadi pemimpin mungkin akan bertanya-tanya dalam hati: mungkinkah saya mengimplementasikan semua teori ini agar saya dapat menjadi seorang pemimpin yang baik, sementara untuk menghapal semua teori itu saja saya bahkan sudah kewalahan. Pertimbangan untuk menjadi pemimpin ideal ini akhirnya sudah menjadi semakin rumit dan ‘overfocused’. Pertanyaannya, adakah hal-hal mendasar yang justru malah kita lupakan? Marilah kita melihat ke sekeliling kita untuk menemukan perilaku – perilaku sederhana yang kerap dikerjakan oleh mereka yang dengan mudah bisa kita sebut sebagai ‘pemimpin’ lepas dari apakah ia memang memiliki jabatan atau tidak, tetapi lebih dilihat kepada kualitas apakah ia mampu mempengaruhi orang lain untuk bekerja mencapai visinya.

Kenali ‘orang’ mu

Teman saya yang baru masuk ke sebuah departemen, pada hari pertama langsung mewawancarai setiap anak buahnya secara one on one. Hal ini dianggapnya perlu, malahan ia heran bilamana hal sederhana ia tidak dianggap penting bahkan dilakukan oleh orang lain. “Kita perlu tahu cita cita dan harapan anak buah kita bukan? Kita perlu mengenal apa yang memotivasi mereka, apa ketakutan dan kekhawatiran mereka, kemudahan dan kesulitan yang ia alami, sampai pada kekuatan , ketrampilan dan sejauh mana kontribusinya. Kita perlu ‘hafal mati’ semua kebutuhan dan kemampuan ‘direct reports’ kita. Bila tidak , bagaimana kita bisa mempunya ‘helicopter view’ terhadap tim kita. Sesederhana itu. Jadi, kalau kita menyaksikan pemimpin yang tidak pernah bicara dari hati ke hati dengan anak buahnya, tidak mengenal mimpi, harapan dan ketakutan anak buahnya; bagaimana mungkin ia akan bisa menguasai anak buahnya, atau lebih lanjut lagi mengelola kerjasama anak buahnya, bahkan mengembangkan potensi tersembunyi mereka yang mungkin mereka sendiri pun belum menyadarinya.

Menjadi “recharge station”

Kita kembali berfikir mengenai siapa yang menyemangati kita pada saat kita dulu bersekolah, kecewa, berjuang dan terpuruk. Apa yang ia lakukan sehingga bisa menyuntikkan energi baru ke diri kita, memberi tambahan kekuatan dalam diri kita untuk bangkit kembali. Bisa jadi ia adalah guru atau orang tua kita, namun bisa saja orang-orang sederhana seperti tukang kebun, pembantu rumah tangga yang memberi ‘value’ kepada diri kita. Dalam sebuah kisah yang diangkat oleh sebuah page di facebook bernama Humans of New York, seorang anak remaja ditanya siapa yang dia anggap berpengaruh dalam hidupnya. Ia menceritakan bagaimana kepala sekolahnya memperlakukan siswanya yang bermasalah. Alih-alih dari menghukum mereka, kepala sekolah ini memanggil siswa itu ke kantornya dan menceritakan bagaimana setiap kali ada satu siswa yang drop out, satu sel penjara baru akan dibangun. Dan suatu kali kepala sekolah ini meminta satu persatu siswa untuk berdiri dan mengatakan kepada setiap dari mereka, bahwa mereka adalah anak yang spesial. Metoda penyemangat yang sederhana inilah yang perlu kita adaptasi, tanpa ada ‘magic’ yang spesial.

Tetap fleksibel

Kesibukan yang amat sangat tidak bisa kita jadikan alasan untuk menjadi ‘keras’ , diktator dan tidak memperhatikan lapangan. Semua orang menghadapi tantangan compliance, deadline, peningkatan efisiensi dan rapat-rapat dengan pelanggan. Bukankah pada dasarnya kita memang dibekali kemampuan untuk multitasking untuk hidup di dunia yang kompleks ini? Artinya, orang yang tidak bertahan adalah orang yang ‘anomali’. Kita memang harus bisa berselancar dalam arus perubahan ini. Pemimpin pasti sesekali berganti peran, sebentar sebagai mitra, kali lain sebagai bapak, sampai mungkin sebagai ‘polisi’ yang menjaga batas-batas agar pengikutnya tidak sampai keluar batas. Kapasitas ini tidak ada teorinya, dan tidak dipelajari di universitas. Sangat mendasar, tetapi sering pula memang tidak dipraktekkan orang.

Tegas, dan berani

Pemimpin yang pengecut tidak akan mempan memimpin. Bagaimana ia bisa menyebar pengaruh bila kita masih ragu akan like dislike anak buah, takut tidak populer sehingga tidak berani tegas. Kita harus mampu memotivasi sekaligus menuntut kualitas, excellence, dan kemajuan.

Jadi , menghafal 101 rumus atau kiat menjadi pemimpin sudah salah kaprah. Kita kuatkan pondasinya dulu baru kemudian kita melihat ke depan, terbuka terhadap masukan masukan dari luar. Kitapun perlu menjadi pelopor pemanfaatan waktu, ketat dalam deadline dan waktu pemrosesan. Garap kemampuan berkomunikasi untuk tetap keep contact dan menyampaikan maksud , tujuan, serta cara. Tentunya caranya lebih banyak tidak berstruktur dan sangat personal. Ini memang seni, bukan ‘science’.

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: