//
you're reading...
Creativity, Ekonomi, Entrepreneurship

Indonesia diambang resesi ? Insya Allah tidak

Jusman Syafii Djamal
May 6, 2015

Harian Tempo hari ini membuat tulisan mengejutkan judulnya : Indonesia diambang Resesi. Yang menulis Fery Firmansyah seorang wartawan Tempo. Ia melihat tanda tanda resesi sudah diambang pintu. Pertumbuhan hanya 4,71 % pada kuartal I, terendah pada enam tahun terakhir. Lampu merah sudah menyala katanya.

Saya juga pernah menulis tentang bahaya mengancam pertuumbuhan ekonomi kita ketika kita semua seolah tertawa senang melihat turunnya mata uang rupiah menuju 13000 dalam catatan fb saya. Kini semua sudah menjadi kenyataan Biaya produksi barang dan jasa meningkat 30 % akan tetapi Revenue merosot hingga 20 %. Bagi perusahaan ada tekanan pada arus kas berjalan. Biaya terus meningkat sementara pendapatan seret. Dan yang lebih parah ruang efisiensi kiang menyempit. Mau melayoff karyawan ada rasa sayang. Sebab kini menurut Suryatin Kepala BPS juga angka pengangguran telah mencapai 7,45 juta (kata tempo hari ini halaman 18). Lulusan Sekolah dasar usia 15 tahun keatas yang menganggur pada bulan Februari 2015 tercatat 3,61 %. Lulusan SMP 7,14 %. Lulusan SMA 8,17 %, lulusan Sekolah kejuruan 7,49 %, Diploma I-III 7,49 % dan lulusan Universitas 5,34 %.

Resesi adalah fenomena perlambatan ekonomi. Pertumbuhan terus menunjukkan angka penurunan. Jika tanda tanda Resesi dibiarkan tanpa tindakan “counter cyclical” ia akan menuju pada Stagnasi ekonomi dan Depresi. Kiamat Kecil.

Peringatan harian Tempo pada halaman 5 yang ditulis oleh Fery Firmansyah hendaknya tidak dipandang sebelah mata. Sebab itu nyata adanya. Kini tinggal dua jalan terbuka : Ikuti arus gelombang yang terjun kebawah kearah stagnasi atau mencoba bangkit kembali. Harus ada tindakan luar biasa untuk bangkit kembali. Extra ordinary effort harus dikerjakan secara bersama.

Tanda tanda Pemerintahan Jokowi JK telah memiliki langkah untuk melawan kecenderungan Resesi tampak nyata. Grounbreaking pembangunan infrastruktur digenjot dimana mana. Satu minggu lalu pembangungan jalan tol lintas Sumatera. Kemudian peresmian infrastruktur pendidikan logistik Pelindo University dan lain sebagainya. Arah pembangunan infrastruktur adalah menyediakan lapangan kerja. Sebab pada umumnya pembangunan infrastruktur bersifat padat karya. Juga ada kebijakan untuk menggelontorkan dana ke pedesaan. Agar ekonomi pedesaan tumbuh. Ekonomi pedesaan kini akan dijadikan pengungkit dan pembangkit ekonomi wilayah. Sebuah pendekatan yang patut untuk diacungi jempol. Bantal kestabilan ekonomi seolah sedang disiapkan oleh Pemerintah.

Akan tetapi inisiatip pemerintah itu belum cukup jika tidak diimbangi oleh kebijakan moneter yang agresif. Sebab masalah utama diekonomi yang sedang melambat adalah persoalan Likuiditas. Arus kas dana segar dalam masyarakat cenderung kering. Duit menjadi barang langka. Sebab semua Bank menarik nasabahnya untuk terus menabung. Motto Hemat Pangkal Kaya terus dikumandangkan. Apalagi pengambil kebijakan moneter juga kini terasa diisi oleh pandangan ekonom ortodoks yang memandang “austerity adalah satu satunya jalan untuk bangkit kembali”. Seolah semua rumus model Austerity yang kini sedang berjalan di Yunani untuk atasi krisis kelihatan tanpa sadar kita ikuti. Dollar dibiarkan terus meraja lela dan rupiah seolah dibiarkan hanyut ikuti gelombang. Nilainya seolah turun terus dan kita terus menyatakan itu fenomena global, nothing we can do.

Perusahaan perusahaan yang kini eksis dan sudah menyediakan lapangan kerja serta menjadi sumber pajak juga harus diperhatikan keberlangsungan hidupnya. UKM dan UMKM serta warung tegal dan restoran padang serta hotel hotel yang sudah dibangun selama 15 tahun terakhir ini juga perlu diperhatikan agar tidak tenggelam dalam gelombang surut perekonomian dan jadi bangkrut. Likuiditas, kredit modal kerja serta insentip fiskal yang nyata dan muncul dihari hari sulit ini jauh lebih penting ketimbang bayangan akan investasi masa depan yang terus bergelora. Investasi masa depan infrastruktur sangat penting. Tetapi perusahaan yang kin eksis adalah modal kita. Jangan sampai mengejar punai terbang, burung ditangan dilepaskan.

Kini semua harga cenderung naik. Biaya raw material atau komoditi dipasar dunia merosot. Tetapi bagi industri manufaktur pengolahan biaya produksi meningkat. Sementara Daya beli merosot. Biaya Uang atau Cost of Capital juga cenderung meningkat 20 %. Semua ini saling bergabung membentuk keecenderungan seperti arus pusaran yang menyeret kebawah kedalam lubuk yang dalam, spiral down. Yang kesemuanya berujung pada kecenderungan likuiditas dan dana segar dimasyarakat berkurang. Volume dan kecepatan uang beredar melambat ??

Hemat pangkal kaya adalah pepatah yang baik. Akan tetapi saya lebih cenderung pada pendapat Prof Ary Kuncoro ekonom UI yang pada satu ketika ketika berdiskusi dengan saya bilang begini :”Jika ekonomi sedang melambat, maka kata Hemat pangkal Kaya tidak sepenuhnya benar. Hemat justru merupakan pangkal Resesi”. Apalagi jika yang hemat adalah Pemerintah. Jika Belanja barang dikurangi, jika belanja modal dikurangi, jika APBN tidak mampu mengalir ketengah masyarakat melalui program pembangunan dan program rutin maka ibarat sungai , sumber mata airnya terus mengering dan semua orang kehilangan air untuk mandi, minum dan makan.

Diambang Resesi uang atau likuiditas merupakan kata kunci. Karena itu Rajin rajinlah Belanja terutama Pemerintah. Belanja modal, belanja barang Investasi. Apa itu mungkin dilakukan Wallahualam. Saya berpendapat kata peringatan Tempo bahwa kita diambang Resesi harus dipandang sebagai sebuah “wake up call’. Ibarat alaram atau lonceng jam yang sengaja disetel agar kita bangun lebih pagi, bekerja lebih keras dan belanja lebih banyak. Tanpa likuiditas ekonomi masyarakat tak mungkin bergerak. Insya Allah Bangsa Indonesia tidak akan jatuh kepangkuan Resesi dan Stagnasi Ekonomi. Kita pernah lolos dari krisis ekonomui tahun 1998 dan juga lolos dari krisis finansial tahun 2008. Kini 7 tahun kemudian ditahun 2015, Wake Up Call telah menyala. Tanda perlambatan ekonomi telah muncul dihorison kita. Tak mungkin lagi kita berdebat kesana kesini. Pengusaha dan Pemerintah harus bersatu padu dalam satu irama. Begitu juga Bank Indonesia tak mungkin terus berdiam diri hanya memandang kejauhan gelombang pasang surut yang sedang terjadi. Dan terus bersikukuh dengan argumen ini adalah fenomena Global tidak akan ada langkah yang bisa diperbuat.

Wake up Call harian Tempo bukan musik blues. Sebab kata penggemar blues When You Hear the Blues Nothing you can do. Jika keliru mohon dimaafkan. Salam

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: