//
you're reading...
Human being, Lingkungan, Motivasi, Renungan

Sepedaan dan Keseimbangan

Lukito Edi Nugroho
2 Mei 2015

Sekarang saya sedang hobi sepedaan. Hobi ini baru dimulai sekitar 2,5 bulan y.l. Waktu itu saya merasa perlu menambah porsi olahraga karena faktor ‘U’ semakin terasa. Jatuhlah pilihan pada sepedaan, karena di rumah sdh ada sepeda dan sepertinya tidak membosankan utk dijalani.

Hari-hari pertama ternyata tidak seindah yg saya bayangkan. Saya hampir selalu mengawali dengan rute naik (ke arah utara) dengan pertimbangan pulangnya tinggal menggelinding saja. Ternyata harus melewati tanjakan sebelum menggelinding itu sesuatu yg sangat painful pada awalnya. Saat itu, dari rumah saya yg kira-kira di kilometer 6 naik ke km 7 saja sudah ngos-ngosan sekali. Pada saat gowes di jalan menanjak, napas jadi terengah, paha jadi pegal, dan penglihatan seolah melihat tanjakan tanpa putus. Itu yg membuat saya sering hampir menyerah. Sudah ah, putar balik saja, pikir saya. Tapi sebelum saya putar stang sepeda, selalu saja di kejauhan kelihatan jalan yg mendatar. Semacam local maxima begitu. Saya tahu setelah potongan jalan datar itu akan ada tanjakan lagi, tapi saya tertantang utk mencapainya. Saya harus bisa, begitu ketetapan hati saya. Dan begitu target kecil ini tercapai, sayapun mendapatkan rewardnya: kayuhan jadi lebih ringan, kecepatan sepeda bertambah. Dan ini cukup membuat saya jadi bersemangat lagi utk menatap tanjakan berikutnya. Begitu seterusnya.

Demikian saya menjalani hari-hari sepedaan saya. Februari kemarin saya hanya kuat naik sampai km 9, sekarang sudah sampai km 14. Dulu jarak tempuh hanya maksimal 5 km, sekarang sudah lebih dr 25 km. Dan hasrat utk naik lebih tinggi dan menempuh jarak lebih jauh semakin lama semakin besar.

Tapi saya kemudian teringat satu hal…Saya mungkin bisa menambah jarak tempuh, tapi itu berarti menambah waktu juga. Padahal kalau pas bukan hari libur, ada hal2 lain yg memerlukan kehadiran atau keterlibatan saya. Kuliah di kampus misalnya. Atau mengantar si bungsu ke sekolahnya.

Jadi saya harus bisa “berhenti”. Saya harus mengalihkan perhatian, waktu, dan energi saya pada hal-hal lain, karena pada perspektif yang lebih luas, hidup saya bukanlah tentang sepedaan semata. Ada keseimbangan yang harus saya jaga. Saya bisa sepedaan, tapi juga bisa tetap mengantar anak ke sekolah atau ke kampus pagi-pagi. Pertanyaannya: apakah “berhenti” itu menimbulkan kekecewaan? Tidak juga, karena kuliah dan membimbing itu memang passion saya. Apalagi bisa memboncengkan si kecil ke sekolahnya, itu priceless banget. Ada kenikmatan-kenikmatan lain dalam bentuk yang berbeda yang bisa saya alami. Singkat kata, berada dalam keseimbangan itu menyenangkan, krn kita bisa meramu kenikmatan dari berbagai sumber tanpa berlebihan, dengan komposisi yang pas.

Keseimbangan juga bermanfaat bagi kita dlm hal memudahkan kita untuk mengeksplorasi berbagai aspek kehidupan yg kadang terpisah di dua sisi ekstrem yang berbeda. Dalam perjalanan hidup, kadang kita harus melangkah ke arah yg kita tidak familiar. Kadang kita harus bergerak ke ekstrem di sisi seberang, ke teritori yg asing. Keseimbangan akan membantu kita karena center of gravity berada di tengah. Bergerak ke sisi seberang tidak akan seberat jika misalnya posisi kita condong ke sisi tertentu.

Jadi sebenarnya yg ingin saya share dalam tulisan ini adalah: dalam menghadapi sebuah urusan, berusahalah semaksimal mungkin. Hadapi semua hambatan dengan semangat, tapi pada saat yg sama, ingatlah bahwa segala sesuatu itu ada ukurannya. Urusan yang kita kerjakan saat itu hanyalah potongan kecil dari mosaik kehidupan yang indah. Berlebihan pada satu potongan mosaik pasti akan menimbulkan kekurangan pada potongan yang lain. Kondisi tidak seimbang seperti ini pasti melelahkan karena tidak sesuai dengan hukum dasar alam ini: harmoni.

Terlalu sibuk bekerja, terlalu keras belajar, terlalu tenggelam dalam penelitian, meskipun itu dipicu oleh passion dan semangat, dapat menggeser titik keseimbangan. Begitu tatanan harmonis berubah, pasti akan muncul keluhan-keluhan, karena ada sisi-sisi yang terabaikan.Mungkin ada yg bertanya: kalau tidak all out, bagaimana bisa mencapai keunggulan? Well, menurut saya, tinggal didefinisikan saja battlefieldnya, mau unggul di mana? Dibandingkan teman-teman saya, prestasi gowesan saya tentu belum apa-apa, tapi saya bisa bilang juga, kalau naik motor, saya sudah sampai ke Purwokerto. Nyetir mobil? Ini juga bisa diadu, krn sejak menikah 24 tahun lalu, tiap tahun saya nyetir Jogja-Lampung untuk perjalanan mudik. Di sinilah tantangannya, bagaimana mencapai keunggulan tanpa harus kehilangan keseimbangan.

Yang lebih penting lagi, keunggulan tidak selalu berarti mengalahkan semua orang dalam satu hal tertentu, tapi pada saat yang sama mengabaikan aspek-aspek lain. Menurut pandangan pribadi saya, menempatkan diri untuk bisa berada pada kondisi seimbang itu justru prestasi yg luar biasa, krn dengan itu kita bisa menjadi lebih selaras dengan alam sekitar dan lingkungan kita. Dalam kondisi inilah kita bisa menjalankan peran sebagai rahmatan lil alamiin dengan lebih optimal. Jika berada di titik tengah, sinar yang dipancarkan oleh sebuah lilin akan optimal dalam menerangi sekelilingnya…

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: