//
you're reading...
Human being, Pendidikan, Perubahan, Renungan

Renungan Pendidikan #42

Harry Santosa – Millenial Learning Center

Hampir setiap kita percaya bahwa keistimewaan seseorang adalah apabila mereka mampu melakukan sesuatu dengan hebat, begitupula kelemahan seseorang adalah apabila mereka tidak mampu melakukan sesuatu dengan hebat. Benarkah?

Ada kisah seorang anak di Inggris, sejak kecil nampak hebat dalam bidang olahraga renang, sehingga dimasukkan ke dalam sekolah khusus renang dan kemudian menjadi semakin hebat dalam bidang olahraga ini.

Tak berapa lama dunia segera melihat dia menjuarai berbagai even kompetisi renang. Hidupnya kemudian dipenuhi banyak penghargaan, medali dan pujian.

Namun dunia kemudian dikagetkan oleh kenyataan bahwa anak ini menderita migren yang parah di usia muda, dan setelah ditelusuri maka ditemukan bahwa ternyata dia sangat membenci renang!

Ada kisah lain, seorang dokter ahli akupuntur di Indonesia yang menemukan pengobatan penyakit tertentu lewat akupuntur. Lalu orang dan kawan kawannya melihat dokter ini sangat sukses, pasiennya banyak dan tentunya banyak penghargaan dan uang.

Namun, dalam sebuah reuni dengan kawan kawannya, dokter ini menangis dan mengatakan bahwa dia sesungguhnya hanya menyukai peran peneliti dalam dunia penelitian. Dia mengatakan bahwa berhari hari di lab adalah saat saat penuh kebahagiaan tiada terkira.

Lalu, apa yang membuatnya menangis? Ternyata dia menderita dan tidak bahagia bahkan membenci bertemu pasien dan mengobati orang!

Itu bukan berarti mengobati orang adalah pekerjaan yang buruk. Mengobati orang adalah pekerjaan yang mulia, namun sejujurnya itu bukan panggilan hidupnya, “Itu bukan diri saya”.

Sebuah kisah lagi yang umum ditemui adalah tentang seorang pejabat di perusahaan ternama, bergaji cukup dengan fasilitas lebih dari standar. Namun kebahagiaannya bukan dari Senin sampai Jumat, tetapi hanya hari Sabtu dan Minggu, mengapa?

Itulah hari hari yang ditunggu tunggunya, yaitu saat dan dimana dia mengajar di kampus, bertemu dan mengajar para mahasiswa. Ternyata dia membenci hari harinya bekerja pada peran dan bidangnya walau sangat kompeten dalam peran dan bidangnya itu.

Renungkan tiga kisah ini, coba bayangkan bagaimana kita mengatakan bahwa ada orang yang nampak hebat dan kompeten dalam sebuah bidang atau peran ternyata belum tentu menyukainya dan bahkan membuatnya tidak bahagia.

Kok bisa? Ya demikianlah kenyataannya. Kehidupan, pengalaman, lingkungan dan pendidikan seseorang kadang membawanya mampu dan nampak kompeten dan hebat dalam sebuah peran atau bidang, namun sesungguhnya bukan itu yang menjadi panggilan hidupnya, bukan itu yang menjadi kebahagiaannya.

Kehidupannya, kebutuhan ekonominya, tekanan hidup yang mendesak dstnya menyeret seseorang untuk masuk dalam pusaran peran atau bidang yang bukan dirinya, bukan kebahagiaannya, bukan panggilan hidup dan jiwanya.

Orang orang demikian ada banyak di sekitar kita bahkan mungkin diri kita sendiri. Umumnya kita mencoba shabar atas keshalahan karir ini, tawakal atas peran yang produktif namun tetap saja kita tidak bahagia dan sulit maksimal.

Mensyukuri apa yang ada, mencoba bertahan sekuatnya, namun merasa ada peran yang semestinya ditunggu dunia atas dirinya namun tidak mampu ditunaikannya. Dia tidak jujur pada dirinya, dia tidak jujur pada fitrah bakatnya.

Ya benar, banyak kemudian yang tidak jujur atas panggilan hidupnya itu, atas fitrah bakatnya itu. Hanya 2 dari 10 orang di dunia yang jujur menjalani peran dirinya. Inilah krisis kemanusiaan sesungguhnya.

Amatilah orang orang yang sukses, umumnya mereka menjalani perannya dengan penuh kebahagiaan dan keridhaan juga kejujuran.

Lalu bagaimana dengan anak anak kita?

Hati hati bahwa jika anak anak kita terlihat hebat dalam sebuah bidang atau sebuah peran, sesungguhnya itu belum tentu keistimewaan atau kekuatan dirinya.

Karena sesungguhnya kistimewaan dan kekuatan seseorang bukan diukur dari hebat dan kompeten nya seseorang dalam sebuah bidang dan peran, namun diukur dari seberapa dia bahagia dan suka menjalaninya.

Aktifitas produktif yang dilakukan dengan penuh bahagia dan kesukaan itulah keistimewaan dan kekuatannya yang akan membawanya pada puncak kinerja perannya.

Sebaliknya jika anak anak kita nampak semakin tidak semangat memulainya, semakin melemah ketika melaksanakan dan mengakhiri suatu aktifitas produktif walau nampak hebat maka itu artinya aktifitas itu bukan bakatnya atau panggilan hidupnya.

Lalu bagaimana mengetahuinya?

Cirinya adalah bahwa aktifitas itu dinanti nanti kedatangannya, ditunggu tunggu dengan suka cita dan tidak shabar. Maka jika anak kita mengalaminya, catatlah saat itu juga, jangan ditunda.

Lalu ketika tiba waktunya maka aktifitas itu dijalaninya dengan penuh semangat dan kegembiraan, seolah jam berhenti bergerak, dunia berhenti berputar, dia tenggelam dalam keasyikannya dalam melahirkan yang terbaik dari cipta, karsa maupun rasa. Segera catatlah jika anak kita mengalaminya, jangan ditunda.

Dan ketika berakhir, maka mereka tidak mengatakan “ahhh… akhirnya selesai juga…”, tetapi tergambar di wajahnya kepuasan dan kebahagiaan yang luarbiasa namun bersamaan datangnya gairah dan keinginan mengulanginya kembali. Segera catatlah jika anak kita mengalaminya.

Fasilitasi anak anak kita dengan beragam aktifitas, jangan terkungkung dengan dunia otak kiri dan teknik akademis semata. Perbanyaklah aktifitas produktif yang menjadi minat dan keinginannya. Umumnya 90% generasi kelahiran tahun 2000 ke atas adalah mereka yang berbakat pada peran dan bidang yang bukan akademis.

Jika demikian maka saksikanlah bahwa dalam beberapa pekan kita akan mendapatkan daftar aktifitas yang menjadi panggilan hidup anak anak kita.

Pilihlah 3 atau 4 saja yang terbaik, lakukanlah hanya dua kali dalam sepekan, lengkapi dengan skill dan knowledge pendukung maka fitrah bakat ini akan tumbuh subur menuju peran yang ditunggu dunia sebagaimana Allah telah tanamkan pada fitrah bakatnya sejak dia dilahirkan. Itulah misi spesifik khalifahnya yang akan membahagiakannya di dunia dan juga di akhirat.

Maka jujurlah atas fitrah bakat anak anak kita.

Salam Pendidikan Peradaban
#‎pendidikanberbasispotensi‬
‪#‎pendidikanberbasisfitrah‬ dan akhlak

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: