//
you're reading...
Opinian, Renungan

Membaca Gerakan Mahasiswa : Selalu Saja Sebuah Gerakan Moral (Part II)

Adriano Rusfi
April 1, 2015 at 10:11pm

Obrolan sempat berhenti malam itu, saat saya harus ke minimarket untuk membeli beberapa snack agar diskusi berkembang semakin seru. Lalu saya kembali sambil mengajukan tanya :

“Sebagai kaum intelektual, apakah gerakan mahasiswa adalah gerakan intelektual ?”

Dengan semangatnya mereka bercerita bergantian panjang lebar. Dan ini yang saya simpulkan dari cerita mereka :

Siapa bilang gerakan mahasiswa adalah gerakan intelektual ?

Tidak ! Memang betul bahwa mahasiswa adalah kaum intelektual, atau setidaknya calon intelektual. Tapi sebenarnya gerakan mahasiswa bukanlah gerakan intelektual. Itu bukan gerakan yang didasari oleh nalar, bukan gerakan yang diinspirasi oleh kalkulasi otak. Gerakan mahasiswa juga tak pernah berangkat dari argumentasi akademik dan intelektual. Memang betul bahwa gerakan mahasiswa dikendalikan oleh akal sehat, tapi akal sehat bukanlah ruh gerakan mereka. Jadi, intelektualitas dalam gerakan mahasiswa adalah rem, bukan gas.

Dan gerakan mahasiswa juga bukan gerakan politik. Tak ada kepentingan kekuasaan dalam hati dan kepala mereka. Itulah sebabnya kenapa mahasiswa nyaris tak dapat apa-apa dari pengorbanannya. Itulah sebabnya kenapa mahasiswa adalah pihak yang pertama kali tersingkir begitu mereka menuntaskan misinya. Ya, mereka sama sekali tak punya agenda apapun begitu sebuah rejim lengser karena ulah mereka. Mereka datang, bertarung, terbunuh, lalu pergi…

Karena gerakan mahasiswa selamanya adalah gerakan moral. Ia bermula dari empati dan dipandu oleh nurani. Makanya, akan banyak yang tertipu jika memahami gerakan mahasiswa dalam kajian logika. Jangan pernah menyajikan data agar mahasiswa segera bergerak. Jangan pernah memaparkan informasi agar mahasiswa urung beraksi. Gerakan mahasiswa seringkali hanya dapat dipahami dengan rasa. Makanya, suasana bathin mahasiswa Depok mungkin lebih mudah dirasakan lewat kegelisahan seniman Cikini dan Bulungan, tinimbang lewat forum-forum diskusi.

Jadi, jangan heran jika gerakan mahasiswa justru sangat fisikal ketimbang logikal, pake otot ketimbang otak, sangat hardcore dan tidak softcore. Gerakan mahasiswa bahkan tidak efisien dan terlalu banyak makan korban. Secara kasat mata gerakan mahasiswa memang sangat mirip dengan gerakan buruh. Namun, jika gerakan mahasiswa lebih terberkati, itu karena buruh berjuang untuk kepentingan merekan sendiri, sedangkan mahasiswa bertarung untuk kepentingan rakyat.

Oleh karenanya, selain para juru nalar, para ekonom mungkin juga termasuk yang paling sulit memahami “keekonomian” dari sebuah gerakan mahasiswa. Keputusan mahasiswa untuk bergerak atau tidak bergerak, hingga hari ini masih belum bisa ditakar dalam timbangan-timbangan feasibility study. Makanya, diantara aktivis mahasiswa ada anekdot yang berkembang : Jika mahasiswa fakultas ekonomi mulai bergerak, maka seluruh universitas sebenarnya telah bergerak.

“Tapi begini Bang…”, tambah mereka saat mereka melihat mimik saya yang tak sepenuhnya percaya akan cerita mereka :

“Dalam setiap gerakan mahasiswa tentunya selalu saja ada para oportunis dan penumpang gelap yang sangat berbeda dengan yang kami ceritakan tadi. Biasanya, kamilah yang berjuang dan merekalah yang mengambil untung hehehe…”

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: