//
you're reading...
Human being, Pendidikan, Perubahan, Renungan

Pendidikan Islam dan Lost of Adab

Oleh: Ahmad Kholili Hasib

Akhir-akhir ini kita mendengar berita miris tentang pelajar kita. Di sebuah hotel sekelompok siswa SMA adakan pesta bikini. Untuk rayakan UN (Ujian Nasional), sejumlah pasangan siswa-siswa melakukan hubungan seks. Sepertinya kejadian itu sudah menjadi tradisi yang tiap tahun berulang-ulang. Belum lagi di tingkat perguruan tinggi. Levelnya sudah naik menjadi ‘maksiat’ keyakinan.

Tantangan pendidikan Islam saat ini adalah hilangnya adab (loss of adab). Terjadinya loss of adab dalam pendidikan karena dua hal; pertama akibat pengaruh besar arus dominan sekularisasi dalam pendidikan Islam. Kedua meninggalkan tradisi pendidikan para ulama, tidak mengenalnya dan abai atas dasar-dasar ilmu para ulama yang akibatnya menurunkan otoritas ulama Islam.

Kegiatan pendidikan Islam semestinya memiliki landasan Islamic Worldview. Tujuan dan asasnya berdasarkan konsep-konsep dasar Islam.
Pandangan hidup Islam adalah pemahaman seorang Muslim terhadap konsep-konsep kunci dalam Islam, seperti konsep tentang Tuhan, wahyu, nabi, manusia, jiwa, alam, ilmu dan lain-lain. Lalu, menjadikan konsep-konsep kunci tersebut sebagai alat dasar dalam merancang falsafah pendidikan. Oleh sebab itu, pembentukan karakter penuntut ilmu sangat dipengaruhi oleh pandangan hidup ini.

Cara pandang, sikap dan etika seorang Muslim dikendalikan oleh pemikirannya dalam memahami realitas alam ini, baik realitas fisik maupun metafisik.
Seorang Muslim yang memiliki visi keakhiratan memiliki perspektif berbeda dengan seseorang yang bervisi keduniawiyaan semata dalam melihat setiap realitas dalam kehidupan.

Pendidikan, merupakan wadah pengembangan ilmu pengetahuan. Baik tidaknya masyarakat dikembalikan kepada benar tidaknya ilmu yang dipelajari. Manusia menjadi beradab karena mengamalkan ilmu dengan baik dan benar.

Sebuah pemikiran tidak beradab jika pemikiran tersebut tidak sesuai epistemologi Islam, anti-otoritas, meyakini kebenaran itu relatif dan lain sebagainya.

Maka, menyamakan ijtihad imam Syafi’i — misalnya — sama sebanding dengan hasil olah pikiran kita yang awam adalah tidak beradab. Karena kita menyamakan diri yang awam dengan seorang ulama yang hebat dalam satu derajat. Selain itu, kita salah memahami konsep ijtihad ulama.

Bahwa ijtihad itu ada syarat, kaidah, dan prosedurnya. Tidak sekedar menjiplak teks lalu diambil kesimpulannya sendiri.

Ijtihad ada syarat dan rukunnya, dimana Muslim awam tidak mudah melakukannya. Ini juga contoh lain lost of adab. Jadi, pendidikan kita masih banyak celah dalam beberapa sisi. Ini karena telah meninggalkan tradisi para ulama. Hilangnya adab (lost of adab) dalam Pendidikan Islam itu juga misalnya bisa dilihat dari fenomena orang pintar tapi tidak berakhlak.

Salah faktor yang bisa kita identifikasi adalah karena tidak ada pengetahuan tentang mana fardhu ain dan mana ilmu yang fardhu kifayah dan yang jaiz (boleh). Bahkan dipandang ilmu fardhu ain tidak ada kaitan dengan ilmu yang lain.

Tidak sedikit pelajar-pelajar yang prestasi di bidang sains dan teknologi. Namun belum banyak yang mampu mensinergikan dengan pengetahuan agama. Banyak ditemui seorang insinyur atau peneliti sains, akan tetapi malas beribadah. Dan yang paling banyak adalah, mereka memilih profesi tersebut dan menekuni ilmu itu hanya untuk menambah kekayaan. Mereka memilig fakultas kedokteran agar kelak menjadi kaya.

Akibatnya, kuliah bukan karena mencintai ilmu atau menunaikan kewajiban fardhu kifayah, tapi sekedar berburu uang. Cara pandang demikian dapat dinilai kurang beradab. Sebab melepaskan dimensi ketuhanan dalam aktifitas keilmuan. Cara pandang ini sangat rawan menjadikan ilmuan yang ‘menghalalkan’ segala cara dalam aktifitasnya.

Ilmu fardhu ‘ain adalah ilmu yang wajib bagi tiap-tiap individu Muslim mengetahuinya. Mencakup ilmu yang berkenaan dengan i’tiqad (keyakinan). Ilmu-ilmu yang menyelamatkan dari keraguan (syakk) iman.

Tujuan ilmu ini untuk menghilangkan kekeliruan iman, dan bisa membedakan antara yang haq dan bathil.

Dimensi lain – dari ilmu fardhu ‘ain – adalah ilmu-ilmu yang berkenaan dengan perbuatan yang wajib akan dilaksanakan. Misalnya, orang yang akan berniaga wajib mengetahui hukum-hukum fiqih perniagaan, bagi yang akan menunaikan haji wajib baginya memahami hukum-hukum haji. Dan ilmu-ilmu yang berkaitan dengan persoalan-persoalan yang harus ditinggalkan seperti sifat-sifat tidak terpuji dan lain-lain.

Sedang ilmu fardhu kifayah adalah ilmu yang wajib dipelajari oleh sebagian masyarakat Islam, bukan seluruhnya. Dalam fardhu kifayah, kesatuan masyarakat Islam secara bersama memikul tanggung jawab kefardhuan untuk menuntutnya (Imam al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin jilid 1).

Dinamisasi konsep fardhu ‘ain dan fardlu kifayah sangat signifikan menunjang pembaharuan pendidikan yang lebih beradab. Dalam konteks kontemporer sekarang, profil ulama sekaligus cendekiawan atau ilmuan sekaligus agamawan merupakan kebutuhan. Banyak fisikawan yang cerdas, namun belum banyak memahami ilmu syar’i, atau sebaliknya ulama tapi minim wawasan ilmu-ilmu fardhu kifayah, seperti ilmu peradaban dan filsafat Barat, astronomi, sains dan lain-lain. Dalam konteks sekarang – apalagi – ilmu-ilmu peradaban asing perlu diketahui ulama’, agar teliti dan kritis jika ada konsep-konsep ‘asing’ yang masuk ke dalam pemikiran umat saat ini.

Jadi, lost of adab dalam pendidikan karena kita tidak mengenal lagi level ilmu-ilmu Islam. Tidak dibedakan lagi fardhu ain dan fardhu kifayah. Pendidikan Islam harus melahirkan orang beradab. Muslim beradab adalah yang lahir dari sistem pendidikan yang memahami level ilmu Islam.

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

Trackbacks/Pingbacks

  1. Pingback: Pendidikan Islam dan Lost of Adab | Syamsul Maarif. HS - August 9, 2016

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: